03 Mei 2024

Penyebab Keputihan pada Anak Perempuan dan Cara Mengatasinya

Keputihan pada anak terjadi bisa terjadi karena berbagai penyebab

Kalau orang dewasa mengalami keputihan, itu adalah hal yang wajar. Namun, bagaimana jika terjadi kondisi keputihan pada anak?

Tentu Moms akan sangat panik bila mendapati kondisi ini terjadi pada Si Kecil. Terlebih jika dia masih dalam usia yang terbilang cukup muda dan belum menstruasi.

Benarkah kondisi ini bisa terjadi? Kalau begitu apa sebenarnya penyebab keputihan pada anak?

Cari tahu lebih lanjut tentang kondisi keputihan pada anak perempuan berikut ini.

Baca Juga: 6 Cara Menghilangkan Keputihan saat Hamil

Pengertian Keputihan pada Anak

Mengutip Teen's Health, keputihan yang normal memiliki beberapa tujuan, yaitu membersihkan dan melembabkan vagina, serta membantu mencegah dan melawan infeksi.

Warna, tekstur, dan jumlah keputihan biasanya berubah pada waktu yang berbeda dalam sebulan selama siklus menstruasi seorang gadis.

Mirip seperti orang dewasa, keputihan pada anak adalah bercak putih yang muncul di area vital anak. Seringkali bercaknya tidak hanya putih, melainkan berwarna kuning, kehijauan, hingga merah.

Kondisi ini sering kali terjadi dan umumnya keputihan anak-anak berwarna bening, tidak berbau, dan tidak menimbulkan rasa panas atau gatal di area kemaluan.

Namun, jika keputihan ini berbau, gatal, bahkan membuat vagina panas, segera periksakan ke dokter.

Baca Juga: Keputihan saat Hamil: Penyebab, Jenis, dan Cara Mengatasi

Penyebab Keputihan pada Anak

Keputihan pada Anak Perempuan
Foto: Keputihan pada Anak Perempuan (Freepik.com/freepik)

Keputihan pada anak terbagi dua, yaitu keputihan fisiologis dan keputihan patologis.

Masing-masing punya penyebab dan penanganan yang berbeda untuk mendapatkan penyembuhan yang maksimal bagi Si Kecil.

1. Keputihan Fisiologis

Keputihan fisiologis pada anak adalah kondisi normal dengan ditandai adanya cairan berwarna bening atau putih dan tidak berbau yang keluar dari vagina Si Kecil.

Seringkali kondisi ini disebabkan oleh cara memakai pakaian dalam yang kurang tepat, proses pembersihan alat kelamin yang tidak benar, dan penggunaan popok yang tidak higienis.

Sebelum memakaikan celana dalam atau popok untuk anak, Moms harus pastikan dulu kalau area kemaluannya benar-benar kering.

Gunakan kain atau tisu kering yang lembut untuk menghilangkan bekas air.

Untuk proses pembersihan alat kelamin, sama seperti orang dewasa, Moms harus membersihkannya dari bagian depan ke belakang, bukan sebaliknya.

Moms juga harus menghindari penggunaan popok lebih dari tiga jam.

Menurut American Pregnancy Association (APA), Moms harus mengganti popok bayi setiap dua hingga tiga jam sekali karena bayi yang baru lahir buang air kecil sekitar 20 kali sehari selama beberapa bulan pertama kehidupan mereka.

Walau untuk usia yang lebih besar kurang dari itu, tetapi bukan berarti harus diabaikan.

Meskipun popok anak belum penuh, ada baiknya Moms tetap ganti untuk menghindari area kemaluannya jadi lembap dan gatal.

2. Keputihan Patologis

Berbeda dengan keputihan fisiologis, keputihan patologis sering disebabkan oleh infeksi dari jamur, bakteri, hingga parasit.

Dikutip dari Baltimore Sun, dokter Modena Wilson, direktur pediatri umum di Johns Hopkins Children's Center, mengungkapkan kalau benda asing juga termasuk penyebab keputihan pada anak.

"Keputihan sering kali menunjukkan adanya benda asing yang telah bersarang di vagina, misalnya kertas toilet," ujarnya.

Selain kertas toilet, beberapa benda yang jadi penyebab umum keputihan pada anak adalah benda asing non-infeksi, seperti bedak, salep, parfum, pewarna dalam deterjen, pelembut kain, dan cairan lainnya.

Infeksi ragi vagina, cacing kremi juga bisa jadi penyebab keputihan pada anak.

Kondisi keputihan pada anak yang paling berbahaya adalah vaginitis yaitu penyakit yang disebabkan oleh penyakit menular seksual akibat virus dan bakteri.

Moms perlu curiga dengan orang di sekitar, sebab kondisi ini disebabkan oleh hubungan seksual.

Bisa jadi Si Kecil mengalami pelecehan seksual yang tidak disadarinya. Sehingga Moms harus segera memeriksakannya.

Jika Si Kecil merasa gatal dan tidak nyaman di area vaginanya yang disertai demam dan cairan keputihan yang berbau tak sedap, sebaiknya Moms segera hubungi dokter.

Baca Juga: Lendir Serviks Seperti Putih Telur, Bisa Jadi Tanda Keputihan

Gejala Keputihan pada Anak

Keputihan pada anak saja tidak berarti ada infeksi. Namun, jika Si Kecil juga mengalami tanda-tanda lain berikut ini, segera temui dokter.

  • Vagina gatal, terbakar atau iritasi
  • Bau tidak sedap dari kemaluan
  • Nyeri di perut bagian bawah
  • Keputihan yang kental dan berwarna putih
  • Lepuh, benjolan atau luka di area genital
  • Adanya rasa sakit ketika buang air kecil

Penting untuk Moms berkonsultasi ke dokter bila mengalami kondisi seperti:

  • Obat sudah habis tetapi masih ada gejala infeksi vagina
  • Si Kecil mengalami demam
  • Bila anak merasa sakit padahal sudah minuk obat
  • Jika Moms memiliki pertanyaan yang ingin dikonsultasikan

Baca Juga: Benarkah Bawang Putih Bisa Mencegah Keputihan?

Pengobatan Keputihan pada Anak

Anak Perempuan Periksa ke Dokter
Foto: Anak Perempuan Periksa ke Dokter (Freepik.com/dcstudio)

Mengutip Nationwide Children's, jenis infeksi vagina yang berbeda, termasuk keputihan pada anak, memerlukan jenis pengobatan yang berbeda pula.

Beberapa infeksi vagina perlu obat antibakteri khusus dan hanya tersedia dengan resep dokter.

Tetapi, pada kasus lainnya ada juga yang tidak seserius infeksi menular seksual tetapi tetap perlu diobati. Inilah sebabnya penting menemui dokter untuk mengetahui jenis perawatan yang dibutuhkan.

Jamur, virus, dan bakteri penyebab infeksi sendiri bisa terjadi akibat kurangnya menjaga kebersihan area intim.

Perlu diketahui, obat keputihan dibedakan dari penyebab keputihannya, yaitu infeksi jamur, virus, atau bakteri.

1. Obat Antijamur

Bila mengalami infeksi jamur, Si Kecil mungkin harus menggunakan obat keputihan antijamur.

Melansir dari WebMD, kebanyakan obat keputihan antijamur tersedia dalam bentuk gel atau krim yang harus dioleskan langsung ke area bibir vagina yang terinfeksi.

Menurut British Medical Journal, jenis obat keputihan antijamur yang biasanya diresepkan oleh dokter yaitu butoconazole, miconazole, dan clindamycin.

Untuk durasi berapa lama harus menggunakan obat keputihannya, itu tergantung dari kondisi setiap orang.

Rata-rata, obat keputihan antijamur harus digunakan secara rutin selama tiga hari. Namun, selalu ikuti anjuran dokter dalam penggunaan obat apa pun.

2. Obat Antibakteri

Nah, jika Si Kecil mengalami infeksi bakteri, kemungkinan besar dokter akan meresepkan obat keputihan antibiotik.

Umumnya, antibiotik diberikan dalam bentuk tablet minum yang dikonsumsi selama kurang lebih 7 hari.

Jenis antibiotik yang bisa diberikan untuk mengobati keputihan akibat infeksi bakteri antara lain metronidazole dan tinidazole.

Terakhir, bila Si Kecil mengalami keputihan pada anak akibat infeksi virus seperti herpes simplex...

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.

rbb