02 Juni 2022

Simak Bagian dan Fungsi Tulang Tengkorak, Sudah Tahu?

Yuk, ajarkan juga pada anak-anak di rumah sebagai ilmu pengetahuan

Tulang tengkorak memiliki peran yang sangat penting, yakni memberikan struktur pada kepala dan wajah sekaligus melindungi otak manusia.

Hal ini juga memungkinkan lewatnya saraf kranial yang penting untuk fungsi sehari-hari.

Melansir Healthline, tulang tengkorak terletak di bagian atas kepala dan berbentuk agak bulat, serta terhubung ke kerangka wajah.

Tulang di tengkorak Moms dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu tulang tengkorak yang membentuk tengkorak dan tulang wajah yang membentuk wajah.

Lebih lanjut, berikut bagian-bagian pada tulang tengkorak beserta fungsinya yang dikutip dari berbagai sumber.

Baca Juga: Mengenal Craniosynostosis, Kelainan Tulang Tengkorak pada Bayi

Bagian dan Fungsi Tulang Tengkorak

tulang tengkorak
Foto: tulang tengkorak (Pexels/cottonbro)

Foto: Pexels/cottonbro

Meskipun tengkorak tampak seperti sepotong besar tulang dari luar, sebenarnya terdiri dari 8 tulang tengkorak dan 14 tulang wajah.

Tengkorak memiliki 2 bagian utama yang disebut dengan atap tengkorak dan dasar tengkorak.

Berikut bagian dan fungsi dari tulang tengkorak:

1. Tulang Depan

Tulang depan adalah tulang pipih yang membentuk dahi. Ini juga membentuk bagian atas rongga mata.

2. Tulang Parietal

Tulang parietal merupakan sepasang tulang pipih yang terletak di kedua sisi kepala, tepatnya di belakang tulang depan.

3. Tulang Temporal

Tulang temporal adalah sepasang tulang tidak beraturan yang terletak di bawah masing-masing tulang parietal.

4. Tulang Oksipital

Tulang oksipital ialah tulang pipih yang terletak di bagian paling belakang tengkorak. Tulang ini memiliki lubang yang memungkinkan sumsum tulang belakang terhubung ke bagian otak.

5. Tulang Sfenoid

Tulang sfenoid merupakan tulang tidak beraturan yang berada di bawah tulang depan. Tulang ini mencakup lebar tengkorak dan membentuk sebagian besar dasar tengkorak.

6. Tulang Etmoid

Tulang etmoid adalah tulang tidak beraturan yang terletak di depan tulang sphenoid. Itu membuat bagian dari rongga hidung.

Tulang tengkorak manusia disatukan oleh sambungan unik yang disebut jahitan, yang terbuat dari jaringan ikat tebal.

Mereka berbentuk tidak beraturan, tetapi memungkinkan setiap tulang untuk terhubung sehingga menjadi tulang tengkorak yang utuh dan berbentuk unik.

Tulang tengkorak akan menyatu bersama untuk menjaga otak Moms tetap aman dan sehat.

Namun, pada masa bayi, tulang tengkorak memiliki celah di antara mereka dan dihubungkan oleh jaringan ikat yang biasa disebut dengan ubun-ubun.

Hal ini memungkinkan otak untuk tumbuh dan berkembang sebelum tulang menyatu menjadi satu kesatuan saat dewasa nantinya.

Dikutip dari laman MedlinePlus, fungsi utama tengkorak adalah untuk melindungi otak, yang meliputi otak kecil, otak besar, dan batang otak. Ini juga memberikan permukaan untuk otot-otot wajah untuk menempel.

Perlu diketahui, tengkorak tidak terlibat dengan gerakan atau aktivitas apa pun.

Namun, tengkorak memiliki saraf kranial yang berasal dari dalam tengkorak dan keluar melalui saluran di tulang tengkorak.

Saraf ini penting untuk fungsi sehari-hari, termasuk mencium, melihat, dan mengunyah. Misalnya, saraf hipoglosus yang mengontrol gerakan lidah sehingga Moms dapat mengunyah dan berbicara.

Baca Juga: 3 Kelainan Bentuk Tulang Belakang Akibat Kebiasaan Duduk Anak, Yuk Cari Tahu!

Kelainan pada Tulang Tengkorak

kelainan tulang tengkorak
Foto: kelainan tulang tengkorak (Pexels/Tima Miroshnichenko)

Foto: Pexels/Tima Miroshnichenko

Ada beberapa kategori kondisi yang terkait dengan tengkorak, seperti kelainan kraniofasial, tumor tengkorak, dan patah tulang tengkorak. Berikut penjelasannya:

1. Craniosynostosis

Beberapa bayi dilahirkan dengan kondisi yang disebut craniosynostosis, yang melibatkan penutupan prematur jahitan tengkorak. Hal ini menyebabkan tengkorak berbentuk tidak biasa dan terkadang dapat memengaruhi fitur wajah.

Menurut John Hopkins Medicine, craniosynostosis dapat menyebabkan penampilan tengkorak atau tulang wajah menjadi tidak normal dan asimetris.

Ada beberapa jenis craniosynostosis, tergantung pada jahitan yang mereka pengaruhi, yakni:

  • Sinostosis Bikoronal: Bayi dengan tipe ini mungkin memiliki dahi yang rata dan terangkat.
  • Sinostosis Koronal: Jenis ini dapat menyebabkan perataan pada satu sisi dahi dan berdampak pada bentuk rongga mata dan hidung.
  • Sinostosis Lambdoid: Hal ini dapat menyebabkan perataan pada satu sisi bagian belakang tengkorak. Ini juga dapat memengaruhi posisi telinga atau menyebabkan tengkorak miring ke samping.
  • Sinostosis Metopik: Hal ini dapat menyebabkan tengkorak berbentuk segitiga atau dahi runcing. Itu juga bisa membuat mata tampak lebih dekat.
  • Sinostosis Sagital: Jenis ini dapat menyebabkan dahi menonjol keluar. Area di sekitarnya mungkin juga tampak sangat sempit sehingga membuat kepala terlihat memanjang.

Dalam jurnal Clinical Review Article, Neurosurgery disebutkan bahwa kondisi ini dapat menyebabkan perkembangan tengkorak yang abnormal dengan tengkorak yang parah dan deformitas kraniofasial.

Apabila tidak diobati, komplikasi lain seperti peningkatan tekanan intrakranial dan pembatasan pertumbuhan tengkorak dapat terjadi.

Oleh karena itu, seseorang yang mengalami craniosynostosis memerlukan perawatan bedah untuk menghindari komplikasi di kemudian hari.

Baca Juga: Kenali Kondisi Osteogenesis Imperfecta, Penyakit Tulang Rapuh pada Balita

2. Kondisi Lain

Selain craniosynostosis, ada beberapa kondisi lain yang dapat mempengaruhi tulang tengkorak, yakni:

  • Displasia Kleidokranial

Displasia kleidokranial merupakan mutasi pada gen tertentu menyebabkan perkembangan gigi dan tulang yang tidak biasa, termasuk tulang tengkorak.

Gejala umumnya meliputi dahi yang miring, tulang ekstra di dalam jahitan tengkorak, dan tengkorak yang membesar.

  • Displasia Kraniometafisis

Ini adalah kondisi bawaan yang menyebabkan penebalan pada tulang tengkorak sehingga dahi terlihat menonjol dan mata melebar.

  • Penyakit Tulang Paget

Jaringan tulang baru dengan cepat dibuat karena perilaku osteoklas yang tidak biasa, yang merupakan jenis sel tulang. Orang dengan kondisi ini lebih rentan terhadap patah tulang karena tulang yang terkena biasanya lebih lemah.

  • Displasia Fibrosa

Kondisi ini menyebabkan jaringan tulang berkembang menjadi jaringan mirip bekas karena adanya mutasi pada sel penghasil tulang.

Hal ini cenderung hanya mempengaruhi 1 tulang pada satu waktu, tetapi mungkin bisa terlibat dalam beberapa kasus lainnya.

  • Osteoma

Osteoma adalah pertumbuhan berlebih tulang jinak di tengkorak. Orang dengan osteoma biasanya tidak memiliki gejala.

Namun, jika pertumbuhannya memberi tekanan pada saraf, itu bisa menyebabkan masalah pendengaran dan masalah penglihatan. Ini biasanya dapat sembuh setelah pertumbuhan dihilangkan.

Baca Juga: Tulang Pipi Menonjol, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Gejala yang Menandakan Kelainan Tengkorak

gejala kelainan tulang tengkorak
Foto: gejala kelainan tulang tengkorak (Unsplash/Anne Nygård)

Foto: Unsplash/Anne Nygård

Terkadang, cukup sulit untuk mengetahui gejala yang menandakan adanya kelainan pada tengkorak.

Namun, beberapa ciri-ciri di bawah ini mungkin perlu Moms waspadai karena bisa saja merupakan tanda adanya kelainan tengkorak.

1. Gejala Patah Tulang Tengkorak

  • Memar di sekitar mata atau di belakang telinga
  • Cairan bening atau darah mengalir dari telinga atau hidung
  • Perasaan lemah di wajah

Baca Juga: Catat Moms, Ini 3 Cara Menjaga Kesehatan Tulang Anak

2. Gejala Masalah Struktural pada Tengkorak

  • Rasa sakit yang tumpul dan menyakitkan
  • Mati rasa atau kesemutan di wajah
  • Masalah pendengaran atau penglihatan
  • Fitur kepala atau wajah berbentuk tidak biasa

Apabila Moms mengalami atau menemukan orang lain dengan beberapa gejala di atas, sebaiknya segera menghubungi dokter untuk mendapatkan penanganan segera.

Jangan lupa untuk selalu melindungi tulang tengkorak Moms dengan selalu menggunakan pelindung kepala, ya. Misalnya, mengenakan helm saat berkendara atau berolahraga sehingga terhindar dari risiko cedera.

  • https://www.verywellhealth.com/what-does-the-cranium-do-5190243
  • https://medlineplus.gov/ency/imagepages/8915.htm
  • https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/craniosynostosis
  • https://www.healthline.com/health/cranial-bones
  • https://acnr.co.uk/2019/01/craniosynostosis/

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.