07 April 2023

Kurang Gizi pada Anak, Kenali Tanda, Penyebab, hingga Cara Mencegahnya

Kekurangan gizi dapat menyebabkan kelainan fisik maupun perilaku

Nutrisi yang baik sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan anak, terutama selama tahun-tahun awal kehidupannya guna mencegah Si Kecil kurang gizi.

Makanan bergizi bukan hanya penting untuk pertumbuhan, tapi juga untuk perkembangan otak dan organ vital lainnya, Moms.

Oleh karena itu, penting bagi Moms untuk selalu memenuhi kebutuhan vitamin, kalsium, zat besi, lemak, dan karbohidrat anak.

Hal ini untuk memastikan perkembangan anak optimal sesuai dengan usianya. Hati-hati ya Moms, pastikan Si Kecil tidak kurang gizi.

Apabila anak kekurangan gizi, tentu saja bisa memengaruhi kondisi kesehatan fisik hingga kecerdasan emosionalnya.

Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan kurang gizi (malnutrisi) adalah satu-satunya ancaman paling berbahaya bagi kesehatan masyarakat global.

Mereka memperkirakan kekurangan gizi merupakan penyebab utama dari 3,1 juta kematian anak setiap tahun.

Tentunya, kondisi seperti ini akan menimbulkan dampak negatif jangka panjang bagi jutaan anak lainnya sehingga setiap orang tua perlu mewaspadainya.

Baca Juga: Rekomendasi Vitamin untuk Daya Tahan Tubuh Anak, Simak!

Kurang Gizi pada Anak

Tinggi Badan Balita
Foto: Tinggi Badan Balita (Orami Photo Stocks)

Malnutrisi atau gizi buruk adalah kondisi ketika anak tidak menerima nutrisi penting, mineral, dan kalori. Padahal, nutrisi penting ini membantu perkembangan organ vital anak.

Jika Si Kecil mengalami kurang gizi, hal ini dapat menyebabkan beberapa kelainan, baik fisik maupun perilaku.

Abby Sauer, MPH, RD, ahli nutrisi dari Amerika Serikat, mengatakan malnutrisi terjadi ketika anak tidak mendapatkan nutrisi yang tepat.

Hal ini bisa dikarenakan tidak makan cukup atau makan terlalu banyak. 

"Kurang gizi menyebabkan ketidakseimbangan dalam tubuh kita dan jika itu berlangsung lama, bisa berdampak signifikan pada kesehatan," kata Sauer.

Malnutrisi dan kelaparan tidak sama, meskipun keduanya mungkin berhubungan.

Kelaparan dirasakan saat perut dalam keadaan kosong, sedangkan kekurangan gizi adalah kekurangan nutrisi yang dibutuhkan tubuh.

Anak-anak yang kurang gizi dapat rentan terhadap penyakit yang mengakibatkan pertumbuhan terhambat serta penyakit kronis.

Baca Juga: Makan Banyak Tapi Berat Badan Turun? Ini 13 Penyebab Badan Kurus

Tanda Kurang Gizi pada Anak

Anak Makan Buah
Foto: Anak Makan Buah (Orami Photo Stocks)

Sebenarnya, tanda dan gejala malnutrisi pada bayi dan anak-anak tergantung pada jenis kekurangan gizi yang dimiliknya.

Namun terdapat beberapa tanda dan gejala malnutrisi yang mudah dikenali, antara lain:

  • Kelelahan
  • Sifat lekas marah
  • Sistem kekebalan tubuh yang buruk meningkatkan kerentanan infeksi
  • Kulit kering dan bersisik
  • Pertumbuhan terhambat
  • Perut kembung
  • Waktu pemulihan yang lebih lama dari luka, infeksi, dan penyakit
  • Massa otot berkurang
  • Perkembangan perilaku dan intelektual yang lambat
  • Gangguan fungsi mental dan masalah pencernaan

Melansir The Journal of Nutrition, kekurangan gizi bisa dibagi menjadi 2, yaitu:

  • Kurang gizi sedang (moderate malnutrition)
  • Kurang gizi akut (severe acute malnutrition)

Jika kurang gizi sedang pada anak dibiarkan dalam waktu lama, kondisi ini bisa saja berkembang menjadi kekurangan gizi akut.

Bahkan, tidak menutup kemungkinan kekurangan gizi sedang tersebut bisa menimbulkan wasting maupun stunting dalam bentuk yang lebih parah.

Baca Juga: 7 Jenis Elektrolit yang Dibutuhkan Tubuh Anak

Penyebab Kurang Gizi pada Anak

Anak Melepeh Makanan
Foto: Anak Melepeh Makanan (Orami Photo Stocks)

Ahli Nutrisi Elizabeth Streit MS, RDN, LD, mengatakan, kurang gizi merupakan masalah besar di seluruh dunia yang bisa berdampak pada:

  • Lingkungan
  • Ekonomi
  • Kondisi kesehatan

"WHO memperkirakan sebanyak 460 juta orang dewasa dan 150 juta anak-anak mengalami gizi buruk pada tahun 2018," ungkap Streit dikutip dari Healthline.

Angka tersebut tentu sangat besar dan bisa memberikan dampak yang luar biasa.

Ada beberapa hal yang menyebabkan seorang anak mengalami kurang gizi. Apa saja? Berikut daftarnya!

1. Kesehatan Ibu yang Buruk

WHO menyatakan masa keemasan bagi perkembangan dan kesehatan anak terjadi dalam 1.000 hari pertama atau dari awal kehamilan hingga anak berusia 2 tahun.

Ibu yang kekurangan gizi selama kehamilan dapat mengalami komplikasi saat melahirkan.

Kekurangan gizi selama masa kehamilan tersebut pada akhirnya bisa menyebabkan mereka melahirkan bayi dengan berat badan rendah.

Hal ini tentu saja menjadi penyebab utama dalam malnutrisi pada anak.

Selain itu, ibu dengan gizi buruk juga dapat mengalami kesulitan menyusui bayinya.

2. Kurang Asupan ASI

Menyusui bayi baru lahir sangat penting karena ASI memberikan nutrisi penting kepada bayi yang merupakan dasar untuk perkembangan anak.

Menyusui selama 6 bulan pertama kehidupan anak memiliki manfaat kesehatan yang berlanjut hingga dewasa.

Penelitian The Cureus Journal of Medical Science menunjukkan, jika seorang ibu terlalu kekurangan gizi untuk menyusui, anak dapat mengalami kekurangan gizi.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), permasalahan ini paling umum ditemui pada negara-negara berkembang.

3. Pola Makan Tidak Sehat

Kurangnya asupan makanan yang cukup dapat menyebabkan kekurangan nutrisi yang diperlukan.

Hal ini mengakibatkan kurangnya gizi anak.

Makanan yang mengandung bahan yang tidak bisa dicerna dan berbahaya juga dapat menyebabkan hilangnya nafsu makan.

Pada akhirnya, bisa menyebabkan kekurangan gizi pada anak.

Baca Juga: 5 Manfaat dan Kegunaan Serat untuk Tubuh, Moms Wajib Tahu!

4. Makan Tidak Teratur

Tidak mengonsumsi makanan pada waktu yang tepat dan interval teratur dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan kekurangan gizi.

5. Gangguan Pencernaan

Beberapa anak mungkin memiliki gangguan pencernaan seperti penyakit Crohn yang membatasi kemampuannya untuk menyerap nutrisi.

Padahal, makanan yang dikonsumsi sudah memiliki nutrisi lengkap.

Penyakit Chorn adalah radang usus yang dapat merusak dinding usus sehingga Si Kecil sakit perut, diare berat, kelelahan, penurunan berat badan, hingga kurang gizi.

Jika Si Kecil mengalami hal ini, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter ya, Moms.

6. Kurangnya Aktivitas Fisik

Kurangnya aktivitas fisik yang cukup dapat memperlambat proses pencernaan yang mengarah ke kekurangan gizi.

Malnutrisi lainnya pada anak di bawah 5 tahun juga dapat disebabkan karena:

7. Penyakit Tertentu

Penyebab lain yang bisa mengakibatkan anak mengalami kurang gizi, yakni pengaruh suatu penyakit.

Penyakit dan infeksi tertentu, seperti TBC, campak, dan diare merupakan kondisi yang terkait secara langsung dan menjadi salah satu penyebab malnutrisi akut.

Selain itu, penyakit HIV dan AIDS juga telah menjadi penyebab utama malnutrisi akut di banyak negara berkembang.

Biasanya, seorang anak yang terinfeksi HIV lebih rentan terhadap malnutrisi akut daripada anak yang sehat.

Baca Juga: 7 Cara Mengatasi Bayi Susah BAB, Coba Pijat Bayi dan Ganti Menu Makannya

Dampak Kurang Gizi pada Anak

Anak Stunting
Foto: Anak Stunting (Orami Photo Stocks)

“Mengidentifikasi malnutrisi dan melakukan intervensi dini adalah kunci untuk menjaga anak mengurangi komplikasi,” kata Sauer.

Malnutrisi dapat memiliki efek jangka panjang pada anak-anak jika tidak didiagnosis dan diobati tepat waktu.

Berikut ini adalah dampak dari kekurangan gizi pada anak:

1. Stunting

Stunting atau kerdil adalah salah satu efek jangka panjang dari kekurangan gizi pada anak-anak.

Kurang gizi dapat membatasi kemampuan anak untuk tumbuh secara normal baik dalam hal tinggi badan dan berat badan.

Pertumbuhan yang terhambat bisa bersifat permanen dan tidak dapat diubah.

Stunting juga bukan sekadar gagal tumbuh, tapi juga gangguan perkembangan otak sehingga anak tumbuh dengan IQ rendah.

Melansir informasi dari Kementerian PPN/Bappenas, stunting pada anak merupakan bentuk kekurangan gizi yang paling umum di Indonesia.

Hingga saat ini, stunting masih menjadi tantangan utama bagi Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya.

Data Riskesdas yang diperoleh pada tahun 2018 menunjukan, prevalensi stunting pada anak usia di bawah dua tahun sebesar 29,9%.

Angka tersebut sangat tinggi dan mengkhawatirkan, sehingga pemerintah pun terus berupaya untuk mengatasinya.

Baca Juga: 7 Akibat Telat Makan untuk Kesehatan Tubuh

2. Marasmus

Kekurangan energi-protein yang parah dapat menyebabkan kekurangan gizi yang disebut dengan marasmus.

Marasmus lebih sering terjadi pada anak kecil dan bayi.

Marasmus juga dikenal sebagai kekurangan energi dan ditandai dengan:

  • Penurunan berat badan yang parah
  • Kulit tipis
  • Rambut rontok
  • Dehidrasi
  • Diare kronis
  • Penyusutan perut
  • Kelelahan

Salah satu faktor risiko yang bisa menyebabkan marasmus, yakni tinggal di daerah pedesaan atau daerah yang sulit mendapatkan makanan.

Bayi, termasuk bayi yang tidak diberi ASI, anak kecil, atau orang dewasa yang lebih tua juga memiliki risiko marasmus yang cukup tinggi.

3. Kwashiorkor

Kwashiorkor juga merupakan hasil dari kekurangan protein-energi yang parah. Gejalanya antara lain:

Jika tidak diobati, kondisi ini dapat menyebabkan koma dan kematian.

Tak hanya itu, malnutrisi pada anak-anak juga dapat menyebabkan kondisi seperti:

  • Anemia
  • Tulang lemah
  • Sistem kekebalan tubuh lemah
  • Penyakit kudis
  • Kegagalan organ tergantung pada nutrisi yang kurang

Baca Juga: 15 Rekomendasi Vitamin Otak untuk Meningkatkan Kecerdasan, Fokus dan Daya Ingat

Diagnosis Gizi Buruk pada Anak

Lingkar Pinggang Anak
Foto: Lingkar Pinggang Anak (Orami Photo Stocks)

Diagnosis kurang gizi dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan terhadap riwayat kesehatan anak.

Kekurangan asupan makanan bergizi bisa dilihat dari kebiasaan makan anak.

Selain itu, adanya gejala dan tanda-tanda malnutrisi akan membantu dokter dalam mendiagnosis.

Untuk membedakannya dengan penyakit lainnya, dokter akan memastikan apakah penderitanya memiliki gejala yang diserta penurunan berat badan terus menerus.

Kadang, pada anak dengan kurang gizi juga turut terdiagnosis penyakit lainnya.

Penyakit yang paling sering terdeteksi adalah penyakit infeksi akibat kekebalan tubuh yang rendah.

Pemeriksaan penunjang bisa saja dilakukan. Misalnya pemeriksaan laboratorium hingga radiologi yang sesuai untuk mendiagnosis penyakit infeksi penyerta tersebut.

Baca Juga: Perkembangan Psikologi Anak dari Bayi hingga Usia Sekolah

Cara Mengatasi Kurang Gizi pada Anak

Anak Minum Susu
Foto: Anak Minum Susu (Orami Photo Stocks)

Untuk mengatasi kurang gizi diperlukan pemeriksaan dengan dokter ahli gizi agar bisa diberikan arahan yang sesuai.

Dokter akan menghitung indeks massa tubuh anak dan melakukan pemeriksaan pendukung untuk mengetahui apakah anak kurang gizi atau tidak.

Jika hasilnya menunjukkan anak mengalami kekurangan gizi, dokter akan mencari tahu penyebabnya dan memberikan perawatan menyeluruh kepada anak.

Namun, biasanya dokter akan melakukan beberapa perawatan, seperti:

1. Anak Usia di Bawah 6 Bulan

Jika anak berusia di bawah 6 bulan, tidak ada penambahan olahan makanan atau pemberian obat.

Umumnya dokter akan lebih fokus menganjurkan pemberian ASI.

Pemberian ASI sebaiknya lebih sering dari biasanya dan hindari langsung memberikan susu formula campur ASI untuk mengatasi masalah ini.

Namun, jika anak mengalami kurang gizi akut (severe acute malnutrition), sebaiknya berikan makanan tambahan pada usia 4 bulan.

2. Anak Usia di Atas 6 Bulan

Pada usia ini, dokter akan menyarankan secara bertahap untuk meningkatkan asupan:

  • Energi
  • Protein
  • Karbohidrat
  • Cairan
  • Vitamin
  • Mineralnya guna mengatasi kurang gizi

Tujuannya adalah untuk menambah berat badannya dan memperkuat sistem imunnya agar bayi tersebut tidak berisiko tinggi mengalami infeksi.

3. Anak Usia 1 Tahun ke Atas

Berikut ini pengobatan yang bisa dilakukan untuk anak usia 1 tahun ke atas:

Ubah Pola Makan Anak

Biasanya akan disarankan secara bertahap untuk meningkatkan asupan:

  • Kalori
  • Protein
  • Karbohidrat
  • Cairan
  • Vitamin
  • Mineral

Pemberian Suplemen

Suplemen vitamin dan mineral, baik yang berbentuk bubuk atau tablet, untuk remaja dengan gizi kurang bermanfaat agar nafsu makannya meningkat.

Lakukan pemeriksaan ke dokter secara rutin untuk mengetahui bagaimana perkembangan kondisi dan status gizi anak.

Baca Juga: 8 Ciri-Ciri Janin Tidak Berkembang, Waspada Jika Geraknya Tidak Aktif dan Denyut Jantung Berhenti

Cara Mencegah Kurang Gizi pada Anak

Anak Makan Buah
Foto: Anak Makan Buah (Orami Photo Stocks)

Pencegahan kurang gizi harus dilakukan sedari dini. Dalam hal ini, keluarga merupakan fondasi kuat agar masalah ini tidak dialami oleh Si Kecil.

Untuk mencegah masalah ini dapat dimulai dengan cara-cara berikut ini:

  • Memaksimalkan pemberian ASI eksklusif
  • Orang tua khususnya ibu harus terampil menyesuaikan menu MPASI
  • Mencari tau penyebab dan gejala awal gizi buruk
  • Meningkatkan pemahaman tentang asupan nutrisi anak
  • Rutin periksa kesehatan di Posyandu atau Puskesmas
  • Jika memungkinkan, sediakan pula makanan tambahan dan suplemen gizi
  • Berikan imunisasi lengkap pada anak
  • Berikan juga kapsul vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus sampai anak berusia 5 tahun

Baca Juga: 6 Rekomendasi Makanan yang Dianjurkan untuk Anak Gizi Kurang

Ternyata, banyak sekali dampak kurang gizi ya, Moms.

Jika Si Kecil menunjukkan tanda-tanda malnutrisi, Moms sebaiknya segera membawanya ke dokter untuk menjalani pemeriksaan.

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7469063/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4744076/
  • https://www.healthline.com/nutrition/malnutrition
  • https://www.bappenas.go.id/files/1515/9339/2047/FA_Preview_HSR_Book04.pdf
  • https://www.savethechildren.org/us/charity-stories/what-is-malnutrition-in-children
  • https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/malnutrition
  • https://actionagainsthunger.ca/what-is-acute-malnutrition/underlying-causes-of-malnutrition/
  • https://www.healthline.com/health/kwashiorkor-and-marasmus
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/179316
  • https://kidshealth.org/en/parents/crohns-disease.html

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.