04 Februari 2022

Kenali Microtia pada Bayi, Cacat Telinga Bawaan Lahir

Microtia pada bayi adalah cacat bawaan lahir yang terbilang jarang terjadi

Microtia pada bayi mengarah pada kondisi cacat bawaan lahir yang menyebabkan telinga tidak terbentuk secara sempurna.

Kasusnya memang jarang terjadi, akan tetapi Moms perlu mengetahuinya karena kondisi ini bisa terjadi pada siapa pun.

Untuk tahu lebih lanjut, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Apa Itu Microtia pada Bayi?

bayi-berkeringat-saat-menyusu.jpg
Foto: bayi-berkeringat-saat-menyusu.jpg

Foto: Orami Photo Stock.

Microtia adalah kelainan bawaan pada telinga bagian luar yang tidak berkembang secara sempurna selama trimester pertama kehamilan.

Kata "microtia" artinya adalah telinga kecil, karena secara penampilan bayi yang lahir dengan kondisi ini memiliki ukuran telinga yang kecil dibanding bayi lain seusianya.

Bahkan, pada kasus lebih parah telinga bisa bebentuk seperti kacang.

Berdasarkan laman Standford's Children Health, sebanyak 90 persen kasus kelainan ini menyerang telinga kanan dan lebih sering terjadi pada bayi laki-laki .

Ada beberapa tahap dari microtia pada bayi yang mengarah pada tingkat keparahannya sebagai berikut.

  • Derajat I. Bayi memiliki telinga luar yang kecil, tapi saluran telinga menyempit atau hilang.
  • Derajat II. Dua per tiga bagian atas daun telinga tidak terbentuk sempurna, dengan saluran telinga menyempit atau hilang.
  • Derajat III. Telinga luar kurang berkembang, yang umumnya terlihat seperti kacang.
  • Derajat IV. Bayi tidak memiliki saluran telinga atau tidak ada telinga sama sekali.

Dari semua tahapan, yang paling sering ditemui kasusnya adalah derajat tiga.

Pada derajat IV, kondisinya sudah sangat parah dan biasanya disebut dengan antia atau tanpa telinga.

Baca juga: Fakta dan Mitos Pertumbuhan Gigi Pertama Bayi, Catat Moms!

Apa Penyebab Microtia pada Bayi?

Apa Itu Konvergen dan Divergen dalam Kehamilan?
Foto: Apa Itu Konvergen dan Divergen dalam Kehamilan?

Foto: Orami Photo Stock.

Dalam kebanyakan kasus, penyebab pasti mikrotia tidak diketahui. Ini karena kelainan ini cukup langka dan tidak sering terdeteksi saat USG kehamilan.

Namun, para ahli berpendapat jika beberapa hal di bawah ini menjadi kemungkinan penyebabnya.

  • Penyumbatan suplai darah karena tekanan dari posisi janin terhadap tali pusat selama trimester pertama.
  • Penurunan kadar oksigen selama trimester pertama.
  • Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti metamifetamin atau isotrerinoin dan konsumsi alkohol yang berlebihan.
  • Mengalami diabetes gestasional atau ibu hamil mengonsumsi makanan rendah asam folat dan karbohidrat selama kehamilan.

Dalam kebanyakan kasus, mikrotia pada bayi tidak diturunkan secara genetik.

Pada 95 persen anak-anak dengan mikrotia, tidak ada riwayat keluarga dengan mikrotia atau anomali telinga besar lainnya baik dari pihak ayah atau ibu dari keluarga.

Sekitar 5 persen kasus bersifat genetik, yakni terjadi di dalam keluarga.

Berdasarkan pengamatan, jika Moms memiliki anak dengan mikrotia, ada peningkatan risiko memiliki anak lagi dengan kondisi yang sama.

Bayi yang lahir dengan kelainan ini umumnya tidak memiliki masalah medis lain.

Namun, ada juga yang memiliki tulang dan jaringan lunak yang kurang berkembang di sisi wajah yang telinganya tidak berkembang dengan baik.

Kondisi ini dikenal dengan sebutan mikrosomia hemifisial. Kemudian. ada pula yang mengalami kelemahan saraf di wajah.

Kasus microtia kadang dikaitkan dengan Sindrom Treacher Collins, Sindrom Goldenhar, dan bibir sumbing.

Baca juga: Moms Wajib Tahu, Ini yang Dimaksud Masa Gestasi Bayi

Bagaimana Cara Mengatasi Microtia pada Bayi?

Melakukan Operasi Non-obstetri  Saat Hamil Amankah.jpg
Foto: Melakukan Operasi Non-obstetri Saat Hamil Amankah.jpg (Healthline.com)

Foto: Orami Photo Stock.

Pengobatan yang biasanya dijalani oleh bayi dengan kelainan ini adalah operasi rekonstruktif saluran telinga.

Namun, biasanya tidak dilakukan jika masih bayi sehingga orangtua akan menunggu sampai anak lebih besar.

Dokter juga merekomendasikannya di usia lebih tua karena anak akan memiliki lebih banyak tulang rawan untuk dicangkok.

Sebenarnya, pilihan pengobatan bergantung dengan derajat keparahannya.

Anak bisa menggunakan alat bantu dengar jika kondisinya tidak parah atau usianya terlalu muda untuk menjalani operasi.

Nah, operasi yang dilakukan untuk mengatasi mikrotia pada bayi umumnya, meliputi:

Operasi Cangkok Tulang Rusuk

Jika Moms dan Dads memilih perawatan ini, anak akan menjalani dua hingga empat prosedur selama rentang beberapa bulan hingga satu tahun.

Tulang rawan pada tulang rusuk dikeluarkan dari dada anak dan digunakan untuk membentuk telinga.

Tulang rawan ditanamkan di bawah kulit di lokasi telinga yang bermasalah.

Setelah tulang rawan baru sepenuhnya menyatu di lokasi, operasi tambahan dan cangkok kulit dapat dilakukan untuk memposisikan telinga dengan lebih baik.

Operasi cangkok tulang rusuk direkomendasikan untuk anak-anak berusia 8 hingga 10 tahun.

Tulang rawan rusuk merupakan tulang yang kuat dan tahan lama.

Terlebih, bagian dari tubuh anak sendiri kecil kemungkinannya memberikan respons penolakan terhadap cangkok tulang rawan.

Kelemahan operasi ini adalah rasa sakit dan kemungkinan jaringan parut di lokasi cangkok.

Tulang rawan di sekitar tulang rusuk yang digunakan untuk cangkok juga akan terasa lebih kencang dan kaku dibandingkan tulang rawan telinga.

Baca juga: 20 Mitos Kehamilan yang Masih Dipercaya, Wajib Tahu Faktanya!

Operasi Cangkok Medpor

Jenis pengobatan ini melibatkan penanaman bahan sintetis daripada tulang rawan pada tulang rusuk.

Biasanya dapat diselesaikan dalam satu prosedur dan menggunakan jaringan kulit kepala untuk menutupi bahan implan.

Anak-anak usia 3 tahun dapat dengan aman menjalani prosedur ini.

Namun, ada risiko lebih tinggi untuk infeksi dan kehilangan implan karena trauma atau cedera.

Ini karena implan tidak dimasukkan ke dalam jaringan di sekitarnya.

Juga belum diketahui berapa lama implan Medpor bertahan, sehingga beberapa ahli bedah anak tidak merekomendasikannya.

Telinga Luar Palsu

Telinga luar paslu dapat terlihat sangat nyata dan dikenakan baik dengan perekat atau melalui sistem jangkar yang ditanamkan melalui pembedahan.

Pengobatan ini adalah pilihan yang baik untuk anak-anak yang belum dapat menjalani rekonstruksi atau yang rekonstruksinya tidak berhasil.

Namun, beberapa orang mungkin memiliki kepekaan kulit yang tinggi terhadap jenis perekat yang digunakan sehingga bisa menimbulkan risiko infeksi kulit.

Di samping itu, telinga palsu ini juga perlu diganti dari waktu ke waktu.

Orang lain mungkin memiliki kepekaan kulit terhadap perekat tingkat medis.

Sistem jangkar yang ditanamkan secara bedah juga dapat meningkatkan risiko infeksi kulit pada anak Anda.

Selain itu, prostetik perlu diganti dari waktu ke waktu.

Baca juga: Moms, Cari Tahu Pola Tidur yang Baik untuk Ibu Hamil agar Lebih Nyenyak

Alat Bantu Dengar yang Ditanam Secara Bedah

Mikrotia pada bayi bisa diatasi dengan pemasangan alat bantu dengar lewat pembedahan.

Titik perlekatan ditanamkan ke dalam tulang di belakang dan di atas telinga.

Setelahnya, dokter akan memasang prosesor di area tersebur.

Prosesor ini membantu anak mendengar getaran suara dengan merangsang saraf di telinga bagian dalam, sehingga ia bisa mendengar lebih baik.

Namun, pengobatan mikrotia pada bayi ini juga bisa menimbulkan efek samping, seperti:

Jika saat Si Kecil lahir Moms melihat tanda-tanda microtia, segera periksakan ke dokter, ya!

  • https://www.cdc.gov/ncbddd/birthdefects/anotia-microtia.html
  • https://www.stanfordchildrens.org/en/service/microtia/faq
  • https://www.webmd.com/parenting/baby/microtia-anotia
  • https://www.healthline.com/health/microtia

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.