Parenting

22 September 2021

Mengenal Peer Pressure yang Bisa Memicu Kenakalan Remaja

Jika anak tidak diawasi, peer pressure nyatanya bisa membentuk perilaku buruk
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Rizky
Disunting oleh Amelia Puteri

Apakah Moms familiar dengan istilah peer pressure atau tekanan sosial?

Peer pressure adalah tekanan yang datang dari teman sebaya, ini adalah kondisi saat seseorang dengan mudah memberikan pengaruh kepada orang-orang dalam kelompok sosial yang sama.

Ini juga merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu hal yang membuat seseorang, seperti misalnya anak-anak untuk menyesuaikan diri agar dapat diterima oleh kelompok bermainnya.

Seringkali, teman sebaya dianggap sebagai teman, tetapi teman sebaya sebenarnya bisa berupa siapa saja dengan status yang sama seperti orang-orang yang seusia, yang memiliki kemampuan yang sama, dan yang berbagi status sosial.

Baca Juga: 4 Cara Mengatasi Kenakalan Remaja dengan Bijak

Peer Pressure pada Anak

peer pressure

Foto: Orami Photo Stock

Peer pressure pada anak misalnya, umumnya dianggap lebih sering memberikan efek negatif. Namun pada kenyataannya, peer pressure tidak selalu buruk, Moms.

Terkadang, peer pressure dapat digunakan untuk memengaruhi anak secara positif.

Dengan mempelajari norma-norma yang ditetapkan oleh sebuah kelompok bermain, ini bisa menjadi bagian positif agar anak belajar bagaimana hidup bersama dan bersosialisasi dengan orang lain.

Cara anak atau misalnya Moms sebagai orang dewasa menanggapi peer pressure dapat menunjukkan siapa mereka sebagai individu.

Seseorang yang memang terlahir dengan jiwa pemimpin alami cenderung kurang rentan atau tidak mudah mengikuti tekanan ini.

Sementara itu, anak-anak atau orang dewasa yang memang gemar "ikut-ikutan" mungkin lebih cenderung mengikuti peer pressure.

Contoh sederhana dari peer pressure pada anak perempuan misalnya, adalah saat sedang muncul tren tas, baju, sepatu, atau aksesori sekolah lainnya.

Dalam satu kelompok bermain, kadang ada saja anak perempuan yang menganggap bahwa temannya adalah mereka yang mempunyai aksesori yang sama ini.

Kemudian anak yang tadinya tidak mempunyai aksesori tersebut meminta untuk dibelikan oleh orangtuanya, bahkan sampai merengek agar ia bisa dianggap teman lagi.

Atau contoh lainnya adalah pada remaja laki-laki. Pada masa peralihan menuju masa dewasa ini, anak laki-laki kerap mulai mengalami masa-masa nakal mereka.

Pada usia ini bisa saja mereka mulai mengenal rokok atau minuman beralkohol.

Nah, peer pressure ini bisa merupakan tindakan saat salah satu anak meminta anak lainnya mencoba rokok atau minum minuman beralkohol seperti dirinya.

Ia berdalih jika temannya tidak mau mencobanya, maka ia bukan temannya, atau menganggapnya sebagai teman yang kurang akrab.

Baca Juga: 5 Dampak Negatif dari Pergaulan Bebas pada Remaja, Moms Harus Waspada

Tanda-Tanda Peer Pressure pada Anak

peer pressure

Foto: Orami Photo Stock

Tekanan sosial dari teman sebaya bisa berkisar dari yang halus hingga yang nyata, yang berarti bahwa beberapa bentuk tekanan sosial dari teman sebaya dapat lebih mudah dikenali daripada yang lain.

Mampu mengidentifikasi tanda-tanda bahwa anak tengah menghadapi peer pressure dapat membantu Moms memulai percakapan yang mendukung.

Ada beberapa tanda bahwa anak mungkin tengah mengalami peer pressure, antara lain:

  • Menghindari sekolah atau situasi sosial lainnya.
  • Menjadi sangat sadar akan citra diri atau penampilan.
  • Perubahan perilaku.
  • Mengekspresikan perasaan, seperti mereka merasa tidak cocok akan satu hal yang biasanya ia sukai.
  • Suasana hati yang kurang baik.
  • Mulai membuat perbandingan sosial.
  • Sulit tidur.
  • Mencoba gaya rambut atau pakaian baru.

Banyak dari tanda-tanda tekanan teman sebaya juga bisa menjadi tanda dari hal-hal lain, seperti intimidasi atau masalah kesehatan mental. Setiap perubahan dalam perilaku atau suasana hati patut diselidiki ya Moms.

Apalagi saat peer pressure ini mengarah pada hal-hal negatif, seperti mencoba rokok, minuman keras, atau menyebabkan anak jadi bolos sekolah.

Peer pressure jelas bisa memicu kenakalan remaja, jadi sebagai orangtua Moms perlu memerhatikan perkembangan anak di lingkungan bermain dan teman-teman sekolahnya.

Moms pun bisa mengontrol atau mengajak anak bicara jika Moms merasakan ada kejanggalan.

Ingat, kenakalan remaja memang sudah biasa terjadi, akan tetapi Moms tetap bisa menyelamatkan anak dari hal-hal yang tidak diinginkan agar anak bisa tetap memiliki masa depan yang cerah.

Baca Juga: Anak Remaja Mulai Menjauh dari Orang Tua, Ini 3 Cara Mengatasinya!

Jenis-Jenis Peer Pressure

peer pressure

Foto: Orami Photo Stock

Sebagian besar anak memiliki keinginan kuat untuk menyesuaikan diri dan sangat tidak ingin mendapat cemooh, olok-olok, atau pengucilan.

Akibatnya, mereka sering bersemangat untuk melakukan hal-hal yang teman-teman mereka suruh mereka lakukan

Penelitian dari Journal of Youth and Adolescence telah menarik perhatian pada peran signifikan teman sebaya dalam memengaruhi perilaku prososial.

Ketika teman sebaya mendukung perilaku positif dan altruistik, orang yang lebih muda nyatanya lebih mungkin untuk terlibat dalam perilaku tersebut, bahkan ketika teman sebaya mereka tidak menontonnya.

Nah, berikut ini adalah beberapa jenis peer pressure:

1. Peer Pressure Positif

Tekanan teman sebaya yang positif adalah ketika teman sebaya seseorang mendorong mereka untuk melakukan sesuatu yang positif atau mendorong mereka untuk tumbuh dengan cara yang bermanfaat.

Berikut adalah beberapa contoh tekanan teman sebaya yang positif:

  • Mendorong teman untuk belajar lebih giat agar mendapat nilai yang lebih baik.
  • Menyimpan uang untuk pembelian besar seperti dan mendorong teman untuk melakukan hal yang sama.
  • Tidak menyukai lelucon yang menyinggung atau bergosip.
  • Menganggap rendah atau meremehkan perilaku ilegal atau berisiko, seperti minum alkohol atau merokok di bawah umur.

2. Peer Pressure Negatif

Tekanan teman sebaya yang negatif, di sisi lain, melibatkan tekanan untuk melakukan sesuatu yang berbahaya atau merusak diri mereka sendiri atau orang lain dan umumnya ini adalah pemicu kenakalan remaja.

Berikut beberapa contoh tekanan teman sebaya yang negatif:

  • Meyakinkan teman untuk bolos sekolah.
  • Mendorong seseorang untuk membeli rokok elektrik secara online.
  • Menekan teman untuk minum atau mencoba narkoba.
  • Mendorong rekan untuk melawan seseorang atau menggertak seseorang.

Baca Juga: 5 Cara Tetap Dekat dengan Anak Perempuan Pra-Remaja

Dampak Peer Pressure pada Anak

peer pressure

Foto: Orami Photo Stock

Seiring bertambahnya usia anak, teman sebayanya akan memainkan peran yang lebih besar dalam hidup mereka.

Teman dapat memengaruhi segalanya, mulai dari jenis musik yang mereka dengarkan, apa yang mereka kenakan, hingga cara mereka berbicara.

Sosialisasi gender dapat memengaruhi seberapa reseptif seorang remaja terhadap tekanan teman sebaya.

Penelitian dari Adolescent Research Review, menunjukkan bahwa remaja laki-laki lebih rentan terhadap tekanan untuk perilaku pengambilan risiko

Tekanan teman sebaya tidak selalu menyimpang. Tekanan teman sebaya dapat memiliki dampak negatif dan positif. Berikut ulasannya:

1. Dampak Positif

Berikut ini beberapa dampak positif dari peer pressure pada anak.

  • Memberikan Dukungan: Teman dapat menjadi dukungan yang hebat ketika anak-anak mencoba hal-hal baru, mengeksplorasi ide-ide baru, atau membutuhkan seseorang untuk membantu mereka mengatasi masalah yang menantang. Misalnya, teman sebaya dapat saling mendorong untuk melakukan hal-hal baru, seperti mencoba tim sepak bola atau ekstrakurikuler lain di sekolah.
  • Persahabatan: Merasa didukung oleh seseorang yang menerima temannya apa adanya dapat meningkatkan harga diri.
  • Pengalaman Baru: Terkadang anak perlu sedikit dorongan untuk melakukan sesuatu yang benar-benar ingin dilakukan tetapi tidak cukup berani.
  • Memberi Contoh Baik: Teman saling membantu menjadi orang yang lebih baik ketika mereka tidak menyukai perilaku negatif seperti bergosip atau bercandaan yang kurang pantas dan malah mendorong perilaku positif.
  • Berlatih Sosialisasi: Belajar tentang norma-norma sosial yang berbeda membantu anak mengetahui bagaimana beradaptasi dengan situasi yang berbeda dan memutuskan kelompok mana yang ingin dihabiskan waktu bersama dan mana yang tidak.

Baca Juga: Cara Bermain Game Among Us yang Ramai di Era Pandemi

2. Dampak Negatif

Sementara, berikut ini beberapa dampak negatif dari peer pressure pada anak.

  • Kecemasan dan Depresi: Berada di sekitar orang-orang yang menekan untuk melakukan hal-hal yang tidak disukai dapat membuat anak merasa cemas dan depresi.
  • Menarik Diri dari Lingkungan: Peer pressure yang negatif cenderung membuat anak merasa buruk tentang dirinya sendiri, dan ini dapat menyebabkan mereka menarik diri dari orang-orang yang mereka sayangi.
  • Gangguan Akademis: Tekanan sosial dari teman sebaya terkadang dapat menyebabkan anak mengalihkan fokus dari prioritas seperti prestasi akademis.
  • Kenakalan Remaja: Teman sangat mungkin saling menekan untuk melakukan hal-hal seperti minum alkohol, mencoba narkoba, melakukan aktivitas seksual, atau mengemudi dengan sembrono.
  • Berusaha Mengubah Penampilan: Jika teman sebaya terpaku pada penampilan, anak mungkin merasa tidak mampu dan ingin mengubah penampilan untuk menyesuaikan diri.

Itu dia Moms, penjelasan mengenai peer pressure pada anak dan apa saja dampak yang bisa diberikan.

Jika Moms merasakan dampak negatif yang semakin terasa karena hal ini, ajak Si Kecil berkonsultasi ke psikolog, ya.

  • https://doi.org/10.1007/s40894-017-0071-2
  • https://doi.org/10.1007/s10964-015-0373-2
  • https://www.verywellfamily.com/negative-and-positive-peer-pressure-differences-2606643
  • https://kidshealth.org/en/teens/peer-pressure.html
  • https://www.choosingtherapy.com/peer-pressure/
  • https://raisingchildren.net.au/teens/behaviour/peers-friends-trends/peer-influence
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait