27 Mei 2023

Pneumonia pada Bayi: Gejala Hingga Pengobatan yang Efektif

Waspada apabila kulit bayi berubah membiru
Pneumonia pada Bayi: Gejala Hingga Pengobatan yang Efektif

Pneumonia pada bayi menunjukkan gejala yang mirip dengan COVID-19, seperti flu, demam, batuk, hingga sesak napas.

Penyakit satu ini juga disebabkan oleh virus dan bakteri.

Apakah pneumonia bisa berdampak fatal terhadap kesehatan bayi? Bagaimana mengenali tanda-tandanya?

Yuk, kita simak di bawah ini!

Baca Juga: 7 Cara Stimulasi Merangkak untuk Si Kecil, Yuk Coba Moms!

Apa itu Pneumonia?

Bayi Sakit
Foto: Bayi Sakit (Freepik.com/pch-vector)

Mengutip World Health Organization (WHO), pneumonia adalah bentuk infeksi pernapasan akut yang menyerang paru-paru.

Paru-paru terdiri dari kantung-kantung kecil yang disebut alveoli, yang terisi udara ketika orang sehat bernapas.

Ketika seseorang menderita pneumonia, alveoli dipenuhi dengan nanah dan cairan.

Kondisi inilah yang membuat pernapasan terasa menyakitkan dan membatasi asupan oksigen.

Pneumonia adalah penyebab kematian menular terbesar pada anak-anak di seluruh dunia.

Penyakit ini membunuh 808.694 anak di bawah usia 5 pada tahun 2017, terhitung 15% dari semua kematian anak di bawah usia 5 tahun.

Pneumonia menyerang anak-anak dan keluarga di mana pun, tetapi paling umum terjadi di Asia Selatan dan Afrika.

Baca Juga: 13 Rekomendasi Parfum untuk Anak Sekolah, Wangi Seharian!

Gejala Pneumonia pada Bayi

Bayi Menangis
Foto: Bayi Menangis (Freepik.com/jcomp)

Tanda dan gejala pneumonia bayi bervariasi tergantung pada usia Si Kecil dan penyebab pneumonia.

Adapun gejala pneumonia pada bayi biasanya, yaitu:

1. Batuk

Batuk basah, lendir (berwarna hijau atau kekuningan) mungkin keluar dari paru-paru.

Dalam beberapa kasus, lendir terkadang juga disertai dengan darah.

2. Wajah dan Bibir Pucat

Bibir atau wajah pucat menandakan bahwa Si Kecil tidak mendapatkan asupan oksigen yang mencukupi.

Artinya, bayi harus segera mendapatkan penanganan dokter ketika mengalami gejala ini.

Si Kecil juga bisa mengalami kulit berwarna biru gelap sebagai tanda sesak napas.

3. Demam Tinggi

Tanda dari pneumonia pada bayi lainnya yaitu adanya peningkatan suhu tubuh.

Demam tinggi, khususnya lebih dari 39°C dan disertai dengan nyeri otot.

4. Napas Cepat dan Sakit di Bagian Dada

Waspada apabila mengalami pola pernapasan cepat tapi pendek bukan dari dada, melainkan dari perut.

Gejala ini juga disertai hidung berair atau napas mengi.

Terasa sakit pada bagian dada atau perut atas, tergantung bagian paru-paru mana yang terinfeksi.

5. Tubuh Lemas serta Adanya Masalah Perut

Selain gejala di atas, pneumonia pada bayi juga menyebabkan mudah mengantuk, lemas, dan kekurangan energi.

Bisa juga terjadi masalah perut seperti mual, muntah, hingga diare.

Baca Juga: Hentikan 5 Kebiasaan yang Dapat Menyebabkan Diare Pada Anak Ini

Penyebab Umum Pneumonia pada Bayi

Bayi Sakit Dipeluk Ibunya
Foto: Bayi Sakit Dipeluk Ibunya (Freepik.com/drazenzigic)

Beberapa gejala memberikan petunjuk penting tentang kuman mana yang menyebabkan pneumonia pada bayi.

Berikut terdapat beberapa gejala pneumonia yang dipicu dari penyebabnya.

1. Infeksi Bakteri Mycoplasma

Mycoplasma adalah infeksi bakteri yang menyerang paru-paru.

Ini merupakan yang paling umum dan menyebabkan sakit tenggorokan, sakit kepala, dan ruam kulit.

2. Bakteri Klamidia

Selanjutnya, terdapat bakteri klamidia yang menyebabkan pneumonia pada bayi.

Penyakit ini dapat menyebabkan konjungtivitis (pink eye) dengan penyakit ringan dan tidak demam.

3. Batuk Rejan (Pertusis)

Seorang anak mungkin memiliki batuk rejan dengan gejala membiru karena kekurangan udara, atau membuat bunyi ketika mencoba menarik napas.

Lamanya waktu antara paparan kuman hingga seseorang mulai merasa sakit bervariasi, tergantung pada kuman yang menyebabkan pneumonia.

Misalnya, 4 hingga 6 hari untuk RSV (Respiratory Syncytial Virus), tetapi hanya 18 hingga 72 jam untuk flu.

Baca Juga: Kanker Paru-Paru, Penyakit yang Identik dengan Kebiasaan Merokok

4. Infeksi Virus

Pneumonia bayi oleh virus biasanya berkembang selama beberapa hari. Kondisi ini dimulai dengan pilek dan hidung berair.

Kemudian gejala yang dirasakan yakni batuk dan terkadang demam, sebelum timbul masalah pernapasan.

5. Bakteri Tertentu

Pneumonia bayi karena bakteri biasanya berkembang lebih cepat, dalam 1 hari.

Ini menyebabkan demam tinggi, batuk, dan masalah pernapasan. Si Kecil mungkin sangat lelah dan terlihat tidak sehat.

Terkadang pneumonia bakteri berkembang selama infeksi virus terjadi.

Jika ini terjadi, anak biasanya akan pilek selama beberapa hari, dan kemudian menjadi lebih tidak sehat dengan cepat.

6. Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA)

Sering kali, pneumonia pada bayi dimulai setelah Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).

Gejala dimulai setelah 2 atau 3 hari pilek atau sakit tenggorokan. Kemudian, gejala merambat ke paru-paru.

Cairan, sel darah putih, dan sel-sel lain mulai berkumpul di ruang udara paru-paru dan menghalangi jalan udara.

Akibatnya, membuat paru-paru sulit untuk bekerja dengan baik.

Si Kecil dengan pneumonia yang disebabkan oleh bakteri biasanya akan menunjukkan gejala yang cepat.

Gejala dimulai dengan demam tinggi yang tiba-tiba dan napas cepat yang tidak biasa.

Sementara pneumonia pada bayi yang disebabkan oleh virus, mungkin akan memiliki gejala yang muncul lebih bertahap.

Baca Juga: Kenali 7 Arti Suara Bayi Nangis dan Cara Mengatasinya

Bakteri dan Virus Penyebab Pneumonia

Infeksi Virus (Orami Photo Stocks)
Foto: Infeksi Virus (Orami Photo Stocks)

Berikut ini beberapa bakteri dan virus umum yang menyebabkan pneumonia.

  • Streptococcus pneumoniae

Dalam laman American Academy of Physicians, ini adalah patogen bakteri penyebab paling umum pada bayi usia 3 minggu hingga 3 bulan.

  • Mycoplasma pneumoniae dan Chlamydia pneumoniae

Virus atau bakteri ini sering menyerang anak di atas 5 tahun dan pada remaja.

  • Virus syncytial

Ini adalah masalah pernapasan yang menjadi penyebab virus pneumonia paling umum.

  • Pneumocystis jiroveci

Pada bayi yang terinfeksi HIV, ini adalah salah satu penyebab pneumonia yang paling umum.

Infeksi ini menyebabkan setidaknya seperempat dari semua kematian akibat pneumonia bayi yang terinfeksi HIV.

Baca Juga: Serba-serbi Penyakit ISPA pada Anak, Yuk Cari Tahu Moms!

Apakah Pneumonia Bayi Menular?

Periksa Paru-paru
Foto: Periksa Paru-paru (Npr.org)

Secara umum, pneumonia bayi tidak menular.

Namun, hal ini bisa menular jika virus pernapasan atas atau bakteri yang menyebabkannya.

Ketika kuman-kuman ini berada dalam seseorang yang terinfeksi, orang itu dapat menyebarkan penyakit melalui batuk dan bersin.

Berbagi gelas minum dan peralatan makan, dan menyentuh tisu bekas dari orang yang terinfeksi juga dapat menyebabkan pneumonia bayi.

Cara yang terbaik adalah menjauhkan anak-anak dari orang yang memiliki gejala infeksi seperti hidung tersumbat, sakit tenggorokan, batuk, dan lain-lain.

Virus juga dapat menyebar melalui tetesan yang terbawa melalui udara dari batuk atau bersin.

Selain itu, pneumonia bayi dapat menyebar melalui darah, terutama setelah melahirkan.

Baca Juga: Jahitan Caesar Tasya Sobek, Cek Tanda Luka Operasi Caesar Sudah Kering!

Diagnosis Pneumonia pada Bayi

Anak Diperiksa Dokter
Foto: Anak Diperiksa Dokter (Freepik.com/pressfoto)

Dokter biasanya membuat diagnosis pneumonia setelah pemeriksaan.

Dokter akan memeriksa kondisi fisik, pola pernapasan, tanda-tanda vital, dan mendengarkan paru-paru jika mengeluarkan suara abnormal.

Dokter mungkin melakukan rontgen dada atau tes darah.

Berikut beberapa tes untuk mendiagnosis pneumonia pada bayi:

1. Rontgen Dada

Tes ini untuk melihat gambar jaringan internal, tulang, dan organ.

2. Tes Darah

Darah diambil untuk melihat tanda-tanda infeksi.

Tes darah arteri untuk melihat jumlah karbon dioksida dan oksigen dalam darah.

3. Kultur Dahak

Tes ini dilakukan pada lendir (sputum) yang dibatukkan dari paru-paru dan masuk ke dalam mulut.

Cara ini dapat mengetahui apakah Si Kecil mengalami infeksi.

Hal ini tidak rutin dilakukan karena sulit mendapatkan sampel dahak dari bayi.

4. Oksimetri Denyut

Oksimeter adalah mesin kecil yang mengukur jumlah oksigen dalam darah.

Untuk mendapatkan pengukuran ini, penyedia menempelkan sensor kecil ke jari tangan atau kaki.

5. CT Scan Dada

Tes ini untuk mengetahui struktur di dada. Tes ini sangat jarang dilakukan.

6. Bronkoskopi

Prosedur ini digunakan untuk melihat ke dalam saluran udara paru-paru.

7. Kultur Cairan Pleura

Tes ini mengambil sampel cairan dari ruang antara paru-paru dan dinding dada (ruang pleura).

Cairan bisa terkumpul di area itu karena pneumonia. Cairan ini mungkin terinfeksi bakteri yang sama dengan paru-paru.

Baca Juga: Hubungan Kesehatan Saluran Cerna, Otak, dan Emosial Pada Tumbuh Kembang Anak

Faktor Risiko Pneumonia pada Bayi

Bayi Mimisan
Foto: Bayi Mimisan (Orami Photo Stocks)

Sementara sebagian besar, bayi yang sehat dapat melawan infeksi dengan pertahanan alami tubuh mereka.

Namun, anak-anak yang sistem kekebalannya kurang baik, berisiko lebih tinggi terkena pneumonia.

Sistem kekebalan dapat melemah karena salah nutrisi atau kekurangan gizi, terutama pada bayi yang tidak disusui secara eksklusif.

Penyakit yang sudah ada sebelumnya, seperti infeksi HIV simtomatik dan campak, juga meningkatkan risiko anak tertular pneumonia.

Faktor-faktor lingkungan berikut ini juga meningkatkan risiko pneumonia pada bayi:

  • Polusi udara dalam ruangan yang disebabkan oleh memasak.
  • Ruangan dengan asap bahan bakar biomassa seperti kayu.
  • Tinggal dalam keadaan rumah yang terlalu padat.
  • Orang tua yang perokok.

Baca Juga: Kebaikan Formula Soya untuk Tumbuh Kembang Si Kecil yang Tidak Cocok Susu Sapi

Cara Mengatasi Pneumonia pada Bayi

Anak Dirawat di Rumah Sakit
Foto: Anak Dirawat di Rumah Sakit (Freepik.com/lifeforstock)

Dalam sebagian besar kasus, pneumonia bayi disebabkan oleh virus yang tidak memerlukan antibiotik.

Pneumonia bayi yang disebabkan oleh bakteri yang akan diobati dengan antibiotik yang diminum di rumah.

Jenis antibiotik yang digunakan tergantung pada jenis bakteri yang diduga menyebabkan pneumonia.

Si Kecil dengan pneumonia bakteri biasanya membaik dalam waktu 48 jam setelah mulai mengonsumsi antibiotik.

Sangat penting untuk menyelesaikan seluruh rangkaian antibiotik, bahkan jika anak sudah jauh lebih baik.

Perawatan akan berlanjut selama 3 hingga 7 hari. Si Kecil mungkin terus batuk hingga 3 minggu setelah perawatan, tetapi ini tidak perlu dikhawatirkan.

Baca Juga: Bayi Sering Pipis setelah Minum ASI, Apakah Normal?

Obat antivirus sekarang tersedia juga, tetapi dicadangkan untuk flu ketika ditemukan pada awal penyakit.

Si Kecil mungkin memerlukan perawatan di rumah sakit jika pneumonia menyebabkan demam tinggi, masalah pernapasan, atau jika mengalami berikut ini:

  • Butuh terapi oksigen.
  • Memiliki infeksi paru-paru yang mungkin telah menyebar ke aliran darah.
  • Memiliki penyakit kronis yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh.
  • Muntah sangat banyak sehingga Si Kecil tidak bisa minum obat melalui mulut.
  • Batuk rejan.

Perawatan di rumah sakit dapat termasuk antibiotik melalui infus dan terapi pernapasan.

Jika kasusnya lebih parah mungkin perlu dirawat di unit perawatan intensif (ICU).

Dengan pengobatan, sebagian besar jenis pneumonia bayi akan sembuh dalam waktu 1-2 minggu, jika disebabkan oleh bakteri.

Pneumonia pada bayi yang diakibatkan virus, mungkin memakan waktu 4-6 minggu untuk sepenuhnya sembuh dan hilang.

Baca Juga: Bolehkah Anak Makan Durian dan Nanas?

Cara Mencegah Pneumonia pada Bayi

Bayi Divaksin
Foto: Bayi Divaksin (Freepik.com/freepik)

Mencegah pneumonia bayi atau Si Kecil adalah komponen penting dari strategi untuk mengurangi angka kematian anak.

Apa saja cara yang bisa dilakukan mencegah pneumonia pada bayi? Berikut ragam tipsnya.

1. Imunisasi

Imunisasi Hib, pneumokokus, campak, dan batuk rejan (pertusis) adalah cara paling efektif untuk mencegah pneumonia.

2. Asupan Gizi yang Cukup

Nutrisi yang memadai adalah kunci untuk meningkatkan pertahanan alami anak-anak.

Dimulai dengan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan.

Selain efektif mencegah pneumonia, ini juga membantu mengurangi durasi pemulihan jika seorang anak jatuh sakit.

3. Kurangi Polusi Lingkungan dan Jaga Kebersihan

Mengurangi polusi udara dalam ruangan dan menjaga kebersihan yang baik di rumah juga mengurangi risiko pneumonia pada bayi.

Pada anak yang terinfeksi HIV, antibiotik kotrimoksazol akan diberikan setiap hari untuk mengurangi risiko tertular pneumonia.

Siapa pun yang menderita pneumonia perlu banyak istirahat dan minum banyak cairan saat tubuh bekerja untuk melawan infeksi.

Jika anak Moms menderita radang paru-paru bakteri dan dokter meresepkan antibiotik, berikan obat sesuai jadwal selama dianjurkan.

Ini akan membantu anak pulih lebih cepat dan mencegah penyebaran infeksi ke orang lain dalam keluarga.

Baca Juga: 8 Ide Style untuk Orang Gemuk yang Berhijab, Tetap Modis!

4. Penggunaan Inhaler

Untuk kasus napas mengi, dokter mungkin menyarankan menggunakan nebulizer atau inhaler.

Tanyakan kepada dokter sebelum Moms menggunakan obat batuk pada Si Kecil.

Obat batuk dapat menghentikan paru-paru dari membersihkan lendir, yang tidak membantu untuk pneumonia.

Obat batuk dan pilek tanpa resep tidak dianjurkan untuk anak di bawah 6 tahun, ya.

5. Rutin Ukur Suhu Tubuh

Ukur suhu tubuh anak setidaknya sekali setiap pagi dan setiap malam.

Hubungi dokter jika suhu di atas 38,9°C pada Si Kecil atau 38°C pada bayi di bawah 6 bulan.

Periksa bibir dan kuku bayi untuk memastikan warnanya merah dan merah muda.

Hubungi dokter jika mereka kebiruan atau abu-abu, yang merupakan tanda bahwa paru-paru tidak mendapatkan cukup oksigen.

Baca Juga: 12 Rekomendasi Dokter Anak di Jakarta untuk Mengatasi Masalah Kesehatan Si Kecil

Itulah penjelasan tentang pneumonia pada bayi yang perlu Moms ketahui.

Jagalah kesehatan anak dan keluarga Moms selalu, ya!

  • https://www.aafp.org/afp/2004/0901/p899.html
  • https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/pneumonia

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.