Kesehatan

KESEHATAN
4 September 2020

Sering Tidak Percaya pada Orang Lain, Waspada Gangguan Paranoid

Rasa tidak percaya pada orang lain bisa menjadi gejala awal dari gangguan paranoid
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Debora
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Bersikap skeptis atau kurang percaya pada apa yang orang lain katakan adalah hal yang wajar terjadi. Bisa saja orang lain mempunyai cara pandang dan berpikir yang berbeda dengan kita. Namun, ketika rasa tidak percaya itu dilengkapi dengan kecurigaan yang tidak masuk akal, maka Moms perlu berhati-hati.

Psychology Today mengungkapkan, gejala gangguan kepribadian paranoid dimulai dengan rasa curiga yang besar pada orang lain. Seorang yang paranoid akan menganggap orang lain mengancam, mengkhianati, mengeksploitasi, atau membahayakan. Lalu, mereka kerap tidak mengakui memiliki perasaan negatif pada orang lain.

Gangguan kepribadian paranoid bisa dialami siapa saja. Sebaiknya Moms memahami gejala dan penyebab terjadinya gangguan mental berikut ini. Tujuannya, agar kualitas hidup berjalan dengan baik.

Gejala dari Gangguan Paranoid

Sering Tidak Percaya pada Orang Lain, Waspada Gangguan Paranoid-1.jpg

foto: healthcentral.com

Dilansir dari laman Mental Health America, seseorang yang alami gangguan paranoid ditandai dengan kecurigaan yang intens dan tidak rasional, sehingga menimbulkan rasa takut, marah, dan pengkhianatan. Mereka juga cenderung bersikap defensif dalam menanggapi kritikan, takut ditipu atau dimanfaatkan, ketidakmampuan untuk bersantai, atau bersikap argumentatif.

“Orang yang mengalami gangguan paranoid tetap mampu beraktivitas seperti biasanya. Mereka akan pergi ke tempat kerja dan kembali ke rumah tanpa terlihat mencurigakan,” ungkap Dr. Ramani Durvasula, psikolog klinis dari New Jersey, AS.

Namun, mereka akan hipersensitif terhadap lingkungannya. Seorang yang paranoid akan menganggap orang lain mengkhianati mereka atau membahayakan diri mereka. Mereka juga akan menganggap orang lain membicarakan dirinya tentang hal yang buruk. Hal ini bahkan berlaku pada pasangan sendiri.

“Ketika seorang paranoid memiliki pasangan, mereka akan selalu, selalu, dan selalu curiga pada pasangan. Mereka menganggap pasangan tidak setia, padahal tidak ada bukti yang mendukung. Untuk itu, umumnya mereka tidak mempunyai hubungan jangka panjang yang harmonis,” lanjut Dr. Durvasula, menjelaskan.

Baca Juga: 6 Manfaat Mendengarkan Musik untuk Kesehatan Fisik dan Mental

Penyebab Terjadinya Gangguan Paranoid

Sering Tidak Percaya pada Orang Lain, Waspada Gangguan Paranoid-2.jpg

foto: healthline.com

Penyebab pasti gangguan paranoid belum bisa ditentukan, Moms. Namun, dilansir dari Better Health Channel, ada beberapa faktor yang terkait dengan gangguan paranoid, yaitu:

  • Peristiwa traumatis bisa mengubah seseorang menjadi paranoid, misalkan trauma fisik atau emosional atau pelecehan di masa kecil mampu mengubah cara berpikir seseorang.
  • Reaksi dari stres yang parah dan berkepanjangan dapat menimbulkan gejala paranoid. Namun, bagaimana cara stres memengaruhi paranoid sampai saat ini belum diungkapkan.
  • Bahan kimia otak membentuk dasar pikiran dan perasaan. Obat-obatan tertentu seperti kokain, ganja, dan amfetamin mengubah kimia otak dan menimbulkan pikiran, perasaan, dan perilaku paranoid.

Selain itu, Cleveland Clinic mengungkapkan, gangguan paranoid bisa melibatkan kombinasi faktor biologis dan psikologis. Riwayat anggota keluarga yang mengalami gangguan paranoid, atau skizofrenia dan gangguan delusional, juga dapat berperan.

Baca Juga: Ini Pentingnya Me Time untuk Kesehatan Mental

Adakah Cara untuk Mengobati Gangguan Paranoid?

Sering Tidak Percaya pada Orang Lain, Waspada Gangguan Paranoid-3.jpg

foto: psychcentral.com

Cara untuk mengobati gangguan kepribadian paranoid tentunya ada. Namun, biasanya pengobatan terhalang karena rasa curiga yang dimiliki oleh pengidap gangguan mental tersebut. Namun, tidak perlu khawatir. Psychology Today mengungkapkan, terapi dan beberapa obat telah terbukti mampu menangani gangguan kepribadian paranoid. Jika tidak diobati, maka orang yang paranoid akan mengalami kesulitan di tempat kerja dan di rumah.

Obat yang mungkin diberikan seperti obat anti-kecemasan, seperti diazepam, dan obat anti-psikotik, seperti thioridazine atau haloperidol, juga dapat digunakan. Sebagai catatan, obat-obatan ini harus diresepkan untuk jangka waktu sesingkat mungkin.

Sedangkan perawatan yang mungkin dilakukan untuk menangani gangguan paranoid adalah psikoterapi. Terapi harus dilakukan secara teratur agar kualitas hidup tetap terjaga.

Baca Juga: Ternyata, Punya Sahabat Baik untuk Kesehatan Mental

Pada intinya, memerhatikan kesehatan mental itu sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik, ya, Moms. Jangan sampai memiliki gejala paranoid namun tidak menyadarinya.

Artikel Terkait