Scroll untuk melanjutkan membaca

PASCAMELAHIRKAN
01 Agustus 2022

Pekan ASI Sedunia: Ciptakan Dunia yang Mendukung Ibu Menyusui Memberikan ASI Eksklusif

Ibu menyusui berhak mendapatkan dukungan dari berbagai pihak
Pekan ASI Sedunia: Ciptakan Dunia yang Mendukung Ibu Menyusui Memberikan ASI Eksklusif

Dalam rangka mendukung ibu menyusui di seluruh dunia, World Health Organization (WHO), UNICEF, dan berbagai organisasi lain menggelar kampanye global World Breastfeeding Week (WBW) atau Pekan ASI Sedunia yang dirayakan pada 1-7 Agustus setiap tahunnya.

Kampanye global ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan membangkitkan aksi-aksi yang berkaitan dengan menyusui.

Tahun ini, Pekan ASI Sedunia memiliki tema yang berfokus pada penguatan kapasitas setiap orang yang harus melindungi, mempromosikan dan mendukung kegiatan menyusui di berbagai lapisan masyarakat.

Sasaran kampanye ini adalah pemerintah, sistem kesehatan, tempat kerja, dan masyarakat.

Nantinya, akan diberi informasi, dididik, dan diberdayakan untuk memperkuat kapasitas mereka dalam menyediakan dan mempertahankan lingkungan yang ramah menyusui bagi keluarga di dunia pasca pandemi.

Tema ini selaras dengan kampanye WBW-SDG 2030 yang menyoroti hubungan antara menyusui dan kelangsungan hidup, kesehatan dan kesejahteraan perempuan, anak-anak, dan bangsa.

Menyusui secara eksklusif atau kerap disebut dengan ASI eksklusif, menurut WHO, mampu meningkatkan kekebalan tubuh anak dan menjaganya dari berbagai macam penyakit, seperti diare dan radang paru-paru.

Untuk itu, WHO menyarankan para ibu untuk memberikan ASI eksklusif pada masa kehidupan awal anak.

Pasalnya, program ini bukan hanya meningkatkan kesehatan anak, namun juga meningkatkan kecerdasan, mencegah anak obesitas, dan terjangkit diabetes saat dewasa nanti.

Di sisi lain, menyusui juga dapat menyelamatkan nyawa lebih dari 820.000 anak di bawah 5 tahun setiap tahunnya, dan juga mencegah 20.000 kasus kanker payudara pada perempuan setiap tahun.

Sayangnya, WHO mencatat pada tahun 2020 hanya 1 dari 2 anak di bawah usia 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif di Indonesia.

Bahkan, hampir 50% anak Indonesia tidak mendapatkan nutrisi yang mereka butuhkan selama 2 tahun pertama.

Di sisi lain, para ibu yang berjuang memberikan ASI eksklusif untuk buah hatinya juga menghadapi berbagai masalah, seperti kurangnya dukungan terhadap ibu menyusui dari lingkungan sekitar.

Padahal, dukungan terhadap ibu menyusui sangat penting dan akan memengaruhi kualitas dan kuantitas ASI yang diberikan kepada bayi.

Baca Juga: 12 Makanan Pelancar ASI yang Enak serta Bergizi, Bikin ASI Deras dan Nggak Seret!

Sejarah Pekan ASI Sedunia

Sejarah Pekan ASI Sedunia

Foto: Sejarah Pekan ASI Sedunia

Foto: ibu menyusui (freepik.com/freepic-diller)

Pekan ASI Sedunia dianggap sebagai salah satu kampanye bersama terbesar yang dilakukan oleh organisasi internasional seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF.

Kampanye ini diselenggarakan oleh World Alliance for Breastfeeding Action (WABA), yang bertujuan untuk mempromosikan manfaat menyusui.

Sejarah Pekan ASI Sedunia dimulai pada tahun 1990 ketika World Health Organization (WHO) dan United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) membuat sebuah memorandum untuk mempromosikan dan mendukung pemberian ASI.

Pada tahun 1991, World Association of Breastfeeding Action (WABA) dibentuk untuk melaksanakan tujuan UNICEF dan WHO.

Satu minggu penuh didedikasikan pada tahun 1992 untuk mempromosikan berbagai strategi untuk mendorong pemberian ASI.

Selama seminggu, semua platform komunikasi memberitahu masyarakat tentang informasi menarik, permasalahan, dan sejarah seputar menyusui yang banyak orang tidak sadari.

Sebelumnya, sekitar 70 negara telah menginisiasi perayaan Pekan ASI Sedunia, namun saat ini jumlah tersebut telah berkembang menjadi 170 negara.

Baca Juga: 25 Manfaat ASI bagi Bayi dan Moms, Luar Biasa!

Manfaat Menyusui Bayi

Manfaat Menyusui Bayi

Foto: Manfaat Menyusui Bayi

Foto: tangan ibu dan bayi (freepik.com/onlyyouqj)

Hak setiap ibu di seluruh dunia untuk memberikan ASI eksklusif harus diperjuangkan.

Pasalnya, menyusui bukan hanya menyehatkan sang buah hati, tetapi juga mendukung kesehatan Moms, lho!

dr. Fransiska Farah, Sp.A, M.Kes (Dokter Spesialis Anak - Konselor Laktasi di RS Pondok Indah, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan)

Foto: dr. Fransiska Farah, Sp.A, M.Kes (Dokter Spesialis Anak - Konselor Laktasi di RS Pondok Indah, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan)

“Penting bagi ibu untuk mengetahui manfaat ASI. ASI eksklusif selama 6 bulan, mulai MPASI di 6 bulan, dan melanjutkan ASI hingga 2 tahun atau lebih, merupakan dukungan nutrisi untuk menciptakan anak yang sehat,” ujar dr. Fransiska Farah, Sp.A, M.Kes, Dokter Spesialis Anak - Konselor Laktasi di RS Pondok Indah, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan kepada tim Orami Magazine.

Bahkan, menyusui juga bisa menyelamatkan jutaan nyawa di dunia. Berikut ini manfaat yang bisa didapatkan baik untuk ibu dan bayi.

1. Menyusui Membantu Anak Bertahan Hidup

Dilansir dari WHO, anak-anak yang menjalani program ASI memiliki antibodi lebih kuat dan memiliki payung pelindung saat sistem kekebalan tubuh mereka berkembang, dibandingkan dengan anak yang tidak diberikan ASI.

Sementara, di negara-negara berpenghasilan tinggi, menyusui juga terbukti dapat mengurangi risiko kematian bayi mendadak hingga lebih dari sepertiga dari jumlah anak yang lahir.

Sebenarnya, Si Kecil memang bisa diberikan susu pengganti ASI alias susu formula.

Namun, di negara kurang berkembang, anak-anak yang mengonsumsi susu formula memiliki kemungkinan meninggal akibat diare 25 kali lebih besar.

Sementara, kemungkinan untuk meninggal akibat pneumonia 4 kali lebih besar daripada anak-anak yang diberi ASI.

Bukan hanya soal kesehatan saja, menurut Pediatric Clinics of North America, ASI eksklusif pada anak hingga 8 bulan akan meningkatkan skor verbal IQ rata-rata 10,2 poin lebih tinggi, serta performa IQ rata-rata 6,2 poin lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang tidak mendapatkan ASI.

Dalam penelitian tahun 2018 yang diterbitkan di National Center for Biotechnology Information, menunjukkan bahwa anak-anak yang disusui memiliki risiko yang jauh lebih rendah mengalami infeksi saluran pernapasan bawah, otitis media (infeksi telinga tengah), dan gastroenteritis dibandingkan dengan anak-anak yang tidak disusui.

Bukan hanya itu saja, ASI juga dapat mencegah dan mengurangi kemungkinan Si Kecil untuk terjangkit dari berbagai penyakit dan gangguan kesehatan, seperti:

ASI eksklusif juga tidak hanya baik untuk kesehatan fisik, tetapi juga mental.

Sebuah studi menunjukkan bahwa bayi berusia 8 bulan yang telah disusui untuk jangka waktu lebih dari 5 bulan, menunjukkan peningkatan respons atensi otak terhadap ekspresi bahagia sekaligus mengurangi perhatian pada ekspresi ketakutan.

2. Memberikan Kesehatan bagi Ibu

Bukan hanya memberikan kesehatan pada anak, menyusui ternyata juga bermanfaat untuk kesehatan ibu, lho!

Ketika menyusui, mood ibu menjadi lebih baik, jauh dari stres dan meningkatkan ikatan yang lebih kuat dengan Si Kecil.

Pasalnya, ibu menyusui memiliki respons otak yang lebih tinggi terhadap tangisan bayi mereka sendiri dan menunjukkan perilaku yang lebih sensitif daripada ibu yang memberi susu formula.

Adapun beberapa manfaat kesehatan lainnya bagi ibu antara lain:

  • Mencegah penambahan 20.000 kasus kanker payudara pada perempuan setiap tahunnya.
  • Memicu keluarnya hormon oksitosin, sehingga lebih kecil kemungkinan didiagnosis dengan depresi pasca persalinan.
  • Mengurangi risiko diabetes tipe 2.
  • Mengurangi risiko terkena hipertensi, hiperlipidemia, dan penyakit kardiovaskular.
  • Mengurangi risiko kanker ovarium.

Baca Juga: 5 Ciri ASI Basi, Jangan sampai Salah Diberikan pada Si Kecil Ya Moms!

3. Menyelamatkan Perekonomian Negara

Dalam jurnal medis pada tahun 2016 yang diterbitkan di The Lancet Journal menunjukkan, bahwa menyusui dapat menyelamatkan 820.000 nyawa dan menambah $302 miliar ke dalam ekonomi global.

Hal tersebut terjadi karena adanya penghematan biaya perawatan kesehatan yang terkait dengan peningkatan menyusui.

Karena seperti yang telah kita ketahui, bahwa menyusui dapat meningkatkan imun tubuh, membuat bayi lebih sehat dan tidak rentan terserang penyakit.

Dalam penelitian tersebut juga dijelaskan bahwa terdapat kerugian yang cukup tinggi bila tidak memberi ASI pada anak.

Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa kerugian yang dialami akibat rendahnya tingkat menyusui, berdampak pada potensi penghasilan.

Negara berpenghasilan rendah dan menengah dapat kehilangan lebih dari $70 miliar per tahun, sementara negara berpenghasilan tinggi kehilangan lebih dari $230 miliar per tahun.

Ini juga dikarenakan karena gizi bayi yang terpenuhi kebutuhan ASI-nya dapat mencegah bayi dari stunting atau kurang gizi di mana tingkat kesehatan yang buruk dapat berdampak pada perekonomian suatu negara.

Ditambah lagi anak-anak yang golden age-nya terlewati dengan baik termasuk dengan dukungan ASI, dapat tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang dapat turut serta memajukan tingkat perekonomian bangsa.

Masalah Ibu Menyusui

Masalah Ibu Menyusui

Foto: Masalah Ibu Menyusui

Foto: nyeri payudara (freepik.com/bodysport)

Karena manfaat yang dimiliki sangat baik untuk bayi, ibu, hingga negara, maka setiap ibu berupaya melakukan yang terbaik dalam masa menyusui.

Namun, terkadang timbul masalah yang membuat kegiatan menyusui Si Kecil menjadi terganggu.

Dilansir dari National Health Service, beberapa masalah yang sering kali dapat terjadi pada ibu menyusui, meliputi:

1. Nyeri pada Puting

Nyeri pada puting biasanya terjadi karena bayi tidak diposisikan dengan baik saat menempel di payudara untuk disusui.

Jika keadaan ini terus dibiarkan, maka dapat memperburuk rasa sakit dan menimbulkan rasa ketidaknyamanan, yang akan memengaruhi proses menyusui Si Kecil .

Maka dari itu, sangat penting untuk mendapatkan perawatan dari ahlinya sesegera mungkin.

2. Kurangnya Produksi ASI

Saat pertama kali mulai menyusui, Moms mungkin merasa khawatir jika bayi tidak mendapatkan ASI yang cukup.

Maka dari itu, Moms perlu mempelajari tanda-tanda apakah Si Kecil telah mendapat cukup ASI.

Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk merangsang produksi ASI adalah dengan menyusui Si Kecil di kedua payudara secara bergantian.

3. Pelekatan yang Tidak Benar

Menyusui adalah keterampilan yang Moms dan bayi perlu pelajari bersama, sehingga mungkin memerlukan beberapa waktu untuk memahaminya.

Jika Moms merasa proses menyusui menyakitkan atau SI Kecil tampak tidak puas setelah menyusu, hal tersebut dapat menjadi pertanda bahwa pelekatan ke payudara tidak dilakukan dengan benar.

Menurut dr. Fransiska, beberapa tanda lainnya pelekatan yang salah, antara lain:

  • Kepala bayi bergerak-gerak terus mencari posisi yang nyaman untuk menyusui.
  • Bibir bayi terlipat ke dalam.
  • Sudut mulut bayi tidak terbuka lebar saat menyusui.
  • Dagu bayi tidak menempel pada payudara ibu.
  • Posisi kepala bayi menengadah atau menekuk (bukan hidung menghadap pada puting payudara ibu).
  • Terdengar suara mendecap-decap saat bayi menyusu pada ibu.
  • Pipi bayi tidak membulat saat menelan ASI.

Jika pelekatan yang dilakukan selama menyusui selalu dalam posisi yang salah, maka hal tersebut tentunya menimbulkan efek negatif pada ibu dan juga bayi.

“Tanda pelekatan yang salah dalam jangka panjang bisa dilihat dari nyeri, luka, lecet atau berdarah pada puting atau payudara ibu.

Payudara juga bisa menjadi bengkak, atau terdapat kemerahan, yang disertai dengan demam.

Jika Si Kecil ditimbang, tidak terdapat kenaikan berat badan pada bayi, bayi juga berkemih kurang dari 4 - 6 kali per hari,” papar dr. Fransiska

Maka dari itu, Moms perlu memahami cara menyusui yang benar, sebab proses menyusui yang baik berkaitan erat dengan kondisi kesehatan ibu dan bayi.

Adapun yang perlu Moms ketahui saat akan menyusui anak, yakni:

  • Bagaimana memposisikan bayi untuk menyusui.
  • Pelekatan bayi.
  • Bagaimana transfer ASI yang baik.

Terdapat banyak jenis posisi yang bisa Moms coba selama masa menyusui, pilihlah sesuai dengan kenyamanan Moms dan Si Kecil.

“Ibu dapat mencoba berbagai posisi menyusui, seperti menggendong bayi (cradle), cross-cradle, football position, side lying atau laid back sehingga ibu bisa selalu nyaman menyusui sesuai dengan kondisi ibu,” jelas dr. Fransiska.

Lebih lanjut dr. Fransiska juga menjelaskan untuk memastikan bagaimana posisi tubuh bayi saat menyusui.

Diawali dengan memposisikan Si Kecil dari kepala hingga badan dalam 1 garis lurus, di mana kepala tidak menekuk atau terlalu menengadah pada payudara ibu.

Selanjutnya, pastikan dada bayi bertemu dengan dada ibu, dagu bayi menempel pada payudara ibu, serta mulut terbuka lebar dan bibir melipat keluar seperti mulut ikan saat menyusui.

Selama menyusui, bayi akan mengisap dengan isapan yang kuat dan nyaman, dan juga pastikan ibu tidak merasa nyeri saat menyusui.

Baca Juga: 10 Cara Mengatasi Payudara Sakit saat Menyusui, Yuk, Lakukan agar Nyeri Hilang!

Seberapa Besar Dukungan bagi Ibu Menyusui di Indonesia?

Dari beragam masalah ibu menyusui yang telah dipaparkan di atas, tentu jelas bahwa kegiatan menyusui bukan hal mudah dan punya banyak tantangan.

Karena itu penting bagi ibu menyusui untuk mendapatkan dukungan.

Agar masa menyusui dapat dilalui oleh para ibu dengan baik, mereka membutuhkan dukungan yang tidak hanya berasal dari suami saja.

“Suami dan support system seperti tenaga kesehatan, rumah sakit atau tempat bersalin, keluarga, hingga lingkungan kerja berperan penting,” kata dr. Fransiska.

Ia melanjutkan bahwa rumah sakit dan tenaga kesehatan perlu memberikan support dan bimbingan menyusui bagi ibu.

Para suami atau kerabat Moms lainnya juga dapat memberikan dukungan moril, bantuan tenaga dalam mengurus rumah, dan merawat bayi atau anak yang lain.

Khusus para working Moms, peran lingkungan kerja juga penting.

Kantor dapat memberi support dengan menyediakan fasilitas untuk ibu menyusui, seperti ruang untuk menyusui, yang bisa dijadikan sebagai tempat untuk memerah ASI.

Dengan begitu para ibu yang bekerja dapat merasa nyaman, proses mengasiIhi bisa berjalan lancar, dan pastinya produktivitas kerja ibu meningkat

Dalam rangka merayakan Pekan ASI, Orami mengadakan sebuah survei pada 176 ibu dengan berbagai latar belakang dan profesi mengenai dukungan yang mereka dapat selama masa menyusui.

dukungan suami terhadapat ibu menyusui

Foto: dukungan suami terhadapat ibu menyusui

Dari survei tersebut 52,3% merupakan ibu bekerja, 44,9% ibu rumah tangga, dan sisanya adalah wirausaha.

Data menunjukkan, sebanyak 82,4% ibu rumah tangga mengaku mendapatkan dukungan untuk menyusui dari sang suami.

Sementara 70,3% mengaku sangat puas dengan bantuan dari suami di rumah selama ibu menyusui.

Meskipun begitu, hampir 5% ibu rumah tangga kurang puas dengan bantuan suami.

Pasalnya, meski sang suami berusaha untuk meringankan pekerjaan rumah, mereka tetap harus bekerja.

Sehingga, tak sedikit dari ibu rumah tangga yang mengaku kewalahan dengan pekerjaan rumah.

Selain itu, kendala yang kerap dialami ibu rumah tangga adalah perkara pembagian waktu antara menyusui dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga serta mengurus anaknya yang lain.

Akibatnya, ibu rumah tangga kerap kali tidak punya waktu untuk me time dan mengurus diri sendiri.

Hasil riset dukungan terhadap ibu menyusui

Foto: Hasil riset dukungan terhadap ibu menyusui

Di sisi lain, data juga menunjukkan 48,8% ibu bekerja mengaku tidak memiliki fasilitas ruang menyusui di kantornya.

Meski 47% ibu bekerja mengaku puas dengan dukungan pihak perusahaan tempatnya bekerja, tapi 17% dari mereka mengaku ruang menyusui di kantor memiliki fasilitas yang kurang lengkap.

Fasilitas di ruang menyusui kantor

Foto: Fasilitas di ruang menyusui kantor

Dari bagan di atas, cooler bag, peralatan menyusui, ice pack, alat peraga menyusui, serta media Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) tentang ASI jarang disediakan di ruang menyusui kantor.

Padahal, kelengkapan fasilitas ruang menyusui di kantor sangat penting dan merupakan bagian dari dukungan pihak perusahaan terhadap ibu menyusui.

Baca Juga: 9 Tanda Bayi Cukup ASI yang Wajib Moms Ketahui!

Faktor Penyebab Ibu Tidak Memberikan ASI Eksklusif

menyusui.jpg

Foto: menyusui.jpg (Babycenter.com)

Foto: ibu sedang menyusui bayinya (Orami Photo Stocks)

Moms, tahukah kalau 60% ibu berhenti menyusui? Hal ini tentunya karena dipengaruhi oleh beberapa faktor penyebab ibu tidak memberikan ASI eksklusif.

Melansir dari studi di jurnal Pediatrics, alasan ibu berhenti memberikan ASI eksklusif adalah sesuatu yang berhubungan dengan pemompaan ASI hingga kuantitas ASI yang sedikit.

Faktor penyebab ibu tidak memberikan ASI eksklusif lainnya adalah:

  • Masalah dengan laktasi dan pelekatan.
  • Kekhawatiran tentang nutrisi dan berat badan bayi
  • Kekhawatiran ibu tentang minum obat saat menyusui
  • Kebijakan kerja yang tidak mendukung dan kurangnya cuti orang tua.
  • Norma budaya dan kurangnya dukungan keluarga.
  • Praktik dan kebijakan rumah sakit yang tidak mendukung.

Mengutip dari Health Direct, banyak ibu menyusui yang berhenti memberikan ASI setelah 6 bulan. Sebab menyusui merupakan sebuah tantangan bagi semua ibu.

Meskipun manfaat dari menyusui ini banyak, menyusui rupanya bukan hal yang mudah.

Jika Si Kecil tidak menyusui dengan tepat atau tidak menempel dengan benar, payudara bisa berakhir dengan puting yang lecet, berdarah, sakit, hingga mengakibatkan mastitis.

Sayangnya, kaitan antara ASI yang buruk dan bayi yang gelisah juga bisa menjadi salah satu faktor penyebab ibu tidak memberikan ASI eksklusif.

Sementara, mengutip dari penelitian lainnya di Canadian Journal of Public Health , sebanyak 22,6% penyebab ibu tidak memberikan ASI eksklusif karena kelelahan dan ketidaknyamanan.

Lalu, 21,6% khawatir karena suplai ASI yang sedikit, dan 20% karena sang ibu kembali bekerja atau kembali beraktivitas seperti biasanya. Sisanya adalah karena alasan lain.

Selain itu, faktor lainnya yang menjadi penyebab ibu tidak memberikan ASI eksklusif adalah pekerjaan sekaligus sang ibu tidak mendapatkan dukungan dari sekitar.

Dukungan bagi busui kerap sekali dianggap sepele dan diabaikan hingga akhirnya menimbulkan hambatan bagi busui. Terlebih bagi busui yang bekerja.

Pekerjaan bisa menjadi salah satu hambatan utama termasuk pada kesehatan ibu menyusui. Ibu yang bekerja kerap menggantikan ASI dengan susu formula.

Tidak hanya faktor pekerjaan dan dukungan, di beberapa tempat, ibu menyusui sering menghadapi respons negatif ketika mereka menyusui di depan umum.

Untuk itu, dukungan terhadap ibu menyusui sangat diperlukan dari lingkungannya.

Bukan hanya pihak suami dan keluarga, tetapi juga pihak perusahaan tempatnya bekerja dan rekan-rekan serta teman di kantor.

Baca Juga: 9 Cara Memperbanyak ASI Secara Alami serta Makanan Pelancar ASI untuk Ibu Menyusui

Stres Saat Menyusui dan Cara Mengatasinya

stres saat menyusui

Foto: stres saat menyusui

Foto: ilustrasi stres saat menyusui (Orami Photo Stocks)

Beragam masalah yang dialami ibu menyusui dapat membuat ibu menjadi stres.

Stres saat menyusui ternyata dapat memengaruhi kualitas dan kuantitas ASI, lho Moms!

Melansir dari Very Well Family, terlalu banyak stres dikaitkan dengan penyapihan yang berhenti dini, yaitu sekitar 60% ibu berhenti menyusui akibat stres.

Testimoni Ratih

Foto: Testimoni Ratih

Sama halnya dengan penjelasan Ratih Zulhaqqi, M.Psi, selaku Psikolog. Ia menjelaskan ada beragam stres saat menyusui yang kerap dirasakan oleh ibu.

Terlebih, secara emosional, ibu menyusui yang tidak mendapatkan dukungan bisa saja merasa sedih, memiliki pikiran negatif, dan emosinya tidak stabil.

“Nah, ini akan memengaruhi komunikasi dengan anaknya, namanya juga ibu baru anak pertama terus dia belum mengerti apa-apa tapi lingkungan tidak mendukung pasti akan stressful,” katanya.

Lalu, Ratih juga mengungkapkan ada 3 masalah psikologis yang kerap kali terjadi pada ibu menyusui, yaitu:

  • Pertama, anak jadi bingung puting. Ibu baru dan anak nya bingung puting, ibunya stres anaknya ikutan stres, biasanya sering terjadi di penyesuaian di awal tapi seiring berjalannya waktu ibu sudah bisa melakukan penyusuan. Jadi sudah bisa menanganinya.
  • Kedua, pada saat kualitas ASI seorang ibu dianggap buruk, anaknya ditambah dengan susu formula, ibu pun dianggap tidak bisa menyusui anak.
  • Ketiga, ibu baru dan belum mengetahui banyak hal, lalu kemudian digurui oleh semua orang. Itu bisa menjadi masalah dan memicu stres.

Lantas, dengan adanya stres saat menyusui, bagaimana cara ibu mengatasi stres saat menyusui?

Menurut Psikolog Klinis Anak & Remaja sekaligus Co-Founder Ohana Space Kantiana Taslim, M.Psi., salah satu cara menghadapi stres saat menyusui adalah dengan mendapatkan dukungan dari suami atau keluarga.

Baik dalam bentuk motivasi atau dengan bentuk dukungan lainnya.

Seperti menciptakan ruang diskusi terbuka, serta membantu mencari alternatif terhadap masalah yang dihadapi pada ibu menyusui.

“Paling penting jangan judgemental atau menyalahkan ibu menyusui, jika terjadi masalah menyusui.

Hal seperti itu sebenarnya harus diganti dengan pendekatan terbuka dan diskusi yang lebih enak sehingga mencari solusi bersama, daripada menyalahkan atau memaksa ibu selalu harus bisa menyusui,” tandasnya.

Beragam cara lain yang bisa Moms terapkan untuk menghindari sekaligus mengatasi stres saat menyusui, yakni sebagai berikut.

  • Mencari dukungan yang tepat di sekitar karena ini akan sangat membantu.
  • Mencari informasi yang terpercaya dan valid, terlebih yang sudah terbukti secara penelitian.
  • Detoks media sosial. Sebab media sosial berisiko membuat Moms menjadi tidak percaya diri terhadap kegiatan menyusui. Seperti misalnya ASI yang tidak banyak dibanding ibu lainnya.
  • Pusatkan perhatian pada ibu dan Si Kecil. Fokus untuk bonding dengan anak merupakan cara yang baik untuk mengatasi stres.
Testimoni Kantiana

Foto: Testimoni Kantiana

The Breastfeeding Network menulis, opini dan saran dari anggota keluarga yang terlalu menyudutkan ibu menyusui akan meningkatkan kecemasan berlebihan hingga menimbulkan stres.

Ibu yang stres akan menjadi ragu terhadap diri sendiri. Hal ini tentu juga kan berpengaruh pada jumlah ASI yang diproduksi ibu.

Nah, jika Moms merasa kesulitan untuk menghadapi stres saat menyusui, Moms bisa menemukan berbagai kelompok konseling untuk mendapatkan dukungan.

Sebuah studi Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition menunjukkan, para ibu yang mengunjungi konseling meningkatkan inisiasinya untuk menyusui tepat waktu sebesar 86%.

Jadi, jangan malu untuk melakukan konseling, ya Moms!

Baca Juga: 9 Rekomendasi Kantong ASI dari Berbagai Brand Terbaik, Yuk Pilih Moms!

Faktor yang Memengaruhi Keberhasilan Menyusui

Keberhasilan menyusui tidak hanya datang dari ibu menyusui itu sendiri, lho Moms. Hal ini tentunya juga sudah diketahui oleh banyak ibu.

Terlebih, faktor yang memengaruhi keberhasilan menyusui adalah adanya dukungan dari pasangan dan lingkungan.

Berikut ini sederet dukungan yang bisa diberikan kepada ibu menyusui, baik dari suami, keluarga, dan juga lingkungan.

1. Dukungan Ibu Menyusui dari Suami

Hubungan Suami Istri Setelah Memiliki Anak

Foto: Hubungan Suami Istri Setelah Memiliki Anak

Foto: ilustrasi dukungan suami bagi busui (Orami Photo Stocks)

Dads dapat memberikan banyak dukungan kepada ibu menyusui dengan berbagai cara, yaitu secara psikologis dan juga fisik.

  • Psikologis: Memberi motivasi dan menjadi pengingat. Suami harus selalu mendengarkan keluhan istri tentang pemberian ASI eksklusif.
  • Fisik: Mengerjakan pekerjaan rumah agar istri dapat istirahat sejenak, membantu mempersiapkan kebutuhan ibu menyusui, seperti asupan makanan hingga peralatan breast pumping.

Melansir jurnal Health Prospect, sebanyak 95% ibu yang menerima dukungan suami untuk menyusui mengaku lebih percaya diri pada saat memberikan ASI eksklusif.

Sementara, seorang ibu yang kurang mendapatkan dukungan suami cenderung akan beralih ke susu formula.

Bukan hanya dukungan suami saja yang diperlukan demi keberhasilan menyusui, tetapi komentar yang menyudutkan pun dapat memengaruhi keberhasilan ASI eksklusif.

2. Dukungan Ibu Menyusui dari Keluarga

Selain suami, ibu menyusui juga butuh dukungan dari anggota keluarga lainnya.

Misalnya orang tua, mertua, atau juga adik dan kakak dari Moms. Apa saja bentuk dukungannya?

  • Motivasi dan informasi yang akurat tentang menyusui.
  • Pemberian makanan pendamping ASI yang tepat bergantung pada informasi yang akurat dan dukungan terampil.
  • Jangan menghakimi dan menyalahkan ibu menyusui.

3. Dukungan Ibu Menyusui dari Lingkungan Tempat Kerja

Sementara itu, ibu menyusui yang bekerja dapat dibantu untuk terus menyusui dengan diberikan kondisi yang memungkinkan.

Sebagai contoh, cuti hamil berbayar, pengaturan jam kerja di tempat, fasilitas untuk memerah dan menyimpan ASI, dan istirahat selama menyusui.

Pihak perusahaan juga harus menciptakan lingkungan yang mendukung hak ibu menyusui, serta memberikan pengetahuan tentang pentingnya menyusui.

4. Dukungan Ibu Menyusui dari Fasilitas Kesehatan

dukungan fasilitas kesehatan bagi ibu menyusui

Foto: dukungan fasilitas kesehatan bagi ibu menyusui

Foto: ilustrasi botol untuk memerah ASI (Orami Photo Stocks)

Tak cukup dukungan dari pihak keluarga saja, ibu menyusui juga berhak mendapatkan berbagai macam dukungan dari fasilitas kesehatan.

Adapun dukungan lainnya yang bisa diberikan fasilitas kesehatan kepada ibu menyusui antara lain:

  • Melatih ibu menyusui cara memerah ASI.
  • Memberikan informasi dan mengajarkan keterampilan tentang menyusui.
  • Menyediakan pelayanan antenatal (perawatan kehamilan).
  • Memberikan konseling gizi yang sehat dan spesifik budaya kepada ibu menyusui.
  • Dukung ibu untuk mengenali dan menanggapi isyarat bayi mereka untuk menyusu.
  • Menciptakan kondisi yang akan memfasilitasi pemberian ASI eksklusif, seperti ruang dan fasilitas perawatan bersalin yang tepat, jatah makanan tambahan dan air minum.

Baca Juga: Bra Menyusui: Tips Memilih, Menggunakan, dan Rekomendasi Produk yang Bagus serta Nyaman

5. Dukungan Ibu Menyusui dari Pemerintah

Selain pihak-pihak di atas, pemerintah juga wajib, lho, memberikan dukungan terhadap para busui di Indonesia.

Moms sebagai ibu menyusui memiliki hak atas dukungan tersebut. Lantas, apa saja dukungan yang bisa diberikan pemerintah untuk busui?

  • Menunjuk koordinator menyusui nasional dengan kewenangan yang sesuai.
  • Menetapkan komite menyusui nasional multisektoral yang terdiri dari perwakilan dari departemen pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan profesional kesehatan asosiasi.
  • Memastikan setiap fasilitas yang menyediakan layanan bersalin sepenuhnya menerapkan semua dukungan menyusui yang ditetapkan dalam pernyataan WHO/UNICEF tentang menyusui dan layanan bersalin.
  • Memberlakukan Undang-Undang imajinatif yang melindungi hak-hak menyusui bagi perempuan yang bekerja dan menetapkan sarana untuk penegakannya.
  • Memastikan bahwa sektor kesehatan dan sektor terkait lainnya melindungi, mempromosikan, dan mendukung secara eksklusif menyusui selama 6 bulan dan terus menyusui sampai usia 2 tahun atau lebih.
  • Memberikan pengetahuan pemberian makanan pendamping ASI yang tepat waktu, memadai, aman.
  • Memastikan bahwa makanan pelengkap olahan dipasarkan untuk digunakan pada usia yang sesuai dan aman, bergizi, serta memadai.

Nah, rupanya ada banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan menyusui, ya Moms terutama faktor dukungan itu sendiri.

Senada dengan penjelasan Kantiana, faktor dukungan ini bisa menjadi faktor eksternal yang membantu kelancaran ASI.

“Bayangkan saja, kalau di dalam dirinya sudah stres ditambah tekanan dari luar, dari suami, keluarga, atau lingkungan. Hal ini bisa menambah keparahan kondisi ibu menyusui,” ungkap Kantiana.

Meskipun ada banyak dukungan yang memengaruhi keberhasilan menyusui, berbagai penelitian menunjukkan, keberhasilan menyusui paling bergantung pada dukungan suami dan keluarga.

Hal ini sekaligus membuktikan bahwa menyusui tidak hanya tugas ibu melainkan tugas ayah dan diperkuat dengan dukungan lingkungan hingga pemerintah.

Baca Juga: 10 Manfaat ASI Eksklusif untuk Ibu dan Bayi, Luar Biasa!

Syarat Ruang Menyusui

Seperti yang sudah disinggung di atas, salah satu faktor keberhasilan menyusui yaitu harus adanya dukungan termasuk ruang menyusui yang layak. Nah, kira-kira bagaimana syarat ruang menyusui yang layak?

Syarat Ruang Menyusui yang Layak (Pasal) 1

Foto: Syarat Ruang Menyusui yang Layak (Pasal) 1

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2013 Tentang Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui/Atau Memerah Air Susu Ibu Pasal 9, 10, dan 11, dijelaskan mengenai apa saja yang menjadi syarat utama kelayakan dan kelengkapan ruang menyusui di setiap kantor.

Kelengkapan dan kelayakan ruang laktasi atau menyusui ini merupakan bentuk dukungan pihak perusahaan kepada para ibu bekerja untuk memberikan ASI eksklusif kepada buah hatinya.

Syarat Ruang Menyusui yang Layak (Pasal) 2

Foto: Syarat Ruang Menyusui yang Layak (Pasal) 2

Baca Juga: Begini Cara Menyimpan ASI yang Benar agar Kualitas ASI Tetap Terjaga dengan Baik

Cerita Pejuang ASI dan Ayah ASI

Yuk, Moms dengar cerita pejuang ASI dan ayah ASI agar Moms tidak merasa berjuang sendirian!

1. Adanya Fasilitas Ruang Laktasi di Kantor

Sayangnya, hampir setengah dari ibu bekerja yang mengisi survei Orami mengaku kantor tempatnya bekerja tidak menyediakan fasilitas ruang laktasi.

Tapi masih ada beberapa perusahaan di Indonesia yang peduli terhadap ibu menyusui yang bekerja.

Tersedianya fasilitas ruang laktasi merupakan dukungan terhadap ibu bekerja untuk menjalani program ASI eksklusif kepada buah hatinya.

Halodoc, merupakan salah satu perusahaan yang menyediakan ruang laktasi untuk para ibu menyusui yang bekerja di perusahaan tersebut.

AVP Human Capital Halodoc, Ruth Novalinda mengatakan, ketersediaan ruang laktasi ini merupakan bentuk dukungan Halodoc terhadap ibu menyusui yang bekerja di perusahaan tersebut.

Testimoni Halodoc

Foto: Testimoni Halodoc

Menurut Ruth, Halodoc menyediakan ruang laktasi di lantai 5 dengan ukuran 3x4 m.

Dalam ruangan tersebut tersedia sofa, lemari, dan kulkas untuk kenyamanan ibu menyusui.

“Semakin nyaman dan menyenangkan proses menyusui atau memerah ASI, pasti ASI-nya akan semakin banyak.

Jendelanya juga menghadap ke luar jadi benar-benar aman dan terjaga privasinya. Tersedia juga AC, tisu, meja, dan kulkas khusus ASI,” jelas Ruth saat diwawancara Orami.

Bukan hanya Halodoc saja, tapi Orami juga memberikan dukungan terhadap ibu menyusui.

Hal ini disampaikan Human Capital Department Orami, Desi Wulandari.

Menurutnya, pihak kantor telah memenuhi kebutuhan busui dengan baik, termasuk dukungan dari para rekan kerja di kantor.

“Dari lingkungan tempat kerja ada tempat pumping, dan rekan kerja yang mengerti jika kita harus ada jadwal menyusui,” ungkapnya.

Di kantor Orami sendiri, tersedia ruang untuk menyusui di setiap lantai.

“Di kantor enaknya setiap lantai punya tempat pumping masing-masing 1 ruangan untuk 1 orang dengan 1 sofa dan meja, serta tisu dan hand sanitizer.

Ruangannya cukup besar, cukup untuk 3 orang dengan sekat tembok dan tirai, 1 sofa besar, dan tempat cuci tangan.

Di kantor, saya baru menemukan 1 tempat khusus dari 1 gedung yaitu dengan 1 sofa, tisu dan tempat cuci tangan,” jelasnya.

Selain Halodoc, PT Tiara Marga Trakindo (TMT) selaku induk perusahaan dari Grup TMT juga menyediakan ruang khusus laktasi bagi ibu yang bekerja di perusahaan tersebut.

Tenant Relation PT Triyasa Propertindo, Nila Damayanti, mengatakan perusahaan tersebut memiliki kepedulian untuk memastikan kenyamanan para ibu bekerja, salah satunya lewat penyediaan fasilitas ruang laktasi.

"Di Gedung TMT sendiri, ruang laktasi yang disiapkan telah dilengkapi dengan fasilitas penunjang yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan sekaligus mendukung kenyamanan busui.

Mulai dari ruangan yang ber-AC, sofa yang nyaman, kulkas, lemari penyimpanan, dispenser air panas serta, wastafel."

Ruang laktasi yang sudah disediakan sejak 2013 ini, lanjutnya, bertujuan agar karyawan wanita tidak perlu merasa khawatir saat harus melakukan pumping di kantor karena fasilitas dan higienitas tetap terjamin.

Tidak hanya itu, dengan adanya fasilitas ini angka kehadiran di perusahaan pun bisa meningkat, ibu menjadi tidak sering izin atau terlambat karena alasan harus menyusui ataupun memerah ASI.

Salah satu ibu bekerja yang juga mendapatkan dukungan baik dari pihak perusahaan tempatnya bekerja adalah Moms Vania Ika Aldida, jurnalis di salah satu media online nasional.

Selama menyusui, Vani diberikan waktu untuk lebih banyak WFH dibandingkan WFO.

"Di tempat saya bekerja juga ada fasilitas berupa tempat untuk melakukan pumping yang dilengkapi dengan sofa, AC, dan freezer untuk menyimpan ASI ataupun ice gel," ungkapnya.

Namun, tidak semua ibu bekerja beruntung diberikan fasilitas sebuah ruangan laktasi khusus.

Member Orami Community, Founder Komunitas YesKamuBerharga, Lidya Debora, mengaku di kantornya bekerja tidak ada ruang laktasi.

Dirinya berharap, setiap perusahaan menyediakan ruang laktasi khusus yang bersih.

"Di kantor, ruangan yang tersedia bukan ruang khusus menyusui, sebenarnya.

Namun, boleh izin untuk pumping di ruangan tertentu yang tertutup dan bersih. Ya, sebaiknya perusahaan punya ruangan khusus ya, ada kulkas lebih baik dan kursi yang nyaman."

2. Tidak Adanya Ruang Laktasi di Kantor

Namun sayangnya, tidak semua perusahaan menyediakan ruang laktasi. Hal ini dialami Aulya Arifianty, Member WAG Working Moms Orami Community.

Menurut Aulya, kantor tempatnya bekerja belum menyediakan ruang laktasi sama sekali.

Testimoni Working Moms Aulya

Foto: Testimoni Working Moms Aulya

Padahal, ruang laktasi dan dukungan terhadap ibu menyusui baik di kantor maupun di rumah dari lingkungan sekitar, terutama suami, sangat penting bagi keadaan mental dan fisik ibu.

Dukungan inilah yang akan mendorong ibu menyusui dapat memberikan ASI eksklusif kepada sang buah hati secara penuh.

3. Merasakan Dukungan dari Suami

Bagi para pejuang ASI, peran suami tentunya yang paling penting untuk menyukseskan ASI eksklusif.

Bantuan dari suami bukan sekadar meringankan pekerjaan dan tugas busui di rumah, tetapi juga memengaruhi mood.

Hal ini disampaikan seorang ibu rumah tangga sekaligus ibu, Nur Fajrina.

Menurutnya, peran suami, keluarga, dan lingkungan sangat penting baginya selama memberikan ASI eksklusif kepada Si Kecil.

Testimoni Nur Fajrina

Foto: Testimoni Nur Fajrina

Tidak hanya Moms Nur Fajrina saja, hal serupa juga disampaikan oleh ibu rumah tangga lainnya, Weni Handayani. Baginya, dukungan keluarga dan kerabat sangat penting.

Salah satu dukungan yang ia dapat dari keluarga adalah asupan makanan bergizi yang dapat memperlancar ASI.

"Dukungan dari keluarga, kerabat juga teman-teman sesama ibu penting sekali menurut saya.

Yang paling banyak aku dapat yaitu support. Nah, dari keluarga biasanya ikut menyediakan makanan bergizi seperti sayur dan buah untuk memperlancar ASI," ungkapnya.

Dukungan dari lingkungan terdekat terutama suami bukan hanya selama masa menyusui, Moms.

Lalu, menurut Syanti Soraya, seorang ibu rumah tangga berusia 25 tahun, dukungan suami justru dimulai sejak sebelum masa menyusui, sebelum bayi lahir.

"Kebetulan suami saya sangat sangat mendukung saya dari sebelum (melahirkan) sampai sekarang.

Suami saya membantu menyiapkan alat pumping dan mencucinya, saat saya lelah menyusui saat awal melahirkan, suami saya memberikan susu yang sudah saya pumping.

Menurut saya, itu merupakan dukungan yang sangat berarti. Jadi saya tidak begitu lelah dan selalu fresh," terangnya, saat diwawancarai tim Orami.

Cerita pejuang ASI lainnya juga dibagikan oleh aktris Indonesia yang cukup terkenal, yaitu Kimberly Ryder.

Kimberly membagikan pengalaman dan tantangan yang ia lalui ketika tahu bahwa dirinya hamil anak kedua saat sedang menyusui.

Kimberly harus menjalani tandem nursing untuk memastikan kedua anaknya mendapatkan ASI.

Sebagai informasi, tandem nursing adalah kondisi di mana seorang ibu menyusui dua anak dengan usia berbeda dalam waktu bersamaan.

Meski tidak mudah, dirinya bersyukur karena mendapatkan dukungan dari sang suami.

Testimoni Kimberly Ryder

Foto: Testimoni Kimberly Ryder

4. Kisah Ayah ASI

Tentunya Moms sadar bukan? Jika menyusui itu bukan hanya tugas ibu melainkan tugas suami sekaligus ayah.

Kali ini cerita pejuang ASI datang dari seorang konselor menyusui sekaligus salah satu pendiri dari Gerakan Ayah ASI, Agus Rahmat Hidayat.

Agus menyadari bahwa kegiatan menyusui itu sangat melelahkan, bahkan di kala minim dukungan, pastinya suami yang menjadi satu-satunya benteng pertahanan.

Nah, ini juga menjadi bukti bahwa bukan hanya suami Kimberly saja yang berusaha untuk mendukung istri di kala menyusui.

Tapi, ternyata banyak suami-suami lainnya yang juga berusaha memberikan dukungan untuk busui.

Menyadari akan pentingnya dukungan terhadap ibu menyusui, para ayah dari berbagai kalangan dan background bergabung dalam Gerakan Ayah ASI.

Ayah ASI adalah sebuah komunitas di mana para ayah dapat belajar dan saling berbagi informasi mengenai ASI eksklusif dan berbagai macam hal lainnya terkait ibu menyusui.

Testimoni Agus Rahmat Hidayat

Foto: Testimoni Agus Rahmat Hidayat

Ayah dan keluarga bukan satu-satunya pihak yang wajib memberikan dukungan.

Bagi ibu bekerja, pihak perusahaan dan kolega di kantor pun perlu memberikan dukungan terhadap ibu bekerja selama menyusui di kantor.

Nah itu dia Moms cerita pejuang ASI yang menyadari bahwa untuk kesuksesan menyusui hanya ada 1, yaitu dukungan dari orang sekitar.

Tanpa dukungan, para pejuang ASI tidak akan mampu menyusui buah hati secara maksimal.

Jadi, menyusui bukan sekadar tugas ibu, dukungan dari lingkungan kerja, teman, dan terutama suami memberikan dampak yang sangat signifikan bagi kelancaran memberikan ASI eksklusif.

Moms, menyusui bukan sekadar tugas ibu, dukungan dari lingkungan kerja, teman, dan terutama suami memberikan dampak yang sangat signifikan bagi kelancaran memberikan ASI eksklusif.


Ditulis oleh:

  • Defara Millenia Romadhona
  • Amelia Riskita Putri
  • Nurul Aulia Ahmad
  • Chrismonica

Disunting oleh:

  • Widya Citra Andini
  • Aprillia Ramadhina

Ilustrasi oleh:

  • Achyadi

  • https://www.who.int/news-room/facts-in-pictures/detail/breastfeeding
  • http://ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3508512/
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11795054/
  • https://www.thelancet.com/series/breastfeeding
  • https://www.breastfeedingnetwork.org.uk/anxiety/
  • https://www.who.int/nutrition/publications/code_english.pdf
  • https://www.researchgate.net/publication/320891854_Family_support_and_exclusive_breastfeeding_among_Yogyakarta_mothers_in_employment
  • https://www.who.int/news-room/facts-in-pictures/detail/breastfeeding
  • https://www.thelancet.com/series/breastfeeding
  • https://www.breastfeedingnetwork.org.uk/anxiety/
  • https://www.factretriever.com/breastfeeding-facts
  • https://www.cdc.gov/breastfeeding/data/facts.html
  • https://www.researchgate.net/publication/333514183_Husband's_Support_for_Breastfeeding_and_Breastfeeding_Efficacy_of_Nepalese_Mothers
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11795054/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3508512/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6096620/
  • https://apps.who.int/gb/archive/pdf_files/WHA55/ea5515.pdf
  • https://knepublishing.com/index.php/Kne-Life/article/view/3794/7853
  • https://www.who.int/elena/titles/full_recommendations/breastfeeding-support/en/
  • https://www.who.int/home/cms-decommissioning
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29943259/
  • https://www.hse.ie/file-library/the-who-code-of-marketing-of-breast-milk-substitutes.pdf
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4861949/#:~:text=Our%20findings%20indicate%20that%20the,and%20milk%2Dpumping%20problems).
  • https://www.healthdirect.gov.au/blog/why-4-in-10-mothers-stop-breastfeeding-by-6-months
  • https://worldbreastfeedingweek.org/
  • https://waba.org.my/wbw/
  • https://pmnch.who.int/news-and-events/events/item/2022/08/01/international-days/world-breastfeeding-week-2022
  • https://parenting.firstcry.com/articles/world-breastfeeding-week-history-and-significance/
  • https://www.nhs.uk/conditions/baby/breastfeeding-and-bottle-feeding/breastfeeding-problems/common-problems
  • https://blogs.unicef.org/blog/study-shows-breastfeeding-could-save-millions-of-lives-and-dollars
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6096620/