02 Februari 2023

7 Gejala Setelah Embrio Transfer pada IVF, Mirip PMS!

Kram hingga bercak darah merupakan hal normal usai transfer embrio pada IVF

Bagi wanita yang memutuskan menjalani in vitro fertilization (IVF) perlu mengetahui bagaimana proses, perubahan apa saja yang akan terjadi hingga gejala setelah embrio transfer.

Salah satu prosedur yang akan dijalani adalah transfer embrio pada IVF.

Dikutip dari American Pregnancy Association, hanya ada risiko minimal yang berhubungan dengan prosedur transfer embrio pada IVF.

Antara lain kehilangan embrio saat transfer atau meletakkan embrio di tempat yang salah, misalnya tuba falopi.

Meski beberapa wanita mengalami kram ringan, namun prosedur ini biasanya tidak sakit.

Baca Juga: 11 Vitamin Anak Rekomendasi Dokter Terbaik, Yuk Langsung Check Out!

Apa Itu Program IVF?

Gejala Setelah Embrio Transfer
Foto: Gejala Setelah Embrio Transfer (Orami Photo Stock)

Sebelum mengatahui gejala setelah embrio transfer, Moms juga harus memahami tentang program IVF.

Melansir StatPearls Journal, Vitro Fertilization atau Fertilisasi In Vitro adalah sebuah teknologi kesehatan untuk membantu kerja reproduksi yang biasa disingkat dengan IVF.

Metode ini dilakukan bagi pasangan yang sedang mengupayakan untuk hamil dan segera memiliki anak.

IVF adalah proses pembuahan dengan cara mengekstraksi telur, mengambil sampel sperma, kemudian menggabungkan telur dan sperma secara manual pada wadah kaca di laboraturium.

Embrio kemudian dipindahkan ke rahim.

Baca Juga: 4 Cara Menanam Lidah Buaya dan Manfaatnya untuk Kesehatan

Gejala Setelah Embrio Transfer pada IVF

Berikut ini beberapa gejala setelah embrio transfer yang bisa terjadi:

1. Pendarahan atau Bercak Darah

Pendarahan atau Bercak Darah
Foto: Pendarahan atau Bercak Darah (Orami Photo Stock)

Gejala setelah embrio transfer yang pertama adalah munculnya pendarahan atau bercak darah.

Sangat umum untuk melihat munculnya bercak darah atau pendarahan pada vagina setelah transfer embrio pada IVF.

Hal ini biasanya terjadi sekitar seminggu setelah embrio bergerak ke dalam rahim.

Saat embrio masuk dalam lapisan rahim, beberapa jaringan akan tumpah dan mengarah ke pendarahan.

Warna darah pada kondisi ini umumnya merah mudah atau cokelat, dan jumlah darahnya sangat kecil, bahkan beberapa wanita tidak menyadari munculnya bercak darah.

“Dalam beberapa kasus, pendarahan ini tidak mengkhawatirkan, namun bisa juga menunjukkan masalah.

Misalnya kurangnya dukungan hormon pada fase luteal, sehingga menyebabkan lapisan endometrium untuk luruh,” ungkap Dr. Ramirez dari Monterey Bay IVF, seperti dikutip dari montereybayivf.com.

Jika pendarahan berlebih, maka bisa juga menunjukkan risiko keguguran atau kegagalan IVF.

Untuk itu, Moms perlu berkonsultasi dengan Dokter jika jumlah bercak darah mengkhawatirkan.

2. Kram dan Nyeri Perut

Gejala setelah embrio transfer selanjutnya adalah kram dan nyeri perut.

Beberapa wanita usai menjalani transfer embrio pada IVF akan mengalami nyeri tajam atau menusuk.

Nyeri ini mungkin bukan berasal dari implantasi tetapi lebih pada ovarium.

“Kram ini rasanya mungkin akan mirip dengan nyeri perut saat menstruasi bulanan, sehingga seringkali dianggap sebagai implantasi yang gagal,” ungkap Joseph E. Martin, M.D., FACOG, seperti dikutip dari fertilitysa.com.

Tiga hari setelah pengambilan, ovarium akan mengisi ulang dengan cairan dan peregangan pada folikel serta ovarium ini tentu akan menyebabkan rasa nyeri.

Jika rasa nyeri ini sangat menyakitkan dan tidak hilang dengan bantuan obat pereda nyeri ringan, seperti motrin, ibuprofen atau lainnya, maka bisa menandakan hal yang lebih serius.

Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi dengan gejala nyeri berat ini adalah Ovarian Hyperstimulation Syndrome (OHSS), torsi ovarium, perdarahan ovarium, kehamilan ektopik, dan infeksi panggul.

Hal ini tentu memerlukan diagnosis lebih dalam oleh dokter.

Baca Juga: Makan Banyak Tapi Berat Badan Turun? Ini 13 Penyebab Badan Kurus

3. Suhu Basal Tubuh

Suhu Basal Tubuh
Foto: Suhu Basal Tubuh (Parents.com)

Gejala setelah embrio transfer selanjutnya adalah suhu basal tubuh.

Dikutip dari pregnancy-baby-care.com, suhu basal tubuh mengacu pada suhu istirahat tubuh wanita yang biasanya diambil sesaat setelah bangun tidur dan sebelum beranjak dari tempat tidur.

Moms yang rutin memeriksa suhu basal tubuh untuk mengecek ovulasi, akan melihat adanya perubahan setelah transfer embrio pada IVF atau implantasi.

Perubahan ini merupakan hal yang normal dan juga akan terjadi pada implantasi kehamilan alami.

4. Nyeri Payudara

Alami nyeri payudara juga bisa menjadi salah satu gejala setelah embrio transfer.

Selain itu, payudara Moms juga bisa bengkak dan sakit ketika disentuh. 

Kondisi tersebut bisa terjadi setelah transfer embrio, karena efek samping obat hormonal yang dikonsumsi selama 2 minggu setelah prosedur.

Selain itu, nyeri juga disebabkan oleh suntikan ataupun pil progesteron yang dikonsumsi. 

5. Mual

Gejala Mual
Foto: Gejala Mual (Orami Photo Stock)

Moms juga bisa mengalami mual sebagai gejala setelah embrio transfer.

Kondisi ini dipengaruhi oleh pemberian hormon-hormon selama proses bayi tabung. 

Di sisi lain, kondisi tersebut juga bisa dipicu oleh peningkatan kadar beta hCG alias hormon kehamilan.

Keadaan ini dapat menjadi tanda bahwa transfer embrio berhasil, lho Moms.

6. Keputihan Lebih Banyak

Umumnya, sembari menunggu hasil transfer embrio, dokter akan meresepkan progesteron untuk digunakan selama 2 minggu.

Jenis ‘obat’ ini dimasukkan ke dalam vagina, dengan tujuan menjaga kondisi endometrium agar mampu mendukung implantasi embrio. 

Jika keputihan yang terjadi memiliki tekstur encer, putih, dan tidak menyengat, hal tersebut bisa menjadi gejala setelah embrio transfer.

7. Terlambat Menstruasi

Jadwal Menstruasi
Foto: Jadwal Menstruasi (Orami Photo Stock)

Gejala setelah embrio transfer selanjutnya adalah terlambat menstruasi.

Terlambat datang bulan bisa menandakan bahwa implantasi embrio berhasil sehingga terjadi kehamilan. 

Faktanya, peningkatan hormon selama kehamilan membuat lapisan dalam rahim menebal.

Hal ini mencegah peluruhan lapisan rahim, yang merupakan penyebab terbentuknya darah haid.

Baca Juga: Adakah Bahaya Jahe untuk Asam Lambung?

Proses Transfer Embrio Beku Bayi Tabung

Gejala Setelah Embrio Transfer
Foto: Gejala Setelah Embrio Transfer (Orami Photo Stock)

Prosedur transfer embrio pada program bayi tabung (in vitro fertilisation) pertama-tama diawali dari pengambilan sel telur dan sperma.

Jumlah sampel yang diambil sendiri tidak hanya satu, yakni dokter akan mengambil beberapa sperma dan sel telur untuk meningkatkan peluang keberhasilan.

Keduanya kemudian digabungkan dalam kaca petri secara manual hingga mengalami pembuahan di luar tubuh.

Sel telur yang sudah berhasil dibuahi oleh sperma inilah yang dinamakan embrio. 

Melansir Therapeutics and Clinical Risk Management, embrio yang dihasilkan melalui prosedur in vitro fertilization sendiri umumnya bisa lebih dari satu.

Alhasil dokter akan memilih kandidat embrio yang dirasa paling baik serta memiliki peluang terbesar untuk tumbuh menjadi janin.

Sementara sisanya bisa dibekukan menggunakan nitrogen cair lalu disimpan sebagai cadangan.

Dalam proses transfer embrio, ada dua cara yaitu:

  • Secara langsung dengan hanya selisih beberapa hari sebelum dimasukkan ke dalam rahim.
  • Melewati masa pembekuan terlebih dahulu untuk mendapatkan waktu yang tepat.

Dari proses ini embrio kemudian akan bertumbuh dan berkembang menjadi janin.

Calon ibu yang menjalani prosedur transfer embrio program bayi tabung pun bakal menjalani masa kehamilan selama 9 bulan seperti pada kondisi kehamilan normal.

Baca Juga: Patuhi Aturan Pakai Ambroxol HCl untuk Atasi Dahak Abrnomal dan Sakit Tenggorokan

Itulah beberapa gejala setelah embrio transfer pada IVF.

Jika Moms mengalami gejala yang mengkhawatirkan, ada baiknya segera berkonsultasi dengan dokter ya.

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK562266/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1936357/
  • https://www.urmc.rochester.edu/ob-gyn/fertility-center/services/infertility/ivf/ivf-step-by-step.aspx
  • https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/in-vitro-fertilization/about/pac-20384716
  • https://www.plannedparenthood.org/learn/pregnancy/fertility-treatments/what-ivf
  • https://americanpregnancy.org/getting-pregnant/embryo-transfer/

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.