Pernikahan & Seks

21 Juni 2021

Mengenal Penyebab Kecanduan Seks dan Cara Mengatasinya

Dukungan keluarga dan orang terdekat sangatlah penting
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Defara Millenia
Disunting oleh Adeline Wahyu

Perilaku kecanduan seks merupakan suatu kondisi di mana seseorang tidak dapat mengelola perilaku seksualnya. Mereka terus berpikir soal seks dan hal tersebut mengganggu pekerjaan dan kegiatan sehari-hari.

Kecanduan seks tidak boleh disamakan dengan gangguan seperti pedofilia.

Melansir American Association of Sexuality Educators, Counselors and Therapist (AASECT), kecanduan seks ataupun kecanduan pornografi bukanlah gangguan psikologis yang bisa didiagnosis, karena memang masih belum bisa dibuktikan.

Bagi sebagian orang, kecanduan seks bisa sangat berbahaya dan mengakibatkan banyak kesulitan dalam hubungan. Seperti ketergantungan obat atau alkohol.

Kondisi ini berpotensi berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental seseorang, hubungan pribadi, kualitas hidup, dan keselamatan.

Melansir Psychiatric Clinics of North America, seseorang dengan kecanduan seks dapat secara signifikan mengubah hidup dan aktivitas mereka untuk melakukan tindakan seksual beberapa kali sehari dan dilaporkan tidak dapat mengendalikan perilaku mereka, meskipun konsekuensi negatif yang parah.

Lantas apa penyebab seseorang kecanduan seks? Dan bagaimana cara mengatasinya? Yuk simak penjelasannya, Moms.

Baca Juga: Menonton Video Porno Padahal Sudah Menikah, Bolehkah?

Penyebab Kecanduan Seks

Kecanduan Seks

Foto: Orami Photo Stock

Kecanduan seksual, seperti kecanduan pornografi, dapat berkembang karena terdapat beberapa faktor-faktor yang mencakup semua aspek kehidupan, seperti:

1. Biologis

  • Gen: Moms mungkin memiliki kecenderungan genetik terhadap disregulasi emosional, impulsif, atau perilaku mencari sensasi. Moms mungkin juga memiliki kecenderungan terhadap sifat-sifat lain yang umumnya dikaitkan dengan kecanduan seksual, seperti kecemasan atau depresi.
  • Hormon: Seperti yang diduga, kadar hormon seks yang lebih tinggi seperti testosteron atau estrogen dapat memengaruhi libido. Jika Moms cenderung berperilaku impulsif dan memiliki tingkat hormon yang berhubungan dengan seks, Moms mungkin lebih mungkin untuk terlibat dalam aktivitas seksual yang berlebihan.

2. Psikologis

  • Pengaruh lingkungan: Faktor lingkungan kehidupan awal, termasuk kejadian buruk seperti pelecehan atau paparan konten seksual, dapat berkontribusi pada beberapa karakteristik mendasar yang mendorong perilaku hiperseksual.
  • Kesehatan mental: Kecemasan, depresi, gangguan kepribadian, kontrol impuls yang buruk, dan kecemasan kinerja mungkin merupakan masalah simultan yang dihadapi bersama dengan kecanduan seks. Mereka yang telah didiagnosis dengan Gangguan Bipolar, atau memiliki kecenderungan ke arah keadaan "manik", jauh lebih mungkin untuk terlibat dalam perilaku seksual yang berlebihan atau berisiko.

3. Sosial

  • Penolakan dalam hubungan dan lingkaran sosial dapat mengarah pada cara lain yang kurang sehat untuk menemukan kepuasan seksual.
  • Isolasi sosial: Isolasi sosial tidak hanya meningkatkan kemungkinan seseorang mencari cara yang tidak pantas untuk mendapatkan kepuasan seksual, tetapi juga menyebabkan sejumlah masalah lain, seperti depresi dan penyakit fisik yang dapat berkontribusi pada kecanduan seks atau perilaku seks yang tidak sehat.
  • Pembelajaran sosial: Menyaksikan orang lain melakukan suatu perilaku, atau “menjadi model”, adalah salah satu cara untuk mempelajari sesuatu yang baru terutama ketika Moms “menyukai” atau “mengidentifikasi” dengan orang itu. Jadi memiliki teman, atau sekelompok teman, yang terlibat dalam aktivitas seksual berlebihan atau menonton film porno dapat memengaruhi Moms dengan cara yang sangat halus, namun kuat.

Baca Juga: Sering Anyang-anyangan Setelah Berhubungan Seks? Ini Penyebabnya!

Gejala Kecanduan Seks

gejala kecanduan seks

Foto: Orami Photo Stock

Moms sampai saat ini banyak kontroversi tentang kriteria apa yang termasuk kecanduan seks.

Hal ini karena salah satu karakteristik mungkin kerahasiaan perilaku, di mana orang dengan gangguan menjadi terampil menyembunyikan perilaku mereka dan bahkan dapat merahasiakan kondisi dari pasangan dan anggota keluarga.

Mereka mungkin berbohong tentang kegiatan mereka atau terlibat di dalamnya pada waktu dan tempat di mana mereka tidak akan ketahuan.

Tapi terkadang gejalanya ada dan terlihat. Seseorang mungkin memiliki kecanduan seks jika mereka menunjukkan beberapa atau semua dari tanda-tanda berikut:

  • Pikiran dan fantasi seksual yang kronis dan obsesif.
  • Hubungan kompulsif dengan banyak pasangan, termasuk orang asing.
  • Berbohong untuk menutupi perilaku.
  • Keasyikan berhubungan seks, bahkan jika itu mengganggu kehidupan sehari-hari, produktivitas, kinerja, dan sebagainya.
  • Ketidakmampuan untuk menghentikan atau mengendalikan perilaku.
  • Menempatkan diri sendiri atau orang lain dalam bahaya karena perilaku seksual.
  • Merasa menyesal atau bersalah setelah berhubungan seks.
  • Mengalami konsekuensi pribadi atau profesional negatif lainnya.
  • Perilaku kompulsif dapat membuat hubungan tegang, misalnya, dengan stres perselingkuhan - meskipun beberapa orang mungkin mengklaim memiliki kecanduan seks sebagai cara untuk menjelaskan perselingkuhan dalam suatu hubungan.

Baca Juga: Seks Pengantin Baru dan Sudah Lama Menikah, Apa Bedanya Ya?

Cara Mengatasi Kecanduan Seks

3 Hal yang Bisa Dilakukan untuk Mengatasi Kecanduan Seks

Foto: pexels.com/mentatdgt

Janet Brito, PhD, LCSW, CST, seorang sex therapist profesional, menjabarkan tentang bagaimana perawatan terhadap mereka yang mengalami perilaku seksual kompulsif, atau yang sering disebut kecanduan seks ini.

1. Cognitive Behavioral Therapy (CBT)

Pengobatan, termasuk terapi merupakan hal yang disarankan untuk mengatasi kecanduan seksual.

Jenis terapi psikologis CBT ini membantu mereka yang mengalami perilaku seksual kompulsif akan mendapatkan terapi dengan teknik serta peralatan yang membantu individu mengubah perilaku mereka.

Melansir The Journal of Treatment & Prevention, CBT dapat termasuk salah satu cara mengatasi kecanduan seksual yang membantu seseorang untuk mempelajari keterampilan baru untuk mengatasi masalah seksualnya. Dengan begitu, dorongan seksual yang tidak diinginkan pun akan berkurang.

2. Obat-obatan

Ada beberapa obat-obatan yang diresepkan oleh dokter, untuk membantu mereka yang mengalami perilaku seksual kompulsif mengatasi kecanduan seksual.

Ini mungkin termasuk anti-androgen, seperti medroxyprogesterone (Provera), serta selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI), dan juga fluoxetine (Prozac).

Meski dokter mungkin saja meresepkan deretan obat di atas untuk membantu mengurangi dorongan seksual, tapi Food and Drug Administration (FDA) masih belum menentukan obat apa yang sebenarnya tepat untuk mengatasi kondisi ini. Karenanya, obat ini harus dikonsumsi dengan bijak agar tak terjadi kesalahan penggunaan.

3. Dukungan Keluarga dan Orang Sekitar

Hal ini sangat penting bagi mereka yang mengalami perilaku seksual kompulsif untuk mengatasi kecanduan seks.

Perilaku ini mungkin akan sulit dipahami dan ditoleransi oleh orang lain. Namun, dukungan yang kuat akan membantu mengurangi perilaku seksual yang tak diinginkan, dan dapat pula mendukung terciptanya hubungan seksual yang sehat.

Untuk mengatasi kecanduan seksual memang tidak bisa dilakukan oleh mereka yang mengalami perilaku seksual kompulsif itu sendiri. Ada banyak faktor dari luar yang juga dapat mendukung mengatasi kecanduan seksual ini.

Baca Juga: 4 Hal yang Terjadi pada Vagina Saat Lama Tidak Berhubungan Seks, Akankah Rapat Kembali?

Moms dapat melakukan beberapa langkah-langkah untuk merawat diri sendiri saat mendapatkan perawatan profesional, seperti:

  • Tetap pada rencana perawatan. Hadiri sesi terapi terjadwal dan minum obat sesuai petunjuk. Ingatlah bahwa ini adalah kerja keras, dan Moms mungkin mengalami kemunduran sesekali.
  • Didiklah diri sendiri. Pelajari tentang perilaku seksual kompulsif sehingga Moms dapat lebih memahami penyebab dan pengobatan.
  • Temukan apa yang menjadi penyebab. Identifikasi situasi, pikiran, dan perasaan yang dapat memicu dorongan seksual sehingga Moms dapat mengambil langkah untuk mengelolanya.
  • Hindari perilaku berisiko. Tetapkan batasan untuk menghindari situasi risiko unik. Misalnya, jauhi klub tari telanjang, bar, atau area lain yang mungkin tergoda untuk mencari pasangan seksual baru.
  • Temukan aktivitas baru. Jika Moms menggunakan perilaku seksual sebagai cara untuk mengatasi emosi negatif, jelajahi cara yang sehat untuk mengatasinya, seperti melalui olahraga dan kegiatan rekreasi.
  • Berlatih relaksasi dan manajemen stres. Cobalah teknik pengurangan stres seperti meditasi, yoga, atau tai chi.
  • Tetap fokus pada tujuan. Pemulihan dari perilaku seksual kompulsif dapat memakan waktu. Tetap termotivasi dengan mengingat tujuan pemulihan Moms dan mengingatkan diri sendiri bahwa Moms dapat memperbaiki hubungan yang rusak, persahabatan, dan masalah keuangan.

Jika ada di sekitar Moms and Dads yang punya kecenderungan kecanduan seks, bantu mereka untuk tidak merasa berbeda ya.

  • https://www.aasect.org/position-sex-addiction
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22640756/
  • https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/10720162.2020.1815267
  • https://www.psychguides.com/behavioral-disorders/sex-addiction/
  • https://www.healthline.com/health/addiction/sex#get-help
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/compulsive-sexual-behavior/diagnosis-treatment/drc-20360453
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait