Pernikahan & Seks

2 Agustus 2021

14 Prosesi Pernikahan Adat Batak Toba yang Penuh akan Makna

Begini prosesi pernikahan adat Batak Toba dan maknanya
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Riskita
Disunting oleh Karla Farhana

Pernikahan merupakan proses sakral antara wanita dan pria dengan cara mengikat janji suci untuk sehidup semati di hadapan Tuhan. Di Indonesia yang kaya akan budaya, ada banyak tradisi pernikahan berdasarkan adat istiadat setempat. Salah satunya pernikahan adat Batak Toba.

Prosesi pernikahan yang digelar menurut adat suatu daerah selalu dapat menarik perhatian. Tak terkecuali pada pernikahan adat Batak Toba yang terdiri dari banyak prosesi dan mengeluarkan banyak biaya sehingga dikenal sebagai pernikahan mahal.

Lalu, bagaimana kah proses pernikahan adat Batak Toba yang mayoritas penduduknya mendiami wilayah sekitar Danau Toba di Tapanuli Utara? simak selengkapnya.

Baca Juga: Inilah 9 Ujian Pernikahan di 5 Tahun Pertama Pernikahan, Hadapi Bukan Hindari!

Pernikahan Adat Batak Toba

pernikahan-adat-batak.jpg

Foto: pariwisatasumut.net

Menurut Jurnal yang diterbitkan oleh Universitas Padjajaran, pernikahan adat Batak Toba adalah perkawinan eksogami marga karena perkawinan semarga dilarang keras.

Awalnya, pernikahan adat Batak Toba diartikan sebagai pembelian seorang perempuan, di mana perempuan dilepas dari kelompoknya setelah dilakukan transaksi pembayaran yang telah disetujui bersama sebelumnya.

Transaksi tersebut berupa pembayaran sejumlah barang berharga atau uang kepada pihak perempuan yang dalam bahasa Batak Toba disebut sebagai sinamot.

Adapun tata cara pernikahan adat Batak yang disebut dengan Na Gok, yaitu pernikahan orang Batak secara normal berdasarkan ketentuan adat terdahulu yang melibatkan unsur Dalihan Na Tolu adalah sebagai berikut:

1. Mangaririt

Mangaririt merupakan tahap persiapan pernikahan yang meliputi memilih gadis yang akan dijadikan istri berdasarkan kriteria pria atau keluarganya. Tahap ini biasanya dilakukan jika calon pengantin prianya tak dapat mencari pasangannya sendiri karena sedang berada di perantauan.

Baca Juga: Diskusikan 4 Hal Ini Setiap Hari dengan Suami Agar Pernikahan Bahagia

2. Mangalehon Tanda

Mangalehon tanda memiliki makna pemberian tanda apabila seorang pria telah menemukan wanita sebagai calon istrinya.

Kemudian, keduanya saling memberi tanda. Sang pria biasanya akan memberikan sejumlah uang kepada wanita, sedangkan pihak wanita akan menyerahkan kain sarung kepada laki-laki. Dengan ini, mereka telah terikat satu sama lain.

3. Marhusip

Marhusip atau melamar, mempunyai makna di mana pihak laki-laki melamar perempuan yang akan menjadi bagian keluarga mereka.

Marhusip ini hanya dihadiri oleh keluraga dekat saja dan utusan dari dongan tubu, boru, dongan sahuta.

Pihak laki-laki akan ke rumah pihak perempuan dengan membawa makanan, berupa kue dan buah saja.

Pada marhusip, akan dibicarakan segala sesuatu menyangkut rencana perkawinan terutama mengenai sinamot, 42 pihak yang menyelenggarakan (suhut bolahan amak), tanggal pamasu-masuon, dan tempat.

Pembicaraan atau perundingan antara utusan keluarga calon pengantin pria dan wanita ini bersifat tertutup.

Baca Juga: Psikolog Jelaskan Penyebab Hubungan Pernikahan Terasa Hambar setelah Memiliki Anak

4. Marhata Sinamot

marhata sinamot.jpg

Foto: weddingmarket.com

Marhata sinamot merupakan kegiatan yang membicarakan berapa jumlah sinamot dari pihak pria, hewan apa yang akan disembelih, berapa banyak ulos, berapa banyak undangan yang akan disebarkan, dan di mana dilaksanakannya upacara pernikahan tersebut.

Adat marhata sinamot bisa juga dianggap sebagai perkenalan resmi antara orang tua pria dan orang tua wanita. Mas kawin yang diserahkan pihak pria biasanya berupa uang sesuai jumlah mas kawin tersebut yang telah ditentukan melalui tawar-menawar.

5. Pundun Saut

Dalam prosesi ini, pihak kerabat pria akan mengantarkan ternak yang sudah disembelih untuk diterima oleh pihak parboru dan setelah makan bersama dilanjutkan dengan pembagian Jambar Juhut (daging) kepada anggota kerabat.

Di akhir kegiatan Pundun Saut, pihak keluarga wanita dan pria bersepakat menentukan waktu martumpol (pertunangan) dan pamasu-masuon (pemberkatan).

Baca Juga: 3 Hal yang Diam-diam Menghancurkan Pernikahan

6. Martumpol

martumpol.jpg

Foto: pinterest.id/@ratukebaya.id

Martumpol bagi orang Batak disebut juga sebagai acara pertunangan, tetapi secara harfiah martumpol merupakan acara kedua pengantin di hadapan pengurus jemaat gereja diikat dalam janji untuk melangsungkan pernikahan.

Upacara adat ini diikuti akan oleh orang tua kedua calon pengantin dan keluarga mereka, beserta para undangan yang biasanya diadakan di gereja.

7. Martonggo Raja

Pada tahap ini, kedua pihak dari calon pengantin akan membahas prosesi adat hari H lebih rinci lagi. Terutama keterlibatan masing-masing anggota keluarga besar (dongan sahuta), seperti siapa yang bertugas untuk memberi dan menerima ulos, dan hal-hal yang telah disepakati dalam acara marhusip sebelumnya.

Baca Juga: 5 Cara Mempersiapkan Mental sebelum Menikah

8. Manjalo Pasu-Pasu Parbagason (Pemberkatan Pernikahan)

pemberkatan nikah adat batak.jpg

Foto: thebridedept.com

Pemberkatan pernikahan kedua pengantin dilaksanakan di gereja oleh pendeta. Setelah pemberkatan pernikahan selesai, maka kedua pengantin telah sah menjadi suami istri menurut gereja.

Setelah pemberkatan dari gereja selesai, kedua belah pihak pulang ke rumah untuk mengadakan upacara adat Batak, di mana acara ini dihadiri oleh seluruh undangan dari pihak pria maupun wanita.

9. Ulaon Unjuk (Pesta Adat)

pesta adat batak.jpg

Foto: Alienco.net

Kedua pengantin juga akan menerima pemberkatan adat dari seluruh keluarga, khususnya kedua orang tua.

Dalam upacara adat inilah disampaikan doa-doa untuk kedua pengantin yang diwakili dengan pemberian ulos.

Adapun jenis ulos yang berperan dalam upacara pernikahan antara lain:

  • Ulos Hela (ulos pengantin)

Ulos Hela adalah simbol yang diberikan oleh orang tua pengantin wanita atau pihak hula-hula (pemberi gadis).

Ulos ini diberikan kepada sepasang pengantin yang sedang melaksanakan pesta adat sehingga disebut dengan nama Ulos Hela.

Ulos Hela yang biasanya digunakan adalah Ulos Ragi Hotang.

Pemberian Ulos Hela memiliki makna bahwa orang tua pengantin wanita telah menyetujui putrinya untuk menikah dengan pengantin pria.

  • Ulos Pansamot

Ulos ini adalah simbol yang diberikan oleh orang tua pengantin wanita kepada orang tua pengantin pria saat pesta unjuk, sebagai pemberian awal dari mulainya hubungan kekerabatan. Ulos ini kemudian akan menjadi milik anaknya, yaitu hela dari si pemberi ulos.

  • Ulos Paramai

Ulos ini di berikan dari pihak wanita (ito/kakak) kepada pihak lai-laki (ito/kakak). Ulos yang biasa digunakan adalah Ulos Sadum.

Pada hakikatnya dari pemberian ulos di atas, ulos merupakan simbol-simbol yang digunakan untuk menentukan kedudukan seseorang atau kelompok, lambang kekerabatan dan juga simbol komunikasi dalam proses penyampaian pesan, berita, atau keinginan.

Baca Juga: Cara Mengelola Emosi agar Hubungan dengan Suami Tetap Harmonis

10. Dialap Jual

Dialap jual artinya jika pesta pernikahan diselenggarakan di rumah pengantin wanita, maka dilaksanakanlah acara membawa pengantin wanita ke tempat mempelai pria.

11. Ditaruhon Jual

makanan pesta adat batak.jpg

Foto: tobatabo.com

Jika pesta pernikahan dilaksanakan di rumah pria, maka pengantin wanita dibolehkan pulang ke tempat orang tuanya, untuk kemudian diantar lagi oleh para namboru (saudara) nya ke tempat sang suami.

Setibanya pengantin wanita beserta rombongan di rumah pengantin pria, maka diadakanlah acara makan bersama dengan seluruh undangan yang masih berkenan ikut ke rumah pengantin pria.

12. Paulak Une

Adat ini dimasukkan sebagai langkah untuk kedua belah pihak bebas saling berkunjung-mengunjungi setelah beberapa hari berselang upacara pernikahan yang biasanya dilaksanakan seminggu setelah upacara pernikahan.

Biasanya pihak pengantin akan mengunjungi rumah keluarga pria terlebih dahulu kemudian mengunjungi keluarga lain dari pihak wanita.

Baca Juga: Tara Basro-Daniel Adnan Menikah dengan Mahar Unik, Ini 3 Artis yang Menikah dengan Mahar Tidak Biasa

13. Manjae

Setelah beberapa lama pengantin pria dan wanita menjalani hidup berumah tangga (kalau pria tersebut bukan anak bungsu), maka ia akan dipajae, yaitu dipisah rumah dan mata pencarian.

Biasanya kalau anak paling bungsu mewarisi rumah orang tuanya.

14. Maningkir Tangga

Setelah pengantin manjae atau tinggal di rumah mereka, orang tua beserta keluarga pengantin datang untuk mengunjungi rumah mereka dan diadakan makan bersama.

Nah, itu dia proses pernikahan adat Batak Toba. Bagi Moms yang menikah dengan adat ini, mungkin sudah tidak asing lagi karena telah menjalani seluruh prosesnya dengan khidmat, ya.

  • http://eprints.undip.ac.id/59156/3/BAB_II.pdf
  • http://repository.umsu.ac.id/bitstream/123456789/13736/1/SKRIPSI%20ANASTASYA%20SITOMPUL.pdf
  • https://docs.google.com/spreadsheets/d/1FZQuQhH1J7mFdqp4BMWOZDp91dUgLYRZ3FWIo02kP2Y/edit?ts=60692d1c#gid=1705923925
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait