Rupa-rupa

10 Agustus 2021

7 Ragam Pakaian Adat Yogyakarta yang Anggun Berwibawa

Dari kebaya hingga batik khas Yogyakarta
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Meiskhe
Disunting oleh Karla Farhana

Masyarakat Yogyakarta dikenal sangat memegang teguh adat istiadatnya, sehingga mereka masih sering mengenakan busana tradisional untuk sehari-hari. Selain untuk upacara adat dan pernikahan, pakaian adat Yogyakarta juga dikenakan oleh mereka yang berada di destinasi wisata seperti keraton, maupun pagelaran acara budaya.

Pakaian adat Yogyakarta memiliki tampilan yang unik sehingga mudah dikenali dan dibedakan dengan busana adat dari daerah-daerah lainnya di Indonesia, mulai dari wujud atau bentuk, warna hingga penggunaan aksesorisnya.

Deretan Nama Pakaian Adat Yogyakarta dan Ciri Khasnya

Pakaian adat Yogyakarta yang punya kemiripan dengan pakaian adat Jawa Tengah, dibedakan atas 2 kelompok, yaitu pakaian adat untuk pria dan pakaian adat untuk wanita.

Sementara menurut fungsinya, melansir Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta pakaian adat Yogyakarta terbagi atas pakaian sehari-hari, upacara adat dan busana pengantin.

Untuk lebih mengenal wujud dan gambaran pakaian adat Yogyakarta, simak penjelasan lengkapnya berikut!

Baca Juga: 10 Fakta tentang Pakaian Adat Bali yang Unik dan Sarat akan Makna

1. Kebaya Yogyakarta

Kebaya merupakan busana tradisional Jawa yang digemari perempuan Indonesia karena tampilannya yang anggun. Sebenarnya, bukan hanya Yogyakarta saja yang memiliki kebaya, melainkan daerah-daerah lain di Indonesia seperti Solo, Jawa Barat, Bali dan lainnya.

Dulunya, kebaya Yogyakarta umumnya dipakai oleh perempuan priyayi dan bangsawan. Kalau sekarang, siapapun bisa mengenakannya. Sebagai pelengkap, kebaya ditambah perhiasan, sanggul, dan alas kaki.

pakaian adat yogyakarta

Foto: Pinterest.com

2. Surjan

pakaian adat yogyakarta

Foto: Wikipie.co.id

Surjan merupakan pakaian adat Yogyakarta yang biasanya dikenakan kaum pria. Esensinya surjan adalah lurik atau model kemeja berlengan panjang.

Kainnya memiliki tekstur tebal dengan motif vertikal, berwana gelap dan dilengkapi dengan kancing. Namun, dalam perkembanganya motif lurik ternyata tidak hanya garis-garis membujur saja, tetapi terdapat motif kotak-kotak sebagai hasil kombinasi antara garis vertikal dengan garis horisontal.

Selanjutnya muncul surjan ontrokusuma yang bermotif bunga. Jenis dan motif kain yang digunakan untuk membuat surjan ontrokusuma terbuat dari kain sutra bermotif hiasan berbagai macam bunga. Biasanya surjan jenis ini dipakai pejabat dan kalangan bangsawan kraton.

Ketika dikenakan, surjan dipadukan dengan jarik dan blangkon.

3. Pinjung

pakaian adat yogyakarta

Foto: Instagram.com/therealdisastr

Pinjung adalah pakaian adat Yogyakarta yang umum dikenakan oleh Abdi Dalem keraton Kasultanan Yogyakarta. Pinjung adalah kain yang digunakan sebagai penutup sampai ke dada.

Biasanya kain pinjungan dilengkapi dengan kemben atau kain penutup dada. Selain itu, bisa juga dipadukan dengan baju batik atau lurik sebagai penutup terluar.

Di masa sekarang, pinjung sudah dikenakan oleh hampir semua kalangan perempuan Yogyakarta, dilengkapi dengan selendang, perhiasan dan alas kaki.

Baca Juga: Sederet Fakta Menarik dan Sisi Unik Pakaian Adat Sunda, Cari Tahu Moms!

4. Busana Pranakan

pakaian adat yogyakarta

Foto: Bajupesta.my.id

Busana pranakan adalah pakaian dinas harian yang dikenakan para Abdi Dalem jaler atau pria. Mengutip Kraton Jogja, busana ini konon terinspirasi dari baju kurung yang dikenakan para santri putri di Banten ketika Sultan berkunjung ke sana pada abad ke-19.

Bahan yang digunakan untuk membuat baju pranakan berupa kain lurik berwarna biru tua dan hitam, dengan kombinasi corak garis berjumlah tiga dan empat atau disebut telupat, akronim dari telu-papat.

Pranakan memiliki potongan bagian depan yang berhenti di ulu hati, serta belahan di bagian lengan yang mempermudah saat akan wudhu.

Terdapat 6 kancing di leher depan yang dikaitkan dengan keenam rukun iman dan 5 kancing di setiap ujung lengan yang dikaitkankan dengan kelima rukun Islam.

5. Janggan Hitam

pakaian adat yogyakarta

Foto: Tribunnews.com

Kalau busana pranakan dikenakan oleh Abdi Dalem jaler (pria), janggan hitam dipakai oleh Abdi Dalem estri (perempuan) dalam menjalankan tugas di Kraton Yogyakarta.

Janggan merupakan baju dengan model menyerupai surjan yang dilengkapi kancing hingga menutup leher. Warna kain yang digunakan harus hitam.

Janggan sendiri berasal dari kata 'jangga' berarti leher, yang melukiskan keindahan dan kesucian kaum perempuan keraton, dan perempuan Jawa pada umumnya.

Sementara warna hitam janggan menggambarkan simbol ketegasan, kesederhanaan, dan kedalaman, juga sifat kewanitaan yang suci dan bertakwa.

6. Blangkon

pakaian adat yogyakarta

Foto: Goodnewsfromindonesia.id

Ketika mengenakan pakaian adat untuk acara resmi, pria Jawa kerap mengenakan tutup kepala berupa blangkon. Dikenal dua jenis blangkon, yaitu blangkon Yogkarta dan Solo.

Ada beberapa perbedaan blangkon Yogyakarta dan Solo, salah satunya pada bagian belakang atau mondolan blangkon. Mondolan blangkon Solo berbentuk datar, sementara blangkon Yogyakarta berbentuk monjol.

Selain itu, blangkon Solo terbuat dari kain batik berwarna kecoklatan, sedangkan blangkon Jogja dibuat dengan kain batik yang warnanya senderung putih.

Melansir UPT Perpustaan Universitas Sebelas Maret blangkon dengan gaya Yogyakarta terdiri atas bermacam-macam motif yang memiliki makna di baliknya, yaitu:

  • Motif Modang memiliki makna kesakitan meredam angkara morko atau sebelum mengalahkan musuh dari luar harus mengalahkan musuh yang datangnya dari dalam.
  • Motif Celengkewengen menggambarkan keberanian juga berarti sifat kejujuran dan kepolosan.
  • Motif Kumitir menyimbolkan tidak mau berdiam diri dan selalu berusaha keras dalam kehidupan.
  • Motif Blumbangan, berasal daari kata blumbang yang berarti kolam atau tempat yang penuh dengan air, di mana air merupakan sumber kehidupan.
  • Motif Jumputan berarti mengambil beberapa unsur yang baik.
  • Motif Taruntum bermakna bahwa kehidupan manusia tidak lepas dari dua hal, seperti gelap terang, bungah susah, kaya miskin dan sebagaianya.
  • Motif Wirasat memiliki makna pengharapan supaya dikabulkan semua permohonnnya secara materi.
  • Motif Sido Asih, bermakna harapan agar mendapat perhatian dari sesama dan saling mengasihi.

Baca Juga: Mengenal Ragam Pakaian Adat Betawi dan Keunikan yang Dimiliki

7. Batik Yogyakarta

pakaian adat yogyakarta

Foto: Blogkulo.com

Baca Juga: Batik Jumputan, Sejarah, Cara Membuat dan Harga

Batik merupakan salah satu identitas Yogyakarta, sehingga sering disebut sebagai Kota Batik. Awalnya batik yang merupakan seni gambar atau lukis di atas kain, hanya dikerjakan terbatas dalam lingkungan keraton saja dan hasilnya digunakan untuk pakaian raja, keluarga kerajaan serta para pengikutnya.

Di masa sekarang siapapun bisa mengenakannya, bahkan sudah diakui menjadi warisan budaya oleh UNESCO

Motif batik Yogyakarta memiliki ciri khas, yaitu banyak bidang putih bersih dan motif geometrisnya dibuat besar-besar. Jauh lebih besar dibandingkan motif geometris batik Surakarta. Selain itu, berlatar belakang putih, hitam, coklat dan abu-abu.

Motif batik Yogyakarta terdiri dari beberapa jenis, antara lain:

  • Motif Parang Rusak Barong hanya boleh digunakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono, dan digunakan untuk menerima tamu utusan dari berbagai negara atau untuk upacara perkawinan.
  • Motif Slobog yang bermotif kotak-kotak yang membentuk segitiga. Kain batik yang khas dengan unsur geometris jenis ini umumnya digunakan dalam acara pelantikan pejabat ataupun melayat.
  • Motif Sidomukti adalah motif batik khas dari keraton. Sesuai dengan namanya Sidomukti yaitu sejahtera dan mulia, diharapkan orang yang memakai batik ini dapat mencapai kebahagiaan, kesejahteraan lahir batin, dan selalu berkecukupan.
  • Motif Ceplok Kesatrian memiliki makna filosofis menerima kritikan dari segala arah yang diperuntukkan untuk Sultan dan kerabatnya.
  • Motif Truntum digunakan untuk akad nikah.
  • Motif Sido Asih digunakan untuk resepsi, dan beragam motif lainnya.

Baca Juga: Selain Joglo, Inilah 7 Rumah Adat Jawa Timur Lainnya

Selain busana-busana di atas, ada beberapa ragam pakaian adat Yogyakarta lainnya yang sering dikenakan dalam acara adat di keraton. Selain itu, juga memiliki macam-macam busana pengantin yang tak kalah unik.

  • http://repositori.kemdikbud.go.id/12697/1/PAKAIAN%20ADAT%20TRADISIONAL%20DAERAH%20ISTIMEWA%20YOGYAKARTA.pdf
  • https://budaya.jogjaprov.go.id/artikel/detail/465-pakaian-adat-di-provinsi-diy
  • http://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=581721&val=7254&title=IDENTITAS%20PENAMPILAN%20MASYARAKAT%20YOGYAKARTA%201950an-1970an
  • https://www.researchgate.net/publication/332161301_PERGESERAN_MAKNA_MOTIF_BATIK_YOGYAKARTA_SURAKARTA
  • https://staff.blog.ui.ac.id/tari05/files/2018/05/BATIK-YOGYA_OK.pdf
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait