27 Mei 2023

Digoxin Obat Gagal Jantung, Ini Dosis dan Efek Sampingnya

Tersedia dalam bentuk tablet dan suntik

Digoxin adalah obat yang digunakan untuk mengobati gagal jantung dan irama jantung yang tidak normal (aritmia).

Obat ini juga membantu jantung bekerja lebih baik.

Pada beberapa kasus, digoxin juga dapat digunakan setelah mengalami serangan jantung.

Digoxin tersedia dalam 2 bentuk, yaitu tablet dan suntik.

Obat ini termasuk dalam kelas obat yang disebut glikosida jantung, yang digunakan untuk memperlambat detak jantung dan meningkatkan pengisian ventrikel (dua ruang bawah jantung) dengan darah.

Menurut studi tahun 2019 di jurnal Progress in Molecular Biology and Translational Science, digoxin mampu mengurangi ketegangan pada jantung.

Kondisi ini membuat jantung bisa memompa darah dengan lebih efektif.

Itulah sebabnya dokter biasa meresepkan digoxin untuk penderita fibrilasi atrium atau gagal jantung.

Baca Juga: Diphenhydramine: Fungsi, Dosis, Penggunaan, serta Efek Sampingnya!

Manfaat dan Kegunaan Digoxin

Ilustrasi Gagal Jantung (Orami Photo Stock)
Foto: Ilustrasi Gagal Jantung (Orami Photo Stock)

Menurut studi pada 2004 di jurnal Dansk Medicinhistorisk Arbog, disebutkan digoxin awalnya berasal dari tanaman foxglove, Digitalis purpurea.

Obat ini mulai dikenal sejak awal tahun 1250.

Sejak saat itu, obat tersebut telah disintesis dan distandardisasi di laboratorium untuk kegunaan berikut:

  • Mengobati gagal jantung ringan hingga sedang pada orang dewasa.
  • Meningkatkan kontraksi jantung pada anak-anak dengan gagal jantung.
  • Mengontrol irama jantung pada orang dewasa dengan fibrilasi atrium kronis.

Lebih jelasnya, berikut dijabarkan satu persatu manfaat dan cara kerja digoxin untuk berbagai penyakit:

1. Fibrilasi Atrium

Digoxin adalah obat yang sering digunakan untuk mengobati fibrilasi atrium.

Ini adalah gangguan irama jantung umum yang menyebabkan jantung berdetak cepat dan tidak teratur.

Digoxin dapat menurunkan detak jantung dan membantu mengendalikannya.

Meskipun digoxin dapat memperlambat detak jantung, obat ini tidak dapat mengembalikannya ke normal.

Untuk itu, dokter biasanya juga akan meresepkan obat tambahan seperti amiodarone.

2. Gagal Jantung

Untuk orang dengan gagal jantung ringan hingga sedang, Digoxin dapat mengurangi ketegangan pada jantung.

Namun, digoxin biasanya digunakan setelah obat lain tidak berhasil mengobati kondisi tersebut.

Baca Juga: Kenali Kalsium Karbonat: Fungsi, Dosis, Penggunaan, dan Efek Sampingnya!

3. Penggunaan Off-Label

Selain untuk mengobati fibrilasi atrium dan gagal jantung, digoxin juga memiliki banyak kegunaan di luar label untuk kondisi seperti:

Takikardia janin

Ini adalah kondisi detak jantung cepat yang tidak normal, di atas 160-180 denyut per menit pada janin.

Takikardia supraventrikular

Detak jantung cepat yang tidak normal.

Cor pulmonale (gagal jantung kanan)

Kondisi ini dapat terjadi akibat tekanan darah tinggi jangka panjang di arteri paru-paru dan ventrikel kanan jantung.

Hipertensi pulmonal

Tekanan darah tinggi yang memengaruhi arteri di paru-paru dan sisi kanan jantung.

Dosis dan Aturan Pakai Digoxin

Ilustrasi Obat Digoxin (Orami Photo Stock)
Foto: Ilustrasi Obat Digoxin (Orami Photo Stock) (Freepik.com)

Dosis digoxin pada setiap orang bisa berbeda-beda, tergantung usia dan kondisi yang dialami.

Penentuan dosis dilakukan oleh dokter.

Secara umum, berikut ini dosis digoxin berdasarkan kondisi yang diobati:

1. Untuk Penanganan Gawat Darurat Gagal Jantung

Dewasa: 0,5-1 mg selama 10-20 menit dengan intravena, jika pasien belum menerima glikosida jantung selama 2 minggu.

Dosis ini dapat dibagi 2 setiap 4–8 jam.

2. Untuk Mengobati Gagal Jantung atau Aritmia

  • Dewasa: dosis awal 0,75–1,5 mg, diberikan dalam 24 jam. Dosis selanjutnya adalah 0,125–0,25 mg per hari.
  • Bayi dengan berat badan hingga 1,5 kg: 25 mcg/kgBB per hari.
  • Bayi dengan berat badan 1,5–2,5 kg: 30 mcg/kgBB per hari.
  • Bayi dan balita 1-24 bulan dengan berat badan lebih dari 2,5 kg: 45 mcg/kgBB per hari.
  • Anak usia 2–5 tahun: 35 mcg/kgBB per hari.
  • Anak usia 5–10 tahun: 25 mcg/kgBB per hari.

Baca Juga: Kenali Inviclot, Obat Pencegah Penggumpalan Darah

Efek Samping Digoxin

Sakit Kepala
Foto: Sakit Kepala (Orami Photo Stock)

Seperti obat-obatan lain, digoxin juga memiliki risiko efek samping.

Berikut ini risiko efek samping umum yang dapat terjadi:

  • Apatis, kebingungan, kecemasan, depresi, delirium, halusinasi
  • Sakit kepala
  • Kantuk
  • Kelelahan, tubuh lemah
  • Pusing atau sakit kepala ringan
  • Mual dan muntah
  • Sakit perut
  • Kehilangan selera makan

Selain itu, ada juga risiko efek samping digoxin yang lebih berat.

Ini terjadi karena digoxin memiliki potensi toksisitas, yaitu kondisi yang menyebabkan gangguan jantung yang berpotensi parah.

Termasuk aritmia, fibrilasi ventrikel, takikardia ventrikel, dan kematian jantung mendadak.

Ginekomastia (pembesaran payudara laki-laki) juga bisa terjadi setelah penggunaan digoxin yang berkepanjangan, tetapi ini termasuk jarang.

Selain itu, ruam kulit atau reaksi kulit lainnya juga dapat terjadi.

Segera cari bantuan medis jika mengalami gejala toksisitas digoxin, yaitu:

  • Mual dan muntah.
  • Diare.
  • Sakit perut.
  • Penglihatan kuning atau kabur.
  • Kenaikan berat badan yang tidak biasa.
  • Sulit bernapas.
  • Palpitasi jantung.
  • Pembengkakan pada tangan atau kaki.

Baca Juga: Pelajari Manfaat, Dosis, dan Efek Samping Betahistine untuk Atasi Vertigo

Interaksi Obat Digoxin

Botol Obat Digoxin
Foto: Botol Obat Digoxin (Freepik.com)

Obat-obatan tertentu dapat mengganggu metabolisme normal digoxin.

Bahkan juga meningkatkan konsentrasi obat dalam aliran darah serta risiko efek samping dan toksisitas.

Beberapa obat yang berpotensi berinteraksi dengan digoxin, yaitu:

  • Amiodaron.
  • Kaptopril.
  • Klaritromisin.
  • Dronedaron.
  • Gentamisin.
  • Eritromisin.
  • Itrakonazol.
  • Lapatinib.
  • Propafenon.
  • Kuinidin.
  • Ranolazin.
  • Ritonavir.
  • Telaprevir.
  • Tetrasiklin.
  • Verapamil.

Baca Juga: Obat Amitriptyline: Dosis, Aturan Pakai, dan Efek Samping yang Perlu Diketahui

Untuk menghindari interaksi dan toksisitas obat, beri tahu dokter tentang obat yang sedang atau akan digunakan.

Termasuk obat resep, obat bebas, suplemen, dan herbal.

  • https://doi.org/10.1016/bs.pmbts.2019.03.005
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15685783/
  • https://www.verywellhealth.com/digoxin-5088661
  • https://www.healthline.com/health/drugs/digoxin-oral-tablet
  • https://www.nhs.uk/medicines/digoxin/
  • https://www.mims.com/indonesia/drug/info/digoxin?mtype=generic
  • https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a682301.html

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.