ADVERTISEMENT

KESEHATAN UMUM
05 September 2022

Setelah Berhubungan Keluar Cairan Bening Encer? Ini Penjelasannya, Jangan Sampai Salah!

Vagina akan menghasilkan cairan yang berfungsi sebagai pelumas saat penetrasi.
Artikel ditulis oleh Chrismonica
Disunting oleh Nadila Eldia R

Moms, pernahkah setelah berhubungan keluar cairan bening encer? Nah, ini adalah hal yang normal.

Saat wanita terangsang secara seksual, vagina akan menghasilkan cairan yang berfungsi sebagai pelumas.

Hal tersebut bertujuan agar proses penetrasi tidak menyakitkan dan menimbulkan luka pada vagina.

Namun, beberapa wanita mengalami kondisi vagina yang terlalu basah saat melakukan hubungan seksual.

Hal tersebut pun bisa menimbulkan ketidaknyamanan dalam melakukan seks.

Ketika keluar cairan bening seperti air setelah berhubungan, apakah membuat Moms khawatir?

Cairan bening yang keluar dari vagina setelah melakukan hubungan seks memang bisa dibilang normal.

ADVERTISEMENT

Namun, ada pula lubrikasi vagina yang disebabkan oleh infeksi jamur atau bakteri.

Jika terinfeksi jamur, cairan bening yang keluar dari vagina tersebut bisa berlebihan

Lalu, ketika keluar cairan bening seperti air setelah berhubungan, apakah hal tersebut normal atau justru terinfeksi jamur?

ADVERTISEMENT

Hal tersebut tentu saja penting untuk diketahui lebih lanjut.

Karena pada umumnya, semakin terangsang seorang wanita, maka cairan yang dikeluarkan akan semakin banyak.

Baca Juga: 5 Cara Alami Hilangkan Gatal Pada Vagina

Setelah Berhubungan Keluar Cairan Bening Encer

ADVERTISEMENT

Foto: Setelah Berhubungan Keluar Cairan Bening Encer

Foto: Ilustrasi Setelah Berhubungan Keluar Cairan Bening Encer (Orami Photo Stock)

Setelah berhubungan keluar cairan bening encer adalah proses alami dari tubuh.

Bahkan keluar cairan being seperti pipis pun masih merupakan hal normal, ya Moms.

Menurut dr. Putri Deva Karimah, Sp.OG, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, cairan bening encer yang keluar adalah normal.

"Cairan bening encer setelah berhubungan merupakan hal yang normal," jelas dokter yang praktek di RS Pondok Indah, Jakarta Selatan, ini.

"Umumnya, wanita saat terangsang ketika berhubungan seksual akan mengeluarkan cairan lubrikasi yang berfungsi sebagai pelumas," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

Keluarnya cairan bening encer ini bertujuan agar proses penertrasi tidak menyakitkan dan menimbulkan luka pada vagina, Moms.

Terkadang setelah berhubungan, cairan bening akan keluar sebagai proses pembersihan secara alami oleh vagina.

"Cairan tersebut bisa menjadi hal yang normal atau tidak normal," papar dr. Putri.

"Apabila cairan berbau dan menyebabkan rasa gatal, sebaiknya memeriksakan diri ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan," tambahnya.

Nah, cairan ini dinamai sebagai cairan lubrikasi, biasanya keluar ketika berhubungan seks yang berfungsi sebagai pelumas.

Seperti yang sudah disinggung, cairan tersebut bertujuan agar proses penetrasi tidak menyakitkan dan menimbulkan luka pada daerah vagina.

Di sisi lain, keluarnya cairan dari vagina atau biasa disebut keputihan adalah hal yang biasa.

ADVERTISEMENT

"Cairan atau keputihan tersebut umumnya timbul sebelum dan setelah menstruasi atau setelah beraktivitas berat seperti berolahraga dan berhubungan intim," jelas dr. Putri.

Fungsi dari cairan vagina ini sebagai proses pembersihan alami oleh vagina.

Meski vagina bisa membersihkan dirinya sendiri, harus tetap peduli akan kebersihan daerah vagina ya Moms.

"Namun, wanita tetap harus peduli akan daerah vagina dan memperhatikan kebersihannya," terang dr. Putri.

"Cairan vagina yang berlebihan, berbau, dan menyebabkan rasa gatal atau iritasi dapat menjadi hal yang tidak normal serta perlu perawatan khusus oleh dokter," tutup dr. Putri.

Baca Juga: 5 Perubahan pada Vagina Setelah Melahirkan

Perbedaan Lubrikan Normal dan Lubrikan Terinfeksi Jamur

ADVERTISEMENT

Foto: ciri-vagina-kering.jpg

Foto: Ilustrasi Vagina (Orami Photo Stock)

Moms, sudah paham bukan mengapa setelah berhubungan keluar cairan bening encer? Seperti penjelasan dr. Putri Deva Karimah cairan ini normal.

Tapi, bagaimana cara membedakan cairan lubrikan yang normal dengan yang terinfeksi jamur?

Jika setelah berhubungan keluar cairan bening encer yang disertai bau dan gatal, maka bisa dikatakan cairan tersebut tidak normal.

Cairan lubrikan yang normal biasanya berwarna bening, kental, agak lengket, tidak menghasilkan bau, serta tidak menyebabkan keluhan lain seperti gatal atau nyeri.

Namun, apabila cairan vagina yang Moms keluarkan memiliki bau, berubah warna, dan atau menyebabkan gatal serta nyeri, ada baiknya Moms segera melakukan konsultasi dengan dokter agar bisa dilakukan pemeriksaan langsung serta penanganan yang sesuai dengan kondisi saat ini.

ADVERTISEMENT

Jadi, ketika setelah berhubungan keluar cairan bening encer seperti air tidak menimbulkan rasa gatal, berbau dan berwarna, hal tersebut bukanlah sebuah masalah.

Sayangnya, masih banyak laki-laki yang beranggapan bahwa vagina yang kesat, kering dan tidak becek adalah kondisi yang ideal. Padahal itu bukanlah hal yang keliru dan berbahaya untuk vagina.

Baca Juga: 12+ Cara Mengatasi Vagina Gatal Akibat Iritasi atau Infeksi Bakteri serta Jamur

Penyebab Kondisi Vagina Kering

Foto: Radang Vagina, Ketahui Gejala, Penyebab, dan Cara Mencegahnya

Foto: Ilustrasi Vagina (Orami Photo Stock)

Jika setelah berhubungan keluar cairan bening encer seperti air, itu karena pelumas alami yang dihasilkan oleh serviks atau leher rahim.

Produksi pelumas vagina ini tentunya akan meningkat ketika mengalami rangsangan seksual. Lalu, bagaimana jika vagina justru kering?

Yuk, bahas lebih dalam mengenai vagina kering meski sudah mendapatkan rangsangan seksual!

Dilansir dari Healthline produksi hormon estrogen akan berkurang pada masa menopause dan akan berhenti secara bertahap.

Ketika hormon estrogen menurun, kondisi tersebut bisa menyebabkan atrofi vagina, yakni keadaaan saat dinding vagina menjadi lebih tipis dan elastisitasnya berkurang.

Bila hal itu terjadi, produksi pelumas alami akan turun sehingga vagina menjadi kering.

Namun, jika Moms masih belum memasuki usia menopause beberapa faktor lain pun bisa memengaruhi kondisi vagina yang kering, seperti;

  • kurangnya foreplay sebelum melakukan hubungan seksual
  • terlalu merasa stres dan juga cemas,
  • memiliki masalah di dalam hubungan,
  • penggunaan produk pembersih kewanitaan,
  • memakai celana dalam atau handuk yang dicuci menggunakan detergen yang mengandung bahan kimia tertentu yang menyebabkan alergi,
  • vagina yang terpapar bahan kimia ketika di kolam renang
  • dalam keadaan setelah melahirkan atau sedang menyusui,
  • mengonsumsi antidepresan,
  • sedang dalam proses menjalani perawatan kanker,
  • pernah menjalani operasi pengangkatan ovarium atau dinding telur,
  • memiliki alergi.

Baca Juga: Mengenal Gangguan Seksomnia, Tindakan Hubungan Seks Saat Tidur

Selain keluar cairan bening seperti air setelah berhubungan yang tidak normal, ternyata vagina juga bisa mengalami permasalah terlalu kering.

Lalu, begini cara mengatasinya? Berikut paparan lengkapnya!

Mengatasi Permasalahan Vagina Kering

Foto: sariawan pada vagina.jpg (stuff.co.nz)

Foto: Ilustrasi Vagina Kering (Orami Photo Stock)

Memang setelah berhubungan keluar cairan bening encer dari vagina itu hal yang wajar, tetapi ada perempuan yang tidak mengeluarkan cairan bening.

Ya, kondisi ini biasanya disebut dengan vagina kering, Moms.

Jika Moms ingin melakukan konsultasi, biasanya dokter akan menyarankan untuk melakukan terapi hormon untuk mengatasi vagina kering.

Terapi hormon bisa dilakukan dengan dua cara, yakni menggunakan obat minum alias oral.

Lalu, melakukan pengaplikasian hormon pada kulit agar terserap oleh tubuh atau yang biasa disebut dengan transdermal.

Metode transdermal biasanya dilakukan dengan menggunakan patch atau spray. Metode ini tidak berdampak apapun pada ginjal.

Sementara cara oral dapat berdampak pada hati karena pil estrogen yang dimasukkan ke dalam tubuh dengan cara diminum harus melewati hati.

Perlu diingat bahwa terapi hormon memiliki risiko. Produk estrogen bisa memberikan efek samping seperti nyeri payudara atau pendarahan pada vagina.

Baca Juga: Vagina Keluar Darah setelah Berhubungan Intim, Wajar Atau Malah Berbahaya?

Tak hanya sampai di sana, penelitian jangka panjang menemukan bahwa pil hormon estrogen bisa meningkatkan risiko terkena stroke beserta kanker endometrium.

Sementara itu, mengonsumsi pil kombinasi hormon estrogen serta progesterone bisa meningkatkan risiko terjangkit kanker payudara stroke, serta serangan jantung.

Jadi, Moms harus memastikan sudah melakukan konsultasi dengan dokter agar bisa mendapatkan penanganan yang tepat bagi permasalahan yang sedang dialami ya!

Jika Moms tidak ingin melakukan terapi hormon, terdapat beberapa cara lain yang juga bisa dilakukan loh!

Namun, Moms tetap harus melakukan konsultasi dengan dokter sebelum melakukan hal ini ya!

Tips Mengatasi Vagina Kering

Foto: Tanda Vagina Tidak Sehat-2.jpg

Foto: Ilustrasi Vagina Kering (Orami Photo Stock)

1. Memakai Pelumas

Pelumas yang dimaksud di sini adalah pelumas dengan bahan air yang biasanya efektif untuk membuat vagina basah, tapi dengan durasi beberapa jam saja.

Selain untuk membuat vagina lembap, pelumas ini berguna untuk penetrasi sebelum berhubungan seksual.

Sementara itu, terdapat pula pelumas vagina yang berbentuk krim. Pelumas jenis ini biasanya bisa bertahan selama satu hari penuh.

Baca Juga: Vagina Keluar Darah setelah Berhubungan Intim, Wajar Atau Malah Berbahaya?

2. Pelembap Vagina

Produk pelembap vagina efektif untuk mengurangi kondisi vagina kering.

Biasanya produk ini bisa membuat vagina lembap selama beberapa hari dalam satu kali pemakaian.

3. Cincin Estrogen Vagina

Cincin estrogen vagina adalah benda lembut yang berbentuk cincin. Benda ini akan dimasukkan ke dalam vagina.

Cincin estrogen ini berguna untuk melepaskan hormon estrogen secara bertahap ke jaringan vagina.

Namun, produk ini harus diganti setiap 12 minggu.

4. Tablet Estrogen Vagina

Bukan untuk diminum, tablet estrogen vagina ini dimasukkan ke dalam organ vital.

Dosis pemakaiannya adalah dengan memasukkannya satu kali dalam sehari selama dua minggu pertama.

Jika minggu pertama sudah terlewat, Moms bisa menggunakannya dua minggu sekali sampai waktu yang sudah ditentukan oleh dokter.

Baca Juga: 10 Cara Meningkatkan Hormon Estrogen pada Wanita, Terbukti Ampuh!

5. Krim Estrogen Vagina

Krim ini digunakan setiap hari dalam kurun waktu 1 hingga 2 minggu. Kemudian, frekuensi pemakaiannya akan berkurang menjadi 1 hingga 3 kali seminggu sesuai anjuran dokter.

Pengaplikasian krim ini pun bisa menggunakan aplikator, Moms.

Nah, jangan lupa selalu berkonsultasi dengan dokter untuk ragam masalah vagina, seperti keluar cairan bening seperti air setelah berhubungan atau kekeringan.

Lalu, untuk menghindari vagina berjamur, Moms sebaiknya menjaga kebersihan vagina dengan baik dan jangan lupa untuk mengganti pakaian dalam.

Untuk mencegah vagina kering, hindari faktor pemicunya seperti penggunaan sabun mandi sabun berparfum, serta losion di area sekitar vagina.

Serangkaian produk tersebut bisa menjadi pemicu vagina kering.

Nah, tentunya Moms sudah paham bukan mengapa setelah berhubungan keluar cairan bening encer? Tidak perlu khawatir, ya Moms sebab ini adalah hal normal.

Namun, pastikan cairan yang keluar tidak berbau dan tidak menimbulkan gejala lain seperti yang sudah disebutkan di atas, ya.

Jika memiliki pertanyaan terkait topik yang sudah dibahas ini, jangan sungkan ataupun ragu untuk menuliskannya di kolom komentar ya!

Sebelumnya

Kanker Hati: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Cara Mengobati
Gea Yustika • 05 Sep 2022

Selanjutnya

Kanker Hati: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Cara Mengobati
Gea Yustika • 05 Sep 2022

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

Artikel Terkait
Artikel Pilihan Editor

ADVERTISEMENT