Scroll untuk melanjutkan membaca

KESEHATAN UMUM
28 Juni 2022

Mengenal Kondisi Dystonia: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Ini adalah kelainan pada otot!
Mengenal Kondisi Dystonia: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Kejang otot seperti tremor kerap diduga sebagai epilepsi. Padahal, hal itu bisa menjadi tanda atau gejala dystonia.

Kondisi ini dapat menyerang siapa pun, termasuk anak-anak dan usia dewasa.

Moms dapat mengetahui penjelasan lengkap mengenai dystonia dengan menyimak ulasan ini.

Apa itu Dystonia?

Definisi dystonia

Foto: Definisi dystonia (freepik)

Foto Ilustrasi Mengalami Kejang Otot (freepik.com)

Menurut penelitian dari jurnal Neurology tahun 2020, dystonia atau distonia adalah gangguan yang menyebabkan otot berkontraksi tanpa sadar.

Hal ini menyebabkan tubuh mengalami gerak berulang atau memutar tanpa disengaja, seperti tremor.

Dystonia dapat memengaruhi satu atau dua bagian tubuh yang berdekatan, bahkan di seluruh tubuh.

Tingkat keparahan kejang otot dapat berkisar ringan hingga berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Baca Juga: 7 Cara Mudah Mengatasi Kram Otot Saat Hamil

Gejala Dystonia

tremor.jpg

Foto: tremor.jpg

Foto Otot Tangan Tremor (Orami Photo Stock)

Gejala kejang otot akibat dystonia dapat dialami berbeda-beda oleh setiap orang.

Area tubuh yang dapat mengalami dystonia meliputi:

1. Leher

Kontraksi otot menyebabkan kepala berputar ke kanan dan ke kiri atau ke depan dan belakang.

Terkadang, gejala juga dapat menyebabkan rasa nyeri.

2. Kelopak Mata

Bagian kelopak mata bisa mengalami kedutan atau kejang.

Dampaknya mata jadi menutup (blepharospasms) dan membuat seseroang sulit untuk melihat.

Kondisi ini dapat dipicu saat terpapar cahaya terang, membaca, menonton TV, atau ketika mengalami stres.

3. Rahang atau Lidah

Dystonia pada rahan atau lidah dapat menyebabkan seseorang bicara cadel, mengeluarkan air liur, dan kesulitan mengunyah atau menelan.

4. Kotak Suara

Kondisi ini juga dapat memengaruhi kotak dan pita suara (dystonia laring).

Ketika mengalami dystonia laring, suara seseorang saat berbicara mungkin dapat menjadi kencang dan pelan seperti berbisik.

5. Tangan dan Lengan

Beberapa jenis dystonia terjadi saat melakukan aktivitas berulang, seperti menulis atau memainkan alat musik tertentu.

Biasanya, kondisi ini akan berhenti saat lengan beristirahat atau sedang tidak bergerak.

Baca Juga: 6 Pertolongan Pertama Kejang Demam pada Anak yang Bisa Moms Lakukan

Penyebab Dystonia

Leher terasa tercekik.jpeg

Foto: Leher terasa tercekik.jpeg (https://www.dreamstime.com/photos-images/hand-choking-neck.html)

Foto Otot Leher (Orami Photo Stock)

Penyebab dari dystonia belum diketahui secara pasti.

Akan tetapi, dilansir dari MayoClinic, dystonia dapat terjadi karena gangguan pada sel-sel saraf di beberapa bagian otak.

Beberapa jenis dystonia dapat terjadi karena riwayat keturunan.

Dystonia juga bisa menjadi gejala dari penyakit atau disebabkan kondisi berikut:

  • Penyakit Parkinson.
  • Penyakit Huntington.
  • Penyakit Wilson.
  • Cedera otak traumatis.
  • Cedera lahir.
  • Terkena pukulan.
  • Tumor otak atau kelainan yang berkembang karena menderita kanker (sindrom paraneoplastik).
  • Kekurangan oksigen atau keracunan karbon monoksida.
  • Infeksi seperti tuberkulosis atau ensefalitis.
  • Reaksi terhadap obat-obatan tertentu atau keracunan logam berat.

Klasifikasi Dystonia

otot kaki

Foto: otot kaki (Orami Photo Stocks)

Foto Nyeri Otot Kaki (Orami Photo Stock)

Dystonia pada umumnya dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan usia saat gejala berkembang, area tubuh yang terkena, dan penyebab yang mendasarinya.

Sementara itu, berdasarkan bagian tubuh yang terdampak, berikut klasifikasi atau jenis dystonia:

  • Dystonia umum yang memengaruhi sebagian besar atau seluruh tubuh.
  • Dystonia fokal yang mempengaruhi satu bagian tubuh.
  • Dystonia multifokal yang memengaruhi dua atau lebih bagian tubuh yang tidak berhubungan.
  • Dystonia segmental yang mempengaruhi dua atau lebih bagian tubuh yang berdekatan.
  • Dystonia yang berkembang saat usia dewasa. Biasanya, gejala akan terjadi di satu atau dua bagian tubuh saja. Namun, jika berkembang sejak masa kanak-kanak, dystonia cenderung menyebar ke beberapa bagian tubuh.

Baca Juga: Kram Otot, Ketahui Penyebab, Cara Mengatasi dan Cara Mencegahnya

Diagnosis Dystonia

MRI scan

Foto: MRI scan

Foto Pemeriksaan MRI (Orami Photo Stock)

Untuk mendiagnosis dystonia, dokter dapat memeriksa kondisi fisik dan bertanya mengenai riwayat kesehatan pasien.

Guna menentukan penyebab yang mendasari terjadinya dystonia, dokter dapat menyarankan tes atau pemeriksaan berikut ini:

  • Tes darah atau urine untuk menemukan adanya paparan racun atau kondisi lain.
  • MRI atau CT-scan untuk memeriksa adanya gangguan di otak,seperti tumor, lesi, atau stroke.
  • Elektromiografi (EMG) untuk ni mengukur aktivitas listrik di dalam otot.
  • Tes genetik untuk mengetahui adanya gen yang berperan menyebabkan dystonia.

Baca Juga: Mengenal Glioblastoma, Penyakit Kanker Otak yang Ganas

Pengobatan Dystonia

minum obat

Foto: minum obat (Shutter Stock)

Foto Minum Obat (Orami Photo Stock)

Hingga saat ini belum ditemukan obat untuk mengobati dystonia.

Akan tetapi, dokter dapat memberikan perawatan berupa:

1. Obat-obatan

Menurut penelitian yang dipublikasi oleh The Cochrane Database of Systematic tahun 2017, suntik botoks (botulinum toksin) tipe A, dapat mengurangi keparahan gejala pada dystonia yang memengaruhi otot leher.

Kendati demikian, suntikan ini hanya meredakan kontraksi otot, bukan sebagai obat yang menyembuhkan dystonia secara total.

Suntik botoks harus diulang setiap 3 sampai 4 bulan sekali.

Dokter dapat memberikan obat yang yang memengaruhi neurotransmitter (zat kimia di otak) sehingga dapat meredakan kontraksi otot.

Berikut beberapa obat yang dapat diresepkan dokter:

  • Carbidopa-levodopa untuk meningkatkan kadar neurotransmitter dopamin. Obat ini membantu mendiagnosis jenis dystonia tertentu.
  • Trihexyphenidyl dan benztropine memengaruhi neurotransmitter selain dopamin.
  • Diazepam, clonazepam, dan baclofen untuk mengurangi transmisi saraf yang membantu mengurangi gejala dystonia.

Baca Juga: 10 Latihan Otot Punggung di Rumah, Ada Gerakan Superman

2. Terapi

Dokter dapat menyarankan orang dengan dystonia untuk melakukan beberapa terapi, seperti:

  • Terapi fisik untuk membantu meringankan gejala dystonia dan meningkatkan fungsi otot.
  • Terapi wicara dapat dilakukan jika dystonia memengaruhi kemampuan berbicara.
  • Peregangan atau pijat untuk meredakan nyeri otot.

3. Operasi

Operasi bisa menjadi pengobatan dystonia yang parah.

Ada beberapa jenis operasi untuk membantu meringankan gejala dystonia:

  • Deep Brain Stimulation

Pada operasi ini, dokter dapat menempatkan elektroda ke bagian dalam otak dan dihubungkan dengan generator yang ditanam di dada.

Generator mengirimkan pulsa listrik ke otak yang mungkin membantu mengontrol kontraksi otot.

Pengaturan pada generator dapat disesuaikan untuk menangani kondisi spesifik.

  • Selective Denervation and Surgery

Prosedur ini dilakukan dengan memotong saraf yang mengendalikan kejang pada otot.

Itu dia penjelasan mengenai dystonia.

Untuk mendiagnosis gejala dan mendapatkan pengobatan yang tepat, dianjurkan untuk segera konsultasi ke dokter.

  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dystonia/diagnosis-treatment/drc-20350484
  • https://www.dystonia.org.uk/pages/category/types-of-dystonia
  • https://www.aans.org/en/Patients/Neurosurgical-Conditions-and-Treatments/Dystonia
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7274927/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6486222/