Scroll untuk melanjutkan membaca

HOME & LIVING
26 April 2022

Sejarah Rumah Apung, Rumah Tradisional yang Terancam Punah

Banyak terdapat di sepanjang sungai-sungai Kalimantan
Sejarah Rumah Apung, Rumah Tradisional yang Terancam Punah

Rumah apung adalah salah satu rumah tradisional yang banyak ditemui di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Mengapa disebut rumah apung?

Rumah ini dibangun dengan konsep mengapung di tepi sungai dan diperuntukkan bagi para pedagang yang berjualan di sungai, terutama nelayan.

Sebagian besar mata pencaharian penduduk yang tinggal di sekitar tepian sungai adalah nelayan.

Fungsi rumah apung untuk memudahkan para nelayan agar lebih mengefisiensi waktu untuk menjala ikan.

Perlu diketahui, rumah tersebut adalah salah satu dari 12 keseluruhan rumah adat yang terdapat di Banjarmasin.

Alat transportasi khas Banjar di sekitar pemukiman rumah ini adalah perahu yang menggunakan dayung sebagai alat kayuhnya, yang disebut Jukung.

Untuk memahami lebih dalam mengenai rumah apung, simak di bawah ini penjelasan selengkapnya!

Baca Juga: Mengenal Ragam Rumah Adat Bangka Belitung dan Filosofinya

Sejarah Berdirinya Rumah Apung

Rumah apung - IPLBI

Foto: Rumah apung - IPLBI (IPLBI)

Foto: IPLBI

Tak hanya terdapat di wilayah Kalimantan Selatan, rumah yang dikenal dengan ‘rumah lanting atau rumah rakit’ ini juga terdapat di wilayah Sumatera Selatan.

Hal ini dikarenakan terdapat pondasi rakit untuk membangunnya.

Ya, pondasi untuk membangun rumah ini terdiri dari tiga batang pohon kawi dengan diameter yang cukup besar yang diikat sejajar tepat diatas permukaan air.

Selain itu, rumah tersebut juga dikaitkan dengan jangkar yang ditancapkan ke dasar sungai.

Hal ini dilakukan untuk membuatnya tetap kokoh berdiri diatas air.

Seperti yang telah diketahui, rumah apung selain dibangun untuk sarana tempat tinggal, juga digunakan sebagai sarana mata pencaharian bagi penduduknya.

Hasil ikan dari menjala akan digunakan untuk kebutuhan primer atau dijual.

Seiring berjalannya waktu, aktivitas perdagangan di sungai ini semakin berkembang.

Hingga akhirnya menjadi pasar yang dikenal dengan ‘pasar terapung’.

Pada masa kejayaannya, pasar terapung ini selain untuk aktivitas dagang atau aktivitas hilir mudik untuk mengantar barang.

Penumpang pun sangat ramai, lho!

Konon, rumah ini dibangun karena sebelumnya banyak penduduk yang tidak memiliki rumah dan tinggal di perahu-perahu secara nomaden.

Baca Juga: Pelajari Ragam Rumah Adat Sulawesi Tenggara dan Tata Ruangnya

Desain untuk Membangun Rumah Apung

Sebagaimana dengan rumah pada umumnya, rumah ini memiliki atap, pintu atau biasa disebut lawang, dan jendela atau disebut lalungkang.

Rumah ini juga dibangun jembatan kecil atau biasa disebut titian dan terbuat dari kayu.

Ini berfungsi untuk menghubungkan rumah dengan daratan.

Untuk bagian interiornya, rumah ini juga terdapat ruang tamu, ruang tidur, dan kamar mandi yang dibangun terpisah dari bangunan utama.

Namun, masih ada yang perlu diperhatikan dari pembangunan rumah ini, seperti kebutuhan sanitasi dan pembuangan.

Sampai saat ini, para penduduknya masih mengandalkan sungai untuk kebutuhan tersebut.

Mulai dari pembuangan limbah rumah tangga hingga pembuangan limbah kotoran manusia.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka akan mengakibatkan pencemaran air dan merusak organisme di sekitar sungai tersebut.

Selanjutnya, sinar matahari yang ditampung pada sebuah panel surya digunakan untuk penerangan rumah apung pada malam hari.

Desain rumah ini disesuaikan untuk kondisi hunian di daerah bantaran sungai.

Oleh sebab itu, desain rumah ini disebut vernakular atau desain yang dibangun berdasarkan perilaku penduduk dan kebutuhannya.

Baca Juga: Yuk, Kenali Rumah Adat Gorontalo dan Keunikannya!

Rumah Apung Semakin Langka seiring Perkembangan Zaman

Rumah Apung Semakin Langka seiring Perkembangan Zaman

Foto: Rumah Apung Semakin Langka seiring Perkembangan Zaman

Foto: ayoindonesia.com

Pada awal tahun 1970-an, rumah apung ini dibangun oleh hampir semua penduduk yang tinggal di tepian sungai.

Namun di zaman yang semakin berkembang seperti saat ini, rumah tradisional ini mulai ditinggalkan oleh sebagian penduduknya.

Ada juga yang masih bertahan tinggal di tepian sungai.

Namun, desain rumah apung diubah menjadi rumah panggung.

Hal ini dilakukan agar rumah menjadi lebih kokoh dan permanen, sehingga jika ada gelombang di permukaan air rumah ini akan tetap stabil.

Tentu saja perubahan ini terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

Faktor Ekonomi

Pasalnya, membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk membangun rumah apung ini.

Terlebih untuk mendapatkan kayu gelondongan, sebagai bahan dasar bangunannya yang semakin sulit karena maraknya penebangan liar.

Perlu diketahui, rumah ini juga rentan untuk dicuri apabila pemiliknya sedang lengah.

Bangunan rumah akan dipotong oleh si pencuri dengan gergaji dan diambil kayunya, untuk dijual kembali.

Baca Juga: Menelusuri Keunikan Benteng Belgica, Cagar Budaya dan Wisata di Banda Neira yang Bersejarah

Butuh Perawatan Ekstra

Jika dilihat sekilas, tampaknya rumah apung ini tidak memerlukan perawatan yang ekstra.

Namun, ternyata rumah ini mudah rusak jika tidak dirawat dengan baik.

Dasi segi pondasinya, rumah ini didesain memiliki sifat tahan air.

Namun, ketika air sedang surut, rumah akan terdampar dengan posisi yang tidak dapat dipastikan.

Hal ini akan membuat rumah menjadi mudah rusak.

Kebutuhan Penduduk di Tepian Sungai Tidak Memadai

Kebutuhan penduduk akan semakin bertambah seiring dengan perkembangan zaman.

Hal ini yang membuat penduduk lebih memilih untuk meninggalkan hunian di sungai dan mulai beralih ke darat.

Pasalnya, kebutuhan penduduk lebih mudah diperoleh di darat.

Maka, aktivitas perdagangan dan pemenuhan kebutuhan tidak perlu dilakukan lagi di sungai.

Baca Juga: 7 Ragam Pakaian Adat Yogyakarta yang Anggun Berwibawa

Itulah sejarah awal mula salah satu karya budaya yang dikenal merupakan aset penduduk dengan budaya airnya, yaitu rumah apung.

Indonesia dikenal kaya akan budaya dengan segala kemajemukan suku, bangsa, dan agamanya.

Oleh karena itu, jangan lupa untuk selalu melestarikan budaya Indonesia mulai dari hal yang terkecil ya, Moms!

  • https://koransulindo.com/arsitektur-rumah-lanting-rumah-terapung-suku-banjar/
  • https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/arsitektur-rumah-lanting/