20 April 2022

TTV Normal pada Anak yang Perlu Diketahui

Sebab ada kemungkinan Si Kecil mengalami darah tinggi moms!

Para orangtua perlu memahami TTV normal pada anak untuk mengetahui kondisi kesehatannya.

Banyak hal yang dapat memengaruhi angka tanda-tanda vital (TTV) normal pada anak.

Jika Si Kecil berada di luar kisaran angka normal tersebut, itu bisa menjadi pertanda adanya masalah kesehatan pada anak.

Untuk mengukur TTV normal pada anak bisa Moms lakukan dengan alat medis sederhana, seperti termometer

Baca Juga: 8 Manfaat Daun Ketepeng, Mulai dari Obat Antivirus hingga Sariawan

Apa Itu Tanda-Tanda Vital?

TTV normal pada anak
Foto: TTV normal pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Melansir StatPearls Journal, tanda-tanda vital adalah ukuran untuk melihat cara kerja organ-organ vital atau organ penting tubuh seseorang.

Adapun organ-organ vital yang dipantau, yaitu suhu tubuh, tekanan darah, detak jantung, serta laju atau frekuensi pernapasan.

Setiap kali pemeriksaan rutin, biasanya dokter akan mengukur tanda-tanda vital untuk mengetahui kondisi kesehatan Si Kecil.

Namun, Moms juga bisa melakukannya sendiri di rumah ketika Si Kecil sedang tidak sehat, dan caranya sangat mudah dengan menggunakan alat medis sederhana, seperti termometer.

Tanda-tanda vital normal pada anak tentunya berbeda dengan tanda-tanda vital normal orang dewasa ya, Moms.

Bahkan, tanda-tanda vital bayi dan balita pun juga berbeda, dan akan terus berubah seiring pertumbuhannya.

Karena itu, Moms perlu memahami terlebih dahulu TTV normal pada anak berdasarkan kelompok usianya.

Baca Juga: 8 Fakta Menarik Ikan Nilem, Ikan Dokter yang Kerap Dipakai Terapi!

TTV Normal pada Anak

TTV Normal pada Anak -1
Foto: TTV Normal pada Anak -1

Foto: Orami Photo Stock

dr. Amanda Puteri Sudiarto, Dokter Umum, RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, mengatakan bahwa ada 4 tanda vital yang rutin diukur, yaitu tekanan darah, denyut nadi, laju respirasi, dan suhu tubuh

Berikut penjelasan lebih lengkapnya:

1. Suhu Tubuh

TTV normal pada anak bisa dicek pada suhu tubuhnya.

Suhu tubuh normal manusia dipengaruhi jenis kelamin, aktivitas fisik, konsumsi makanan dan minuman, dan pada perempuan juga dipengaruhi siklus menstruasi.

"Suhu tubuh normal berkisar antara 36.50C sampai dengan 37.50C." ucap dr. Amanda Puteri Sudiarto.

Suhu tubuh di atas 380C disebut demam dan dapat disebabkan oleh infeksi atau penyakit tertentu.

Suhu tubuh yang meningkat di atas 41.50C disebut dengan kondisi hiperpireksia, dapat terjadi karena gangguan di hipotalamus, bagian otak yang mengatur suhu tubuh.

Kondisi ini merupakan kondisi darurat yang membutuhkan penanganan medis segera.

Untuk bayi yang lebih tua dan anak-anak, thermometer biasa juga bisa digunakan.

Selalu bersihkan termometer dengan air sabun dan bilas dengan air dingin sebelum digunakan.

Jangan pernah menggunakan thermometer yang sama untuk mengukur suhu mulut dan rektal.

Saat mengukur suhu rektal, cobalah cara ini:

  • Tempatkan anak dalm posisi tengkurap di pangkuan.
  • Gunakan sedikit petroleum jelly di ujung termometer.
  • Masukkan setengah inci ke dalam lubang anus.
  • Lepaskan termometer saat berbunyi bip dan baca suhunya. Bayi biasanya buang air besar setelah termometer dilepas.

Untuk mengukur suhu tubuh melalui mulut, lakukan ini:

  • Selipkan ujung termometer di bawah lidah anak.
  • Mintalah anak menutup bibirnya saat thermometer masuk ke mulutnya.
  • Lepaskan thermometer berbunyi bip dan periksa suhunya.

Baca Juga: Moms Sering Susah Sendawa? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

2. Denyut Jantung

Pengecekan TTV normal pada anak selanjutnya adalah denyut nadi.

Denyut nadi paling sering diukur di arteri radial yang berlokasi di pergelangan tangan.

Denyut jantung normal pada dewasa adalah 60-100 denyut dalam 1 menit.

Denyut jantung pada anak berbeda dengan dewasa, akan berubah sesuai pertumbuhan anak.

Dari mulai masa neonatus, bayi, dan anak anak, seiring dengan pertumbuhan ukuran jantung dan kekuatan otot jantung.

  • Usia Neonatus (<28 hari): Denyut jantung saat bangun 100 – 165 x/menit dan denyut jantung saat tidur 90 – 160 x/menit
  • Usia Bayi ( 1 bulan – 1 tahun): Denyut jantung saat bangun 100 – 150 x/menit dan denyut jantung saat tidur 90 – 160 x/menit
  • Usia 1-2 tahun: Denyut jantung saat bangun 70 – 110 x/menit dan denyut jantung saat tidur 80 – 120 x/menit
  • Usia 3-5 tahun: Denyut jantung saat bangun 65 – 110 x./menit dan denyut jantung saat tidur 65 – 100 x/menit

Bayi memiliki jumlah detak jantung dan frekuensi napas yang lebih tinggi daripada orang dewasa.

Hal tersebut karena otot jantung bayi belum berkembang secara sempurna.

Ibaratnya, otot jantung seperti karet gelang. Ketika Moms meregangkan atau menarik karet, semakin cepat karet tersebut kembali ke bentuk semula.

Bila jantung bayi tidak dapat mengembang terlalu banyak karena otot yang belum matang, jantung harus memompa lebih cepat untuk menjaga aliran darah ke seluruh tubuh.

Hal itulah yang membuat detak jantung bayi lebih cepat dan tidak teratur.

Saat bayi bertambah besar, otot jantung bisa meregang atau mengembang lebih efektif sehingga detak jantungnya tidak tinggi.

Baca Juga: 7 Cara Mengatasi Anak Malas Belajar, Penting untuk Dilakukan Orang Tua!

Pada dewasa, kondisi denyut nadi kurang dari 60 kali dalam semenit disebut bradikardia.

Kondisi ini dapat terjadi akibat masalah jantung karena penuaan, hipotiroid, gangguan elektrolit, dan obat-obatan.

Selain itu, atlet seperti pelari dapat memiliki denyut nadi yang lebih lambat dari normal hingga 40 kali/menit karena latihan kardio yang rutin dilakukan.

Sedangkan kondisi denyut jantung lebih dari 100 kali dalam semenit disebut takikardia.

Takikardia dapat terjadi akibat berolahraga, penyakit, efek samping obat atau zat tertentu seperti kafein, pseudoefedrin, dan kondisi emosi, misalnya kecemasan.

Penyakit yang dapat menyebabkan peningkatan denyut nadi, seperti:

  • Anemia
  • Hipertiroid
  • Gangguan irama jantung (aritmia)
  • Gagal jantung, maupun akibat serangan jantung.

Menurut dr. Amanda Puteri Sudiarto, kondisi denyut jantung yang meningkat atau menurun dapat menunjukkan tanda bahaya, jika disertai salah 1 dari kondisi, seperti:

  • Penurunan kesadaran/pingsan
  • Nyeri dada
  • Sesak napas
  • Penurunan tekanan darah disertai tangan dan kaki (akral) yang dingin.

3. Laju Pernapasan

TTV normal pada anak
Foto: TTV normal pada anak

Foto: Orami Photo Stock

TTV normal pada anak yang selanjutnya Moms bisa memeriksa laju pernapasan.

Laju pernapasan diukur dalam kondisi istirahat, normalnya pada dewasa adalah 12 – 20 kali per menit.

Sedangkan pada bayi, laju pernapasan normal adalah 30-55 kali per menit.

Pada anak berusia 1-2 tahun laju pernapasan normal adalah 20-30 kali per menit, dan pada usia 3-5 tahun adalah 20-25 x/menit.

Melansir Breathe (Sheff), laju pernapasan meningkat dapat terjadi karena kondisi fisiologis misalnya olahraga, maupun disebabkan penyakit tertentu.

Penyakit pada paru dapat menyebabkan peningkatan laju pernapasan, seperti:

  • Infeksi paru (pneumonia)
  • Emboli paru
  • Efusi pleura
  • Asma
  • Penyakit paru obstruktif

Penyakit infeksi yang berat seperti sepsis, maupun penyakit metabolik seperti ketoasidosis diabetes juga dapat menyebabkan kondisi ini.

Selain itu, reaksi alergi, atau aspirasi benda asing karena tersedak juga dapat menyebabkan kondisi ini.

Pada anak, kondisi napas cepat yang disertai dengan tarikan dinding dada ke arah dalam.

Cuping hidung yang kembang kempis, kebiruan pada mukosa mulut, merupakan tanda infeksi paru yang serius dan harus segera diberikan pertolongan medis.

Baca Juga: 6 Ciri-ciri Rabun Jauh pada Anak, Tandanya Dapat Berupa Mata Lelah dan Berair!

4. Tekanan Darah

Pengukuran tekanan darah akan ditulis dalam dua angka, angka yang lebih tinggi adalah angka sistolik, sedangkan yang lebih rendah adalah angka diastolik.

Menurut guideline ACC/AHA 2017, tekanan darah normal pada dewasa adalah di bawah 120/80 mmHg.

Kondisi hipertensi derajat 1 adalah jika sistolik antara 130-139 mmHg atau diastolik antara 80-89 mmHg.

Sedangkan hipertensi derajat 2 adalah jika sistolik 140 mmHg atau lebih, atau diastolik 90 mmHg atau lebih.

Kondisi krisis hipertensi terjadi jika sistolik di atas 180 mmHg dan/atau diastolik di atas 120 mmHg, kondisi ini memerlukan penanganan lebih lanjut oleh dokter.

Tekanan darah yang tidak terkontrol dapat berisiko menyebabkan penyakit kardiovaskular berbahaya seperti: serangan jantung, stroke, gagal jantung, gangguan ginjal.

Kondisi tekanan darah di bawah 90/60 disebut dengan hipotensi.

Penyebabnya dapat berupa: hipotensi ortostatik, penurunan volume darah misalnya akibat perdarahan, infeksi berat atau sepsis, kelainan irama jantung, dan lainnya.

Sedangkan pada anak, tekanan darah memiliki nilai rentang tekanan darah normal yang berbeda-beda, tergantung usia, berat badan, dan tinggi badan.

  • Pada bayi baru lahir normalnya 60/45 mmHg sampai dengan 85/55 mmHg.
  • Bayi usia 1-12 bulan normalnya 67/35 mmHG sampai dengan 84/53 mmHg.
  • Anak 1-2 tahun normalnya 90/55 mmHg sampai dengan 105/70 mmHg.
  • Anak 3-5 tahun normalnya 95/60 mmHg sampai dengan 110/73 mmHg.

Baca Juga: Kanker Lidah, Ketahui Penyebab, serta Cara Mencegah dan Mengatasinya

Kapan Harus Periksa Dokter?

TTV Normal pada Anak -3
Foto: TTV Normal pada Anak -3

Foto: Orami Photo Stock

Perubahan TTV normal pada anak sering berubah.

Tekanan darah, frekuensi pernapasan, dan suhu tubuh bisa sesekali meningkat saat ia sangat aktif atau sedang cemas.

Biasanya TTVnormal pada anak akan kembali turun saat mereka sudah santai atau mau tidur.

Ada beberapa tanda yang membuat orang tua perlu membawa anak ke dokter.

  • Anak bernapas dengan cepat atau dengan kesulitan. Hitung laju pernapasan anak dengan meletakkan tangan di dadanya, lalu rasakan berapa kali dadanya naik dan turun dalam satu menit.
  • Saat merasakan detak jantung anak lebih cepat atau lebih lambat. Ukur detak jantung dengan merasakan denyut nadi di area lekukan atau tekukan lengannya.
  • Saat merasakan suhu tubuh anak jauh lebih tinggi dari biasanya.
  • Saat merasakan tekanan darah anak yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Periksa tekanan darah dengan menggunakan tekanan darah otomatis atau manset manual.

Baca Juga: Mengenal Bisolvon, Obat Batuk Berdahak yang Bisa Diminum Anak dan Dewasa

Itu dia Moms pengukuran TTV normal pada anak.

Tentu saja, Moms harus memeriksakan hal tersebut di tempat pemeriksaan medis.

Jika anak tampak aktif dan sehat, TTV yang abnormal kemungkinan besar bukan karena keadaan darurat medis, tetapi tetap memerlukan panggilan telepon darurat atau kunjungan langsung.

Jika Moms melihat TTV yang tidak normal pada anak dan mereka terlihat sakit, pastikan untuk segera mendapatkan perawatan medis darurat ya!

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK553213/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4818249/
  • https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/vital-signs-body-temperature-pulse-rate-respiration-rate-blood-pressure
  • https://www.emedicinehealth.com/pediatric_vital_signs/article_em.htm
  • https://emedicine.medscape.com/article/2172054-overview
  • https://kidshealth.org/en/parents/hypertension.html

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.