17 Januari 2022

Mengenal Penyakit Parkinson, dari Gejala hingga Pengobatan

Otot kerap kaku atau tangan sering bergetar bisa jadi gejala Parkinson

Moms pasti tak asing dengan penyakit parkinson. Ya, penyakit ini memang identik menyerang para lansia. Namun, seperti apa sebenarnya penyakit ini?

Melansir Parkinson Organizations, penyakit parkinson adalah penyakit berupa kelainan saraf yang bersifat progresif.

Kondisi ini memengaruhi bagian otak yang berfungsi mengoordinasikan gerakan tubuh.

Akibatnya, penderita kesulitan mengatur gerakan tubuhnya, termasuk saat berbicara, berjalan, dan menulis.

Tanda-tanda awal penyakit ini biasanya berkaitan dengan pergerakan tubuh.

Pergerakan otot yang lentur dan terkoordinasi terjadi karena adanya zat dalam otak yang disebut dopamin.

Dopamin ini memproduksi sebuah bagian dari otak yang disebut "substantia nigra".

Nah, penyakit parkinson ini terjadi karena sel-sel dari substantia nigra ini mulai mati. Ketika ini terjadi, tingkat dopamin dalam otak juga menjadi berkurang.

Saat kadar dopamin ini merosot ke 60-80%, gejala-gejala penyakit parkinson biasanya mulai muncul.

Agar lebih memahami tentang kondisi ini, yuk simak informasi seputar penyakit parkinson!

Baca Juga: 7 Cara Mudah Mengatasi Kram Otot Saat Hamil

Gejala Awal Penyakit Parkinson

parkinson
Foto: parkinson

Foto: medicalnewstoday.com

Dokter Nancy Hammond dari Kansas University, Amerika Serikat (AS) mengungkapkan tanda-tanda awal penyakit parkinson biasanya tidak teridentifikasi.

"Tubuh kita mungkin sudah berusaha mengingatkan bahwa ada kelainan dalam pergerakan kita bertahun-tahun sebelum terjadi kesulitan dalam bergerak," ungkapnya.

Karena itu, penting sekali mengenali gejala awal parkinson, Moms.

Beberapa gejala awal parkinson bisa muncul beberapa tahun, sebelum adanya masalah motorik, diantaranya sebagai berikut:

  • Berkurangnya kemampuan mencium bau (anosmia)
  • Mengalami konstipasi
  • Tulisan tangan berubah jadi kecil dan keriting
  • Terjadi perubahan suara
  • Postur tubuh yang mulai membungkuk

Berikutnya, ada empat gejala utama yang berpengaruh pada motorik, yakni :

  • Tremor atau gerakan tidak terkontrol
  • pergerakan tubuh yang melambat
  • Lengan, kaki dan otot trunk terasa kaku
  • Terjadi masalah keseimbangan dan cenderung mudah jatuh

Selain tanda yang umum, penderita penyakit parkinson pun kerap mengalami berbagai gejala fisik dan psikologis lainnya, seperti:

  • Depresi
  • Gangguan kecemasan
  • Masalah buang air kecil
  • Sembelit
  • Masalah kulit
  • Gangguan tidur
  • Masalah memori

Baca Juga: 4 Cara Mengatasi Nyeri Otot Setelah Olahraga

Gejala-gejala sekunder dari penyakit parkinson dapat diketahui yaitu, berupa:

  • Ekspresi wajah yang kosong
  • Kesulitan berjalan
  • Suara mengecil saat berbicara
  • Keseimbangan tubuh menjadi buruk
  • Kemampuan gerak otomatis menurun, seperti mengedip dan lengan yang mengayun saat berjalan

Sementara, gejala-gejala penyakit parkinson yang lebih parah, di antaranya:

  • Beberapa bagian kulit menjadi bersisik
  • Risiko melanoma meningkat
  • Terjadi gangguan tidur, termasuk berbicara saat tidur
  • Mulai berhalusinasi
  • Mulai kesulitan untuk mengingat dan fokus

Baca Juga: 9 Manfaat Daun Kelapa, Salah Satunya Bisa Menghilangkan Nyeri Otot!

Penyebab Penyakit Parkinson

parkinson
Foto: parkinson (Orami Photo Stock)

Foto: microbiomepost.com

Lantas apa saja penyebab penyakit parkinson?

Sebenarnya tidak ada yang bisa mengidentifikasi dengan akurat penyebab penyakit ini, Moms.

Parkinson ditimbulkan dari keturunan dan juga dampak dari lingkungan. Beberapa ilmuwan bahkan berpikir bahwa virus yang memicu terjadinya penyakit parkinson.

Meski begitu, ada 2 pemicu yang diyakini mendorong terjadinya parkinson:

  • Kadar dopamin dan norepinefrin yang rendah
  • Adanya protein abnormal atau disebut lewy body dalam demensia

Untuk faktor risiko, para peneliti telah mengelompokkan sejumlah orang yang memiliki potensi menderita penyakit parkinson, yakni:

1. Usia

Orang dewasa muda jarang mengalami penyakit parkinson.

Penyakit ini biasanya mulai menyerang usia paruh baya hingga usia lanjut, dengan peningkatan risiko seiring bertambahnya usia.

Usia 60 tahun atau lebih akan lebih berisiko terserang penyakit ini.

2. Keturunan

Memiliki kerabat dekat dengan penyakit parkinson akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit ini.

Namun demikian hal ini cukup jarang ditemui pada populasi, kecuali pada anggota keluarga yang memiliki penyakit parkinson.

Namun, beberapa variasi genetik tertentu dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit parkinson.

3. Jenis Kelamin

Melansir penelitian yang dikutip National Health Service, pria lebih sering mengidap penyakit parkinson daripada wanita.

4. Paparan Racun

Paparan herbisida dan pestisida diduga meningkatkan risiko penyakit parkinson.

Tidak ada faktor risiko bukan berarti Moms tidak bisa mengidap penyakit parkinson, ya.

Tanda ini hanya sebagai referensi. Konsultasikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

5. Kehadiran Lewy

Gumpalan zat tertentu di dalam sel otak adalah penanda mikroskopis penyakit parkinson.

Ini disebut tubuh Lewy, dan peneliti percaya tubuh Lewy ini memegang petunjuk penting penyebab penyakit parkinson.

Baca Juga: 7 Cara Mudah Mengatasi Kram Otot Saat Hamil

Pengobatan Penyakit Parkinson

Gejala Penyakit Parkinson - 4 - wajah yang Kaku - shutterstock.jpg
Foto: Gejala Penyakit Parkinson - 4 - wajah yang Kaku - shutterstock.jpg (shutterstock)

Foto: Orami Photo Stock

Untuk membuat diagnosis penyakit parkinson, dokter akan menanyakan riwayat medis serta melakukan pemeriksaan neurologis dan fisik.

Setelah itu, dokter mungkin menyarankan Moms melakukan beberapa tes pemeriksaan penunjang parkinson, seperti:

  • Tes single-photon emission computerized tomography (SPECT), seperti dopamine transporter scan (DaTscan)
  • Tes laboratorium, seperti tes darah
  • Tes pencitraan, seperti MRI, ultrasound otak, CT scan, PET scan

Penyakit ini memburuk secara bertahap seiring berjalannya waktu, dan terbagi menjadi 5 tingkatan (stadium) seperti dijelaskan di bawah ini:

  • Stadium 1

Pada stadium 1, gejala penyakit parkinson tergolong ringan dan tidak mengganggu aktivitas penderita.

  • Stadium 2

Jangka waktu perkembangan penyakit Parkinson dari stadium 1 ke stadium 2 berbeda pada tiap penderita.

Hal ini dapat berlangsung dalam hitungan bulan atau tahun. Pada tahap ini, gejala mulai terlihat.

  • Stadium 3

Penyakit parkinson stadium 3 ditandai dengan gejala yang makin jelas terlihat. Gerak tubuh mulai melambat dan mengganggu aktivitas penderita.

  • Stadium 4

Penderita mulai kesulitan berdiri atau berjalan. Gerak tubuh penderita akan semakin melambat, sehingga membutuhkan bantuan orang lain untuk menunjang aktivitasnya.

  • Stadium 5

Penyakit parkinson stadium 5 dapat membuat penderita sulit atau bahkan tidak bisa berdiri sama sekali. Penderita juga dapat mengalami waham (delusi) dan halusinasi.

Baca Juga: 5 Hal yang Terjadi Pada Tubuh Ini Ternyata Gejala Penyakit Parkinson

Jika penyakit parkinson sudah memasuki stadium parah, maka Moms kemungkinan akan diberi opsi pengobatan, seperti:

1. Terapi

Pasien juga bisa menjalani terapi, seperti:

Terapi-terapi ini dapat meningkatkan kemampuan komunikasi pasien dan kepeduliannya terhadap diri sendiri.

Selain untuk meringankan gejala, terapi juga dapat membantu penderitanya untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

2. Obat-obatan

Pada banyak kasus, pemberian obat-obatan akan dilakukan untuk mengendalikan gejala mental dan fisik yang beragam.

Berikut beberapa jenis obat yang diberikan bagi para penderita penyakit parkinson :

  • Levodopa

Levodopa adalah pengobatan yang paling sering dilakukan untuk penyakit parkinson. Obat ini membantu meningkatkan kadar dopamin.

  • Carbidopa

Carbidopa biasanya juga diberikan dikombinasikan dengan levodopa.

Carbidopa ini bertujuan mencegah pecahnya levodopa di dalam aliran darah sehingga levodopa bisa masuk ke dalam otak.

  • Agonis Dopamin

Agonis dopamin bisa meniru cara kerja dopamin dalam otak. Obat ini memiliki efek yang sama dengan levodopa namun tidak menghasilkan dopamin.

3. Operasi

Jika pasien tidak merespon secara positif terhadap obat, operasi mungkin perlu dilakukan.

Salah satunya adalah prosedur deep brain stimulation (DBS).

Operasi ini dilakukan dengan menanamkan implan elektroda ke bagian otak dan menghubungkannya ke perangkat listrik kecil yang ditanam di dada.

Untuk pengobatan maupun penanganan penyakit parkinson, biasanya berkaitan dengan kombinasi dari perubahan gaya hidup, pemberian obat-obatan dan terapi.

Istirahat yang cukup, rutin berolahraga dan diet seimbang sangat penting bagi penderita parkinson.

Baca Juga: Hati-hati, Sepatu High Heels Bisa Tingkatkan Risiko Cedera Otot dan Persendian

Komplikasi Penyakit Parkinson

Pola Hidup Sehat untuk Cegah Demensia-1.png
Foto: Pola Hidup Sehat untuk Cegah Demensia-1.png

Foto: Orami Photo Stock

Melansir Mayo Clinic, meski penyakit parkinson tidak mematikan, namun dapat diserai kondisi medis lainnya.

Adapun komplikasi akibat penyakit parkinson adalah:

1. Kesulitan Berpikir hingga Demensia

Masalah kognitif (demensia) dan kesulitan berpikir kerap timbul pada penderita penyakit ini, terutama jika penyakit sudah berkembang ke tahap selanjutnya

2. Depresi

Terkadang, penderita penyakit ini kerap mengalami depresi, ketakutan, kecemasan, hingga kehilangan motivasi, yang bisa terjadi sejak tahap awal.

Mengobati kondisi ini dapat mempermudah penanganan masalah lain yang timbul akibat parkinson.

3. Kesulitan Menelan

Moms mungkin mengalami masalah menelan seiring berjalannya waktu.

Adapun kondisi ini menyebabkan air liur menumpuk di mulut dan sering menimbulkan “ngeces."

4. Masalah Mengunyah

Parkinson stadium akhir akan memengaruhi otot-otot di mulut, sehingga dapat membuat penderitanya sulit mengunyah.

Adapun hal ini dapat menyebabkan masalah gizi atau menimbulkan tersedak saat makan.

Baca Juga: Kejang Otot: Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi, dan Cara Mencegahnya

5. Gangguan Tidur

Penderita penyakit ini seringkali mengalami gangguan tidur, seperti terbangun sepanjang malam dan tertidur pada siang hari.

6. Masalah Kandung Kemih

Penyakit parkinson dapat menyebabkan masalah kandung kemih, seperti tidak dapat mengontrol urine atau kesulitan buang air kecil.

7. Sembelit

Sembelit atau konstipasi seringkali dialami penderita penyakit ini karena saluran pencernaan yang lebih lambat.

8. Hipotensi Ortostatik

Penderita penyakit parkinson kerap merasakan pusing saat berdiri karena penurunan tekanan darah yang terjadi secara tiba-tiba atau disebut hipotensi ortostatik.

Penurunan tekanan darah ini dapat mencapai 20 mmHg untuk sistolik dan 10 mmHg untuk diastolik.

Baca Juga: Ketahui 8 Kelainan Tabung Saraf yang Bisa Terjadi Pada Bayi

9. Disfungsi Bau

Penderita mungkin mengalami masalah dengan indera penciuman. Mereka akan mengalami kesulitan mengidentifikasi bau tertentu atau perbedaan antara bau.

10. Disfungsi Seksual

Beberapa orang dengan penyakit parkinson mengalami penurunan hasrat atau kinerja seksual.

Jika Moms merasa mengalami beberapa gejala awal penyakit parkinson, tidak ada salahnya segera mengunjungi dokter.

11. Kelelahan

Banyak orang dengan penyakit parkinson kehilangan energi dan mengalami kelelahan, terutama di kemudian hari. Penyebabnya tidak selalu diketahui.

Baca Juga: Kram Otot, Kontraksi Otot yang Kerap Mengganggu Aktivitas

Biasanya dokter akan menanyakan detail gejala dan riwayat medis untuk menentukan apakah kita perlu segera menemui spesialis atau tidak.

Walau tidak dapat diobati, penyakit parkinson dapat dicegah.

Berolahraga dan rutin mengonsumsi makanan kaya antioksidan dipercaya dapat mengurangi risiko sesorang terkena penyakit parkinson.

  • https://www.parkinson.org/
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/parkinsons-disease/symptoms-causes/syc-20376055
  • https://ku.edu/
  • https://www.nhs.uk/conditions/parkinsons-disease/

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.