Scroll untuk melanjutkan membaca

KESEHATAN UMUM
11 Februari 2022

Tak Hanya Terjadi pada Orang Tua, Waspada Asam Urat pada Anak, Moms!

Bisa karena riwayat jantung bawaan sejak bayi
Tak Hanya Terjadi pada Orang Tua, Waspada Asam Urat pada Anak, Moms!

Nyatanya, asam urat pada anak bisa saja terjadi sewaktu-waktu, Moms.

Sering diabaikan, karena ini salah satu penyakit yang menyerang orang dewasa pada umumnya.

Sebenarnya, gejala asam urat yang dialami anak-anak tak jauh berbeda dengan orang dewasa.

Yuk, ketahui tanda-tanda dan cara untuk mengatasinya!

Gejala Asam Urat pada Anak

Bisakah Anak-Anak Terkena Asam Urat? 1.jpg

Foto: Bisakah Anak-Anak Terkena Asam Urat? 1.jpg

Foto: freepik.com

Asam urat diproduksi dari penguraian purin, yakni bahan kimia sebagai produk limbah di dalam ginjal.

Ini biasanya memasuki aliran darah menuju ginjal untuk disaring, dan sisanya dibuang melalui urine.

University of Michigan Health memaparkan bahwa gejala asam urat pada anak meliputi:

  • Nyeri pada tubuh
  • Kaki membengkak
  • Sensasi hangat pada kulit
  • Sendi ngilu, terutama di jempol kaki

Rasa sakit sering dimulai pada malam hari dan membuat penderitanya kesulitan untuk beristirahat.

Jika tubuh memproduksi asam urat secara berlebihan, ini akan membentuk kristal yang dapat merusak fungsi ginjal.

Baca Juga: Rekomendasi Obat Sesak Napas Alami dan Apotek yang Mudah Ditemukan

Penyebab Asam Urat pada Anak

Bisakah Anak-Anak Terkena Asam Urat? 2.jpg

Foto: Bisakah Anak-Anak Terkena Asam Urat? 2.jpg

Foto: freepik.com

Hingga saat ini, masih terdengar bahwa asam urat sama dengan rematik. Faktanya tidak demikian, lho.

Ini bisa dipicu dari sejumlah kondisi, seperti:

1. Penyakit Leukimia

Dilansir dari Kids Health, beberapa anak dengan penyakit leukemia atau jenis kanker lainnya dapat memiliki kadar asam urat yang tinggi.

Dikenal dengan hiperurisemia, ini bisa dialami orang dewasa dan juga anak-anak. Gejala umum leukemia pada anak-anak termasuk:

  • Sering merasa lelah
  • Kulit mudah memar dan berdarah
  • Infeksi tubuh berkelanjutan

Leukemia dapat didiagnosis dengan tes darah dan fungsi sumsum tulang.

2. Gagal Ginjal

asam-urat-pada-anak-kebiasaan-yang-dapat-merusak-ginjal.jpg

Foto: asam-urat-pada-anak-kebiasaan-yang-dapat-merusak-ginjal.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Selain itu, anak dengan asam urat juga bisa disebabkan dari tanda-tanda gagal ginjal.

Ginjal yang tidak berfungsi dengan baik rentan memiliki kadar asam urat yang tinggi.

Anak-anak dengan gagal ginjal kronis mungkin tidak memiliki gejala apapun, sampai sekitar 80% dari fungsi ginjal mereka hilang.

Kemudian, gejala mulai timbul seperti merasa lelah, mual atau muntah, sulit berkonsentrasi, atau bingung.

Penumpukan cairan muncul sebagai pembengkakan di kulit, kemacetan cairan di paru-paru, dan tekanan darah tinggi pada anak.

Baca Juga: Mengenal Kondisi Penyempitan Tulang Belakang dari Gejala hingga Cara Mengobatinya

3. Down Syndrome

Penelitian yang diterbitkan dalam Hindawi menjelaskan bahwa down syndrome adalah pemicu asam urat pada anak.

Biasanya, ini bisa dideteksi sejak bayi atau dalam kandungan.

Penyebab yang mendasari karena adanya peningkatan kadar enzim metabolisme purin di dalam tubuh.

Faktor gaya hidup seperti obesitas dan jarang olahraga juga salah satu pemicunya.

4. Penyakit Jantung Bawaan

Asam Urat pada Anak, Waspadai Dislipidemia Pada Anak 2.jpg

Foto: Asam Urat pada Anak, Waspadai Dislipidemia Pada Anak 2.jpg (Orami Photo Stocks)

Foto: Orami Photo Stocks

Penyakit jantung bawaan pada anak sering dikaitkan dengan asam urat.

Ada beberapa gejala yang terlihat apabila Si Kecil memiliki gangguan jantung, seperti:

  • Warna kulit biru atau abu-abu pucat
  • Bernapas dengan cepat
  • Bengkak di tungkai, perut, atau area sekitar mata
  • Berat badan tidak naik

Biasanya, anak-anak dengan penyakit jantung bawaan membutuhkan perawatan selama seumur hidupnya.

5. Gastroenteritis

Gastroenteritis adalah penyebab asam urat pada anak selanjutnya.

Dehidrasi dicurigai sebagai penyebab asam urat meningkat pada penderita gastroenteritis.

Jangan salah mendiagnosis gejala ini dengan gangguan pencernaan lainnya ya, Moms.

Pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebab asam urat yang terjadi pada anak-anak.

Baca Juga: 9 Cara Mengatasi Anak Tunalaras dengan Modifikasi Perilaku

Cara Mendiagnosis Asam Urat pada Anak

Bisakah Anak-Anak Terkena Asam Urat? 4.jpg

Foto: Bisakah Anak-Anak Terkena Asam Urat? 4.jpg

Foto: freepik.com

Perlu diingat bahwa cara terbaik untuk mengetahui asam urat pada anak dengan membawanya ke dokter.

Nantinya, dokter akan melakukan pengambilan sampel darah untuk diuji lebih lanjut.

Lantas, apa saja yang perlu Moms dan Dads persiapkan? Sebenarnya, tidak ada persiapan terlalu banyak untuk tes darah.

Dokter akan menganjurkan Si Kecil tidak makan atau minum apapun selama 4 jam sebelum tes darah.

Terkadang, juga dilarang mengonsumsi obat karena dikhawatirkan akan mempengaruhi hasil tes nantinya.

Hasil dari uji darah tersebut akan keluar dalam waktu 1-2 jam kemudian, Moms.

Baca Juga: Sering Sakit Kepala saat Haid? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya!

Kadar Asam Urat Normal pada Anak

Bisakah Anak-Anak Terkena Asam Urat? 3.jpg

Foto: Bisakah Anak-Anak Terkena Asam Urat? 3.jpg

Foto: freepik.com

Dari hasil uji sampel darah tersebut akan menunjukkan kadar asam urat pada tubuh.

Berdasarkan studi yang dilakukan Universitas Sumatera, ada kadar normal asam urat pada anak yang bisa jadi patokan.

Anak-anak yang berusia 10-18 tahun, asam urat normal pada anak laki-laki yakni 3,6-5,5 mg/dL. Sedangkan, untuk anak perempuan adalah 3,6-4 mg/dL.

Terlepas itu, angka tersebut mungkin akan berbeda pada anak yang memiliki riwayat penyakit.

Karenanya, selalu konsultasikan dengan dokter yang merawat untuk memastikan kadar asam urat normal pada Si Kecil, Moms.

Pengobatan Asam Urat pada Anak

Tak perlu bersedih hati apabila Si Kecil didiagnosis terkena asam urat. Ada beberapa perawatan medis yang bisa dilakukan, yakni berupa:

1. Jaga Asupan Makanan

Bisakah Anak-Anak Terkena Asam Urat? 5.jpg

Foto: Bisakah Anak-Anak Terkena Asam Urat? 5.jpg

Foto: freepik.com

Seperti yang dijelaskan di awal, asam urat bisa naik dari produksi penguraian purin dalam tubuh kita.

Purin biasanya terkandung dalam dalam makanan seperti daging jeroan, ikan sarden kaleng, dan kacang-kacangan.

Yuk, mulai sekarang hindari makanan penyebab asam urat! Moms bisa menggantinya dengan makanan yang lebih sehat untuk Si Kecil.

2. Obat Antinyeri

Untuk meredakan nyeri saat serangan asam urat, istirahatkan sendi yang sakit.

Mengonsumsi ibuprofen atau obat antiradang lainnya juga dapat membantu tubuh merasa lebih baik.

Namun, jangan minum aspirin. Ini dapat memperburuk gejala dengan meningkatkan kadar asam urat dalam darah.

3. Perbanyak Buah-buahan

5 Buah-buahan yang Mampu Atasi Asam Urat pada Anak-4.jpg

Foto: 5 Buah-buahan yang Mampu Atasi Asam Urat pada Anak-4.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Diketahui, ada sejumlah buah-buahan yang dapat menurunkan asam urat dalam tubuh.

Buah yang baik untuk asam urat salah satunya adalah ceri.

Jurnal Therapeutic Advances in Musculoskeletal Disease, menjelaskan bahwa ceri dapat mengurangi peradangan akut dan kronis dalam tubuh.

Biasanya, peradangan ini terkait dengan serangan asam urat berulang.

Untuk mencegah serangan yang terjadi sewaktu-waktu, penderita akan diresepkan obat untuk mengurangi penumpukan asam urat dalam darah.

Baca Juga: Sering Alami Kesemutan? Waspada Gejala Penyakit Neuropati

Moms, demikianlah sekilas informasi mengenai asam urat pada anak-anak.

Jaga asupan makan Si Kecil agar tetap seimbang dan tidak mengonsumsi sesuatu berlebihan.

Selain itu, sesekali boleh juga mengajaknya untuk medical check up di rumah sakit guna menghindari berbagai penyakit yang bisa parah di kemudian hari.

  • https://www.mottchildren.org/health-library/hw69011#:~:text=Symptoms%20of%20gout%20include%3A,often%20starts%20during%20the%20night.
  • https://kidshealth.org/en/parents/test-uric.html
  • https://www.hindawi.com/journals/jnme/2019/3480718/
  • https://journal.uny.ac.id/index.php/jppm/article/downloadSuppFile/20719/4037
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6535740/