Scroll untuk melanjutkan membaca

KESEHATAN UMUM
08 Maret 2022

Penyakit Paronikia, Infeksi di Kuku Akibat Sering Gigit Kuku

Awas, kebiasaan menggigit kuku dan mengemut jari bisa jadi penyebabnya
Penyakit Paronikia, Infeksi di Kuku Akibat Sering Gigit Kuku

Banyak orang menganggap bahwa menggigit kuku adalah hal yang biasa. Padahal, kebiasaan tersebut bisa menyebabkan paronikia atau infeksi kuku.

Paronikia juga dikenal sebagai cantengan. Kondisi ini tentu dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Pasalnya, dalam beberapa kasus infeksi ini menimbulkan rasa nyeri, bengkak, serta kemerahan pada area yang terkena.

Bahkan jika sudah parah, paronikia bisa muncul benjolan berisi nanah.

Agar terhindar dari kondisi ini, yuk ketahui lebih lanjut paronikia!

Baca Juga: 6 Cara Membuat Cairan Disinfektan dari Produk Rumah Tangga, Apa Saja?

Apa Itu Paronikia?

paronychia

Foto: paronychia (istockphoto.com)

Foto: istockphoto.com

Menurut American Academy of Family Physicians, paronikia atau infeksi kuku adalah jenis infeksi kulit yang terjadi di sekitar kuku tangan dan kaki.

Penyakit kuku ini dapat terjadi akibat adanya infeksi, jamur, bakteri atau virus tertentu.

Saat kulit yang berada di sekitar kuku rusak, kuman dapat dengan mudah masuk dan menginfeksi area tersebut.

Penyakit paronikia dapat diobati dan disembuhkan.

Namun, jika dibiarkan penyakit ini bisa membuat kutikel kuku menjadi rusak.

Dalam jangka panjang, kuku menjadi tebal, keras, berubah bentuk, dan bahkan terpisah dari kulit.

Baca Juga: Bukan Hanya Handphone, Ini Benda Paling Banyak Kuman yang Perlu Moms Ketahui

Gejala Paronikia

4 Fakta Infeksi Kuku Pada Anak, Cari Tahu Disini 2.jpg

Foto: 4 Fakta Infeksi Kuku Pada Anak, Cari Tahu Disini 2.jpg (Orami Photo Stocks)

Foto: familydoctor.org

Melansir American Family Physician, gejala paronikia biasanya muncul selama beberapa jam atau hari.

Terkadang penyakit kuku ini membutuhkan waktu lebih lama untuk berkembang.

Gejala muncul di tempat pertemuan kuku dengan kulit (lipatan kuku dan kutikula). Sisi kuku juga bisa terpengaruh.

Gejala paronikia meliputi:

  • Nyeri, bengkak, dan nyeri tekan di sekitar kuku
  • Kulit yang merah dan hangat saat disentuh
  • Nanah yang menumpuk di bawah kulit
  • Kuku terlepas

Pada beberapa kasus abses berisi nanah berwarna putih hingga kuning dapat terbentuk.

Jika abses terbentuk, mungkin diperlukan antibiotik atau drainase.

Jika tidak diobati, kuku dapat mulai tumbuh tidak normal dan mungkin memiliki tonjolan atau gelombang.

Mungkin terlihat kuning atau hijau dan bisa kering maupu rapuh.

Penyebab Paronikia

penyebab paronikia

Foto: penyebab paronikia

Foto: Orami Photo Stock

Penyakit paronikia umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri dan ragi yang disebut Candida, tetapi dapat juga berupa kombinasi keduanya.

Namun, ada beberapa penyebab penyakit kuku ini tergantung dari jenisnya, yaitu:

1. Paronikia Akut

Umumnya, infeksi akut yang terjadi di sekitar kuku akan berkembang dengan cepat.

Jenis paronikia ini berawal dari kerusakan kulit yang disebabkan oleh menggigit kuku, mencabut kutikula (kulit) kuku, manikur, atau cedera lainnya.

Bakteri yang menjadi penyebab infeksi jenis akut ini umumnya adalah Staphylococcus dan Enterococcus.

2. Paronikia Kronis

Berbeda dengan infeksi akut, melansir Indian Journal of Dermatology, paronikia kronis terjadi akibat dermatitis iritan akibat paparan bahan kimia, seperti asam dan alkali.

Oleh sebab itu, jenis infeksi ini lebih banyak dialami oleh ART, bartender, hingga perenang.

Bakteri penyebab infeksinya pun berbeda, yaitu Candida albicans.

Hal ini yang membuat orang-orang yang sering terpapar air lebih rentan terhadap masalah kuku ini.

Jika pelindung kuku rusak dan sering terpapar terhadap bahan kimia yang ada pembersih, tentu dapat menimbulkan infeksi kronis.

Benjolan di sekitar kuku ini berkembang lebih lambat dan berisiko muncul kembali di lain waktu

Baca Juga: Manfaat Obat Cilostazol untuk Mengatasi Nyeri dan Kram pada Kaki

Umumnya, paronikia lebih sering menyerang wanita dewasa dan orang-orang yang mengidap diabetes.

Namun, ada beberapa kondisi yang menjadi faktor risiko terkena paronikia:

  • Terkena iritasi

Deterjen dan bahan kimia lainnya dapat mengiritasi kulit dan menyebabkan infeksi dasar kuku.

Orang yang bekerja dengan bahan kimia dan tidak memakai sarung tangan pelindung memiliki risiko lebih tinggi.

  • Menggigit kuku atau kutikula

Menggigit atau mengorek kutikula dapat membuat retakan kecil pada kuku atau luka di kulit. Bakteri dapat memasuki kulit melalui luka kecil ini.

  • Memiliki kondisi kulit tertentu

Orang yang memiliki kondisi kulit yang mendasarinya mungkin lebih mungkin mengalami infeksi kuku.

  • Pekerjaan yang sering terkena air

Bartender, pencuci piring, dan orang lain dengan pekerjaan yang mengharuskan tangan mereka basah memiliki risiko lebih tinggi terkena paronikia.

Pada pasien anak, infeksi kuku paling sering dipicu oleh kebiasaan mengemut jari atau menggigit kuku.

Selain itu, resiko infeksi kuku juga bisa meningkat karena menggunting kuku terlalu pendek, menarik kulit di pinggiran kuku, atau trauma karena tertusuk benda.  

Baca Juga: Membantu Promil, Ini Prosedur Akupuntur untuk Kesuburan

Diagnosis Paronikia

periksa kuku

Foto: periksa kuku (psychologytoday.com)

Foto: psychologytoday.com

Ketika terkena paronikia, dokter biasanya akan menanyakan keluhan dan gejala yang dialami pasien.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan untuk melihat lebih detail infeksi yang terjadi di area kuku.

Langkah tersebut umumnya cukup untuk mendiagnosis paronikia.

Namun, pada beberapa kasus, dokter juga akan mengambil sampel nanah di area yang terinfeksi.

Kemudian memeriksakannya di laboraturium untuk mengetahui penyebab sehingga pasien mendapatkan pengobatan yang tepat.

Baca Juga: Agar Tidak Boros, Ajari Nilai Uang Pada Anak dengan 7 Cara Ini

Pengobatan Paronikia

Obat .jpg

Foto: Obat .jpg

Foto: Orami Photo Stock

Pengobatan dilakukan untuk meredakan keluhan dan mencegah kekambuhan di kemudian hari.

Pada kasus ringan, paronikia dapat ditangani secara mandiri. Dengan cara:

  • Rendam jari yang terinfeksi di dalam air hangat dan sabun antiseptik selama 20 menit sebanyak 3-4 kali dalam sehari.
  • Jaga jari agar tidak lembap dan tetap kering.
  • Jika tidak ada masalah, biasanya infeksi akan sembuh sendiri dalam beberapa hari.

Namun, jika paronikia tidak kunjung sembuh dan muncul abses, dokter akan melakukan beberapa tindakan, seperti:

1. Obat-Obatan

Untuk mengatasi penyebab paronikia, obat-obatan yang dapat diresepkan dokter antara lain:

  • Antibiotik minum (oral), seperti erythromycin, untuk paronikia yang disebabkan oleh bakteri
  • Krim antibiotik yang mengandung asam fusidat, untuk paronikia yang disebabkan oleh bakteri dan infeksinya tidak terlalu parah
  • Antijamur salep atau obat minum, seperti clotrimazole dan terbinafine, untuk paronikia kronis yang disebabkan oleh infeksi jamur

2. Operasi

Jika abses paronikia sudah terbentuk dan bengkak, perlu melakukan operasi untuk membuang nanah.

Sebelum dokter bedah melakukan operasi, jari pasien akan dibius terlebih dahulu.

Setelah bius diberikan, dokter akan membuat irisan pada abses agar nanah bisa dibuang.

Pada kondisi kuku yang sedikit tumbuh ke dalam (cantengan), dokter bisa mengangkat sebagian atau seluruh kuku tersebut.

Baca Juga: Begini Moms, Cara Menghadapi Suami Pendiam dan Tertutup dengan Masalahnya!

Cara Mencegah Paronikia

potong kuku paronikia

Foto: potong kuku paronikia

Foto: Orami Photo Stock

Untuk mencegah paronikia, Moms bisa melakukan cara berikut ini:

  • Menghindari kebiasaan mengigit kuku.
  • Berhati-hatilah saat memotong kuku, jangan sampai terlalu pendek.
  • Saat memotong kutikula, hindari memotong terlalu dekat dengan lipatan kuku.
  • Jaga kebersihan dengan mencuci tangan serta kuku.
  • Gunakan lotion pada lipatan kuku dan kutikula jika kulit kering. Kekeringan yang berlebihan dapat menyebabkan kulit pecah-pecah.
  • Kenakan sarung tangan tahan air jika Moms bekerja dengan bahan kimia.
  • Bagi penderita diabetes, jaga kadar gula darah dan periksa kaki setiap hari untuk mewaspadai paronikia atau gangguan lain di kaki, karena kelainan pada kaki seringkali tidak dirasakan oleh penderita diabetes.
  • Bagi penderita gangguan sistem imun, lakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin ke dokter.

Baca Juga: Cek! 5 Kondisi Kuku yang Menunjukkan Ada Penyakit di Tubuh

Itu dia Moms penjelasan mengenai paronikia. Jika Moms mengalami gejala di atas, segera berkonsultasi dengan dokter ya!

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3884921/
  • https://read.qxmd.com/read/18297959/acute-and-chronic-paronychia
  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15327-nail-infection-paronychia
  • https://www.healthline.com/health/paronychia
  • https://www.aafp.org/home.html