Balita dan Anak

BALITA DAN ANAK
14 September 2020

7 Cara Mengatasi Napas Cepat pada Anak, Wajib Tahu!

Penggunaan humidifier diyakini menjadi salah satu cara mengatasi napas sesak pada anak
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Waritsa Asri
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Berbagai perilaku anak tentu mengejutkan bagi Moms dan Dads yang baru menjadi orang tua. Terkadang, kalian berhenti sejenak untuk menertawakan perilaku Si Kecil dan terkadang perasaan khawatir pun muncul ke permukaan.

Baik cara makan, hingga tidur menjadi hal yang mengkhawatirkan bagi Moms dan Dads. Utamanya, bila Si Kecil terlihat bernapas lebih cepat, bahkan saat tidur. Mempelajari cara napas anak sangat membantu agar selalu mendapat informasi dan merawat Si Kecil dengan sebaik-baiknya.

Napas cepat pada anak bisa menjadi tanda adanya infeksi pada saluran udara bagian bawah, seperti bronkiolitis atau pneumonia. Semua anak berbeda, tetapi berdasarkan pedoman Breathing Lung Foundation, napas cepat pada anak dapat diartikan sebagai:

  • lebih dari 50 napas per menit untuk bayi (2 bulan hingga 1 tahun)
  • lebih dari 40 napas per menit untuk anak-anak (1-12 tahun)
  • lebih dari 20 napas per menit untuk anak di atas 12 tahun dan orang dewasa.

Hal utama yang harus diperhatikan adalah jika anak Anda terus-menerus bernapas lebih cepat dari biasanya. Sedangkan, rentang normal laju pernapasan untuk anak-anak dari berbagai usia berdasarkan jurnal keluaran The Lancet:

  • Bayi baru lahir: 30-60 napas per menit
  • Bayi (1 hingga 12 bulan): 30-60 napas per menit
  • Balita (1-2 tahun): 24-40 napas per menit
  • Anak prasekolah (3-5 tahun): 22-34 napas per menit
  • Anak usia sekolah (6-12 tahun): 18-30 napas per menit
  • Remaja (13-17 tahun): 12-16 napas per menit

Sebenarnya, gangguan pernapasan pada anak merupakan hal yang umum, namun dalam beberapa kasus bisa menyebabkan bahaya.

Baca Juga: Napas Cepat pada Bayi, Kapan Perlu Diwaspadai?

Cara Mengatasi Napas Cepat pada Anak

Ketika mengetahui Si Kecil mengalami kejadian napas cepat. Lalu, bagaimana cara mengatasi napas cepat pada anak, berikut ini dilansir dari WebMD:

1. Hindari Dehidrasi

Cara mengatasi napas cepat pada anak yang pertama adalah hindari dehidrasi. Beri bayi banyak ASI atau susu formula. Tawarkan ini sesering mungkin dan dalam jumlah kecil. Bila Si Kecil sudah lebih besar maka cara mengatasi napas cepat pada anak diberikan air atau larutan elektrolit seperti Pedialyte.

Perlu diketahui, Si Kecil mungkin akan makan lebih lambat karena masalah pernapasan, sehingga beri mereka banyak waktu.

2. Duduk Tegak

Cara mengatasi napas cepat pada anak yang selanjutnya adalah duduk tegak. Jaga agar Si Kecil tetap tegak karena dalam posisi ini biasanya membuat pernapasan menjadi lebih mudah.

3. Meredakan Mampet

Cara mengatasi napas cepat pada anak yang selanjutnya adalah redakan mampet. Moms dan Dads, bisa mengencerkan lendir di hidung tersumbat dengan obat tetes hidung saline atau keluarkan lendir dari hidung bayi dengan nasal-oral aspirator.

4. Legakan Pernapasan

Cara mengatasi napas cepat pada anak yang selanjutnya adalah legakan pernapasan. Jika udara di kamar anak kering, humidifier atau vaporizer kabut dingin dapat melembabkan udara dan membantu meredakan hidung tersumbat dan batuk. Pastikan humidifier tetap bersih untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur.

Atau bisa juga mendudukkan Si Kecil di kamar mandi dengan pancuran air panas yang mengalirdan minta dia untuk menghirup uapnya.

5. Buat Anak Nyaman

Cara mengatasi napas cepat pada anak yang selanjutnya adalah buat anak nyaman. Saat Si Kecil merasakan napas cepat. Salah satu cara mengatasi napas cepat pada anak yaitu dengan membiarkan ia berisitrahat.

Selain itu, Berikan asetaminofen formula anak (Tylenol) atau ibuprofen (Motrin) jika anak lebih tua dari 6 bulan untuk menurunkan demam.

6. Pertahankan Lingkungan Bebas Asap Rokok

Cara mengatasi napas cepat pada anak yang selanjutnya adalah hindarkan dari rokok. Moms dan Dads, asap rokok dapat memperburuk gangguan pernapasan yang kadang membuat napas cepat.

Jika, seorang anggota keluarga merokok, mintalah untuk merokok di luar rumah atau di luar kendaraan. Serta, pastikan untuk tidak memegang Si Kecil sebelum membersihkan diri termasuk mengganti baju dan cuci tangan.

7. Pengobatan

Cara mengatasi napas cepat pada anak yang selanjutnya adalah lakukan pengobatan. Menurut Mayo Clinic, Kecuali jika Si Kecil menderita asma atau kondisi pernapasan (pernapasan) lainnya yang sedang berlangsung, satu-satunya obat yang diperlukan biasanya parasetamol atau ibuprofen. Sebagian besar infeksi pada anak-anak disebabkan oleh virus sehingga tidak diperlukan antibiotik. Obat batuk tidak bekerja jadi tidak dianjurkan.

Aspirin tidak dianjurkan pada anak-anak karena risiko sindrom Reye, kondisi langka namun berpotensi mengancam nyawa. Anak-anak dan remaja yang sembuh dari cacar air atau gejala mirip flu tidak boleh mengonsumsi aspirin, karena mereka memiliki risiko sindrom Reye yang lebih tinggi.

Baca Juga: Kenapa Tiba-Tiba Bayi Sesak Napas Saat Menyusu?

Penyebab Napas Cepat pada Anak

Adapun penyebab napas cepat pada anak di bagi menjadi dua bagian, dilansir dari Very Well Family, yaitu:

1. Bayi Baru Lahir

Pada bayi baru lahir, penyebab umum napas cepat meliputi takipnea transien bayi baru lahir (TTN) kondisi ringan serta kondisi yang lebih serius, seperti sindrom gangguan pernapasan.

2. Anak-anak

Pada anak-anak, penyebab paling umum dari peningkatan laju pernapasan termasuk demam atau dehidrasi. Diperkirakan bahwa peningkatan laju pernapasan pada anak-anak dengan rata-rata 5 hingga 7 napas per menit per derajat peningkatan suhu tubuh Celcius.

Pada anak kecil (kurang dari 12 bulan) hal ini tidak selalu terbukti, dan laju pernapasan anak mungkin tidak meningkat sebagai respons terhadap demam dan sebaliknya. Ketika mereka mengalami peningkatan laju pernapasan, biasanya meningkat rata-rata 7 hingga 11 napas per menit per peningkatan suhu Celsius.

Kondisi seperti bronkiolitis dan pneumonia juga merupakan penyebab yang relatif umum. Anak-anak mungkin juga memiliki penyebab laju pernapasan cepat yang mirip dengan orang dewasa, seperti asidosis (dengan diabetes) dan asma.

Ketika bayi, balita, dan anak kecil masuk angin, mereka sering mengalami dada yang berisik atau batuk berdebar. Namun, setengah dari batuk dan masalah pernapasan anak-anak membaik setelah 10 hari.

Baca Juga: Pertolongan Pertama Anak Sesak Napas

Tanda Bahaya Napas Cepat pada Anak

Selain itu menurut Nationwide Children, ada juga tanda-tanda yang harus diketahui bila Si Kecil mengalami napas cepat pada anak:

1. Warna Kulit Pucat atau Kebiruan

Tanda bahaya napas cepat pada anak yang pertama adalah warna kulit pucat atau kebiruan. Periksalah di sekitar bibir, mata, tangan dan kaki, terutama bantalan kuku.

2. Peningkatan Laju Pernapasan

Tanda bahaya napas cepat pada anak yang selanjutnya adalah peningkatan laju pernapasan. Hitung jumlah napas selama satu menit. Apakah Si kecil bernapas lebih cepat dari biasanya?

3. Retraksi

Tanda bahaya napas cepat pada anak yang selanjutnya adalah retraksi. Periksa apakah dada menarik dengan setiap napas, terutama di sekitar tulang selangka dan di sekitar tulang rusuk.

4. Pelebaran Lubang Hidung

Tanda bahaya napas cepat pada anak yang selanjutnya adalah pelebaran lubang hidung. Periksa apakah lubang hidung melebar saat menarik napas.

5. Pernapasan Bising

Tanda bahaya napas cepat pada anak yang selanjutnya adalah pernapasan bising. Dengarkan pernapasan yang terdengar seperti mendengus (Suara "Ugh"), mengi atau seperti lendir di tenggorokan.

6. Kulit Berkeringat

Tanda bahaya napas cepat pada anak yang selanjutnya adalah kulit berkeringat. Rasakan kulit Si Kecil untuk mengetahui apakah dingin tetapi juga berkeringat. Kepala mungkin berkeringat sementara kulit terasa dingin atau lembap.

7. Perubahan Suasana Hati

Tanda bahaya napas cepat pada anak yang selanjutnya adalah perubahan suasana hati. Periksa apakah anak lebih mengantuk, sulit untuk bangun, lebih rewel dari biasanya, atau "tidak bertingkah seperti dirinya sendiri".

8. Perubahan Posisi Tubuh

Tanda bahaya napas cepat pada anak yang selanjutnya adalah perubahan posisi tubuh. Anak mungkin mengubah postur tubuhnya untuk mencoba bernapas lebih mudah, seperti mencondongkan tubuh ke depan atau memiringkan kepala ke atas atau ke belakang.

Kemudian, Moms dan Dads harus segera membawa ke dokter jika Si Kecil:

  • mengalami demam selama 24 jam atau lebih tanpa tanda-tanda infeksi lain
  • memiliki masalah makan dan minum dan menunjukkan tanda-tanda dehidrasi
  • batuk lendir berdarah
  • menjadi lebih sesak dari biasanya setelah berolahraga atau selama aktivitas sehari-hari
  • telah batuk terus menerus selama lebih dari 3-4 minggu
  • sudah memiliki kondisi paru-paru yang terdiagnosis - dan juga memiliki gejala infeksi
  • memiliki sistem kekebalan yang lemah atau kondisi yang memengaruhi organ lain - dan juga memiliki gejala infeksi.

Beberapa anak mungkin dirawat di rumah sakit jika mereka mengalami masalah pernapasan yang parah. Selama di rumah sakit, perawatan mungkin termasuk:

  • Antibiotik melalui IV (intravena) atau melalui mulut (oral) untuk infeksi bakteri
  • Cairan IV jika anak tidak dapat minum dengan baik
  • Terapi oksigen
  • Sering menyedot hidung dan mulut anak untuk membantu mengeluarkan lendir yang kental
  • Perawatan pernapasan, seperti yang diperintahkan oleh rumah sakit tempat Si Kecil dirawat.

Baca Juga: Bunyi 'Grok grok' pada Napas Bayi, Apa Penyebabnya?

Tindakan pencegahan tergantung pada penyebab napas cepat pada anak. Misalnya, jika disebabkan asma, Si Kecil harus menghindari alergen, olahraga berat, dan bahan iritan seperti asap dan polusi.

Moms dan Dads mungkin bisa menghentikan hiperventilasi sebelum berkembang menjadi keadaan darurat. Jika Si Kecil mengalami hiperventilasi, Anda perlu meningkatkan asupan karbon dioksida dan mengurangi asupan oksigen.

Untuk membantu pernapasan, posisikan bibir seolah-olah sedang menyedot sedotan dan bernapas. Si Kecil juga bisa menutup mulut, lalu menutup salah satu lubang hidung dan bernapas melalui lubang hidung yang terbuka.

Namun, perlu digarisbawahi untuk tetap mendatangi dokter agar mendapatkan diagnosis yang tepat soal napas cepat terutama pada anak dan bayi baru lahir yang mungkin tidak sepenuhnya dapat menyampaikan gejala mereka selayaknya orang dewasa.

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait