23 Maret 2023

Jet Lag, Gangguan Tidur Usai Perjalanan Lintas Zona Waktu

Kondisi ini sering terjadi usai melakukan perjalanan jarak jauh

Moms mungkin sering mendengar istilah jet lag, bukan? Jangan-jangan, Moms pernah mengalaminya sendiri?

Jet lag adalah masalah tidur yang dapat terjadi setelah Moms melakukan perjalanan melintasi beberapa zona waktu yang berbeda.

Ketika mengalami jet lag, Moms akan merasa sangat tidak nyaman karena kesulitan untuk tidur.

Mengalami kondisi tersebut saat tiba di tempat tujuan liburan juga sangat mengganggu aktivitas.

Parahnya, kondisi tersebut bisa bertahan selama berhari-hari hingga berminggu-minggu. Tentu saja, Moms tidak ingin mengalami hal demikian, bukan?

Oleh karena itu, Moms perlu mengetahui cara mengatasi jet lag dengan membaca ulasan di bawah ini.

Baca Juga: Sering Naik Taksi Online? Ini 9 Tips Aman Selama Bepergian Bersama Si Kecil

Apa Itu Jet Lag?

Jet Lag
Foto: Jet Lag (Istockphoto.com)

Mengutip Cleveland Clinic, jet lag adalah masalah tidur yang umum terjadi, tetapi berumur pendek yang bisa Moms alami setelah bepergian melintasi lebih dari 2 zona waktu.

Jet lag dapat membuat Moms merasa tidak enak badan karena perubahan mendadak pada jam internal tubuh atau ritme tidur sirkadian.

Ketika Moms mengalami jet lag, kondisi ini dapat menyebabkan kelelahan di siang hari, perasaan tidak enak badan, kesulitan untuk tetap fokus dan waspada, hingga masalah pencernaan.

Semakin tua seseorang, kemungkinan kondisi ini terjadi semakin besar dengan gejala yang lebih mengganggu dibanding pada usia anak-anak.

Kondisi ini sering disebut juga penat terbang atau mabuk pascaterbang.

Baca Juga: 10 Wisata Tanjung Pinang yang Wajib Dikunjungi, Banyak Wisata Taman

Gejala Jet Lag

Pria Mengantuk
Foto: Pria Mengantuk (Istockphoto.com)

Umumnya, gejala jet lag adalah sakit kepala dan sulit tidur (insomnia).

Namun, Sleep Foundation menyebutkan ada beberapa gejala lain yang mungkin terjadi, yaitu:

1. Masalah Tidur

Ketika melakukan perjalanan jauh untuk urusan bisnis atau liburan, Moms mungkin akan sulit tertidur jika mengalami jet lag.

Moms juga mungkin bangun lebih awal dari yang direncanakan karena pengaruh zona waktu berbeda.

Selain itu, kondisi ini juga dapat menyebabkan tidur menjadi terfragmentasi.

2. Kantuk di Siang Hari

Saat Moms mengalami jet lag yang mengakibatkan masalah tidur. Hal ini sering kali membuat Moms merasa mengantuk atau lelah di siang hari.

Rasa kantuk ini tentu mengakibatkan seseorang sulit beraktivitas dan bekerja layaknya normal.

3. Gangguan Berpikir

Gejala lain yang timbul karena jet lag, yakni Moms mungkin dapat mengalami masalah dengan perhatian atau ingatan.

Pada beberapa orang, kondisi ini juga bisa membuat mereka lebih lambat dalam berpikir.

4. Fungsi Fisik yang Terhambat

Gejala jet lag berikutnya adalah tubuh Moms mungkin terasa sangat lelah sehingga kinerja fisik pun dapat terpengaruh.

Misalnya, Moms tubuh menjadi lebih lemas tak sebugar biasanya.

Baca Juga: 8 Cara Dapat Tiket Pesawat Murah untuk Menghemat Biaya Perjalanan

5. Gangguan Emosional

Beberapa orang dengan jet lag mungkin akan merasa mudah tersinggung. Hal ini pun telah dibuktikan dalam penelitian.

Menurut jurnal Translational Psychiatry, kondisi tersebut dapat memperburuk masalah kesehatan mental, seperti gangguan mood.

6. Malaise atau Kegelisahan

Dalam studi yang diterbitkan oleh University of Pennsylvania, jet lag dapat membuat seseorang merasa malaise.

Malaise adalah merupakan perasaan umum ketidaknyamanan, merasa tidak enak badan, atau kegelisahan.

7. Masalah Perut

Gejala jet lag selanjutnya adalah dapat menyebabkan masalah pencernaan, seperti nafsu makan berkurang, mual, atau bahkan sembelit dan sindrom iritasi usus besar.

8. Kelumpuhan Tidur dan Kejang

Dalam keadaan yang jarang terjadi, jet lag dapat memengaruhi arsitektur tidur yang dapat meningkatkan risiko kelumpuhan tidur dan kejang di malam hari.

Orang dengan jet lag dapat mengalami salah satu atau lebih gejala yang tercantum di atas.

Gejala dapat dimulai saat hari pertama atau beberapa hari berikutnya ketika Moms tiba di tempat tujuan.

Berapa Lama Jetlag Terjadi?

Jet Lag pada Balita
Foto: Jet Lag pada Balita (Orami Photo Stocks)

Berdasarkan informasi yang dikutip dari American Academy of Sleep Medicine, jet lag bisa berlangsung dari beberapa hari hingga beberapa minggu.

Secara umum, gejala bertahan selama 1-1,5 hari per zona waktu yang dilewati, tetapi durasi gejala bervariasi tergantung pada orang dan detail perjalanan mereka.

Biasanya, gejala-gejala jet lag akan mereda dalam 2 hari. Namun, kondisi tiap orang berbeda.

Mungkin saja tubuh Moms memberikan respons lebih lama terhadap perubahan zona waktu sehingga, kondisi jet lag yang dialami jadi lebih lama.

Seberapa besar perubahan zona waktu yang Moms alami juga berpengaruh terhadap kecepatan pulih dari kondisi tersebut, lho.

Perubahan zona waktu yang lebih dari 8 jam biasanya akan meningkatkan waktu yang Moms perlukan untuk pulih.

Baca Juga: 13 Tips Solo Traveling Antiribet, Cocok untuk Pemula

Penyebab Jet Lag

Pria Alami Jet Lag
Foto: Pria Alami Jet Lag (Istockphoto.com)

Seperti yang telah dijelaskan, jet lag dapat terjadi akibat perjalanan jauh dengan melintasi berbagai zona waktu berbeda.

Meski siapa saja bisa mengalaminya, tetapi kondisi tersebut tidak selalu terjadi.

Ada beberapa faktor yang mungkin meningkatkan risiko terjadinya jet lag pada seseorang.

Apa saja, ya, Moms? Simak selengkapnya di bawah ini!

1. Jam Biologis yang Terganggu

Ketika berpindah zona waktu, tubuh akan berusaha menyelaraskan tubuh dengan waktu setempat.

Namun, perbedaan waktu antar negara yang cukup jauh dapat membuat tubuh “kebingungan” untuk merespon waktu tidur yang baru.

Misalnya, perbedaan waktu antara Jakarta adalah 11 jam lebih cepat dibanding New York.

Moms yang biasa tidur jam 9 malam di Jakarta, kini harus membiasakan diri terjaga di jam 10 pagi waktu New York. Begitu pun sebaliknya.

2. Waktu Kedatangan

Saat Moms tiba di tempat tujuan, hal ini dapat memengaruhi ritme sirkadian yang pada akhirnya menyebabkan jet lag.

Kebanyakan orang menemukan bahwa jet lag bisa terjadi lebih buruk saat bepergian ke wilayah timur daripada saat bepergian ke barat.

Untuk perjalanan ke timur, beberapa bukti menunjukkan bahwa jet lag berkurang apabila kedatangan dilakukan saat sore hari dibandingkan dengan mereka yang di pagi hari.

3. Usia

Usia seseorang mungkin berperan dalam jet lag, meskipun penelitian telah menemukan hasil yang beragam.

Menurut jurnal U.S National Library of Medicine, orang yang berusia di atas 60 tahun lebih rentan mengalami perubahan sirkadian yang dapat mempersulit mereka untuk pulih dari kondisi ini.

Namun, beberapa penelitian lainnya dalam British Journal of Sports Medicine yang melibatkan para pilot menemukan bahwa jet lag lebih buruk pada orang yang lebih muda.

4. Paparan Sinar Matahari

Berkaitan dengan waktu, sinar matahari juga mengambil peran penting dalam ritme sirkadian.

Semakin rendah paparan sinar matahari, risiko gangguan pada ritme sirkadian akan semakin tinggi.

Hal tersebut karena paparan sinar matahari di waktu yang tepat dapat meningkatkan hormon melatonin, yang fungsinya mengatur ritme sirkadian.

Sayangnya, tubuh orang yang jet lag kebingungan untuk membedakan kapan waktu pagi dan malam hari.

Baca Juga: 20 Spot Kece di Tempat Wisata Kebun Raya Bogor, Ada Belasan Taman dan Bisa Sewa Sepeda!

5. Peranan Hormon

Salah satu hormon yang berperan dalam ritme sirkadian adalah melatonin.

Normalnya, melatonin diproduksi tubuh saat malam untuk membantu Moms tidur.

Tubuh yang belum menyesuaikan waktu bisa jadi masih menggunakan waktu malam di tempat asal.

Kondisi ini mungkin membuat Moms mengantuk di siang hari. Sinar matahari juga diketahui menghambat produksi hormon ini.

6. Stres

Faktor lain yang dapat meningkatkan risiko terjadinya jet lag adalah stres.

Pasalnya, stres dapat membuat pikiran dan tubuh gelisah dengan cara yang mengganggu tidur dan membuatnya lebih sulit untuk diatasi.

7. Pengaruh Alkohol dan Kafein

Banyak orang minum alkohol, minum kopi, atau mengonsumsi kafein selama penerbangan.

Diketahui, zat ini mempengaruhi otak dengan cara yang dapat mengganggu tidur.

8. Riwayat Jet Lag Masa Lalu

Menurut British Medical Journal Clinical Evidence, orang yang sebelumnya pernah mengalami jet lag cenderung mengalaminya lagi.

Jadi, Moms mungkin perlu waspada saat hendak pergi menggunakan pesawat jika pernah mengalami kondisi tersebut.

9. Variasi pada Setiap Individu

Untuk alasan yang tidak sepenuhnya dipahami, beberapa orang lebih mungkin mengalami gangguan ritme sirkadian dengan penerbangan jarak jauh daripada yang lain.

Karena ada banyak faktor yang terlibat, sulit untuk mengetahui secara pasti siapa yang akan mengalami jet lag, seberapa parah, dan berapa lama akan bertahan.

10. Dehidrasi dan Kelelahan Selama Perjalanan

Terkait dengan perjalanan menggunakan pesawat, dehidrasi biasa disebabkan karena suhu udara kabin yang dingin dan rendahnya tekanan udara dalam kabin.

Dampak dehidrasi ini makin diperparah dengan keharusan untuk duduk dalam waktu lama.

Dehidrasi, sikap tubuh yang kurang nyaman, ditambah dengan waktu tunggu transit yang lama akan berdampak pada kelelahan dan mengalami jet lag.

Baca Juga: 5 Tips Nyaman Mudik bersama Bayi atau Balita

Dampak Jet Lag bagi Tubuh

Demam
Foto: Demam (Freepik.com/fabrikasimf)

Jet lag dapat menyebabkan kelelahan di siang hari, tidak enak badan, hingga sulit untuk berfokus dan gangguan pencernaan.

Meski gejalanya bersifat sementara, namun dapat memengaruhi kenyamanan Moms saat berlibur atau dalam perjalanan kerja.

Orang yang sulit tidur akibat kondisi ini juga membuat imunitas tubuh mudah menurun dan rentan terkena penyakit.

Untuk mencegah jet lag terhadap tubuh, Moms dapat mengambil langkah-langkah untuk membantu mengurangi efek yang terjadi.

Cara alami untuk mengurangi kondisi ini yakni dengan mencoba tidur di waktu yang sama dan menghindari screen time ketika ingin tidur.

Akan lebih sulit awalnya, tetapi cara ini perlu dicoba dalam kurun waktu yang rutin dan berkelanjutan.

Kapan Harus ke Dokter?

Konsultasi Dokter
Foto: Konsultasi Dokter (Istockphoto.com)

Jet lag adalah gangguan tidur yang terjadi sementara, tergantung pada berapa zona waktu yang dilewati.

Setidaknya diperlukan 1-2 hari untuk sembuh dari jet lag akibat melewati satu zona waktu.

Makin banyak zona waktu yang dilewati, maka jet lag akan berlangsung lebih lama.

Contohnya, orang yang melewati 6 zona waktu membutuhkan setidaknya 3-5 hari untuk sembuh.

Bila jet lag menyebabkan gangguan tidur yang lebih lama dari seharusnya, sebaiknya konsultasikan ke dokter.

Dokter dapat membantu mengatasi gangguan tersebut, terutama jika Moms sering bepergian dan kesulitan untuk mengatasi gejala jet lag.

Orang yang memiliki riwayat penyakit tertentu, seperti penyakit jantung, juga perlu memeriksakan diri ke dokter apabila gejala penyakit tersebut muncul kembali saat mengalami jet lag.

Baca Juga: Wisata Pulau Komodo, Tujuan Wisata yang Sangat Memanjakan Mata

Cara Mengatasi Jet Lag

Mandi Air Dingin
Foto: Mandi Air Dingin (Istockphoto.com)

Jet lag tidaklah berbahaya, namun perlu segera diatasi agar tidak mempengaruhi kondisi kesehatan.

Ada banyak cara untuk bisa mengatasi jet lag, antara lain:

1. Ubahlah Waktu pada Jam Tangan dan Gadget Sesuai Tempat Tujuan

Jika tujuan Moms adalah Eropa atau Amerika, ada baiknya untuk mengubah waktu di jam tangan atau gadget sesuai dengan waktu tujuan.

Hal ini untuk meminimalisir jet lag dan mengetahui kapan Moms harus tidur saat matahari terbenam di tempat tujuan.

2. Hindari Kafein

Ada baiknya jika Moms menghindari minuman yang tinggi kafein yang dapat dengan mudah membuat terjaga seperti kopi, minuman soda dan minuman berenergi.

Minuman jenis ini hanya akan berakibat Moms tidak bisa mengatasi jet lag dalam waktu singkat.

3. Jangan Konsumsi Obat Tidur

Bergantung pada obat tidur bukan solusi yang baik untuk mengatasi jet lag, karena memang tidak worth it Moms.

Minum obat tidur hanya akan membuat Moms pusing ketika terbangun nanti.

Lakukan saja dengan cara alami, jika memang Moms butuh tidur.

4. Usahakan Tiba di Tempat Tujuan saat Matahari Sedang Terik

Salah satu keuntungan kalau sampai di tempat tujuan saat matahari belum terbenam adalah Moms bisa segar saat sudah sampai tempat tujuan.

Jangan takut jika merasa kelelahan karena sebenarnya saat berada di pesawat pun Moms sedang dalam kondisi beristirahat, kan?

Baca Juga: 9 Tempat Wisata Samarinda yang Menarik, Ada Jembatan Mahakam dan Pulau Beras Basah

5. Mandi dengan Air Dingin

Mungkin Moms akan merasa gerah setelah perjalanan pesawat yang sangat lama, maka ada baiknya jika mandi dengan air dingin setelahnya.

Kenapa air dingin? Dengan air dingin, Moms bisa merasa merasa segar dan terjaga ketika sampai di tempat tujuan.

6. Rencanakan Itinerary Perjalanan

Percaya atau tidak, tindakan kecil seperti merencanakan lebih dahulu perjalanan Moms di tempat tujuan bisa mengatasi jet lag.

Perjalanan yang terburu-buru bisa membuat Moms tidak mempersiapkan diri dengan jet lag di tempat tujuan.

Karenanya, sangat disarankan bagi Moms untuk membuat itinerary sendiri.

7. Teruslah Bergerak

Meski berada di penerbangan jauh, jangan lupa untuk bergerak sebanyak mungkin.

Hal ini bisa memperlancar aliran darah Moms dengan peregangan dan bergerak sebanyak mungkin meski hanya berada di tempat duduk di atas pesawat.

Perlu Moms tahu juga nih, kalau sirkulasi darah yang bagus menjadi kunci untuk mencegah jet lag.

Baca Juga: Doa Naik Pesawat, Lengkap dengan Bacaan dan Artinya

Nah, itu dia informasi seputar jet lag yang perlu Moms pahami.

Ingatlah bahwa jet lag juga bisa terjadi pada balita. Karenanya, Moms mesti bisa mendeteksi gejalanya, kalau-kalau Si Kecil mengalaminya.

Semoga tips di atas bisa Moms terapkan, sehingga perjalanan terasa tetap nyaman sekalipun harus melewati zona waktu yang berbeda.

  • https://www.sleepfoundation.org/travel-and-sleep/jet-lag
  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/12781-jet-lag
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32066704/
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/28883980/
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11867494/
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24780537/
  • https://www.nhs.uk/conditions/jet-lag/
  • https://www.msdmanuals.com/professional/neurologic-disorders/sleep-and-wakefulness-disorders/circadian-rhythm-sleep-disorders

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.