15 Agustus 2022

10 Penyebab Hematuria yang Harus Diwaspadai

Ketahui faktor-faktor penyebab hematuria agar tahu cara pencegahan yang tepat

Setiap gangguan kesehatan yang menyerang tubuh kita sebagian besar pasti memiliki penyebab, bukan datang begitu saja, termasuk hematuria.

Melansir Deutsches Arzteblatt International, hematuria adalah kondisi ketika air kencing mengandung darah. Kondisi ini bisa terjadi karena terdapat gangguan pada kondisi saluran kemih, ginjal, atau prostat bagi pria.

Umumnya, urine hanya mengeluarkan zat-zat sisa hasil penyaringan ginjal, bisa berwarna bening atau pekat.

Seberapa banyak Moms minum air putih juga berpengaruh pada kondisi urine itu sendiri.

Namun, ketika urine berwarna kemerahan atau merah gelap kecoklatan, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat.

Lantas, apa saja gejala, penyebab, hingga cara mengatasi hematuria? Yuk simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!

Baca Juga: 11 Rekomendasi Psikolog Bandung dan Rentang Biaya Konsultasinya

Gejala Hematuria

Hematuria
Foto: Hematuria

Foto Ilustrasi Gejala Hematuria (Orami Photo Stock)

Umumnya, gejala hematuria adalah adanya sel darah merah saat buang air kecil.

Berdasarkan tipe hematuria, ada dua jenis dari sel darah yang ditemukan, yaitu:

  • Gross hematuria

Darah pada urine yang menyebabkan urine berubah warna menjadi pink (merah muda), merah, cokelat kehitaman atau memiliki bintik-bintik darah yang terlihat. Kondisi ini dapat dilihat dengan mata telanjang.

  • Microscopic hematuria (hematuria mikroskopik)

Darah pada urine yang hanya dapat dilihat melalui pemeriksaan laboratorium atau mikroskop, karena jumlahnya sangat sedikit.

Urine berwarna merah biasanya tidak menyakitkan. Tetapi, jika buang air kecil disertai darah yang beku akan menyebabkan rasa nyeri dan tidak nyaman.

Baca Juga: Terlalu Sering, Waspada 10 Efek Masturbasi yang Buruk untuk Kesehatan

Penyebab Hematuria

penyebab hematuria (2).jpg
Foto: penyebab hematuria (2).jpg

Foto Ilustrasi Penyebab Hematuria (Orami Photo Stock)

Moms, sebaiknya jangan panik saat kondisi urine berdarah karena terdapat banyak faktor penyebab.

Ada yang tidak berbahaya dan ada juga yang membahayakan kesehatan tubuh kita.

Menurut dr. Jenelle E. Foote, ahli urologi dari Atlanta, hematuria biasanya tidak menyebabkan rasa sakit dan sangat sedikit darah yang mengubah warna urine.

Urine berdarah bisa muncul berwarna merah muda, merah, atau merah gelap. Darah yang mengalir dalam urine berasal dari ginjal atau bagian lain dari saluran kemih.

Dilansir dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, berikut faktor penyebab terjadinya hematuria.

1. Infeksi Saluran Kemih

Mengutip Mayo Clinic, penyakit ini terjadi ketika bakteri memasuki tubuh melalui uretra dan berkembang biak di kandung kemih.

Gejalanya bisa meliputi keinginan terus-menerus untuk buang air kecil, nyeri, rasa terbakar saat buang air kecil, dan urine berbau sangat kuat.

Bagi sebagian orang, terutama orang dewasa yang lebih tua, satu-satunya tanda infeksi saluran kemih yang mungkin terjadi adalah adanya darah tetapi sulit dilihat kasat mata dalam urine.

2. Infeksi Ginjal atau Pielonefritis

Penyebab hematuria lainnya adalah infeksi ginjal atau pielonefritis. Penyakit ini dapat terjadi ketika bakteri memasuki ginjal dari aliran darah atau berpindah dari ureter ke ginjal.

Tanda dan gejala sering mirip dengan infeksi kandung kemih, meskipun infeksi ginjal lebih cenderung menyebabkan demam dan nyeri pinggang.

Baca Juga: Mengenal Penyakit CIPA yang Membuat Penderitanya Tidak Merasakan Sakit

3. Batu Ginjal

Batu ginjal dapat menjadi penyebab hematuria berikutnya, Moms.

Sebuah penelitian StatPearls menunjukkan bahwa, penyakit ini disebabkan karena adanya mineral dalam urine pekat yang terkadang membentuk kristal di dinding ginjal atau kandung kemih.

Hingga seiring waktu, kristal tersebut bisa menjadi batu kecil dan keras yang disebut batu ginjal.

Batu-batu tersebut umumnya tidak menimbulkan rasa sakit, jadi Moms mungkin tidak akan tahu kecuali jika batu tersebut menyebabkan penyumbatan.

Biasanya gejala batu ginjal ditandai dengan adanya rasa sakit yang luar biasa saat kencing. Batu kandung kemih atau batu ginjal juga dapat menyebabkan perdarahan besar dan mikroskopis.

4. Pembesaran Prostat

Kelenjar prostat yang berada tepat di bawah kandung kemih dan mengelilingi bagian atas uretra sering membesar saat pria mendekati usia paruh baya.

Hal ini kemudian menekan uretra hingga sebagian menghalangi aliran urine.

Tanda dan gejala pembesaran prostat (benign prostatic hyperplasia, atau BPH) termasuk sulit buang air kecil, kebutuhan mendesak atau terus-menerus untuk buang air kecil, dan darah yang terlihat atau mikroskopis dalam urine.

Infeksi prostat (prostatitis) biasanya juga memiliki tanda dan gejala yang sama.

Baca Juga: 13 Manfaat Jambu Jamaika untuk Kesehatan, Redakan Gejala PMS!

5. Glomerulonefritis

Pendarahan urine mikroskopis adalah gejala umum glomerulonefritis, suatu kondisi yang ditandai dengan adanya peradangan pada sistem penyaringan ginjal.

Glomerulonefritis dapat menjadi bagian dari penyakit sistemik, seperti diabetes atau dapat terjadi dengan sendirinya.

Infeksi virus atau radang, penyakit pembuluh darah (vaskulitis), dan masalah kekebalan seperti nefropati IgA, yang mempengaruhi kapiler kecil yang menyaring darah di ginjal (glomeruli), juga dapat memicu glomerulonefritis.

6. Melakukan Olahraga yang Berat

Meski sangat jarang terjadi, olahraga berat bisa menyebabkan hematuria.

Hal ini terkait dengan trauma pada kandung kemih, dehidrasi, atau kerusakan sel darah merah yang terjadi akibat latihan aerobik yang terlalu intens.

Pelari paling sering terkena hematuria, meskipun siapa pun dapat mengalami perdarahan urine.

Jika Moms melihat darah dalam urine setelah berolahraga, jangan menganggap itu karena berolahraga. Temui dokter segera untuk mengetahui penyebab dan perawatan yang tepat, Moms.

7. Mengalami Cedera atau Trauma pada Ginjal

Pukulan atau cedera lain pada ginjal akibat kecelakaan, olahraga, atau hal lainnya juga dapat menyebabkan darah terlihat dalam urine (hematuria).

8. Kanker

Perdarahan urine yang terlihat mungkin merupakan tanda kanker ginjal, kandung kemih, atau prostat stadium lanjut.

Namun sayangnya, penderita kanker tersebut mungkin tidak memiliki tanda atau gejala pada tahap awal, ketika kanker ini lebih dapat diobati.

Baca Juga: Kencing Berdarah Saat Hamil, Bahaya atau Tidak?

9. Obat-obatan

Selain penyakit kanker itu sendiri, obat anti kanker siklofosfamid dan penisilin juga dapat menyebabkan perdarahan saluran kemih.

Darah urine yang terlihat terkadang muncul saat seseorang mengonsumsi antikoagulan, seperti aspirin dan pengencer darah heparin, serta memiliki kondisi lain yang menyebabkan kandung kemih berdarah.

10. Gangguan yang Diturunkan

Anemia sel sabit, suatu kondisi yang ditandai dengan cacat herediter hemoglobin dalam sel darah merah menyebabkan darah dalam urine, baik hematuria yang terlihat maupun mikroskopis.

Begitu juga dengan sindrom Alport, penyakit ini dapat mempengaruhi membran penyaringan di glomeruli ginjal.

Baca Juga: Penyebab Haid Tidak Teratur dan Cara Mengatasinya, Catat Moms!

Pengobatan Hematuria

penyebab hematuria (3).jpg
Foto: penyebab hematuria (3).jpg

Foto Ilustrasi Pengobatan Hematuria (Orami Photo Stock)

Pengobatan atau penanganan hematuria tentu dilakukan berdasarkan penyebabnya.

Untuk itu, sebaiknya dilakukan diagnosis yang tepat agar penanganannya juga benar. Adapun beberapa tes untuk diagnosis hematuria dilakukan dengan cara berikut ini:

1. Pemeriksaan Fisik dan Tanya Jawab

Pemeriksaan fisik, meliputi pertanyaan tentang riwayat kesehatan Moms, seperti seputar gejala atau beberapa hal yang biasa dikerjakan pasien sehari-hari serta riwayat medis keluarga.

Dokter juga akan menanyakan jumlah darah yang terlihat, waktu terjadinya kencing berdarah, intensitas buang air kecil, sakit yang dirasakan, serta adanya bekuan darah, dan obat-obatan yang sedang Moms konsumsi.

2. Tes Urine (Urinalisis)

Tes urine dilakukan dengan mengambil sampel urine pasien yang kemudian diperiksa di laboratorium guna mengetahui kondisi urine sebagai bahan diagnosis suatu penyakit atau kondisi.

Dokter akan memeriksa kemungkinan adanya darah dalam urine, mendeteksi bakteri yang menyebabkan infeksi, dan mencari kristal penyebab batu ginjal.

3. Tes Pemindaian

Selain tes urine, dokter juga biasanya akan melakukan tes pencitraan seperti CT scan atau MRI untuk membantu mencari penyebab kencing berdarah, juga mengetahui apabila terdapat kista pada ginjal.

Baca Juga: 10 Inspirasi Desain Pagar Bambu untuk Rumah Agar Terlihat Asri

4. Sistoskopi

Sistoskopi adalah teknik pemeriksaan berisiko rendah yang menentukan kondisi dari uretra dan kandung kemih untuk menemukan penyebab kencing darah, seperti tanda-tanda infeksi.

Tindakan ini menggunakan sistoskop, yaitu tabung lentur atau kaku dengan kamera dan sumber cahaya, yang bergerak melalui uretra dan masuk ke kandung kemih.

Cahaya alat ini menerangi bagian dalam organ sementara kamera mengirimkan gambar pada waktu bersamaan ke layar. Tindakan pemeriksaan ini dilakukan oleh dokter ahli urologi.

5. Tes Sitologi Urine

Tes sitologi urine merupakan pemeriksaan standar yang dilakukan sebelum sistoskopi pada pasien dengan kecurigaan menderita tumor buli (kanker kandung kemih).

Sitologi urine secara mikroskopik mengidentifikasi adanya sel ganas dan abnormal yang terdapat pada urine.

6. Biopsi Ginjal

Dokter akan menganjurkan biopsi ginjal setelah pemeriksaan lain, seperti tes darah, tes urine, ultrasonografi (USG), atau CT scan menunjukkan masalah pada ginjal pasien.

Biopsi gInjal dilakukan dengan pengambilan sampel jaringan ginjal untuk diperiksa di bawah mikroskop. Hal ini perlu dilakukan karena penyebab dari hematuria tidak dapat ditemukan.

Dalam kasus seperti ini, dokter akan menyarankan pemeriksaan secara berkala, terutama jika Moms mempunyai faktor risiko untuk menderita kanker kandung kemih seperti merokok, paparan terhadap toksin, atau pernah menjalani terapi radiasi.

Baca Juga: 7 Cara Menghilangkan Rasa Gatal pada Bekas Jahitan Caesar

American Kidney Fund mengatakan, bila kencing berdarah disebabkan karena infeksi, kemungkinan dokter akan memberikan obat antibiotik.

Antibiotik ini bekerja untuk membunuh bakteri penyebab infeksi, yang seharusnya dapat menghentikan pendarahan pada urine.

Penanganan hematuria bisa dilakukan dengan pemberian obat-obatan atau terapi, tergantung pada kondisi setiap orang.

Namun, penting untuk dipahami bahwa Moms harus memiliki pola hidup sehat ketika di diagnosis memiliki penyakit pada saluran kemih atau ginjal.

Baca Juga: Bayi Menangis Saat Buang Air Kecil? Waspadai Infeksi Saluran Kemih

Pola Hidup Sehat untuk Pengidap Hematuria

penyebab hematuria (1).jpg
Foto: penyebab hematuria (1).jpg

Foto Ilustrasi Pengidap Hematuria (Orami Photo Stock)

Jika Moms pernah mengalami hematuria, penting untuk menjaga kesehatan tubuh dengan baik.

Cara utamanya dengan minum air yang cukup setiap hari dan hindari kondisi dehidrasi.

Selain itu, hindari kebiasaan menahan pipis karena bisa menampung dan membiarkan bakteri menempel pada saluran kemih. Kebiasaan ini bisa sebabkan hematuria bertambah parah.

Tidak sampai di situ saja, setiap makanan dan minuman yang dikonsumsi sebaiknya memiliki gizi yang seimbang.

Perbanyak mengonsumsi buah-buahan dan sayuran untuk menunjang kesehatan tubuh Moms.

Baca Juga: Simak 14 Cara Menghilangkan Mata Panda, Dijamin Aman!

Setelah mengetahui penyebab hematuria, mulai sekarang jaga kesehatan ginjal dan saluran kemih untuk mencegahnya ya!

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6365675/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK534213/
  • https://www.niddk.nih.gov/health-information/urologic-diseases/hematuria-blood-urine
  • https://www.kidneyfund.org/kidney-disease/kidney-problems/blood-in-urine.html
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/blood-in-urine/symptoms-causes/syc-20353432
  • https://www.webmd.com/digestive-disorders/blood-in-urine-causes
  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15234-hematuria
  • https://www.healthline.com/health/urine-bloody

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.

rbb