Pernikahan & Seks

16 Agustus 2021

Simak Seperti Apa Hukum Khutbah Nikah dalam Agama Islam Berikut Ini

Ternyata khutbah nikah dianjurkan oleh Rasulullah SAW
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Riskita
Disunting oleh Amelia Puteri

Agama Islam telah mengatur segala perkara, tak terkecuali masalah pernikahan. Tidak hanya melaksanakan akad, pernikahan dalam Islam juga biasanya disertai dengan khutbah nikah.

Khutbah nikah akan menambah kekhidmatan proses pernikahan karena biasanya berisi tentang nasihat suami istri sehingga kehidupan rumah tangga berjalan harmonis.

Selain itu, para tamu yang hadir juga dapat memetik hikmah dari khutbah nikah yang disampaikan.

Namun, apakah khutbah nikah ini boleh dilakukan dalam setiap pernikahan? Bagaimana hukum khutbah nikah dalam agama Islam? Simak selengkapnya.

Baca Juga: Taaruf dan Prosesnya dalam Islam

Hukum Khutbah Nikah dalam Agama Islam

hukum khutbah nikah

Foto: Orami Photo Stock

Khutbah nikah disebut juga dengan khutbatul hajah, yaitu khutbah pembuka yang biasa digunakan oleh Rasulullah SAW untuk mengawali setiap majelisnya.

Rasulullah SAW juga mengajarkan khutbah ini kepada para sahabatnya. Khutbah nikah juga bisa menjadi tanda diumumkannya suatu pernikahan sebagaimana anjuran Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW sendiri dalam melangsungkan akad pernikahan baik untuk dirinya sendiri maupun putra-putrinya selalu menyertainya dengan pembacaan khutbah terlebih dahulu, seperti saat Rasulullah SAW melangsungkan akad pernikahan dengan Khadijah.

Hukum membaca khutbah nikah adalah dianjurkan dan sunnah sebagaimana disebutkan oleh kebanyakan ulama fiqh. Namun demikian ada juga yang memandang khutbah nikah sebagai suatu kewajiban dalam setiap akad pernikahan.

Kalangan yang mewajibkan khutbah nikah mendasarkan pendapatnya pada salah satu hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang berbunyi: “Setiap perkara penting yang tidak diawali dengan pujian kepada Allah, maka perkara itu terputus (sedikit berkahnya)”.

Baca Juga: 3+ Tanda Ayah dan Suami Ideal dalam Islam

Rukun Khutbah Nikah

rukun khitbah nikah

Foto: Orami Photo Stock

Mengutip jurnal yang dipublikasikan oleh Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh, khutbah nikah memiliki beberapa ketentuan khusus atau rukun yang menjadi syarat.

Mengenai rukun khutbah nikah, Abu Hasan Al-Mawardi mengemukakan dalam kitabnya Al-Haawiy Al-Kabiir, bahwa syarat dan rukun khutbah nikah terdiri dari empat macam, yaitu:

  • Bersyukur dan memuji kepada Allah SWT
  • Bershalawat kepada Rasulullah SAW
  • Berwasiat untuk senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dan mentaatinya
  • Membacakan ayat-ayat suci Alquraan, yang diutamakan ayat-ayat yang khusus membicarakan tentang pernikahan.

Baca Juga: 15+ Adab Istri Terhadap Suami dalam islam, Wajib Tahu!

Contoh Teks Khutbah Nikah

contoh khutbah nikah

Foto: Orami Photo Stock

Sebagai referensi, berikut contoh teks khutbah nikah yang bisa dilafalkan ketika proses pernikahan, seperti dikutip dari NU Online.

Alhamdulilâhilladzî khalaqa minal mâ`i basyaran faja’alahu nasaban wa shihran wa kâna Rabbuka qadîran. Wa asyhadu al lâ ilâha illallâh wahdahu lâ syarîka lah. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasûlahu.

Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammadin afdlalul khalqi wal warâ wa ‘alâ âlihi wa shahbihi shalâtan wa salâman katsîran.

Amma ba’du. Fa yâ ayyuhal hâdlirûn, ûshîkum wa nafsî bi taqwallâh faqad fâzal muttaqûn. Qâlallâhu ta’âla fî kitâbihil karîm: Yâ ayyuhalladzîna âmanû ittaqullâha haqqa tuqâtihi wa lâ tamûtunna illâ wa antum muslimûn.

Wa’lamû annannikâha sunnatun min sunani Rasulillâhi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Wa qâla annabiyyu shallallâhu ‘alaihi wa sallam: Amâ wallâhi innî la`akhsyâkum lillâhi wa atqâkum lahu, lakinnî ashûmu wa ufthiru, wa ushalli wa arqadu wa atazawwaju an-nisâ`a, faman raghiba ‘an sunnatî fa laisa minnî.

Wa qâla aidlan, yâ ma’syarasy syabâba man istathâ’a minkum al-bâ`ata fal yatazawwaj, fainnahu aghadldlu lil bashari wa ahshanu lil farji, man lam yastathi’ fa ‘alaihi bish shaumi fainnahu lahu wijâ`un.

Wa qâla aidlan, khairun nisâ`a imra`atun idzâ nadzarta ilaihâ sarratka, wa idzâ amartahâ athâ’atka, wa idzâ ghibta ‘anhâ hafadzatka fî nafsihâ wa mâlika.

Wa qâlallâhu ta’âla, yâ ayyuhannâsu innâ khalaqnâkum min dzakarin wa untsa wa ja’alnâkum syu’ûban wa qabâila li ta’ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum.

Wa qâla aidlan, wa ankihû al-ayyâma minkum wash shâlihîna min ‘ibâdikum wa imâikum in yakûnû fuqarâ`a yughnihimullâha min fadhlihi wallâhu wâsi’un ‘alîm.

Bârakallâhu lî wa lakum fil qur`ânil ‘adzîm. Wa nafa’anî wa iyâkum bimâ fîhi minal âyati wadz dzikril hakîm wa taqabbal minnî wa minkum tilâwatahu innahû huwat tawâbur rahîm.

A’ûdzu billâhi minasy syaithânirrajîm yâ ayyuhannâsu ittaqullâha rabbakumulladzî khalaqakum min nafsin wâhidatin wa khalaqa minhâ zaujahâ wa batstsa minhumâ rijâlan katsîran wa nisâ`a. wattaqullâha alladzî tasâ`alûna bihi wal arhâm. Innallâha kâna ‘alaikum raqîba.

Aqûlu qauli hâdzâ wastaghfirullâha al-‘adzîm lî wa lakum wali wâlidayya wali masyâyikhina wali sâiril muslimîna. Fastaghfirûhu innahû huwal ghafûrurrahîm.

Artinya:

“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dari setitik air, lalu Dia menjadikannya keturunan dan kekerabatan, dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa. Dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya.

Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah rahmat ta’dhim dan kesejahteraan atas junjungan kami Nabi Muhammad SAW, seutama-utama penciptaan makhluk dan atas keluarga dan sahabatnya dengan limpahan rahmat ta'dhim serta kesejahteraan yang banyak.

Setelah itu, wahai yang hadir, aku mewasiatkan padamu dan diriku untuk bertaqwa kepada Allah, karena sesungguhnya itu adalah kemenangan (yang besar) bagi orang-orang yang bertaqwa.

Allah SWT berfirman dalam kitab-Nya yang mulya: Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya, dan sekali-kali janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan menyerahkan diri pada Allah (beragama Islam).

Ketahuilah bahwa nikah itu adalah sunah dari beberapa sunah Rasulullah SAW. Nabi SAW bersabda: Adapun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa kepada-Nya.

Akan tetapi aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur serta menikahi wanita. Barang siapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku.

Dan beliau bersabda lagi: Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kalian yang telah mempunyai kemampuan (menafkahi keluarga), maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih bisa menundukkan pandangan dan lebih bisa menjaga kemaluan, dan barang siapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa karena hal itu akan lebih bisa meredakan gejolaknya.

Dan beliau bersabda lagi: Istri yang baik adalah wanita yang menggembirakan hatimu ketika dipandang, apabila kamu perintah ia mentaatimu, apabila kamu tiada ia mampu menjaga kehormatan dirinya dan hartamu.

Dan Allah SWT berfirman: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. 

Dan Allah SWT berfirman pula: Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.

Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Semoga Allah memberi berkah kepadaku dan kepadamu dalam Al-Qur'an yang agung.

Dan memberi manfaat kepadu dan kepadamu terhadap apa yang ada di dalamnya, dari ayat-ayat dan peringatan yang bijak, dan semoga Allah menerima dariku dan darimu dalam membacanya, karena sesungguhnya Allah Maha penerima Tobat lagi Maha Penyayang.

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.

Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Aku katakan perkataanku ini, dan mohon ampun pada Allah Yang Maha Agung untukku dan untukmu, untuk kedua orang tau dan guru-guru serta untuk orang Islam lainnya. Maka mohonlah ampun kepada-Nya, karena sesunggunya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Itulah hukum khutbah nikah beserta contoh bacaannya. Semoga bermanfaat.

  • https://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/486/1/M.%20Nanda%20Rahmana.pdf
  • https://islam.nu.or.id/post/read/84215/khutbah-nikah-hukum-dan-contohnya
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait