Pernikahan & Seks

PERNIKAHAN & SEKS
30 Maret 2021

Teratozoospermia, Mungkinkah Istri Bisa Hamil dengan Hasil Cacat Lahir?

Salah satu sulit memiliki keturunan karena dipengaruhi oleh masalah ketidaksuburan pria
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Ria Indhryani
Disunting oleh Amelia Puteri

Hamil dan memiliki anak adalah salah satu impian setiap pasangan. Namun, ketidaksuburan atau infertility dari pihak lelaki seperti misalnya teratozoospermia bisa menjadi salah satu kemungkinan yang menyebabkan satu pasangan tidak bisa memperoleh keturunan.

Moms pasti tahu bahwa ketidaksuburan bukan hanya masalah wanita karena pria juga bisa mandul. Faktanya, pria dan wanita sama-sama cenderung memiliki masalah kesuburan.

Menurut Office on Women’s, sekitar sepertiga dari kasus ketidaksuburan dapat dikaitkan dengan ketidaksuburan wanita, sepertiga lagi ketidaksuburan pria, dan sisanya disebabkan oleh kombinasi ketidaksuburan pria dan wanita atau mungkin penyebabnya tidak diketahui.

Penyebab infertilitas pria secara umum, biasanya terkait dengan produksi sperma yang efektif, jumlah sperma, bentuk sperma, serta pergerakan sperma yang meliputi gerakan dan pengangkutan sperma melalui saluran sistem reproduksi pria.

Salah satunya yang tidak banyak diketahui yaitu teratozoospermia yang berhubungan dengan bentuk dan pergerakan sperma.

Baca Juga: Ini Faktor Penentu Yang Mempengaruhi Kesuburan

Pengertian Teratozoospermia

teratozoospermia

Foto: aveya.in

Teratozoospermia adalah peningkatan konsentrasi sperma abnormal dalam air mani pria. Pria dengan teratozoospermia memiliki kelainan morfologi sperma yang mengacu pada ukuran dan bentuk sperma.

Bentuk sperma yang khas membuatnya mampu berenang melintasi saluran kelamin wanita untuk mencapai sel telur dan membuahinya. Cacat ekor pada sperma dapat menghambat motilitas sperma.

Kepala sperma bertanggung jawab untuk menembus sel telur selama pembuahan dan setiap kelainan akrosom atau kepala menyebabkan penetrasi sel telur yang tidak berhasil oleh sperma.

Di sisi lain, kondisi ini didiagnosis ketika sperma dengan morfologi abnormal melebihi 96% dari total sampel sperma pria.

Karena kebanyakan sperma abnormal tidak dapat melakukan perjalanan ke sel telur untuk membuahinya, maka hal ini mempengaruhi kesuburan secara langsung.

Baca Juga: Terapi Pijat Untuk Meningkatkan Kesuburan

Diagnosa Teratozoospermia

teratozoospermia

Foto: twitter.com

Seringkali kondisi ini didiagnosis saat pria melakukan evaluasi tentang tingkat kesuburannya. Pria dengan teratozoospermia, meskipun tidak sepenuhnya, memiliki lebih sedikit peluang untuk menghamili wanita secara alami.

Teratozoospermia didiagnosis melalui spermiogram atau analisis air mani, yang harus dilakukan setelah periode pantang seksual 3-5 hari.

Morfologi sperma dianalisis sesuai dengan kriteria World Health Organization (WHO) yang menyatakan bahwa harus ada setidaknya 4% sperma morfologi normal dalam sampel normal.

Dikutip dari Ingenes berdasarkan parameter Kruger, sampel dengan 4% - 15% sperma normal mengindikasikan teratozoospermia sedang.

Sementara sampel dengan kurang dari 4% sperma normal, menunjukkan teratozoospermia tingkat yang parah.

Agar dianggap normal, sperma harus terdiri dari kepala oval berukuran 5 sampai 6 mikron (mikrometer) dan berdiameter antara 2,5 dan 3,5 mikron. Sperma juga harus memiliki bagian tengah dan ekor (atau flagel) dengan panjang sekitar 50 mikron.

Tetapi penting untuk disadari bahwa morfologi sperma hanyalah salah satu dari banyak faktor yang terkait dengan kualitas air mani yang diketahui berpengaruh pada kesuburan pria.

Berbagai kualitas air mani lainnya yang penting terkait dengan kesuburan pria adalah:

  • Volume sperma
  • Jumlah sperma
  • Motilitas sperma
  • Konsistensi Semen
  • Komposisi Semen

Baca Juga: Calon Ayah Wajib Tahu, Ini 11 Hal yang Menurunkan Kualitas Sperma

Penyebab Teratozoospermia

teratozoospermia

Foto: invitra.com

Meskipun penyebab teratozoospermia tidak diketahui secara pasti, kualitas sperma dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti:

  • Diabetes mellitus
  • Varikokel
  • Vasektomi (lebih dari 5 tahun)
  • Infeksi mani
  • Masalah testis
  • Cedera
  • Malnutrisi
  • Merokok
  • Asupan alkohol yang berlebihan atau obat lain seperti kokain atau mariyuana
  • Paparan agen beracun seperti insektisida
  • Usia (konsentrasi sperma abnormal meningkat setelah pria mencapai usia 45)
  • Perawatan kanker seperti kemoterapi dan radioterapi.

Baca Juga: 9 Kebiasaan yang Dapat Mengganggu Kesuburan Pria

Apakah Teratozoospermia Menyebabkan Cacat Lahir

2850557.jpg

Foto: tehrantimes.com

Jika sperma memiliki kelainan kecil, ada kemungkinan sperma berhasil membuahi sel telur yang mengarah ke kehamilan.

Kehamilan seperti itu bisa berakhir dengan persalinan bayi normal yang sehat. Jarang, hal ini dapat menyebabkan cacat lahir pada bayi baru lahir dan meskipun demikian, cacat tersebut mungkin ringan.

Malformasi sperma yang lebih serius seperti teratozoospermia tidak mungkin menyebabkan kehamilan karena mereka mungkin memiliki penurunan materi genetik.

Jika kondisi ini menghasilkan kehamilan, perkembangan janin mungkin terhenti pada tahap yang sangat awal.

Sebagian besar dengan adanya kelainan perkembangan janin pada tahap awal tersebut, kehamilan tidak akan berlanjut hingga cukup bulan.

Jadi, kelahiran bayi dengan cacat lahir yang kasar akibat morfologi sperma seperti yang tidak normal pada orang tuanya seperti teratozoospermia sangat kecil kemungkinannya.

Baca Juga: 3 Jenis Spina Bifida, Cacat Lahir pada Tulang Belakang

Bisakah Teratozoospermia Menyebabkan Keguguran

keguguran

Foto: utswmed.org

Karena ibu mengandung bayi di dalam rahimnya, penyebab keguguran biasanya dikaitkan dengan faktor ibu.

Kemungkinan faktor ayah, khususnya faktor yang berhubungan dengan sperma seperti teratozoospermia tidak akan memiliki keterkaitan.

Sekitar 75% keguguran terjadi pada trimester pertama yang merupakan 3 bulan pertama kehamilan. Penyebab paling umum keguguran trimester pertama telah diidentifikasi sebagai kelainan kromosom pada janin.

Karena bayi mewarisi satu set kromosom atau materi genetik dari masing-masing induknya, bahkan kelainan pada materi genetik yang terdapat di dalam sperma bisa menyebabkan cacat kromosom pada bayi.

Kelainan serius pada bentuk dan ukuran sperma seperti teratozoospermia, sebagian besar terkait dengan cacat kromosom yang signifikan pada sperma dan menyebabkan perkembangan bayi yang cacat atau justru keguguran dini.

Baca Juga: 5 Mitos Seputar Keguguran

Mengobati Teratozoospermia

pengobatan teratozoospermia

Foto: webmd.com

Jika kondisi ini disebabkan oleh infeksi virus, demam tinggi, atau situasi stres akut, kondisi ini mungkin dapat disembuhkan.

Untuk mengetahui apakah sperma seseorang telah kembali normal setelah melewati masa stres, maka seseorang harus mengulangi tes air mani setelah beberapa bulan.

Hal ini karena sperma abnormal yang sudah ada, tidak dapat kembali normal dan dibutuhkan setidaknya 90 hari bagi sperma baru untuk berkembang sepenuhnya.

Jadi penyembuhan teratozoospermia hanya akan terlihat dalam tes yang dilakukan setidaknya 90 hari setelah pemulihan orang dari stres.

Jika varikokel terdeteksi sebagai penyebab sperma abnormal, pengobatan dengan bedah oleh dokter dapat membantu membalikkan produksi sperma dengan perubahan morfologi.

Teratozoospermia yang bersifat genetik atau turunan, biasanya memiliki derajat parah dan tidak dapat diubah.

Derajat teratozoospermia ringan hingga sedang yang disebabkan oleh penyebab lain biasanya dapat disembuhkan dengan intervensi segera dan beberapa perubahan gaya hidup.

Seorang pria dapat mempertimbangkan berhenti merokok dan penyalahgunaan alkohol sebagai prioritas untuk meningkatkan kualitas sperma.

Rutinitas olahraga yang teratur juga akan membantu mengurangi tingkat stres. Makan makanan yang seimbang juga penting untuk produksi sperma yang sehat dan terhindar dari teratozoospermia.

Bukan hanya itu, memilih diet seimbang juga elemen kunci lainnya dalam penyembuhan kondisi ini.

Mengkonsumsi buah dan sayuran dalam jumlah yang baik, terutama makanan yang kaya antioksidan dan asam amino juga sangat penting.

Memilih ikan daripada jenis daging lainnya sangat disarankan karena ikan kaya akan asam lemak omega-3, yang menguntungkan untuk produksi sperma berkualitas.

Pria disarankan untuk mengonsumsi suplemen yang mengandung vitamin E, yang berfungsi sebagai antioksidan kuat.

Baca Juga: 7 Makanan yang Harus Dikonsumsi Pria untuk Meningkatkan Kesuburan

Perawatan Teratozoospermia Untuk Program Hamil

ivf

Foto: healtheuropa.eu

Perawatan kesuburan untuk mencapai kehamilan saat menderita teratozoospermia dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

1. Inseminasi buatan

Inseminasi buatan adalah proses dimana sampel sperma dari pasangan atau donor yang sebelumnya berkapasitas, dimasukkan ke dalam rahim wanita tepat pada saat ovulasi.

Metode ini hanya direkomendasikan pada wanita di bawah 35 tahun dan hanya jika tidak ada penyebab infertilitas lain yang terdeteksi.

2. Fertilisasi In-Vitro (IVF)

Fertilisasi In-Vitro (IVF) memungkinkan telur pasien bergabung dengan sampel sperma kualitas yang lebih baik dalam wadah laboratorium khusus dalam kondisi terkontrol untuk meningkatkan kemungkinan keberhasilan pembuahan.

3. Fertilisasi In-Vitro (IVF) dan Injeksi Mikro Sperma Intracytoplasmic (IVF + ICSI)

Dalam prosedur khusus ini, satu sperma dengan hati-hati dimasukkan langsung ke dalam sitoplasma sel telur matang menggunakan jarum mikroskopis melalui manipulasi mikro.

Teknik ini menawarkan tingkat kehamilan tertinggi dengan mengabaikan motilitas sperma sebagai kebutuhan untuk membuahi sel telur. Oleh karena itu, perawatan ini adalah pilihan terbaik untuk pasangan dengan teratozoospermia parah.

Perawatan untuk teratozoospermia harus selalu diiringi dengan perubahan gaya hidup sehat, yang pada beberapa kasus dapat membantu memulihkan kesuburan.

Perlu Moms tahu bahwa asupan rutin asam amino esensial seperti L-karnitin dan antioksidan juga bermanfaat bagi pasien dengan kondisi ini.

Itulah beberapa penjelasan tentang teratozoospermia yang mungkin belum Moms atau Dads ketahui.

Bagaimanapun juga, teratozoospermia bisa mempengaruhi kesuburan sehingga menjadi potensi untuk menghalangi pembuahan dan memiliki keturunan.

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait