13 September 2022

Mengenal Angina Pectoris, Nyeri Dada Gejala Penyakit Jantung Koroner!

Nyeri dada bisa jadi adalah angina pectoris. Yuk, simak penjelasannya!

Angina pectoris atau stable angina adalah jenis nyeri dada yang disebabkan oleh berkurangnya aliran darah ke jantung.  Kurangnya aliran darah membuat otot jantung tidak mendapatkan cukup oksigen.

Ketidaknyamanan akibat gejala penyakit jantung koroner ini biasanya juga terjadi karena satu atau lebih arteri jantung menyempit atau tersumbat, yang juga disebut iskemia.

Rasa yang ditimbulkan adalah tekanan yang tidak nyaman, penuh, diremas atau nyeri di bagian tengah dada.

Moms atau anggota keluarga yang mengalami angina pectoris mungkin juga merasakan ketidaknyamanan di leher, rahang, bahu, punggung, atau lengan.

Meskipun gejalanya terlihat cukup umum, banyak orang yang masih sulit membedakan penyakit ini dari jenis nyeri dada lainnya.

Sebut saja gejalanya mirip dengan gangguan pencernaan, yakni mulas dan infeksi atau peradangan paru-paru.

Beberapa hal tersebut tidak berhubungan dengan angina pectoris.

Dikutip dari American Heart Association, gejala penyakit ini pada wanita dan pria dapat berbeda.

Jadi, apa penyebab, gejala, dan diagnosa serta penanganannya?

Baca Juga: Serba-serbi Penyakit Jantung Lemah, Bisa Sebabkan Gagal Jantung Jika Tak Diobati

Penyebab Angina Pectoris

masalah Aliran Darah Menjadi penyebab Angina Pectoris
Foto: masalah Aliran Darah Menjadi penyebab Angina Pectoris (Informazone.com)

Fpto: masalah aliran darah (Orami Photo Stock)

Cedars-Sinai Medical Center  Los Angles mengungkapkan angina pectoris bisa menjadi gejala penyakit arteri koroner (CAD).

CAD adalah saat arteri yang membawa darah ke jantung seseorang menjadi menyempit dan tersumbat.

Hal ini dapat terjadi karena kondisi berikut:

  • Pengerasan pembuluh darah (aterosklerosis)
  • Gumpalan darah
  • Plak di arteri yang bisa pecah (plak tidak stabil)
  • Aliran darah yang buruk melalui katup jantung yang menyempit
  • Berkurangnya pemompaan otot jantung
  • Spasme arteri koroner

Ada 2 bentuk lain dari angina pectoris, yaitu sebagai berikut.

1. Angina Mikrovaskuler

Sebelumnya ini disebut Sindrom X. Angina mikrovaskuler menyebabkan nyeri dada tanpa penyumbatan arteri koroner.

Rasa sakit ini disebabkan oleh buruknya fungsi pembuluh darah kecil yang menuju ke jantung, lengan, dan kaki.

Jenis angina ini lebih sering terjadi pada wanita.

2. Variant Angina pectoris

Jenis angina pectoris ini juga disebut angina Prinzmetal dan bersifat langka. Ini terjadi hampir hanya saat istirahat, bukan setelah berolahraga atau stres.

Variant Angina pectoris biasanya terjadi antara tengah malam dan 8 pagi. Ketika ini terjadi, Moms bisa mengeluhkan nyeri yang sangat menyakitkan.

Hal ini terkait dengan spasme arteri dan lebih sering terjadi pada wanita.

Faktor Risiko dan Gejala Angina Pectoris

Gejala Angina Pectoris
Foto: Gejala Angina Pectoris (Orami Photo Stocks)

Foto: sakit dada (Orami Photo Stock)

Ketika otot jantung butuh lebih banyak darah atau oksigen, angina bisa terjadi.

Hal tersebut khususnya bila Moms sudah mengalami penyumbatan atau penyempitan di jantung.

Kondisi atau faktor risiko yang dapat memicu angina pectoris meliputi:

  • Aktivitas fisik
  • Stress emosional
  • Dingin atau panas yang ekstrem
  • Makanan berat
  • Terlalu banyak minum alkohol
  • Merokok

Gejala Angina Pectoris

Sensasi nyeri yang terjadi selama episode stable angina sering digambarkan sebagai tekanan atau rasa penuh di tengah dada.

Rasa sakitnya bisa terasa seperti dada yang diremas atau seperti beban berat yang bertumpu di dada.

Rasa sakit ini dapat menyebar dari dada ke leher, lengan, dan bahu. Selama episode Angina pectoris, seseorang mungkin juga mengalami:

Angina pectoris biasanya terjadi setelah seseorang beraktivitas secara fisik. Gejalanya cenderung bersifat sementara, berlangsung hingga 15 menit dalam banyak kasus.

Ini berbeda dengan unstable angina, di mana rasa sakitnya bisa terus menerus dan lebih parah.

Moms atau anggota keluarga Moms mungkin dapat mengalami episode angina pectoris setiap saat sepanjang hari. Namun, gejala dari penyakit ini lebih mungkin terjadi di pagi hari.

Baca Juga: Sakit Flu Bisa Memicu Penyakit Jantung, Kok Bisa?

Diagnosa Angina Pectoris

kateterisasi-jantung bagian dari pengobatan Angina Pectoris
Foto: kateterisasi-jantung bagian dari pengobatan Angina Pectoris

Foto: kateterisasi jantung (Orami Photo Stock)

Petugas kesehatan biasanya bertanya tentang riwayat kesehatan pasien dan akan memberikan pemeriksaan fisik.

Diagnosis angina pectoris bisa dilakukan berdasarkan gejala dan waktu mulai terjadinya gejala.

Namun tak hanya itu, seseorang dengan gejala yang mengarah ke angina pectoris juga perlu menjalani pemeriksaan berikut.

1. Elektrokardiogram (EKG)

Tes ini merekam aktivitas listrik jantung dan menunjukkan ritme abnormal (aritmia). EKG juga dapat mendeteksi kerusakan otot jantung.

2. Tes Stres

Ini dilakukan saat pasien berolahraga di treadmill atau mengayuh sepeda stasioner. Tes ini memeriksa kemampuan jantung untuk berfungsi saat berada di bawah tekanan seperti berolahraga.

Tingkat pernapasan dan tekanan darah juga diawasi. Tes stres dapat digunakan untuk menemukan penyakit arteri koroner.

Tes Stres mungkin dilakukan untuk menemukan tingkat latihan yang aman setelah serangan jantung atau operasi jantung.

3. Kateterisasi Jantung

Kateterisasi jantung adalah test yang juga dilakukan pasien angina pectoris. Prosedur yang dilakukan sebuah memasukan kawat dilewatkan ke dalam arteri koroner.

Kemudian pewarna kontras disuntikkan ke dalam arteri pasien. Setelah itu, gambar sinar-X diambil untuk melihat penyempitan, penyumbatan, dan masalah lain dari arteri tertentu.

4. MRI Jantung

Tes MRI jantung dapat melihat jumlah aliran darah ke otot jantung. Namun, tes ini mungkin selalu tersedia di fasilitas kesehatan.

5. CT-Scan Koroner

CT-Scan Koroner dapat melihat jumlah kalsium dan plak di dalam pembuluh darah jantung. Hal ini juga dapat menunjukkan aliran darah melalui arteri koroner.

Baca Juga: Penyakit Arteri Perifer: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasi

Pengobatan Angina Pectoris

Pengobatan Angina Pectoris
Foto: Pengobatan Angina Pectoris

Foto: pengobatan angina pectoris (Orami Photo Stock)

Perawatan angina pectoris akan tergantung pada gejala, usia, dan kesehatan pasien secara umum. Ini juga akan tergantung pada seberapa parah kondisinya.

Beberapa metode pengobatan yang harus dilakukan, yaitu sebagai berikut.

1. Gaya Hidup

Penyesuaian gaya hidup tertentu dapat membantu mencegah episode angina pectoris di masa depan.

Perubahan ini misalnya berolahraga secara teratur dan makan makanan yang sehat dari biji-bijian, buah-buahan, dan sayuran.

Pasien juga harus berhenti merokok jika memang merupakan perokok.

Kebiasaan ini juga dapat mengurangi risiko terkena penyakit kronis (jangka panjang), seperti diabetes, kolesterol tinggi, dan tekanan darah tinggi.

Kondisi penyakit kronis dapat mempengaruhi stable angina sehingga akhirnya menyebabkan penyakit jantung.

2. Pengobatan

Obat nitrogliserin dinilai efektif untuk mengurangi rasa sakit akibat angina pectoris. Dokter akan memberi tahu berapa banyak nitrogliserin yang harus dikonsumsi saat mengalami episode angina.

Pasien juga mungkin perlu minum obat lain untuk mengelola kondisi mendasar yang berkontribusi pada penyakit ini, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, atau diabetes.

Pasien harus memberi tahu dokter jika memiliki salah satu dari kondisi tersebut.

Dokter mungkin meresepkan obat-obatan tertentu yang dapat membantu menstabilkan tekanan darah, kolesterol, dan kadar glukosa. Ini akan menurunkan risiko dan mengalami lebih banyak episode angina.

Dokter juga mungkin meresepkan obat pengencer darah untuk mencegah pembekuan darah atau faktor yang berkontribusi pada stable angina.

3. Operasi

Prosedur invasif minimal yang disebut angioplasti sering digunakan untuk mengobati angina pectoris. Selama prosedur ini, ahli bedah menempatkan balon kecil di dalam arteri pasien.

Balon dipompa untuk memperlebar arteri dan kemudian stent (kumparan wire mesh kecil) dimasukkan. Stent ditempatkan secara permanen di arteri untuk menjaga lorong tetap terbuka.

Arteri yang tersumbat mungkin perlu diperbaiki melalui pembedahan untuk mencegah nyeri dada.

Operasi jantung terbuka dapat dilakukan untuk melakukan cangkok bypass arteri koroner. Ini mungkin diperlukan untuk orang dengan penyakit jantung koroner.

Baca Juga: 9 Makanan Sehat Pencegah Stroke di Usia Muda

Stable angina atau angina pectoris umumnya tidak berbahaya karena kondisi ini sering membaik dengan pengobatan.

Membuat perubahan gaya hidup tertentu juga dapat mencegah gejala penyakit jantung koroner ini menjadi lebih buruk. 

  • https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/angina-pectoris
  • https://www.cedars-sinai.org/health-library/diseases-and-conditions/w/what-is-angina-pectoris.html
  • https://www.heart.org/en/health-topics/heart-attack/angina-chest-pain/angina-pectoris-stable-angina
  • https://www.healthline.com/health/stable-angina#outlook

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.