24 Juni 2022

Ketahui Tardive Dyskinesia, Efek Samping dari Obat Antipsikotik

Terkadang gejala berubah menjadi permanen

Tardive dyskinesia (TD) adalah efek samping dari penggunaan obat antipsikotik untuk mengatasi skizofrenia dan gangguan kesehatan mental lain.

TD menyebabkan gerakan kaku dan tersentak-sentak pada wajah dan tubuh yang tidak dapat dikendalikan.

Penderitanya bisa saja mengedipkan mata, menjulurkan lidah, atau melambaikan tangan tanpa bermaksud melakukannya.

Namun, tidak semua pengguna obat antipsikotik mengalaminya.

Dalam kasus yang jarang terjadi, gangguan gerak tersebut berubah menjadi permanen.

Segera beritahu dokter jadi memiliki gerakan yang tidak dapat dikendalikan.

Dokter akan membantu meringankan gejala dengan beberapa langkah perawatan.

Untuk lebih jelasnya terkait dengan TD, simak serba-serbinya di bawah ini, Moms!

Baca juga: Mengenal Skizofrenia, Gangguan Mental akibat Fungsi Otak Terganggu

Penyebab dan Faktor Risiko Tardive Dyskinesia

Obat - istockphoto
Foto: Obat - istockphoto (Istockphoto)

Foto: Obat (Istockphoto)

Tardive dyskinesia adalah obat antipsikotik ini yang bisa disebut dengan obat neuroleptik.

Obat bekerja dengan cara memblokir reseptor dopamin di otak.

Dopamin adalah neurotransmitter yang membantu mengontrol pusat dan kesenangan otak. Ini juga memainkan peran utama dalam fungsi motorik.

Belum diketahui secara pasti penyebab munculnya gejala TD.

Namun, hal tersebut dapat terjadi akibat pemblokiran kronis reseptor dopamin.

Obat antipsikotik yang menyebabkan tardive dyskinesia meliputi:

  • Klorpromazin (Thorazin, Promapar)
  • Flufenazin (Prolixin, Permitil)
  • Haloperidol (Haldol)
  • Perfenazin (Trilafon)
  • Proklorperazin (Compazine, Compro, atau Procomp)
  • Tioridazin (Mellaril)
  • Trifluoperazin (Stelazin)

Antipsikotik generasi kedua atau atipikal juga dapat menyebabkan tardive dyskinesia, meskipun kemungkinannya kecil.

Obat-obatan antipsikotik generasi kedua ini termasuk:

  • Aripiprazol
  • Klozapin
  • Olanzapin
  • Quetiapine
  • Risperidon
  • Sertindole
  • ziprasidon

Antidepresan berikut juga dapat menyebabkan TD:

  • Amitriptilin (Elavil)
  • Fluoksetin (Prozac)
  • Fenelzin (Nardil)
  • Sertraline (Zoloft)
  • Trazodon (Desyrel, Oleptro)

Obat lain yang dapat menyebabkan TD meliputi:

  • Metoclopramide (Reglan, Metozolv ODT) yang digunakan untuk mengobati gastroparesis, atau memperlambat pengosongan lambung
  • Phenytoin (Dilantin, Phenytek), yang digunakan untuk mengobati kejang

Biasanya, diperlukan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk mengembangkan gejala tardive dyskinesia.

Namun, efek sampingnya terkadang dapat muncul hanya dalam enam minggu.

Gejala tardive dyskinesia dimulai setelah seseorang berhenti minum obat yang telah disebutkan.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko, termasuk:

  • Lansia
  • Wanita
  • Ras kulit putih
  • Keturunan Afrika
  • Memiliki penyakit kronis seperti diabetes
  • Merokok
  • Penyalahgunaan alkohol atau zat lain

Tardive dyskinesia juga dapat berkembang pada orang dengan skizofrenia yang belum pernah menggunakan antipsikotik.

Ini dikenal sebagai diskinesia spontan yang diperkirakan terjadi pada 25% pasien berusia 30 dan 50 tahun.

Kondisi tersebut juga terjadi hingga 40% pada orang berusia 60 tahun atau lebih.

Karena kebanyakan penderita skizofrenia diobati dengan antipsikotik belakangan ini, diskinesia spontan jarang terlihat.

Gejala Tardive Dyskinesia

Sekitar 7 dari 10 orang dengan tardive dyskinesia memiliki gejala ringan.

Namun, gejala bisa memburuk seiring dengan waktu.

Intensitas gejala juga dapat meningkat selama periode stres berlangsung dan hilang saat tidur.

Seseorang dengan tardive dyskinesia mungkin tidak menyadari bahwa mereka melakukan gerakan wajah yang tidak disengaja seperti:

  • Berkedip cepat
  • Gerakan mengunyah
  • Meringis atau mengerutkan kening
  • Membuat gerakan mengisap dengan mulut
  • Menjulurkan lidah atau memeriksa bagian dalam pipi dengan lidah

Diskinesia tardif dapat mempengaruhi bagian lain dari tubuh seperti:

  • Lakukan gerakan jari berulang-ulang seperti bermain piano
  • Dorong atau menggoyangkan panggul
  • Berjalan dengan gaya berjalan seperti bebek

Baca juga: Paranoid Bisa Jadi Tanda Skizofrenia, Kenali Gejala dan Pengobatannya!

Cara Mendiagnosis Tardive Dykinesia

Jika Moms menggunakan obat yang dapat berisiko menyebabkan tardive dyskinesia, dokter mungkin mencurigai ke arah ini.

Bila gejala sudah berkembang, dokter mungkin merekomendasikan tes tertentu guna memperkuat diagnosis.

Tes-tes ini dapat mengesampingkan gangguan gerakan lain seperti penyakit Parkinson.

Tes ini meliputi:

  • Pemeriksaan fisik untuk menilai fungsi sistem saraf
  • Tes darah dan urinalisis untuk memeriksa infeksi, penyakit, dan masalah lainnya
  • Electroencephalogram (EEG) untuk mengukur aktivitas listrik di dalam otak
  • Elektromiografi (EMG) untuk mengukur komunikasi antara otot dan saraf

Langkah Mengatasi Penyakit

Sebagai langkah awal, dokter secara bertahap mungkin akan menurunkan dosis penggunaan obat yang diduga jadi penyebab TD.

Sampai nantinya, Moms dapat menghentikan obat tersebut.

Jika memerlukan perawatan berkelanjutan, dokter mungkin akan meresepkan obat yang berbeda.

Beberapa orang masih memiliki gejala meskipun diberikan perubahan obat.

Seiring waktu, gejalanya dapat membaik dan hilang.

Dalam kasus yang jarang terjadi, gejala bisa saja memburuk.

Jika gejala yang Moms alami menetap, perawatan ini dapat membantu:

  • Tetrabenazine untuk mengatasi gejala gangguan gerakan.
  • Suntikan toksin botulinum (Botox®) yang memblokir sinyal saraf wajah selama beberapa bulan
  • Stimulasi otak dalam guna memblokir sinyal saraf tidak teratur ke area otak yang mengontrol gerakan.

Gangguan Terkait dengan Tardive Dyskinesia

kecemasan - istockphoto
Foto: kecemasan - istockphoto (Istockphoto.com)

Foto: Kecemasan (Istockphoto)

Melansir dari Cleveland Clinic, obat-obatan untuk mengobati gangguan mood dan masalah kesehatan mental lainnya meningkatkan risiko tardive dyskinesia.

Masalah kesehatan mental ini meliputi:

  • Kecemasan dan depresi
  • Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD)
  • Gangguan bipolar
  • Gangguan delusi (psikosis)
  • Gangguan makan
  • Gangguan obsesif-kompulsif (OCD)
  • Gangguan stres pascatrauma (PTSD)
  • Skizofrenia dan gangguan skizoafektif

Obat antiemetik (antinausea) untuk mengobati gangguan gastrointestinal ini dapat menyebabkan tardive dyskinesia:

  • Penyakit refluks gastroesofageal (GERD)
  • Gastroparesis
  • Mual dan muntah

Orang yang minum obat untuk mengobati masalah neurologis ini dapat mengembangkan tardive dyskinesia:

  • Demensia
  • Epilepsi dan kejang
  • Penyakit Parkinson

Baca juga: Kenali Skizofrenia pada Anak, Jangan Diabaikan!

Tardive dyskinesia dapat membuat pengidapnya enggan berbaur dengan lingkungan sosialnya.

Hal tersebut dapat menyebabkan atau memperburuk gejala yang sudah ada sebelumnya.

Sekitar 3% penderitanya mengalami gejala parah yang dapat mempengaruhi kualitas hidupnya.

Dalam kasus yang jarang terjadi, masalah pernapasan, kesulitan menelan, perubahan wajah, dan kesulitan bicara bisa saja dialami.

Pastikan untuk selalu memberitahu dokter terkait dengan gejala yang muncul setelah penggunaan obat ya, Moms.

  • https://www.webmd.com/mental-health/tardive-dyskinesia
  • https://my.clevelandclinic.org/health/articles/6125-tardive-dyskinesia
  • https://www.everydayhealth.com/tardive-dyskinesia/
  • https://medlineplus.gov/ency/article/000685.htm

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.