21 April 2023

Ringkasan Buku Habis Gelap Terbitlah Terang Karya Kartini

Berisikan surat-surat Kartini yang berupaya memperjuangkan hak perempuan pribumi

Kartini merupakan salah satu pahlawan perempuan Indonesia yang terkenal. Hingga akhirnya perjalanan hidupnya dijadikan sebuah buku yang bertajuk Habis Gelap Terbitlah Terang.

Ibu Kartini merupakan sosok pahlawan yang lekat akan perempuan Indonesia karena perjuangannya yang membela hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Selain itu, Kartini juga dikenal sebagai pahlawan Indonesia yang berjuang untuk memberikan hidup yang sama seperti dengan pria pada masanya.

Menyambut perayaan Hari Kartini, mungkin Moms bisa membaca buku kisah salah satu pahlawan Indonesia ini.

Siapa tahu setelah membaca buku Habis Gelap Terbitlah Terang karya Kartini ini dapat memberikan inspirasi pada Moms.

Tak sedikit orang yang mengetahui tentang buku Habis Gelap Terbitlah Terang ini.

Tetapi tak ada salahnya bagi Moms untuk membaca ulang atau membedah buku yang terinspirasi dari surat-surat Kartini untuk mengenang jasa-jasanya.

Simak review dan ringkasan singkat mengenai buku Habis Gelap Terbitlah Terang disini, yuk.

Baca Juga: Istana Merdeka: Sejarah, Fungsi, dan Koleksi Beragam Karya Seni yang Ada di Dalamnya

Buku Habis Gelap Terbitlah Terang

RA Kartini
Foto: RA Kartini (Id.wikipedia.org)

Sesuai dengan namanya buku ini bertajuk Habis Gelap Terbitlah Terang.

Buku ini mengisahkan perihal surat-surat Kartini yang dikumpulkan oleh Jacques Henrij dan Rosa Abendanon.

Secara garis besar, buku ini menceritakan tentang kehidupan perjuangan Kartini dalam menegakkan memajukan hak-hak wanita agar sedejarat dengan pria.

Kebanyakan dalam buku tersebut Kartini menuliskan surat pada saudari dan sahabatnya yang mengisahkan tentang perjalanan Kartini memperjuangkan hak perempuan di Indonesia.

Kemudian dalam surat tersebut Kartini juga mengajak sahabat serta saudarinya untuk berjuang bersama dalam emansipasi wanita.

Meski berasal dari kaum priayi atau kaum bangsawan, Kartini merasa harus berjuang untuk mempertaruhkan hak-hak perempuan pribumi lainnya.

Raden Ajeng Kartini merupakan putri dari Raden Mas Adipati Sastrodiningrat, Bupati Jepara pada saat itu dan ibunya bernama M.A. Ngasirah, yang merupakan putri dari seorang guru agama ternama.

Menjadi seorang putri dari bangsawan pada masa itu membuat Kartini mendapatkan kesempatan untuk belajar di H.B.S atau sekolah yang setara dengan sekolah kolonial Belanda.

Namun selama mengenyam pendidikan, Kartini merasa bahwa dirinya dilakukan berbeda layaknya perempuan Eropa lainnya.

Baca Juga: 10+ Pakaian Adat Jawa Tengah yang Anggun, dari Beskap hingga Jawi Jangkep

Hingga akhirnya Kartini menuangkan keluh kesahnya yang ia tulis dalam surat.

Tak hanya menguasai Bahasa Indonesia, saat itu Kartini juga menguasai Bahasa Belanda.

Ini karena Kartini kerap bersinggungan dengan masyarakat Belanda, serta membaca bahkan mengirim surat pada sahabat-sahabatnya yang berasal dari Belanda.

Salah satu kata-kata mutiara yang terdapat di dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang berbunyi,

“Kita harus membuat sejarah baru, kita mesti menentukan masa depan kita yang sesuai dengan keperluan kita sebagai kaum wanita yang harus mendapat pendidikan yang layak seperti halnya kaum Laki-laki”.

Kata-kata tersebut menjadi sebuah semboyan RA Kartini dan membekas hingga dirinya tutup usia.

Untuk menggapai cita-citanya dan dibantu dengan.wawasan yang luas dan kepandaiannya berbahasa Belanda saat itu, Kartini memiliki cita-cita untuk melanjutkan pendidikan di Belanda.

Tak hanya ingin melanjutkan pendidikan di Belanda, Kartini muda dalam suratnya juga bercerita bahwa dirinya ingin mendirikan sekolah untuk para kaum pribumi.

Hingga akhirnya di akhir penghujung usianya, cita-cita Kartini terwujud untuk mendirikan sebuah sekolah yang berlokasi di Rembang.

Tak sendirian, Kartini mendapatkan dukungan dan bantuan sang suami, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang merupakan Bupati Rembang saat mendirikan sekolah tersebut.

Selain bersama sang suami, Kartini juga mendapatkan bantuan dari Roekmini yang merupakan saudarinya untuk mendirikan sekolah bagi perempuan pribumi di Rembang.

Saat itu, sekolah tersebut menyediakan beberapa pelajaran seperti, membaca, menggambar, menulis, memasak, pelajaran tata krama dan sopan santun, serta kerajinan tangan.

Baca Juga: 30 Makanan Tradisional Indonesia dari Aceh sampai Papua yang Punya Cita Rasa Khas dan Unik

Kartini Wafat

Raden Ajeng Kartini
Foto: Raden Ajeng Kartini (Id.wikipedia.org)

Namun, sayangnya usia RA Kartini terbilang cukup pendek. Ia tutup usia ketika menginjak umur 25 tahun.

Kartini meninggal dunia pada 17 September 1904 di Rembang.

Kemudian 7 tahun setelah kepergian Kartini untuk selamanya, sahabatnya yang merupakan Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan surat Kartini yang kemudian ia jadikan buku.

Pertama kali surat-surat Raden Ajeng Kartini pertama kali diterbitkan di Den Haag pada tahun 1911 dengan judul “Pintu Duisternis tot Licht” (Dari Gelap Menjadi Terang).

Pada tahun 1922, akhirnya Balai Pustaka memutuskan untuk menerbitkan kembali buku tersebut ke dalam Bahasa Melayu yang bertajuk Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran.

Armijn Pane yang merupakan salah seorang sastrawan saat itu berperan sebagai salah satu penerjemah surat-surat Kartini ke dalam Bahasa Melayu.

Di tahun 1938, buku Habus Gelap Terbitlah Terang diterbitkan kembali dengan peran salah satu penerjemah yang merupakan sastrawan pelopor yaitu Armijn Pane.

Bahkan buku terjemahan Armijn Pane ini dicetak sebanyak sebelas kali, lho Moms.

Selain diterbitkan dalam Bahasa Melayu, buku Habis Gelap Terbitlah Terang juga pernah diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa dan Bahasa Sunda.

Di terbitan buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang diproduksi pada tahun 1938, Armijn Pane menyajikan surat-surat Kartini dalam format berbeda dengan buku-buku sebelumnya.

Dalam terbitannya kali ini, ia membagi kumpulan surat-surat tersebut ke dalam 5 bab pembahasan guna menunjukkan tahapan, perubahan sikap serta pemikiran Kartini selama menulis.

Dari surat Kartini yang dijadikan buku tersebut, berhasil menginspirasi perempuan pribumi untuk bangkit dan berjuang untuk menjadi setara dengan pria.

Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kartini bukan hanya tokoh perempuan yang memperjuangkan emansipasi.

Tapi, Kartini adalah ibu literasi Indonesia.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Film Sejarah Islam yang Inspiratif dan Menghibur

Nilai-nilai yang Dapat Diambil dari Buku Habis Gelap Terbitlah Terang

Foto Keluarga RA Kartini
Foto: Foto Keluarga RA Kartini (Historia.id)

Meski sosok RA Kartini telah tiada, akan tetapi semangat perjuangan yang tertulis dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang sukses menginspirasi banyak orang.

Ada banyak sekali nilai positif yang dapat dipetik dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang, di antaranya:

1. Pantang Menyerah

Salah satu nilai positif yang bisa kita teladani dari sosok RA Kartini dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang yaitu kegigihan dan sifat pantang menyerahnya.

Hal ini bisa dilihat dari kerja keras Kartini dalam mengenyam pendidikan di sekolah Eropa.

Meski mungkin ada berbagai kesulitan dari segi pembelajaran atau lingkungan, RA Kartini tidak menyerah begitu saja.

Jika Moms dan Dads mengajarkan sikap baik ini pada anak, tentu akan memberikan banyak keuntungan.

Si Kecil akan termotivasi untuk lebih giat belajar guna mencapai cita-citanya.

2. Berwawasan Luas

Dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang, sosok RA Kartini diceritakan sebagai orang yang gemar membaca buku dan juga menulis.

Itu artinya, pahlawan perempuan dari Tanah Air ini memiliki pengetahuan yang luas berkat kegigihannya dalam memperkaya diri dari berbagai sumber.

Tidak hanya mempelajari berbagai hal di Indonesia, RA Kartini juga memiliki ketertarikan pada berbagai bidang dari luar negeri.

Misalnya sastra, politik, dan sosial. Selain belajar sendiri, sosok RA Kartini bahkan melakukan banyak pembelajaran ketika bersama adik-adiknya.

Contohnya belajar memasak, membatik, dan memainkan piano.

Kebiasaannya dalam surat-menyurat dengan temannya di Belanda pun membuat RA Kartini memiliki banyak pengetahuan yang tidaik didapatkan dari sekolah dan lingkungan sekitar rumah.

Baca Juga: Profil dan Perjuangan Cut Nyak Dien, Pahlawan Wanita dari Aceh yang Berperang Melawan Penjajah

3. Toleransi Terhadap Sesama

Pelajaran lain yang juga dapat dipetik dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang milik RA Kartini adalah tentang toleransi.

Mengingat sekolah tempatnya belajar mayoritas terdiri dari bangsa asing, dapat dipastikan teman-temannya memiliki agama non-muslim.

Meski begitu, RA Kartini tetap menghargai perbedaan tersebut sehingga bisa berteman dengan damai dan rukun.

Moms dan Dads sebagai orang tua pun memiliki tanggung jawab untuk menumbuhkan toleransi dalam diri Si Kecil.

Dengan begitu, anak dapat menghormati sesama manusia tanpa memandang jenis kelamin, ras, budaya, suku, maupun agamanya.

4. Pemberani dan Optimis

Seorang RA Kartini yang ceritanya tertuang dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang digambarkan sebagai perempuan pemberani sekaligus optimis.

Ia berani untuk bermimpi dan berusaha keras dalam mewujudkannya menjadi kenyataan.

Berkat upayanya tersebut, kini derajat perempuan telah setara dengan kaum laki-laki.

Hal ini bisa kita lihat dari surat-surat yang ditulisnya, di mana RA Kartini menyampaikan bahwa seorang perempuan juga bisa mengejar cita-cita di luar rumah.

Jadi, perempuan juga dapat produktif tidak hanya sekadar mengurus rumah tangga.

Baca Juga: 8 Rekomendasi Buku Edukasi Anak, Kembangkan Minat Literasinya

5. Berjiwa Sosial Tinggi

Dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang juga menyampaikan bahwa sosok RA Kartini memiliki jiwa sosial yang tinggi.

Hal tersebut dibuktikan oleh kontribusinya dalam mengajarkan anak-anak kecil di sekitarnya.

Meskipun mereka tidak duduk di bangku sekolah, anak-anak tersebut tetap memiliki keterampilan berkat kegigihan RA Kartini dalam mengajar.

Jadi, orang-orang yang kurang beruntung tetap bisa mendapatkan pendidikan sama seperti dirinya.

Dari sosok RA Kartini tersebut, Moms dan Dads pun bisa coba mengajari anak untuk lebih empati kepada sesamanya.

Dengan berbagi pada orang-orang di sekitar kita, hati akan lebih bahagia dan tentram, lho, Moms.

6. Cinta Tanah Air

Kegigihan seorang RA Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan di Indonesia mencerminkan bagaimana ia sangat mencintai Tanah Air.

Perjuangannya terhadap emansipasi wanita pun mengantarkan para perempuan di Indonesia untuk memperoleh pendidikan dan derajat yang sama seperti laki-laki.

Oleh karenanya, Moms sebagai seorang perempuan patut mengapresiasi dan menjadikan sosok RA Kartini sebagai teladan yang baik.

Baca Juga: 15 Tumbuhan Langka di Indonesia, Cantik dan Bentuknya Unik!

Itulah penggalan sedikit kisah perjuangan RA Kartini dalam memperjuangkan hak perempuan pribumi yang tertuang dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.

Tak ada salahnya untuk coba membaca buku ini untuk mengingat jasa perjuangan RA Kartini, ya Moms.

  • https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2018/04/mendikbud-kartini-adalah-tokoh-literasi-indonesia
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Habis_Gelap_Terbitlah_Terang
  • https://www.goodreads.com/en/book/show/4526775-habis-gelap-terbitlah-terang

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.