06 Juni 2024

Hipospadia pada Bayi Laki-laki, Kelainan Lubang Kencing

Operasi adalah satu-satunya pilihan pengobatan

American Urological Association memaparkan, sekitar 7 dari 100 anak dengan hipospadia memiliki kondisi ini karena diturunkan dari ayah biologisnya.

Kemungkinan anak kedua akan lahir dengan kondisi ini adalah sekitar 12 dari 100. Jika ayah dan saudara laki-laki memiliki hipospadia, risiko pada anak kedua meningkat menjadi 21 dari 100.

Berikut ini beberapa fakta yang dapat membantu Moms mengenal hipospadia pada bayi laki-laki lebih lanjut.

Apa Itu Hipospadia?

Apa Itu Hipospadia?
Foto: Apa Itu Hipospadia? (Orami Photo Stock)

Hipospadia adalah cacat lahir atau kondisi bawaan di mana pembukaan uretra berada di bagian bawah penis, bukan di ujung.

Uretra sendiri adalah saluran di mana urine mengalir dari kandung kemih untuk dikeluarkan dari tubuh.

Kondisi ini juga dijelaskan oleh dr. Andre Yudha A. Hutahaean, Sp.U (K), Dokter Spesialis Bedah Urologi Konsultan Urologi Pediatrik "Kelainan bawaan lahir pada penis di mana letak lubang kencing berada di bawah ujung penis, biasanya disertai kelainan batang penis bengkok ke arah bawah," jelas dr. Andre Yudha.

Upaya operasi biasanya dilakukan untuk mengembalikan penampilan normal penis bayi.

Dengan pengobatan yang tepat, sebagian besar bayi laki-laki dengan kondisi bawaan ini dapat melakukan buang air kecil dan reproduksi yang normal.

Hipospadia pada bayi laki-laki berkembang ketika bayi masih dalam tahap perkembangan di dalam rahim Moms.

Saat janin berkembang, jaringan di bagian bawah penis yang membentuk uretra tidak sepenuhnya tertutup, sehingga salurannya menjadi lebih pendek.

Dalam banyak kasus, menurut National Center for Biotechnology Information, kulit khatan, atau lipatan kulit yang menutupi ujung penis atau kelenjar – juga tidak berkembang dengan baik.

Akibatnya, terdapat kulit khatan yang akan tumbuh berlebih di sisi atas penis, tetapi di bagian bawah penis justru tidak ada.

Kondisi bawaan ini bukanlah disebabkan oleh gangguan apapun selama masa kehamilan.

Faktanya, meskipun jumlah kasus terus meningkat sejak tahun 1970-an, penyebabnya masih belum diketahui.

Namun, para dokter dari Boston Children’s Hospital mengatakan bahwa ada penelitian yang menemukan bahwa beberapa bayi laki-laki dengan kondisi ini cenderung lahir dari ayah atau memiliki saudara laki-laki dengan kondisi serupa.

Baca Juga: Bayi Rewel Karena Kulit Gatal? Ini 6 Cara Mengatasinya!

Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti Center for Disease Control and Prevention telah melaporkan temuan penting tentang beberapa faktor yang mempengaruhi risiko bayi laki-laki dengan hipospadia:

  • Usia dan berat badan: Ibu yang berusia 35 tahun atau lebih dan dianggap obesitas memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi dengan kondisi ini.
  • Program kehamilan: Wanita yang menggunakan teknologi reproduksi berbantu untuk membantu kehamilan memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi dengan kondisi ini.
  • Hormon tertentu: Wanita yang mengonsumsi hormon tertentu sebelum atau selama kehamilan terbukti memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi dengan kondisi ini.

Hipospadia biasanya didiagnosis dengan pemeriksaan fisik setelah bayi lahir.

Penyebab Hipospadia

Penyebab Hipospadia
Foto: Penyebab Hipospadia (Orami Photo Stocks)

Penyebab kondisi ini sendiri masih belum diketahui, Moms.

Tapi menurut dr. Andre Yudha, beberapa faktor seperti genetik, berat badan lahir rendah, lahir prematur, dan gangguan pertumbuhan janin selama kehamilan bisa meningkatkan risiko bayi lahir hipospadia.

Melansir dari Centers for Disease Control dan Prevention (CDC) hipospadia juga bisa disebabkan oleh beberapa hal berikut

  • Usia dan berat badan, Moms yang berusia 35 tahun atau lebih dan dianggap obesitas memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi dengan hipospadia.
  • Perawatan kesuburan, perempuan yang menggunakan bantuan untuk hamil, memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi dengan kondisi ini.
  • Faktor hormon, Moms yang mengonsumsi obat hormon tertentu sebelum atau selama kehamilan memiliki risiko lebih tinggi bayi hipospadia.

Baca Juga: Moms, Kenali Penyebab dan Bahaya pada Kaki Bayi Bengkok

Bentuk Hipospadia

Bentuk Hipospadia
Foto: Bentuk Hipospadia (surgeryjournal.co.uk)

Kondisi ini bisa dikenali langsung sesaat bayi lahir terlebih jika kondisi yang dialami cukup parah atau saat pemeriksaan fisik jika kondisi ringan dan biasanya dengan USG.

Namun karena kondisi ini umum terjadi, sesaat bayi lahir, tidak jarang dokter langsung memeriksa tanda-tanda dari hipospadia sehingga bisa ditangani.

Sebab bagi penderita hipospadia, bentuk penis tidak biasa hal ini yang bisa menjadi dugaan awal. Menurut dr. Andre Yudha, bentuk hipospadia pada umumnya memiliki kulit prepusium berlebih.

"Kulit prepusium berlebih di bagian dorsal/sisi atas penis (dorsal hood), dengan lubang penis yang berada di bawah ujung penis, dan sering disertai penis bengkok," jelas dr. Andre Yudha.

dr. Andre Yudha, menambahkan penis yang bengkok akan terlihat dengan jelas ketika penis dalam kondisi tegang.

Moms tentunya sudah tahu, ya bagaimana bentuk hipospadia.

Jenis-jenis Hipospadia

Jenis-jenis Hipospadia
Foto: Jenis-jenis Hipospadia (Orami Photo Stock)

Jenis hipospadia pada bayi laki-laki berbeda-beda, tergantung pada lokasi pembukaan uretra yaitu:

  • Subkronal: pembukaan uretra terletak di suatu tempat dekat kepala penis.
  • Poros tengah: pembukaan uretra terletak di sepanjang batang penis.
  • Penoscrotal: pembukaan uretra terletak di tempat penis dan skrotum bertemu.

Jika hipospadia pada bayi laki-laki tidak diobati atau ditangani dengan benar, dapat mengakibatkan berbagai komplikasi seperti:

  • Penampilan penis yang tidak normal.
  • Masalah saat bayi belajar menggunakan toilet.
  • Kelengkungan penis yang tidak normal saat ereksi.
  • Masalah dengan gangguan ejakulasi.

Baca Juga: Mengenal Pertusis Alias Batuk Rejan Yang Membahayakan Nyawa Bayi

Gejala Fisik Hipospadia

Gejala Fisik Hipospadia
Foto: Gejala Fisik Hipospadia (Hello-pet.com)

Sebagian besar bayi dengan hipospadia didiagnosis setelah lahir saat masih di rumah sakit.

Namun, adanya perubahan uretra mungkin tidak terlalu terlihat atau sulit untuk diidentifikasi. Ada tanda dan gejala fisik hipospadia, antara lain:

  • Pembukaan uretra di lokasi selain ujung penis
  • Lekukan penis ke bawah (chordee)
  • Penampilan penis seperti berkerudung karena hanya bagian atas penis yang tertutup kulup
  • Penyemprotan tidak normal saat buang air kecil

Kondisi ini umumnya tidak menyebabkan kesulitan atau komplikasi. Pembedahan biasanya dilakukan untuk mengembalikan tampilan normal penis anak.

Dengan pengobatan hipospadia yang berhasil, kebanyakan pria dewasa dapat buang air kecil dan bereproduksi dengan normal.

Sebagai penambah informasi, hipospadia yang ditemui biasanya ringan. Bahkan mencapai 70 persen kondisi ini yang ditemui adalah ringan, ya Moms.

Seperti yang sudah disinggung di atas, bentuk hipospadia ringan dapat dilihat dari kulit prepusium berlebih di bagian dorsal penis dan lubang kencing yang sedikit di bawah ujung penis.

Tetapi masih ada kemungkinan kasus hipospadia memunyai kulit prepusium yang utuh.

"Gejala hipospadia ringan dapat dikenali dari kulit prepusium berlebih di bagian dorsal penis dan lubang kencing yang sedikit di bawah ujung penis, tetapi ada 5 persen kasus hipospadia mempunyai kulit prepusium yang utuh,

sehingga baru diketahui hipospadia ketika mau dilakukan sirkumsisi atau kulit prepusium ditarik ke belakang," jelas dr. Andre Yudha.

Baca Juga: Dads Perlu Tahu, Ini 6 Penyebab Penis Mengecil

Pengobatan Hipospadia

Pengobatan Hipospadia
Foto: Pengobatan Hipospadia (Orami Photo Stock)

Tindakan operasi merupakan cara terbaik dan satu-satunya untuk menyelesaikan kesulitan buang air kecil pada bayi laki-laki yang lahir dengan hipospadia.

Operasi dilakukan untuk meluruskan dan memperbaiki penis bayi sehingga akan terlihat lebih normal.

Selain itu, operasi juga membantu memastikan bahwa penis bayi akan memiliki fungsi seksual normal saat mereka dewasa nanti.

Tujuan dari operasi untuk pengobatan hipospadia adalah untuk membuat penis lurus dan normal dengan saluran kemih yang berakhir di atau dekat ujungnya.

Operasi ini sebagian besar melibatkan 4 langkah:

  • Meluruskan poros
  • Membuat saluran kemih
  • Memosisikan meatus di kepala penis
  • Menyunat atau merekonstruksi kulup

Metode pengobatan hipospadia bergantung pada penilaian ahli bedah, yang meliputi lokasi meatus, derajat kelengkungan penis, kualitas kulit penis, dan apakah sudah ada operasi sebelumnya pada penis.

Pendekatan yang tepat biasanya paling baik diputuskan pada saat operasi tetapi opsi dan pendekatan akan ditinjau bersama keluarga.

Misalnya, perbaikan dua tahap sering digunakan untuk anak laki-laki dengan kelengkungan parah karena ini terbukti menjadi pendekatan yang lebih efektif daripada operasi tunggal.

Para dokter nantinya akan mendiskusikan secara spesifik operasi hipospadia antara anak dan orang tua.

Baca Juga: Lidah Bayi Putih, Akibat Susu Atau Sariawan?

Perbaikan hipospadia sering dilakukan dalam waktu 90 menit (untuk distal) hingga 3 jam (untuk proksimal) operasi di hari yang sama.

Dalam beberapa kasus, perbaikan dilakukan secara bertahap.

Ahli bedah lebih suka melakukan operasi hipospadia pada anak laki-laki yang cukup bulan dan sehat antara usia 6 dan 12 bulan.

Namun, hipospadia dapat diperbaiki pada anak-anak dari segala usia dan bahkan pada orang dewasa.

Perbaikan yang berhasil akan bertahan seumur hidup. Ini juga akan bisa menyesuaikan saat penis tumbuh saat pubertas.

Menurut para ahli di Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, bayi laki-laki dengan hipospadia dengan kasus yang sangat ringan cenderung tidak perlu dioperasi.

Ini karena kondisinya tidak akan berdampak besar terhadap kehidupan dewasanya.

Namun, terkadang orang tua dari bayi laki-laki yang lahir dengan hipospadia ringan masih memilih operasi karena alasan untuk memperbaiki penampilan penis bayinya.

Pasca Operasi Hipospadia

Pasca Operasi Hipospadia
Foto: Pasca Operasi Hipospadia (Orami Photo Stock)

Children's Hospital of Philadelphia menjelaskan pasca operasi, kateter dapat dijahit ke kepala penis agar tetap di tempatnya.

Sisa jahitan yang digunakan selama operasi akan larut dengan sendirinya dan tidak perlu dilepas.

Anak kemungkinan besar akan diberi perban pada penis selama beberapa hari setelah operasi untuk membantu mencegah pendarahan.

Biasanya, orang tua akan melepas perban di rumah dengan merendam penis di bak mandi.

Setelah operasi, penis anak akan membengkak, merah dan memar selama beberapa hari hingga minggu pertama setelah operasi.

Setelah perban dilepas, disarankan untuk mengoleskan petroleum jelly ke area penis dengan setiap penggantian popok untuk membantu proses penyembuhan.

Untuk pemantauan setiap hari, nantinya dokter dan orang tua akan terus berkonsultasi meskipun dalam jarak jauh.

Misalnya dengan mengirimkan gambar proses penyembuhan pasca operasi, terjadi keluhan dan sebagainya.

Baca Juga: Mengenal Hipotiroid Kongenital : Kondisi Saat Bayi baru Lahir Kekurangan Hormon Tiroid

Perawatan Alami Pasca Operasi Hipospadia

Perawatan Alami Pasca Operasi Hipospadia
Foto: Perawatan Alami Pasca Operasi Hipospadia (Orami Photo Stock)

Setelah operasi, penis akan terasa nyeri dan ini adalah umum terjadi. Ada beberapa upaya yang bisa orang tua lakukan untuk mengurangi tingkat nyeri pasca operasi hipospadia.

Moms nantinya akan mendapatkan petunjuk tentang cara merawat bayi dengan hipospadia selama pemulihan, di antaranya:

  • Oleskan potreluem jelly di popok anak atau di pad di celana dalam mereka, untuk menghentikan penis menempel pada popok atau pakaian. Nantinya, perawat akan mengajarkan Moms bagaimana melakukan ini.
  • Kemudian pastikan anak minum banyak cairan untuk membantu mereka untuk sering buang air kecil. Ini cukup penting dilakukan agar fungsi penis pada anak segera normal kembali.
  • Memandikan bayi dengan lembut.
  • Berikan pereda nyeri saat dibutuhkan, misalnya paracetamol.
  • Berikan antibiotik minum sesuai petunjuk.
  • Ikuti petunjuk dari dokter tentang balutan pada penis. Dokter akan memberi tahu kapan perlu dibasahi.
  • Pastikan anak untuk tidak melakukan aktivitas berat sampai disarankan oleh dokter.
  • Tambahkan dua sendok makan garam masak ke air mandi anak untuk membantu mengurangi pembengkakan.
  • Kenali tanda-tanda infeksi atau komplikasi.

Baca Juga: Bayi Tidak Mau Menyusu? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Komplikasi Pasca Operasi

Komplikasi Pasca Operasi
Foto: Komplikasi Pasca Operasi (Orami Photo Stock)

Operasi hipospadia memiliki risiko komplikasi atau masalah setelah perbaikan tergantung pada derajat hipospadia.

Tingkat komplikasi untuk hipospadia distal (ringan) berkisar dari 10 persen, sedangkan untuk kasus berat mencapai hingga 70 persen.

Komplikasi yang paling umum setelah operasi perbaikan hipospadia adalah kebocoran pada saluran uretra baru (fistula uretrokutan).

Pembukaan uretra yang baru dibuat dapat menyempit seiring waktu, suatu kondisi yang disebut stenosis meatal.

Pada kasus hipospadia yang lebih parah, kantong keluar di uretra (divertikulum uretra) dan kelengkungan penis yang persisten dapat terjadi setelah operasi.

Beberapa anak dengan hipospadia kompleks mungkin memerlukan rekonstruksi bedah yang lebih ekstensif.

Urine mungkin tampak merah muda selama beberapa hari setelah operasi. Namun, segera hubungi dokter jika:

  • Demam 38°C atau lebih selama lebih dari 24 jam.
  • Kesulitan buang air kecil atau ketidakmampuan buang air kecil.
  • Ujung penis membiru.
  • Rewel berkepanjangan meski sudah diberikan obat.
  • Perdarahan dari tempat pembedahan.

Namun tenang saja Moms, semakin dini hipospadia ditangani, proses pemulihannya akan berangsur cepat.

Pencegahan Hipospadia

Pencegahan Hipospadia
Foto: Pencegahan Hipospadia (Orami Photo Stock)

Meskipun penyebab utama hipospadia pada anak masih sulit diketahui, Moms bisa melakukan beberapa tindakan pencegahan selama kehamilan.

Menurut Cleveland Clinic, ibu hamil dapat mengurangi risiko hipospadia pada janin dengan melakukan gaya hidup sehat, antara lain:

  • Hindari merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol.
  • Hindari pekerjaan yang terpapar pestisida.
  • Konsumsi suplemen untuk kehamilan seperti asam folat, zat besi, dan lain-lain.
  • Pertahankan berat badan ideal.
  • Rutin ke dokter kandungan untuk memeriksakan kehamilan.

Bagi Moms yang sedang merencanakan kehamilan dan memiliki faktor risiko terjadinya hipospadia, sebaiknya melakukan konsultasi perencanaan kehamilan ke dokter kandungan.

Konsulasi rutin ke dokter kandungan untuk mengurangi faktor risiko hipospadia dan bisa dikendalikan sebaik mungkin sebelum hamil.

Baca Juga: Mengenal 13 Jenis Kacang-Kacangan, Makanan Sehat untuk Kehamilan

Demikianlah beberapa fakta penting terkait hipospadia pada bayi laki-laki.

Semoga dapat membantu Moms untuk memahami dan mengetahui tindakan yang tepat jika si kecil didiagnosis memiliki kondisi bawaan ini.

  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15060-hypospadias
  • https://www.chop.edu/conditions-diseases/hypospadias
  • https://www.cdc.gov/ncbddd/birthdefects/hypospadias.html#:~:text=Hypospadias%20is%20a%20birth%20defect,the%20penis%20to%20the%20scrotum.
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482122/
  • https://www.urologyhealth.org/urology-a-z/h/hypospadias
  • https://www.cdc.gov/ncbddd/birthdefects/hypospadias.html

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.