2-3 tahun

11 Januari 2021

Membentak Anak, Memengaruhi Psikologis dan Kesehatan Otak Sejak Dini

Bagaimana jika telanjur membentak Si Kecil?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Dresyamaya Fiona
Disunting oleh Adeline Wahyu

Apakah Dampak Psikologis dan Kesehatan dalam Membentak Anak?

Membentak Anak, Memengaruhi Psikologis dan Kesehatan Otak Sejak Dini

--

Setiap anak terlahir istimewa dengan keunikan dan sifat masing-masing yang berbeda. Namun, membesarkan dan mendidik anak memang tak semudah yang diucapkan.

Ada kalanya emosi mendominasi kita sebagai orang tua saat berusaha mengajarkan Si Kecil dalam berbagai hal. Ketika anak tidak nurut dengan orang tua, rasa ingin membentak anak itu ada, hal ini dilakukan agar ia mengikuti apa yang dikehendaki orang tuanya.

Meskipun membentak anak adalah salah satu cara dalam mendidik, tedapat dampak membentak anak yang perlu Moms ketahui, lho!

Baca Juga: Cara Mengatasi Anak ‘Nakal‘ dan Manja

Membentak Anak Dalam Islam

membentak anak dalam islam

Foto: Orami Photo Stock

Walaupun marah adalah hal yang manusiawi, namun sebaiknya kita sebagai orang tua sedapat mungkin menahan diri untuk tidak melakukannya kepada anak. Terlebih jika luapan itu dikeluarkan dalam bentuk kata-kata kasar, omelan hingga membentak Si Kecil.

Membentak anak dalam islam sebagai salah satu cara mendidik anak, sebuah hadist berkata:

Bukanlah orang yang kuat itu diukur dengan kuatnya dia melawan, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah,” hadist yang diriwayatkan Rasululah SAW, dilansir dari Dalam Islam.

Dalam hadist ini berarti, bahwa jangan sampai orang tua menampakkan emosi berlebih atau kemarahan yang sangat tidak terkontrol. Hal ini dikarenakan dengan kondisi tersebut bisa menaikkan emosi untuk memukul.

Orang tua yang bersikap terlalu keras sehingga membentak anak akan tidak disukai dengan anak-anaknya dan rasa ingin menjauhi. Padahal orang tua seharusnya menjadi figur dan teladan bagi anak-anak.

Baca Juga: Jangan Marah Dulu, Moms! Begini Cara Menghadapi Ucapan Menyebalkan Anak

Jika orang tua terlalu keras dan sering membentak anak, anak akan mencari perhatian dan perlindungan lain selain orang tuanya.

Hal ini karena membentak anak rasa trauma atau takut, sedangkan anak butuh kepercayaan diri yang seharusnya didukung oleh orang tua.

Dampak Membentak Anak

dampak membentak anak

Foto: Orami Photo Stock

Menurut penelitian National Institutes of Health, berteriak atau membentak anak dapat membuat anak-anak lebih agresif, secara fisik dan verbal. Berteriak atau membentak anak adalah bentuk meluapkan emosi. Hal ini membuat takut anak-anak dan membuat mereka merasa tidak aman.

Menurut dr. Darmady Darmawan, Sp.A, Rumah Sakit Omni Pulomas, berbicara kasar pada balita atau sering membentak anak dapat mempengaruhi perkembangan psikologis dan perkembangan otak. Dampak buruknya anak jadi agresif atau sebaliknya.

“Bila sering di bentak, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang agresif, pemalu atau minder, rendah diri,“ ujarnya.

Baca Juga: 6 Makanan dengan Nutrisi Otak Tinggi agar Anak Tumbuh Cerdas, Moms Wajib Baca!

1. Anak Menjadi Tertutup

Orangtua yang suka membentak anak tentu akan menimbulkan rasa takut bagi anak.

Anak-anak yang ketakutan sangat mungkin tumbuh menjadi pribadi yang tertutup. Ketika mereka tertutup, rasa untuk bercerita dengan orang tuanya akan berkurang.

Kondisi ini sangat memengaruhi psikologis anak dan membuat anak merasa tertekan ketika menghadapi masalah tanpa berkonsultasi dengan orang tuanya. Ketika anak mulai mengasingkan diri dari orang tuanya, ia akan mencari perlindungan dari orang lain. Sehingga peran orang tua dalam mengasuh anak akan tidak diperhatikan.

2. Menjadi Pemberontak

Membentak anak akan memberikan dampak psikologis di masa depannya. Anak yang suka dibentak atau dimarahi orang tua, memicu ia menjadi sosok pemberontak dan keras kepala.

Pemberontak atau penantang ini membuat anak dapat membantah atau tidak nurut dengan kehendak orang tuanya. Hal ini karena mereka merasa tidak dihargai.

Melakukan hal ini adalah salah satu cara meluapkan amarah orang tua terhadap anaknya, namun hal ini sangat menganggu kejiwaan anak dan tindakannya. Semakin emosi orang tua, maka anak-anak akan semakin melawan dan membantah kita.

Baca Juga: Kenapa Anak Sering Menangis di Malam Hari?

3. Tidak Percaya Diri

Ketika membentak Si Kecil karena kesalahan yang tidak terlalu besar atau sepele, ini membuat kepribadian anak tumbuh menjadi sosok yang kurang percaya diri dan minder.

Anak yang tidak percaya diri akan menyulitkan ia dalam menjalani aktivitas. Ia akan merasa tidak dihargai, tidak berguna hingga merasa selalu berbuat salah.

Membentak membuat anak bertanya-tanya apakah kesalahan yang ia perbuat. Anak akan merasa bersalah dalam jangka panjang dan memicu rasa tidak percaya dri. Hal ini tidak baik untuk kesehatan mental yang akan memicu depresi.

4. Traumatik Jangka Panjang

Melansir penelitian yang diterbitkan pada Science Direct, dampak membentak buah hati akan memengaruhi psikologis anak sehingga membuat ia frustasi dan depresi.

Meluapkan emosi secara verbal terhadap anak-anak dapat memiliki efek yang bertahan lama setelah insiden terjadi. Menurut penelitian ini, efek psikologis jangka panjang dari membentak anak dapat menyebabkan gejala berikut ini:

  • Kegelisahan
  • Tidak dihargai
  • Pandangan negatif tentang diri sendiri
  • Masalah sosial
  • Masalah perilaku
  • Agresi
  • Depresi
  • Memicu bullying

Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak cenderung memperlakukan orang lain dengan cara yang sama seperti orang memperlakukan mereka.

Kebiasaan dan kecenderungan anak yang berkembang sebagai akibat dari hubungan masa kanak-kanaknya akan mengikuti mereka hingga dewasa.
Baca Juga: Hindari Anak Stres di Rumah, Lakukan 5 Aktivitas Seru Ini

Dampak Membentak Anak pada Sel Otak

Mendidik Anak di Era Digital

Foto: Orami Photo Stock

Mendidik anak dalam fase balita adalah hal yang perlu diperhatikan.

Usia balita merupakan masa-masa golden age dimana miliaran sel otak anak berkembang amat pesat di umur 0-6 tahun. Itu sebabnya dalam fase emas ini, apa yang diserap anak dari kesehariannya diyakini dapat mempengaruhi sikap, karakter, kecerdasan, serta skill lainnya di kemudian hari. Termasuk ketika ia tumbuh dewasa.

Nah, sel otak tersebut akan berkembang sempurna tergantung pada stimulasinya. Jadi, jika anak lebih sering dibentak dibanding diberi stimulasi terkait kecerdasan, maka bukan tak mungkin sel-sel otak tersebut akan rusak.

Sebab secara ilmiah jika sering membentak anak, ia akan merasa takut. Ketika itu terjadi, produksi hormon kortisol di otak meningkat. Semakin tinggi produksi hormon itu akan memutuskan sambungan sel-sel di otak.

Baca Juga: Anak Suka Membentak? Mungkin Ini Penyebabnya

Lalu, bagaimana jika orang tua terlanjur berkata kasar atau sering membentak anak dalam keseharian? Kita tentu pernah merasa amat bersalah setelahnya, bukan?

“Cobalah berbicara dengan lembut, meminta maaf, melakukan kontak fisik seperti memeluk, mencium, mengelus merupakan cara untuk rebonding setelah dengan tidak sengaja membentak anak,“ tambah dr. Darmady.

Di sisi lain, orang tua juga perlu memikirkan dampak pada Si Kecil jika sering menerima bentakan. Yakni ia menjadi agresif atau malah meniru dengan ikut berbicara sambil membentak-bentak juga.

Kalau sudah begitu, ketika anak membentak, orang tua harus berbicara dengan lembut dan tidak terpancing emosinya. Melakukan kontak fisik, berbicara dengan lembut, dan memberi waktu untuk anak menenangkan dirinya.

Baca Juga: Benarkah Sering Mimpi Buruk Adalah Tanda Awal Masalah Kesehatan Mental Pada Anak?

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait