2-3 tahun

30 Juli 2021

Stunting pada Anak, Jangan Dianggap Sepele ya Moms!

Ternyata bisa berdampak sampai dewasa nanti lho!
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Cholif Rahma
Disunting oleh Amelia Puteri

Masalah gizi pada anak yang wajib diperhatikan orang tua adalah stunting pada anak.

Mengutip dari Buletin Stunting yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI, stunting adalah kondisi yang ditandai ketika panjang atau tinggi badan anak kurang jika dibandingkan dengan umurnya.

Maka secara singkatnya, stunting adalah kondisi di mana anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan tubuhnya lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya.

Banyak yang tidak tahu kalau anak pendek adalah tanda dari adanya masalah gizi kronis pada pertumbuhan tubuh Si Kecil.

terlebih lagi, jika kondisi ini dialami oleh anak yang masih di bawah usia 2 tahun dan harus segera ditangani dengan segera dan tepat.

Anak masuk ke dalam kategori stunting ketika panjang atau tinggi badannya menunjukkan angka di bawah -2 standar deviasi (SD).

Nah untuk Moms yang baru saja menjadi ibu, ada baiknya untuk mengantisipasi stunting pada anak. Berikut adalah informasi lengkapnya, semoga dapat membantu ya, Moms!

Baca Juga: Apakah Stunting Merupakan Penyakit Genetik? Ini Kata Ahli!

Mengenal Istilah Stunting pada Anak

pengertian stunting pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Stunting pada anak atau perawakan pendek adalah gangguan perkembangan dan pertumbuhan disebabkan oleh kekurangan nutrisi yang bersifat kronis, infeksi yang berulang, dan kurangnya stimulasi psikososial.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan stunting sebagai kegagalan untuk mencapai potensi pertumbuhan linier (tinggi) seseorang.

Moms harus memahami terlebih dulu perbedaan perkembangan dan pertumbuhan.

Menurut dr. Caessar Pronocitro, dokter spesialis anak di RS Pondok Indah Bintaro Jaya, pertumbuhan adalah penambahan ukuran secara fisik, mencakup tinggi, berat badan, serta lingkar kepala anak.

Stunting merupakan kondisi yang dicirikan oleh kurangnya nutrisi untuk jangka panjang, seringnya infeksi dan kurangnya stimulasi, sehingga terjadi gangguan pertumbuhan dan perkembangan,” jelas dr. Caessar pada Kulwap Orami Community, pada Kamis (7/2).

“Menurut dr. Caesar, apabila anak memang memiliki perawakan pendek, tapi kenaikan panjang badannya konsisten, sehat, dan sesuai usia, ia tidak mengalami stunting.

Sedangkan perkembangan adalah penambahan kemampuan atau keterampilan yang dikuasai bayi atau anak seperti sudah bisa berguling, merangkak, berdiri, dan sebagainya sesuai dengan usianya.

Baca Juga: Waspada Stunting pada Anak, Ini Hal-hal yang Wajib Moms Ketahui!

Moms, perlu diketahui juga, kalau stunting pada anak yang mengganggu perkembangan dan pertumbuhan anak. Stunting dapat terjadi di usia berapa pun, sepanjang pertumbuhannya tidak sesuai dengan kurva.

Anak yang tadinya normal bisa jatuh ke dalam kondisi stunting, apabila ia mengalami kekurangan nutrisi untuk jangka panjang. Anak-anak yang stunting ternyata memiliki kemungkinan lebih besar mengalami kondisi-kondisi gangguan kesehatan lain di masa mendatang, dibandingkan anak yang tidak stunting.

Namun, jika anak terlalu kurus atau pendek dibandingkan anak lain seusianya, belum tentu anak mengalami stunting.

Baca Juga: Jangan Anggap Sepele Sakit Telinga pada Anak, Ini Cara Mengatasinya

Stunting pada Anak Indonesia

mengenal stunting, kondisi berbahaya yang sebabkan anak pendek 3 (1)

Foto: Orami Photo Stock

Data dari Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat, kondisi stunting ini tidak bisa dianggap sepele.

Pada tahun 2017, setidaknya ada 22,2 persen atau sekitar 150,8 juta balita di dunia mengalami stunting. Lebih dari setengah balita stunting di dunia berasal dari Asia dan sepertiganya tinggal di Afrika.

Tidak hanya itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat kalau Indonesia masuk posisi negara ketiga dengan prevalensi stunting tertinggi di Asia Tenggara. Rata-rata kasus balita stunting di Indonesia tahun 2005-2017 sebanyak 36,4 persen.

Tentunya data-data di atas semakin menegaskan kalau stunting pada anak adalah salah satu permasalahan gizi yang harus mendapat perhatian dari orang tua.

Ada banyak penyebab dan faktor risiko anak bisa terkena stunting, yang semuanya berasal dari kekurangan nutrisi sejak dalam kandungan dan juga faktor-faktor lainnya.

Penyebab Stunting pada Anak

mengenal stunting, kondisi berbahaya yang sebabkan anak pendek 2

Foto: Orami Photo Stock

Penyebab utama terjadinya stunting pada anak adalah kekurangan nutrisi yang sudah terjadi sejak anak masih dalam kandungan. Pada dasarnya, kondisi kesehatan anak tidak lepas dari kesehatan ibunya.

Lalu apa saja penyebab stunting pada anak lainnya? Yuk disimak!

1. Kurangnya Asupan Gizi Ketika Hamil

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa sekitar 20 persen kejadian stunting sudah terjadi saat bayi masih berada di dalam kandungan.

Hal ini disebabkan oleh asupan ibu selama hamil yang kurang bergizi dan berkualitas sehingga nutrisi yang diterima janin cenderung sedikit.

Akhirnya, pertumbuhan di dalam kandungan mulai terhambat dan terus berlanjut setelah kelahiran.

Oleh karena itu, penting untuk mencukupi berbagai nutrisi penting selama hamil.

2. Gizi Anak yang Kurang

Kondisi ini juga bisa terjadi akibat makanan balita saat masih di bawah usia 2 tahun yang tidak tercukupi.

Entah posisi menyusui yang kurang tepat, tidak diberikan ASI eksklusif, ataupun MPASI (makanan pendamping ASI) yang diberikan kurang mengandung zat gizi yang berkualitas.

Banyak teori yang menyatakan bahwa kurangnya asupan makanan juga bisa menjadi salah satu faktor utama penyebab stunting.

Khususnya asupan makanan yang mengandung zinc, zat besi, serta protein ketika anak masih berusia balita.

Bayi juga harus menerima asupan gizi yang baik, yaitu minum ASI eksklusif selama 6 bulan dan jangan pernah berikan air putih, teh, atau madu sebelum menginjak 6 bulan, ya, Moms.

3. Faktor Lingkungan

Menurut dr. Caessar, faktor kebersihan lingkungan juga bisa menjadi penyebab tidak langsung stunting.

“Apabila lingkungan yang ditempati tidak memiliki sanitasi yang baik, risiko infeksi pencernaan seperti diare juga semakin tinggi. Atau apabila ada perokok di rumah dapat menimbulkan infeksi pernapasan,” terangnya.

Infeksi yang berat dan berulang dapat menyebabkan stunting pada anak. Jadi, pastikan anak juga berada pada lingkungan mendukung sanitasi yang bersih.

Baca Juga: Pendek Belum Tentu Kurang Gizi atau Stunting, Bisa jadi Karena Hal Ini

4. Faktor Genetik

Faktor lain yang juga menyebabkan stunting pada anak adalah faktor genetik.

Di mana anak-anak yang mengalami stunting nantinya juga lebih mungkin memiliki anak-anak kerdil dan cenderung memiliki berat badan berlebih saat dewasa, bahkan bisa jadi mengalami risiko kesehatan lainnya.

Oleh karena itu, orang tua harus melihat kondisi anak berdasarkan tabel perkembangan pada kurva WHO yang bisa mendeteksi anak stunting atau tidak.

Lakukan juga pemantauan pertumbuhan anak secara teratur, ya, Moms untuk menghindari kemungkinan stunting di kemudian hari.

Ciri-ciri Stunting pada Anak

stunting pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Perlu Moms ketahui, stunting pada anak biasa akan terlihat dari fisik Si Kecil itu sendiri.

Perawakan anak yang kerdil saat mencapai usia 2 tahun, atau lebih pendek dibandingkan anak-anak seusianya dengan jenis kelamin yang sama, bisa menjadi ciri anak sedang mengalami stunting.

1. Tubuh Terlihat Kurus

Selain tubuh Si Kecil yang pendek, tubuh anak mungkin juga akan terlihat kurus. Walaupun terlihat pendek dan kurus, tubuh anak tetap proporsional.

Tetapi perlu diingat, tidak semua anak yang pendek itu disebut stunting, ya Moms.

2. Penurunan Tingkat Kecerdasan

Stunting pada anak ini akan memengaruhi perkembangan Si Kecil juga, tidak hanya pertumbuhannya saja. Buah hati Moms akan mengalami penurunan tingkat kecerdasan, gangguan berbicara, hingga kesulitan dalam belajar.

Hal ini tentu akan berdampak pada prestasi anak di sekolah yang menurun. Dampak jangka depannya adalah pada masa depan anak, di mana ia akan sulit mendapatkan pekerjaan ketika dewasa.

Baca Juga: Cara Mencukupi Kebutuhan Vitamin D Anak untuk Pertumbuhan Tulang

3. Melemahnya Daya Tahan Tubuh

Daya tahan tubuh Si Kecil yang mengalami stunting juga rendah, sehingga jangan heran jika nantinya akan mudah sakit, terutama akibat penyakit infeksi.

Jika sudah sakit, penyakitnya akan lebih sulit dan lebih lama sembuh ketika sakit. Setelah dewasa, tidak menutup kemungkinan bahwa anak akan rentan mengalami penyakit diabetes, hipertensi, dan obesitas.

Seluruh ciri-ciri anak stunting ini sebenarnya adalah dampak dari kurangnya nutrisi atau malnutrisi, seringnya terkena penyakit, dan salahnya pola asuh pada 1000 hari pertama kehidupan, yang sebenarnya dapat dicegah namun tidak dapat diulang kembali.

Risiko Stunting pada Anak

vitamin-untuk-anak-stunting.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Di seluruh dunia, sebanyak 144 juta anak di bawah usia 5 tahun menderita stunting. Ini adalah kondisi kronis yang dapat terjadi jika seorang anak tidak memiliki akses ke nutrisi yang tepat, khususnya selama 1.000 hari pertama kehidupan mereka yang penting.

Stunting pada anak tidak hanya memengaruhi kesehatan, tapi juga membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit dan infeksi, dan merusak perkembangan mental dan fisik mereka. Itu artinya, anak-anak yang menderita stunting cenderung tidak mencapai tinggi penuh dan potensi kognitif mereka saat dewasa.

Anak-anak yang menderita stunting lebih cenderung menderita kesehatan yang buruk dan berisiko terkena penyakit dan kondisi terkait nutrisi.

Dikutip dari Power of Nutrition, stunting pada anak tidak hanya memengaruhi kesehatan, tetapi juga menghambat perkembangan mereka di masa depan, di antaranya:

  • Anak-anak yang menderita stunting mungkin tidak pernah tumbuh setinggi maksimal atau mengembangkan potensi kognitif penuh mereka;
  • Sebanyak 43 persen anak balita di negara berpenghasilan rendah dan menengah berisiko tinggi mengalami kemiskinan karena stunting (Richter, Daelmans, Lombardi et al. 2017);
  • Anak-anak yang mengalami stunting berpenghasilan 20 persen lebih rendah sebagai orang dewasa dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengalami stunting (Grantham-McGregor, Cheung, Cueto et al. 2007);
  • Para ibu yang mengalami kekurangan gizi lebih cenderung memiliki anak yang menderita stunting, yang melanggengkan siklus kemiskinan dan kekurangan gizi (Ozaltin, Hill, dan Subramanian 2010).

Sebaliknya,

  • Anak-anak yang kurang terpengaruh oleh stunting di tahun-tahun awal mereka memiliki nilai tes yang lebih tinggi pada penilaian kognitif dan tingkat aktivitas (Alderman, Hoddinott dan Kinsey, 2006);
  • Anak-anak yang bergizi baik 33 persen lebih mungkin untuk keluar dari kemiskinan saat dewasa (Horton dan Steckel 2013).

Cara Mencegah Stunting pada Anak

stunting pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Gangguan tumbuh kembang akibat stunting bersifat menetap, yang artinya tidak dapat diatasi. Namun, kondisi ini sangat bisa dicegah, terutama pada saat 1000 hari pertama kehidupan anak, dengan cara sebagai berikut:

  • Memenuhi nutrisi ibu selama kehamilan dan menyusui, terutama zat besi, asam folat, dan yodium.
  • Coba terapkan inisiasi menyusui dini dan memberikan ASI eksklusif.
  • Berikan anak MPASI yang baik dan tepat selama tumbuh kembangnya.
  • Biasakan perilaku hidup bersih dan sehat dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air, terutama sebelum menyiapkan makanan dan setelah buang air besar atau buang air kecil, meminum air yang terjamin kebersihannya, dan mencuci peralatan makan dengan sabun cuci piring. Semua ini dilakukan untuk mencegah anak terkena penyakit infeksi.

Saat hamil, Moms harus rutin melakukan kontrol kandungan ke dokter untuk melihat tumbuh kembang janin di dalam kandungan juga ya Moms. Hal ini penting untuk memantau perkembangan janin dari minggu ke minggu hingga hari perkiraan lahir tiba nantinya.

Sejak dini, pastikan Si Kecil selalu mendapatkan asupan makanan bernutrisi tinggi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai usianya ya.

Bukan hanya harus mampu memenuhi kebutuhan gizi Si Kecil, makanan yang diberikan tentunya juga harus higienis dan aman dikonsumsi.

Tidak ada solusi sederhana untuk mencegah stunting. Namun, memusatkan perhatian pada jendela waktu antara kehamilan hingga anak berusia dua tahun adalah kunci utama untuk memastikan bahwa anak mengalami perkembangan yang sehat.

Baca Juga: Salah Kaprah Menu Tunggal MPASI, Cegah Stunting pada Anak dengan Nutrisi Ini

Untuk mencegah stunting, tidak hanya dengan masalah penyediaan nutrisi yang lebih baik, tetapi juga akses ke air bersih, sanitasi yang lebih baik (toilet yang higienis) dan kebiasaan mencuci tangan.

Selain itu, langkah pencegahan juga dapat dilakukan dengan mendorong perubahan dalam hal keamanan dan ketersediaan pangan bernutrisi tinggi, pemberdayaan perempuan, dan lingkungan kesehatan yang mendukung. Melakukan modifikasi nutrisi juga dapat menjadi cara lain yang mampu membantu pencegahan stunting pada bayi dan anak-anak.

Jangan lupa, Moms juga harus memeriksakan Si Kecil ke Posyandu atau dokter anak secara rutin, agar tahapan pertumbuhan Si Kecil dapat dipantau, untuk kemudian dibandingkan dengan kurva pertumbuhan dari WHO.

Pemeriksaan ini dapat mendeteksi gagal tumbuh dan dianjurkan untuk dilakukan setiap bulan bagi anak berusia di bawah 1 tahun, dan setiap 3 bulan bagi anak berusia 1-2 tahun.

Baca Juga: Ini Efek Buruk Kurang Gizi bagi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Cara Mengatasi Stunting pada Anak

cara mengatasi stunting

Foto: Orami Photo Stock

Meski stunting berdampak hingga dewasa, kondisi ini bisa ditangani dengan cara yang baik.

Melansir dari Buletin Stunting menurut Kementerian Kesehatan RI, stunting dipengaruhi oleh pola asuh, cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan, lingkungan, serta ketahanan pangan.

Salah satu penanganan pertama yang bisa dilakukan untuk anak dengan tinggi badan di bawah normal yang didiagnosis stunting, yaitu dengan memberikannya pola asuh yang tepat.

Dalam hal ini meliputi inisiasi menyusui dini (IMD), pemberian ASI Eksklusif sampai usia 6 bulan, serta pemberian ASI bersama dengan MP-ASI sampai anak berusia 2 tahun.

World Health Organization (WHO) dan United Nations Children’s Fund (UNICEF) menganjurkan agar bayi usia 6-23 bulan untuk mendapatkan makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang optimal.

Ketentuan pemberian makanan tersebut sebaiknya mengandung minimal 4 atau lebih dari 7 jenis makanan.

Jenis makanan ini meliputi serealia atau umbi-umbian, kacang-kacangan, produk olahan susu, telur atau sumber protein lainnya, sayur dan buah kaya vitamin A atau lainnya.

Di sisi lain, perhatikan juga batas ketentuan minimum meal frequency (MMF), untuk bayi usia 6-23 bulan yang diberi dan tidak diberi ASI, dan sudah mendapat MPASI.

Baca Juga: Tips Sukses Memberikan ASI Eksklusif Meski Ibu Bekerja

Ingat Moms, bahwa 1000 hari pertama kehidupan anak, sangatlah penting agar anak tidak mengalami stunting pada anak.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait