19 Juni 2022

Kwashiorkor, Penyakit Malnutrisi yang Dikenal sebagai Busung Lapar

Kwashiorkor sering terjadi di daerah yang sulit mendapatkan akses makanan

Apakah Moms mengenal penyakit kwashiorkor? Penyakit ini sering dikenal dengan nama busung lapar.

Ternyata, di Indonesia masih bisa ditemui anak yang menderita penyakit yang berkaitan dengan kekurangan gizi pada anak ini.

Kwashiorkor yang juga dikenal sebagai “malnutrisi edematous” karena hubungannya dengan edema atau retensi cairan, adalah gangguan gizi yang paling sering terlihat di daerah yang mengalami sering kelaparan,dikutip Healthline.

Ini adalah bentuk kekurangan gizi yang disebabkan oleh kekurangan protein dalam makanan.

Orang yang memiliki kwashiorkor biasanya terlihat sangat kurus di semua bagian tubuh kecuali pergelangan kaki, kaki, dan perut yang membengkak dengan cairan.

Baca Juga: Yuk, Berikan Gizi Anak Sesuai Usianya

Penyebab Kwashiorkor

Penyebab Kwashiorkor
Foto: Penyebab Kwashiorkor

Foto: kondisi malnutrisi (Orami Photo Stock)

Kwashiorkor jarang ditemukan di Amerika Serikat dan negara-negara lain dengan persediaan makanan yang umumnya stabil.

Ini paling umum di Afrika sub-Sahara dan negara-negara lain yang memiliki persediaan makanan yang terbatas.

Sebenarnya, kebanyakan orang yang terkena kwashiorkor akan sembuh total jika mendapatkan perawatan dengan baik.

Ini melibatkan asupan kalori dan protein ekstra ke dalam makanan. Istilah lain untuk kwashiorkor biasanya:

  • Malnutrisi protein
  • Malnutrisi maligna
  • Malnutrisi kalori protein

Kwashiorkor paling sering terjadi pada anak-anak, terutama jika mereka tidak memiliki akses kepada nutrisi yang memadai setelah berhenti menyusui.

Jika seorang anak mengalami kwashiorkor, mereka membutuhkan perhatian medis dengan segera.

Anak-anak yang pernah mengalami kwashiorkor mungkin tidak tumbuh atau berkembang dengan baik dan mungkin tetap terhambat selama sisa hidupnya.

Bisa juga ada komplikasi serius ketika pengobatan tertunda, seperti koma, syok, serta cacat mental dan fisik secara permanen.

Kwashiorkor dapat mengancam jiwa jika tidak ditangani. Ini bahkan dapat menyebabkan kegagalan fungsi pada organ utama dan akhirnya kematian.

Kwashiorkor disebabkan oleh kekurangan protein dalam makanan.

Karena setiap sel dalam tubuh mengandung protein, seseorang membutuhkan protein dalam setiap makanan agar tubuh dapat memperbaiki sel dan membuat sel baru.

Baca Juga: Kandungan Gizi Dalam Susu Bayi

Tubuh manusia yang sehat akan terus menerus meregenerasi sel. Protein juga sangat penting untuk pertumbuhan selama masa kanak-kanak dan kehamilan.

Jika tubuh kekurangan protein, pertumbuhan dan fungsi normal tubuh akan mulai terhenti, dan kwashiorkor dapat berkembang.

Kwashiorkor paling umum di negara-negara di mana ada persediaan terbatas atau kekurangan makanan.

Ini sebagian besar ditemukan pada anak-anak dan bayi di Afrika sub-Sahara, Asia Tenggara, dan Amerika Tengah, menurut Malawi Medical Jurnal.

Kondisi ini jarang terjadi di Amerika Serikat. Menurut StatPearls, beberapa kawasan ini miliki banyak kasus:

  • Asia Tenggara
  • Amerika Tengah
  • Kongo
  • Puerto Riko
  • Jamaika
  • Afrika Selatan
  • Uganda

Kekurangan makanan bisa terjadi di beberapa negara yang disebabkan oleh bencana alam seperti kekeringan atau banjir, atau adanya kerusuhan politik.

Kurangnya pengetahuan gizi dan ketergantungan pada makanan rendah protein seperti terjadi di banyak negara Amerika Selatan, juga dapat menjadi peyebabnya.

Baca Juga: Beras Coklat, Gizi Terbaik untuk si Kecil

Gejala Kwashiorkor

Gejala Kwashiorkor
Foto: Gejala Kwashiorkor

Foto: gejala busung lapar (Orami Photo Stock)

Kwashiorkor adalah akibat dari malnutrisi berat atau kekurangan protein.

Ini berbeda dengan penyakit lain seperti misalnya marasmus, suatu bentuk malnutrisi yang disebabkan oleh kekurangan kalori pada tubuh.

Ada tiga bentuk malnutrisi akut, yakni:

  • Marasmus, yaitu penurunan berat badan yang parah dan pengecilan otot karena kekurangan nutrisi dan kalori
  • Kwashiorkor, yaitu pembengkakan atau edema akibat retensi air akibat kekurangan protein.
  • Marasmic-kwashiorkor, yaitu kombinasi pengecilan otot dan edema.

Menurut Unicef, marasmus adalah bentuk paling umum dari malnutrisi akut dalam keadaan darurat kekurangan pangan.

Kondisi ini mempengaruhi baik anak-anak maupun orang dewasa. Ini juga merupakan bentuk malnutrisi parah yang memerlukan penanganan segera.

Protein bertanggung jawab untuk menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh.

Protein yang tidak mencukupi menyebabkan cairan berpindah ke area tubuh yang tidak seharusnya, di mana ia menumpuk di jaringan.

Ketidakseimbangan cairan di dinding kapiler dapat menyebabkan retensi cairan, atau edema.

Penyebab pasti dari kondisi ini tidak jelas, tetapi para ahli telah mengaitkannya dengan pola makan yang sebagian besar terdiri dari jagung, singkong, atau nasi.

Beberapa gejala kwashiorkor di antaranya:

  • Perubahan warna kulit dan rambut
  • Selal terlihat kelelahan
  • Diare
  • Kehilangan massa otot
  • Gagal tumbuh atau bertambah berat badan
  • Edema (pembengkakan) pada pergelangan kaki, kaki, dan perut
  • Sistem kekebalan yang rusak, yang dapat menyebabkan lebih sering terinfeksi parah
  • Lekas marah
  • Ruam bersisik
  • Shock

Jika dicurigai kwashiorkor, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan untuk memeriksa jika ada pembesaran hati (hepatomegali) dan pembengkakan.

Selanjutnya, tes darah dan urin mungkin akan dilakukan untuk mengukur tingkat protein dan gula dalam darah.

Tes lain dapat dilakukan pada darah dan urin untuk mengukur tanda-tanda malnutrisi dan kekurangan protein.

Tes-tes ini mungkin juga untuk mencari kerusakan otot dan menilai fungsi ginjal, kesehatan secara keseluruhan, dan pertumbuhan.

Baca Juga: Gluten Free, Berpengaruhkah pada Kebutuhan Gizi Anak?

Cara Mengatasi Kwashiorkor

Cara Mengatasi Kwashiorkor
Foto: Cara Mengatasi Kwashiorkor (jakpost.net)

Foto: konsumsi protein (Orami Photo Stock)

Kwashiorkor biasanya terjadi setelah anak berhenti menyusui dan sebelum mereka mencapai usia 4 tahun.

Ini mungkin terjadi karena anak tidak lagi mendapatkan nutrisi dan protein yang sama dari makanan mereka.

Ada juga kasus kwashiorkor akibat gangguan makan, seperti anoreksia, dan pada orang dewasa yang lebih tua.

Menurut University of Florida Health, banyak orang di panti jompo yang kekurangan protein dalam makanan mereka.

Penyakit ini sebenarnya dapat diperbaiki dengan makan lebih banyak protein dan lebih banyak kalori secara keseluruhan, terutama jika pengobatan dimulai sejak dini misalnyapada anak kecil.

Dokter mungkin akan memberikan lebih banyak kalori dalam bentuk karbohidrat, gula, dan lemak.

Setelah kalori memberikan energi, dokter akan menyarankan pemberian protein.

Makanan harus diberikan lebih banyak dan kalori harus ditingkatkan secara perlahan karena tubuh telah lama tidak mendapatkan nutrisi yang tepat.

Baca Juga: Kenali 4 Kondisi Akibat Kurang Gizi Pada Bayi Di Bawah 1 Tahun

Tubuh mungkin perlu menyesuaikan diri dengan peningkatan asupan.

Dokter juga akan merekomendasikan pemberian suplemen vitamin dan mineral jangka panjang untuk dimasukkan dalama pola makan sebagai cara mengobatinya.

Kwashiorkor sebenarnya dapat dicegah dengan memastikan tubuh mendapatkan cukup kalori dan makanan kaya protein.

Pedoman diet dari Institute of Medicine merekomendasikan bahwa 10 hingga 35 persen kalori harian orang dewasa berasal dari protein.

Selain itu, lima hingga 20 persen anak kecil dan 10 - 30% kalori harian anak-anak dan remaja yang lebih besar harus berasal dari protein.

Protein ini dapat ditemukan dalam beberapa makanan, seperti:

  • Makanan laut
  • Telur
  • Daging tanpa lemak
  • Kacang polong
  • Biji-bijian

Banyak anak yang memiliki kwashiorkor juga akan mengalami intoleransi laktosa.

Akibatnya, mereka mungkin perlu menghindari produk susu atau mengonsumsi enzim agar tubuh mereka dapat menangani susu.

Setelah melihat penjelasannya, sebenarnya penyakit kwashiokor dapat dicegah dengan memberikan banyak asupan nutrisi yang baik, terutama yang mengandung protein.

  • https://www.healthline.com/health/kwashiorkor
  • https://www.nhs.uk/conditions/kwashiorkor/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3717490/
  • http://health.gov/dietaryguidelines/dga2010/dietaryguidelines2010.pdf
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/322453
  • https://ufhealth.org/kwashiorkor
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK507876/

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.