Scroll untuk melanjutkan membaca

PARENTING ISLAMI
25 November 2022

Ketentuan Masa Idah Perempuan, Pahami Hak dan Larangan yang Ditetapkan serta Lama Waktunya

Salah satu larangannya adalah tidak boleh menikah dulu
Ketentuan Masa Idah Perempuan, Pahami Hak dan Larangan yang Ditetapkan serta Lama Waktunya

Dalam aturan Islam, masa idah merupakan sebuah waktu yang dimiliki oleh wanita ketika dirinya ditinggal wafat atau diceraikan oleh suami.

Waktu ini ditujukan sebagai waktu wanita untuk menahan menikah lagi dengan pria baru.

Masa idah juga sering disebut sebagai waktu bagi seorang istri untuk mengetahui kekosongan rahimnya.

Mengutip dari NU Online hal ini dijelaskan oleh Syekh Abu Bakar ibn Muhammad al-Husaini dalam kitab Kifâyatul Akhyâr yang berbunyi,

الْعدة اسْم لمُدَّة مَعْدُودَة تَتَرَبَّص فِيهَا الْمَرْأَة ليعرف بَرَاءَة رَحمهَا وَذَلِكَ يحصل بِالْولادَةِ تَارَة وبالأشهر أَو الْأَقْرَاء

Artinya: “Idah adalah nama masa tunggu tertentu bagi seorang wanita guna mengetahui kekosongan rahimnya.

Kekosongan tersebut bisa diketahui dengan kelahiran, hitungan bulan, atau dengan hitungan quru’ (masa suci).”

Jika pada kasus perceraian terkhusus talak 1, masa idah ditujukan sebagai waktu untuk sepasang suami istri kembali berpikir ulang untuk rujuk atau tidak.

Sedangkan untuk wanita yang ditinggal wafat oleh suaminya, masa idah ditujukan sebagai waktu menahan diri untuk menerima lamaran dari pria baru.

Baca Juga: Cerai saat Hamil, Bagaimana Hukumnya dalam Islam dan Menurut Negara?

Waktu masa idah untuk setiap perempuan juga berbeda, tergantung kondisi dan talak yang diterima.

Pada masa idah, masih ada sejumlah hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh masing-masing pihak, baik suami maupun istri.

Apa saja hak dan kewajiban perempuan saat masa idah? Syekh Abu Syuja dalam al-Ghâyah wa al-Taqrîb mengatakan:

"Perempuan yang beridah dari talak raj‘i (bisa dirujuk), wajib diberi tempat tinggal dan nafkah.

Sedangkan perempuan yang ditalak ba’in, wajib diberi tempat tinggal tanpa nafkah kecuali sedang hamil.

Kemudian perempuan yang ditinggal wafat suaminya wajib ber-ihdad, dalam arti tidak berdandan dan tidak menggunakan wewangian.

Selain itu, perempuan yang ditinggal wafat suaminya dan putus dari pernikahan wajib menetap di rumah kecuali karena kebutuhan,” (Al-Ghâyah wa al-Taqrîb, terbitan Alam al-Kutub, hal. 35).

Yuk, Moms simak informasi mengenai masa idah mulai dari hak dan kewajiban serta akibatnya jika melanggar.

Baca Juga: 12 Dampak Perceraian pada Anak secara Psikologis dan Menurut Islam, Catat!

Hak Perempuan Selama Masa Idah

Perempuan Minum Kopi

Foto: Perempuan Minum Kopi (Freepik.com/author/pressfoto)

Dilansir NU Online, penjelasan dari Syekh Muhammad ibn Qasim dalam kitab Fathul Qarib dapat disampaikan beberapa kesimpulan tentang hak dan kewajiban perempuan saat masa idah, yakni:

1. Perempuan dalam Masa Idah dari Talak Raj‘i

Talak raj’i adalah talak yang masih bisa dirujuki, maka dia masih berstatus sebagai istri.

Suami bisa saja rujuk kapan pun selama masa idah, tanpa melalui akad baru dan tanpa pula melalui rida istri.

Istri berhak mendapat tempat tinggal layak, nafkah, pakaian, dan biaya hidup lainnya dari mantan suami.

Itu semua adalah hak perempuan, kecuali jika dia nusyuz (durhaka) sebelum diceraikan atau di tengah-tengah masa idahnya.

Hal itu berdasarkan firman Allah SWT:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا۟ ٱلْعِدَّةَ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ رَبَّكُمْ ۖ لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنۢ بُيُوتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ إِلَّآ أَن يَأْتِينَ بِفَٰحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ ۚ وَتِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ ٱللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُۥ ۚ لَا تَدْرِى لَعَلَّ ٱللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَٰلِكَ أَمْرً

"Yā ayyuhan-nabiyyu iżā ṭallaqtumun-nisā`a fa ṭalliqụhunna li'iddatihinna wa aḥṣul-'iddah,

wattaqullāha rabbakum, lā tukhrijụhunna mim buyụtihinna wa lā yakhrujna illā ay ya`tīna bifāḥisyatim mubayyinah,

wa tilka ḥudụdullāh, wa may yata'adda ḥudụdallāhi fa qad ẓalama nafsah, lā tadrī la'allallāha yuḥdiṡu ba'da żālika amrā."

Artinya: "Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu.

Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang.

Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.

Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru," (Q.S At-Talaq Ayat 1).

Dan juga sabda Rasulullah SAW:

“Perempuan beridah yang bisa dirujuk oleh (mantan) suaminya berhak mendapat kediaman dan nafkah darinya,” (Syekh Abu Syuja, al-Ghâyah wa al-Taqrîb, terbitan Alam al-Kutub, hal. 35). 

2. Perempuan dalam Masa Idah dari Talak Ba’in

Wanita Tersenyum

Foto: Wanita Tersenyum (Freepik.com/tirachardz)

Baik karena khulu‘, talak tiga, atau karena fasakh dan tidak dalam keadaan hamil, berhak mendapat tempat tinggal saja tanpa mendapat nafkah.

Kecuali jika dia durhaka sebelum ditalaknya atau di tengah masa idahnya.

Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:

“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.

Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya." (QS At Talaq: 6).

Sebagaimana didukung pula dalam hadis lainnya mengenai kisah Fathimah binti Qois RA ketika diceraikan oleh suaminya, kemudian Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada nafkah untukmu kecuali jika engkau dalam keadaan hamil,” (HR. Abu Daud no. 2290).

Baca Juga: Tetap Mandiri Tanpa Suami, Ketahui 5 Tips Atur Keuangan Pasca Perceraian

3. Perempuan dalam Masa Idah dari Talak Ba’in dan dalam Keadaan Hamil

Berhak mendapat tempat tinggal dan nafkah saja, namun tidak berhak atas biaya lainnya.

Hanya saja terjadi perbedaan pendapat, apakah nafkah itu gugur karena nusyuz atau tidak. Namun, ada dalil khusus yang menerangkan hal ini.

Dari Al Furai’ah binti Malik bin Sinan yang merupakan saudari Abu Sa’id Al Kudri, dia berkata:

“Dia datang kepada Rasulullah SAW meminta izin kepada beliau untuk kembali kepada keluarganya di Bani Khudrah karena suaminya keluar mencari beberapa budaknya yang melarikan diri hingga setelah mereka berada di Tharaf Al Qadum dia bertemu dengan mereka lalu mereka membunuhnya."

Dia berkata, “Aku meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk kembali kepada keluargaku karena suamiku tidak meninggalkan rumah dan harta untukku,”

Ia berkata, “Kemudian aku keluar hingga setelah sampai di sebuah ruangan atau di masjid, beliau memanggilku dan memerintahkan agar aku datang."

Kemudian beliau berkata, “Apa yang tadi engkau katakan?”

Kemudian aku kembali menyebutkan kisah yang telah saya sebutkan, mengenai keadaan suamiku.

Kemudian beliau bersabda, “Tinggallah di rumahmu hingga selesai masa idahmu.”

Dia berkata, “Aku melewati masa idah di tempat tersebut selama empat bulan sepuluh hari,” (HR. Abu Daud no. 2300, At Tirmidzi no. 1204).

4. Perempuan dalam Masa Idah karena Ditinggal Wafat Suaminya

Tidak berhak mendapat nafkah walaupun dalam keadaan hamil karena kondisinya ia ditinggal wafat oleh suaminya. Hal ini cukup berbeda dengan jenis masa idah lainnya.

Ini karena ketika ditinggal wafat oleh suami tidak ada kewajiban keluarga dari suami untuk menafkahi istri yang ditinggal tersebut.

Baca Juga: 15 Jenis Jin Berdasarkan Golongan dan Tugasnya, Ada yang Bisa Menyebabkan Perceraian, Waspada!

Larangan Perempuan Selama Masa Idah

Wanita Memegang Brush Makeup

Foto: Wanita Memegang Brush Makeup (Freepik.com/jcomp)

Bukan hanya perlu mendapatkan hak, selama masa idah pun perempuan harus memenuhi kewajibannya, yakni:

1. Tidak Boleh Berdandan

Perempuan yang ditinggal wafat suaminya berkewajiban untuk ihdad, yakni tidak bersolek dan tidak berdandan.

Ini meliputi mengenakan pakaian bewarna mencolok semisal kuning atau merah yang dimaksudkan untuk berdandan.

Juga tidak diperkenankan mengenakan wewangian, baik pada badan atau pakaian dimana yang niatnya untuk berdandan. Mengenai masa ihdaad disebutkan dalam hadits:

“Tidak dihalalkan bagi seorang perempuan yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berkabung (menjalani masa ihdaad) atas kematian seseorang lebih dari tiga hari, kecuali atas kematian suaminya, yaitu (selama) empat bulan sepuluh hari,” (HR. Bukhari no. 5334 dan Muslim no. 1491).

Ummu Athiyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“Kami dilarang ihdaad (berkabung) atas kematian seseorang di atas tiga hari kecuali atas kematian suami, yaitu selama empat bulan sepuluh hari.

Selama masa itu kami tidak boleh bercelak, tidak boleh memakai wewangian, tidak boleh memakai pakaian yang berwarna kecuali pakaian ashab."

"Dan kami diberi keringanan bila hendak mandi seusai haid untuk menggunakan sebatang kayu wangi.

Dan kami juga dilarang mengantar jenazah,” (HR. Bukhari no. 302 dan Muslim no. 2739).

Baca Juga: Rincian Biaya Gugat Cerai dan Dokumen yang Dibutuhkan, Catat!

2. Tidak Boleh Keluar Rumah Jika Bukan untuk Urusan Penting

Ini berlaku untuk perempuan yang ditinggal wafat suami dan juga perempuan yang telah putus dari pernikahan, baik karena talak bain sughra, talak bain kubra, atau karena fasakh.

Secara garis besar tidak ada hak bagi mantan suaminya ataupun yang lain untuk mengeluarkannya wanita yang tengah melewati masa idah dari rumah.

Selain itu, dia juga tidak boleh keluar dari rumah itu walaupun diridai oleh mantan suaminya kecuali karena ada kebutuhan.

Adapun kebutuhan keluar rumahnya di siang hari hanya untuk bekerja dan belanja kebutuhan.

Sebenarnya, untuk kebutuhan mendesak pada malam hari, perempuan dalam masa idah boleh keluar rumah.

Dengan catatan, dia kembali pulang dan bermalam di rumah tersebut kecuali memang ada ketakutan yang menimpa diri, anak-anak, dan hartanya.

3. Tidak Boleh Menikah Dulu

Pasangan Berpegangan Tangan

Foto: Pasangan Berpegangan Tangan (Freepik.com/prostooleh)

Perempuan yang tengah menjalani masa idah dari talak raj‘i tidak diperbolehkan menikah dengan laki-laki lain atau menerima lamaran baru walaupun berupa sindiran.

Allah berfirman: “Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk berakad nikah, sebelum habis idahnya,” (QS Al-Baqarah: 235).

Apakah Perempuan yang Sedang Dalam Masa Idah Boleh Menerima Lamaran?

Perempuan yang sedang menjalani idah karena ditinggal wafat atau ditalak ba’in suaminya tidak boleh menerima lamaran terang-terangan, tetapi boleh menerima lamaran berupa penawaran.

Sebagaimana firman Allah SWA:

“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang perempuan-perempuan itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu.

Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf,” (QS Al-Baqarah: 235).

Baca Juga: Ini Tata Cara Menggugat Cerai Suami ke Pengadilan

Berapa Lama Masa Idah?

Wanita Muslimah

Foto: Wanita Muslimah (Themuslimtimes.info)

Seperti yang telah disinggung sebelumnya masa idah memiliki waktu periode yang berbeda-beda pada setiap wanita yang mengalaminya.

Ini karena jika wanita yang ditalak 1 oleh suaminya masih memiliki kesempatan untuk rujuk kembali. Berbeda dengan wanita yang ditalak 3 atau ditinggal wafat oleh suaminya.

Pada umumnya seorang wanita yang mengalami masa idah harus menjalaninya selama 4 bulan 10 hari dan tidak boleh lebih atau kurang.

Selama masa idah wanita juga tidak boleh keluar rumah kecuali ada kepentingan seperti bekerja atau memenuhi kebutuhan hidup.

Jadi, selama masa idah wanita dilarang keras untuk menikah atau menerima lamaran pria baru.

Jika hal tersebut dilanggar, wanita tersebut berhak menerima konsekuensinya seperti pernikahan barunya dianggap tidak sah.

Baca Juga: 3 Cara Menjelaskan Tentang Perceraian Orang Tua Kepada Balita

Itulah informasi mengenai masa idah yang dapat Moms ketahui. Ikuti beberapa kewajibannya agar masa idah berjalan lancar, ya.

Hindari beberapa aturan yang tidak diperbolehkan agar Moms tidak mendapatkan konsekuensinya.

  • https://blog.justika.com/perceraian/masa-iddah-berapa-lama/
  • https://islam.nu.or.id/nikah-keluarga/ketentuan-masa-iddah-perempuan-dalam-islam
  • https://islam.nu.or.id/nikah-keluarga/hak-dan-kewajiban-perempuan-selama-masa-iddah-DE3LX
  • https://tafsirweb.com/10981-surat-at-talaq-ayat-1.html