Pernikahan & Seks

Bukan Tanpa Makna, Ini Sederet Tata Cara Pingitan di Indonesia

Pingitan bukan sekadar mengurung calon pengantin di rumah, ada prosesi dan maknanya, lho!
placeholder

Foto: shutterstock.com

placeholder
Artikel ditulis dan disunting oleh
Agnes

Sebagian budaya pernikahan di Indonesia melaksanakan pingitan pada calon pengantin, khususnya pengantin wanita. Sebetulnya, adakah makna dari pingitan tersebut? Yuk, simak artikel ini untuk tahu lebih jauh mengenai pingitan serta tata cara dan makna yang terkandung dalam budaya pingitan!

Mengenal Pingitan, Tradisi Menjelang Pernikahan

Persiapan pernikahan

Foto: Freepik.com

Tradisi pingitan atau dipingit merupakan salah satu tradisi yang masih berlangsung di sebagian wilayah di Indonesia. Tradisi ini paling umum dijumpai dan dikenal dilakukan oleh Suku Jawa yang melakukan tradisi ini sejak zaman kerajaan.

Pingitan pada zaman dahulu menghabiskan waktu sekitar satu hingga dua bulan lamanya. Bagi para wanita yang dipingit di rumah saja tentunya akan dilanda rasa bosan.

Pada zaman dahulu waktu yang dihabiskan untuk melakukan pingitan sangat lama, sehingga banyak yang tidak kuat menahannya. Selain itu, wanita modern kini sudah mengalami emansipasi, sebagian besar telah memiliki pekerjaan sendiri yang tidak bisa ditinggal begitu saja.

Seiring berkembangnya zaman dan disesuaikan dengan kebutuhan, tradisi pingitan saat ini menghabiskan waktu cukup singkat, hanya 1-2 minggu saja atau bahkan hanya 1-2 hari.

Dalam masa pingitan, calon pengantin wanita dapat melakukan berbagai kegiatan untuk mengusir rasa bosan. Dikutip dari Kumparan, selama masa pingitan calon pengantin wanita dapat mendapatkan pelatihan seputar rumah tangga.

Selain untuk mencegah bosan, tentunya kegiatan tersebut sangat bermanfaat bagi calon pengantin wanita saat sudah berumah tangga.

Kegiatan lainnya yang dapat dilakukan calon pengantin wanita adalah mendapatkan perawatan fisik. Perawatan fisik dilakukan agar calon pengantin wanita tampak lebih cantik dan memancarkan “aura bersinar” saat pernikahan berlangsung.

Selain itu, pingitan juga memiliki tujuan untuk menanam rasa rindu bagi kedua calon pengantin, membangun rasa percaya satu sama lain, menjauhkan diri dari berbagai macam bahaya, serta untuk melatih kesabaran.

Baca Juga: Ternyata Ini Pentingnya Tetap Rutin Berkencan Setelah Menikah dengan Suami

Proses Pingitan di Berbagai Suku di Indonesia

Selain Suku Jawa, suku-suku lain di Indonesia juga melakukan tradisi pingitan yang dilakukan oleh calon pengantin wanita. Dilansir dari Good News From Indonesia, masing-masing suku memiliki tata cara menurut adat setempat dan memiliki makna yang dalam serta bermanfaat bagi kedua calon pengantin.

Yuk, simak tata cara pingitan berdasarkan beberapa suku di Indonesia!

1. Suku Jawa

Foto: seputarpernikahan.com

Di Suku Jawa, tata cara pingitan dijalankan oleh calon pengantin wanita.

Selama menjalani masa pingitan, calon pengantin wanita tak diperbolehkan untuk keluar rumah atau bertemu orang lain bahkan calon pengantin prianya.

Dalam masa pingitan tersebut juga menjadi waktu untuk melatih diri dan merawat diri sebelum resmi menjadi istri.

Selain itu, dalam masa pingitannya, calon pengantin wanita disarankan untuk memperbanyak serta memperdalam ilmu agama sebagai bekal saat berumah tangga nanti.

Makna pingitan bagi calon pengantin Suku Jawa secara sederhana agar calon pengantin bisa lebih fokus mempersiapkan diri dalam menghadapi hari pernikahan dan untuk mempersiapkan mental agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik setelah pernikahan terlaksana.

Selain itu, makna pingitan dalam Suku Jawa adalah untuk menjaga kepercayaan satu sama lain antara calon pengantin pria dan calon pengantin wanita. Di saat kedua calon pengantin tidak saling bertemu, tentu ada rasa khawatir yang menimbulkan keresahan. Maka, inilah momen dimana kedua calon mempelai diuji untuk saling menumbuhkan rasa saling percaya.

Baca Juga: Seberapa Batasan Dalam Membantu Anggota Keluarga Ketika Sudah Menikah?

2. Suku Muna

Tradisi pingitan di Suku Muna yang merupakan suku asli dari Sulawesi Tenggara dikenal dengan nama Karia.

Karia yang dilakukan oleh Suku Muna tidak hanya untuk wanita yang akan melangsungkan pernikahan saja, tetapi juga para wanita yang tengah beranjak dewasa.

Tata cara pingitan Suku Muna dilakukan sesuai dengan waktu yang disepakati oleh keluarga dan wanita yang akan melakukan pingitan. Umumnya pingitan Suku Muna memakan waktu selama sehari semalam hingga empat hari empat malam.

Selama Karia, anak perempuan ditempatkan di sebuah ruangan tanpa penerangan atau perlengkapan tidur. Selama masa pingitan ini pula mereka akan diberi nasihat dan petuah agar kehidupan di usia dewasa mereka dapat bermanfaat bagi lingkungan sekitar, selalu berbuat baik, serta berbakti kepada orangtua.

Baca Juga: Uniknya Tradisi Tahun Baru di 7 Negara Ini

Dalam Jurnal Psikologi Pendidikan dan Konseling, dijelaskan makna prosesi pingitan ini. Salah satu tahap yang dilakukan adalah Kafoluku.

Kafoluku merupakan proses pembinaan remaja perempuan yang menjelang dewasa dalam ruangan gelap yang disebut Suo atau Songi. Ruangan gelap ini menggambarkan rahim seorang ibu.

Prosesi Kafoluku bermaksud seperti mengembalikan seorang anak dalam rahim ibunya. Makna pingitan yang diharapkan yaitu remaja perempuan yang menjelang dewasa tersebut dapat mengenali asal atau tempat awal hidup mereka (dari rahim ibu), mengenali tanggung jawab seorang perempuan sebagai istri sekaligus ibu yang berujung pada adanya sebuah pengenalan diri.

Kemudian dilanjutkan proses Kalempagi. Kalempagi merupakan pertanda seorang perempuan yang telah mengalami peralihan menjadi perempuan dewasa yang bertanggung jawab. Makna pingitan utama yang terkandung dalam prosesi ini yaitu mencapai nilai pemahaman diri.

Baca Juga: Kenali Depresi Setelah Menikah, Mungkinkah Terjadi?

3. Suku Betawi

Pengantin suku betawi

Foto: idewedding.com

Dalam tradisi adat Suku Betawi, pingitan disebut dengan istilah Dipiare. Dipiare dilakukan oleh orang-orang Suku Betawi terdahulu bisa berlangsung hingga sebulan lamanya.

Tapi seiring modernisasi, prosesinya dipersingkat dan sekarang hanya berlangsung selama sekitar satu atau dua hari.

Tata cara pingitan Suku Betawi diawali dengan calon pengantin wanita yang disebut sebagai 'None Mantu' didampingi oleh seorang Tukang Piare. Selama menjalankan masa Dipiare, Tukang Piare harus memerhatikan kegiatan dan kesehatan dari None Mantu, serta merawat kecantikan None Mantu.

Selama masa Dipiare ini pula None Mantu akan melakukan berbagai macam perawatan, dimulai dari diet, minum jamu, hingga lulur.

Baca Juga: 10 Nama Bayi Perempuan Betawi, Unik dan Sarat Makna!

Beberapa pantangan harus dilakukan oleh None Mantu, seperti dilarang untuk berhubungan atau berkomunikasi dengan orang-orang luar, kecuali Tukang Piare dan keluarga terdekat.

Makna Dipiare dalam Suku Betawi adalah untuk mengontrol kegiatan, kesehatan, dan memelihara kecantikan calon mempelai wanita dalam menghadapi hari pernikahan.

Selain melaksanakan perawatan fisik, calon pengantin wanita juga menjalani program diet dengan pantang makanan tertentu untuk menjaga berat tubuh ideal. Selain itu, minum jamu godog dan jamu air akar secang juga dilakukan.

4. Suku Banjar

Suku Banjar merupakan salah satu suku asli dari Kalimantan Selatan. Dalam istilah Suku Banjar, pingitan dinamakan dengan Bapingit.

Berbeda dengan suku-suku lainnya, tata cara pingitan Suku Banjar dimulai setelah seorang wanita resmi menikah dengan suaminya. Selama masa Bapingit, wanita tersebut dilarang untuk bertemu dengan suaminya maupun pemuda lainnya.

Tata cara Bapingit dimulai dengan membaca Alquran hingga menamatkannya, memperdalam ilmu agama, serta diakhiri dengan membantu pernikahan orang lain.

Bapingit digunakan untuk calon mempelai wanita merawat diri yang disebut dengan bakasai. Makna pingitan baksai ini adalah untuk membersihkan dan merawat diri agar tubuh menjadi bersih dan muka bercahaya saat proses pernikahan berlangsung.

Baca Juga: Baru Menikah, Ini 3 Tips Agar Foreplay Malam Pertama Tidak Canggung

5. Suku Buton

Tradisi posuo

Foto: infobudaya.com

Dalam tradisi Suku Buton yang juga merupakan suku asli dari daerah Sulawesi Tenggara, pingitan dikenal dengan nama Posuo atau Bakurung. Seperti Suku Muna, Bakurung dilakukan sebagai penanda transisi bagi perempuan yang akan menjadi dewasa.

Tata cara pingitan Suku Buton ini dilakukan dalam tiga tahap di sebuah ruangan yang disebut Suo.

Tahap pertama dilaksanakan dengan pemberian asap kemenyan pada wanita yang melakukan Bakurung. Makna dari pemberian asap kemenyan ini adalah sebagai tanda dimulainya bakurung.

Tahap kedua dilaksanakan setelah lima hari, yaitu dengan melakukan perubahan penampilan serta arah tidur wanita. Makna dari perubahan penampilan dan arah tidur calon mempelai wanita ini adalah menandakan bahwa adanya perubahan besar dalam kehidupan calon pengantin wanita, dari seorang perawan menjadi seorang istri setelah menikah.

Baca Juga: Unik dan Berbeda-beda, Seperti Inilah Tradisi Perayaan Tahun Baru di 5 Benua

Pada tahap ketiga yang dilaksanakan pada malam kedelapan, wanita dimandikan dengan alat khusus bernama Wadah Bhosu dan selanjutnya didandani seperti wanita dewasa.

Jurnal Ilmu Budaya memaparkan makna pingitan Suku Buton ini. Dalam Posuo, salah satu tahapan yang harus dilakukan adalah para gadis yang dimandikan oleh para wanita yang dituakan dengan cara membasahi rambut dan kepala menggunakan sampo dari santan kelapa.

Prosesi ini bermakna para gadis yang membersihkan serta menyucikan diri. Hal ini berpedoman pada salah satu syarat mandi wajib yang dilakukan dalam ajaran Islam, dengan harapan bahwa para gadis yang mengikuti ritual posuo akan tetap dalam keadaan bersih dan suci saat dimasukkan maupun setelah dikeluarkan dari ruang kurungan.

Selain itu, ada pula penggunaan kain putih untuk menutupi seluruh sisi dinding ruang kurungan, atau diletakkan di lantai sebagai pengalas tikar pada ruang kurungan.

Warna kain yang putih dan bersih memberikan makna “kesucian”. Sehingga diharapkan para gadis peserta Posuo akan keluar dari kurungan dalam keadaan bersih dan suci layaknya kain putih tersebut.

Baca Juga: 5 Momen Siraman Citra Kirana. Cantiknya!

6. Suku Sumbawa

Dalam tradisi suku Sumbawa, kedua calon pengantin melakukan prosesi pingitan setelah bertukar cincin atau bertunangan.

Tata cara pingitan Suku Sumbawa mulai dilakukan dengan kedua calon pengantin tidak saling bertemu dan harus berpuasa. Makna dari puasa untuk calon pengantin adalah untuk membersihkan diri dari dosa-dosa dan juga ditujukkan untuk menjaga berat badan serta kesehatan.

Pada hari terakhir masa pingitan, kedua calon pengantin tak diperbolehkan untuk mandi. Makna dari prosesi ini agar hujan tidak turun saat acara pernikahan dilangsungkan.

Baca Juga: Seks Pengantin Baru dan Sudah Lama Menikah, Apa Bedanya Ya?

Inilah beberapa adat pingitan yang dilakukan oleh sebagian kecil suku-suku di Indonesia. Tidak hanya di Indonesia, banyak suku yang masih menerapkan tradisi pingitan ini terhadap anak-anak mereka untuk melestarikan budaya dan pada dasarnya bertujuan baik.

Apakah Moms dan Dads juga pernah mengalami pingitan? Share pengalamannya di kolom komentar, ya!

  • https://kumparan.com/dukun-millennial/mengenal-tradisi-pingitan-menjelang-pernikahan-adat-jawa-1tdvI4S4K58/full
  • https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/11/13/ragam-perbedaan-pingitan-yang-dilakukan-berbagai-suku-di-indonesia
  • https://journal.unhas.ac.id/index.php/jib/article/download/7952/4241/21790
  • https://media.neliti.com/media/publications/126878-ID-analisis-nilai-nilai-budaya-karia-dan-im.pdf
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait