08 November 2022

Zuhud, Sikap Mengutamakan Akhirat dan Berbuat Kebaikan Semaksimal Mungkin di Dunia

Pahami contoh perilaku zuhud yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari

Banyak orang yang keliru memahami makna zuhud sebagai sikap menjauhi segala hal yang berbau keduniawian.

Apakah Moms mengartikannya seperti ini juga? Pemahaman ini memang telah menyebar di masyarakat kita.

Padahal zuhud menurut Imam Al-Ghazali yaitu kesucian hati dari harta duniawi, bukannya menjauhi harta duniawi secara fisik.

Nah, kali ini kita akan membahas hal ini secara lebih dalam, mulai dari pengertian sampai dalilnya.

Yuk simak ulasan selengkapnya berikut ini!

Baca Juga: Hukum Mengeluarkan Infak atau Sedekah, Apakah Wajib?

Apa Itu Zuhud?

Apa itu Zuhud?
Foto: Apa itu Zuhud? (Freepik.com/freepik)

Menurut Munawwir dalam kajian tasawuf, zuhud adalah sikap menjauhkan diri dari kesenangan duniawi untuk beribadah.

Artinya, hidup orang tersebut tidak mengutamakan harta duniawi, melainkan fokus beribadah untuk kehidupan akhirat.

Hal ini juga diungkapkan oleh Abd Al-Hakim Al-Hasan sebagai bentuk berpaling dari dunia dan menghadapkan diri untuk beribadah.

Lalu melatih dan mendidik jiwa, dan memerangi kesenangannya dengan jalan berkhalwat, berkelana, puasa, mengurangi makan, dan memperbanyak zikir.

Menurut pandangan sufi, kehidupan dunia merupakan sumber kemaksiatan yang menyebabkan terjadinya kejahatan, kerusakan, dan dosa.

Dunia yang sementara ini dianggap sebagai penghalang untuk mengingat Allah SWT sehingga mukmin akan semakin jauh dari-Nya.

Namun, pemahaman ini dinilai kurang tepat karena pada dasarnya konsep ini lebih diterapkan secara batin.

Imam Al-Ghazali meluruskan pandangan ini dalam kitab Ihya Ulumiddin yang artinya:

“Ketahuilah, banyak orang mengira, orang yang meninggalkan harta duniawi adalah orang yang zuhud (zahid). Padahal tidak mesti demikian.

Pasalnya, meninggalkan harta dan berpenampilan 'buruk' itu mudah dan ringan saja bagi mereka yang berambisi dipuji sebagai seorang zahir,” (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin 4:252).

Lebih lanjut, Mahmud Amir Al-Nawawi menjelaskan bahwa zuhud bukan berarti membenci atau menolak kesenangan dunia seluruhnya, melainkan tidak mencintainya secara berlebihan.

Maksudnya, seseorang hendaknya tidak berlebih-lebihan dalam mendapatkan kesenangan duniawi lalu lebih mengutamakannya ketimbang berbuat kebaikan.

Baca Juga: 10 Manfaat Silaturahmi, Bisa Kurangi Stres Hingga Jadi Ladang Rezeki serta Pahala

Dalil tentang Zuhud

Dalil tentang Zuhud
Foto: Dalil tentang Zuhud (Freepik.com/freepik)

Berikut ini dalilnya yang menegaskan dan perlu dipahami.

1. Surah Al-Qass Ayat 77: Jangan Berbuat Kerusakan di Bumi

Allah SWT telah memberikan peringatan kepada hamba-Nya bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara.

Sehingga mereka perlu mempersiapkan diri untuk kehidupan di akhirat dengan menjalankan amal-amal saleh.

Kendati demikian, Allah SWT juga memerintahkan hamba-Nya untuk tidak melupakan kehidupan dunia begitu saja.

Seperti yang tercantum dalam surat Al-Qass ayat 77 yang berbunyi:

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

Wabtagi fīmā ātākallāhud-dāral-ākhirata wa lā tansa naṣībaka minad-dun-yā wa aḥsing kamā aḥsanallāhu ilaika wa lā tabgil-fasāda fil-arḍ, innallāha lā yuḥibbul-mufsidīn

Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,

Dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu,

Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan,” (QS. Al-Qass: 77).

Dalam penafsirannya, ayat tersebut berisi perintah untuk menafkahkan harta benda secara bijak dan benar. Sehingga pahala atas harta tersebut akan berlipat ganda ketika di akhirat.

2. Surah Al-‘Ankabut Ayat 64: Akhirat adalah Kehidupan yang Sebenarnya

Selain itu, Allah SWT juga mengingatkan hamba-Nya untuk tidak melupakan kenikmatan duniawi, seperti tinggal di rumah yang baik, kendaraan yang baik, dan istri yang setia.

Peringatan tentang kehidupan dunia yang fana dan akhirat yang kekal juga ada di surat Al-‘Ankabut ayat 64 yang berbunyi:

وَمَا هَٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ لَهِىَ ٱلْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ

Wa mā hāżihil-ḥayātud-dun-yā illā lahwuw wa la'ib, wa innad-dāral-ākhirata lahiyal-ḥayawān, lau kānụ ya'lamụn

Artinya: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main.

Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui,” (QS.Al-‘Ankabut: 64).

Baca Juga: Arti Hasbunallah Wanikmal Wakil, Zikir yang Diucapkan Ketika Terhimpit Berbagai Masalah Kehidupan

Ciri Zuhud

Sedekah
Foto: Sedekah (Freepik.com/freepik)

Berikut ini ciri-ciri zuhud yang dapat dipahami.

  • Memahami kehidupan dunia hanya sementara dan kehidupan akhirat yang kekal.
  • Memahami bahwa dunia adalah tempat untuk menyiapkan kehidupan akhirat.
  • Melepaskan ketergantungan pada materi.
  • Memandang harta dan jabatan sebagai amanah.

Ciri Tidak Zuhud

Perilaku tidak zuhud tentunya berkebalikan. Berikut ini cirinya:

  • Serakah
  • Memandang dunia sebagai tujuan hidup
  • Tidak mau berusaha

Contoh Perilaku Zuhud

Perempuan Muslim Sedang Bekerja
Foto: Perempuan Muslim Sedang Bekerja (Freepik.com/marymarkevich)

Salah satu sosok zuhud yang pernah diceritakan oleh Imam Al-Ghazali yaitu ulama besar Imam Malik R.A.

Beliau adalah sosok yang kaya raya dan dermawan, sehingga tidak dibutakan dengan kenikmatan duniawi.

Selain Imam Malik R.A., ada pula Nabi Sulaiman yang dikenal sebagai sosok yang berlimpah harta namun tetap dermawan kepada sesama mahluk.

Hal ini tercantum dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Ghazali yang artinya:

“Zuhud bukan berarti ketiadaan harta duniawi. Zuhud merupakan kesucian hati dari harta dunaiwi.

Nabi Sulaiman A.S. sendiri di tengah gemerlap kekuasaannya tetap tergolong orang yang zuhud,” (Imam Al-Ghazali, 2018 M/1439-1440 H: I/43).

Berikut ini beberapa contoh zuhud yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari menurut sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Islamic Studies and Humanities.

  • Bersedekah atau berbagi dengan sesama.
  • Mengingat Allah dalam setiap tindakan.
  • Mengendalikan diri.
  • Tidak berlebih-lebihan atau bermewah-mewahan.
  • Menjalankan kewajiban dengan baik.
  • Memperbanyak amalan sunah.
  • Tidak mengambil hak orang lain.
  • Hidup sederhana.
  • Berorientasi pada akhirat.

Dampak Zuhud

Dari perilaku yang mengutamakan kehidupan akhirat tersebut, ada beberapa dampak yang dapat dirasakan, seperti:

  • Ketenangan hati
  • Kebahagiaan
  • Semangat memperbaiki hidup
  • Hidup tenteram
  • Dicintai Allah SWT dan sesama manusia

Itulah Moms pengertian zuhud, ciri, contoh, hingga dampaknya bagi kehidupan. Semoga kita semua dapat mengamalkan sikap ini dalam kehidupan sehari-hari.

  • https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/hakikat-zuhud-menurut-imam-al-ghazali-Ll3HN
  • https://muslim.or.id/5687-3-makna-zuhud.html
  • http://digilib.uinsby.ac.id/19196/6/Bab%203.pdf
  • https://tafsirweb.com/7127-surat-al-qashash-ayat-77.html
  • https://tafsirweb.com/7290-surat-al-ankabut-ayat-64.html
  • https://millati.iainsalatiga.ac.id/index.php/millati/article/download/974/672

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.