Scroll untuk melanjutkan membaca

GIZI
05 Juli 2022

5 Manfaat Oregano, Daun Aromatik Pelengkap Pasta dan Piza

Pecinta pasta dan pizza khas Eropa pasti tidak asing dengan daun ini, sudahkah mengetahui manfaatnya?
5 Manfaat Oregano, Daun Aromatik Pelengkap Pasta dan Piza

Daun oregano mungkin bumbu yang asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Sebab, rempah ini memang lebih sering digunakan dalam hidangan Eropa.

Tidak heran kalau oregano tidak banyak dibudidayakan di Indonesia, layaknya daun jeruk atau daun seledri.

Tapi, lebih dari sekedar bumbu masak, oregano ternyata memiliki banyak manfaat kesehatan, lho.

Di sebagian besar negara di benua Amerika dan Eropa, oregano adalah daun aromatik yang telah dibudidayakan selama berabad-abad.

Seiring dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, tanaman ini bisa ditemukan hampir di semua benua.

Menurut Nutrition Today, oregano adalah tanaman dari anggota famili tumbuhan lamiaceae, yang umumnya merupakan varietas daun rempah sebagai bumbu masak yang dijual di Eropa dan Amerika Serikat.

Uniknya, daun ini juga bisa sangat bermanfaat bagi kesehatan.

Pada zaman kekaisaran Yunani dan Romawi kuno, daun oregano bahkan digunakan untuk mengobati penyakit, seperti luka kulit, meredakan nyeri otot, dan antiseptik.

Penasaran dengan manfaat oregano? Yuk, cari tahu selengkapnya lewat ulasan di bawah ini!

Baca Juga: 5 Bumbu Rempah Italia yang Menambah Cita Rasa Masakan

Manfaat Oregano

Oregano juga telah digunakan dalam pengobatan tradisional untuk berbagai penyakit, seperti asma, kram, diare, dan gangguan pencernaan.

Di Yunani, air campuran daun ini juga masih digunakan sebagai obat tradisional untuk melawan demam dan sakit perut.

Tidak hanya itu, Moms. Dikutip dari Healthline, berikut beberapa manfaat super dari daun oregano:

1. Bumbu Masakan

Oregano bumbu masak

Foto: Oregano bumbu masak (Orami Photo Stock)

Foto: Piza (freepik.com)

Pada dasarnya, oregano memiliki aroma yang cukup tajam.

Aroma yang muncul dari daun oregano kering bahkan jauh lebih tajam dibandingkan versi segarnya.

Karenanya, daun tersebut sering ditambahkan pada sup, pasta, piza, daging panggang, hingga makanan rebusan.

Oregano memang memiliki rasa yang agak pahit, tapi bisa memberikan rasa pedas dan efek hangat.

Terlebih, aroma oregano bisa mengurangi aroma kurang sedap pada ikan dan daging saat diolah menjadi hidangan lezat.

Dengan demikian, oregano memberikan cita rasa yang berbeda pada setiap makanan.

Baca Juga: 8 Rempah yang Dilarang untuk Ibu Hamil, Hindari Ya!

2. Melawan Bakteri

Oregano mengandung beberapa senyawa yang diduga memiliki sifat antibakteri.

Sebuah penelitian tahun 2012 yang dipublikasikan di National Library of Medicine menyebut, minyak esensial oregano dapat membantu memblokir pertumbuhan Escherichia coli dan Pseudomonas aeruginosa.

Kedua jenis bakteri tersebut dapat menyebabkan infeksi pada tubuh, lho, Moms!

Berdasarkan studi ilmiah lain, daun ini juga terbukti efektif melawan 23 spesies bakteri.

Posisi oregano sendiri hampir bisa disamakan dengan tanaman herbal sage dan thyme, yang memang sangat berguna untuk melawan bakteri.

Meski begitu, temuan dalam penelitian di atas masih bersifat terbatas.

Artinya, dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan manfaat oregano dalam mencegah dan mengatasi penyakit akibat infeksi bakteri.

3. Mengurangi Peradangan

oregano untuk mengurangi peradangan

Foto: oregano untuk mengurangi peradangan

Foto: Oregano Kering (freepik.com)

Peradangan merupakan respons tubuh yang terjadi akibat penyakit atau cedera.

Meski begitu, peradangan kronis juga diyakini berkontribusi pada perkembangan penyakit jantung, diabetes, dan kondisi autoimun.

Nah, oregano yang kaya akan antioksidan dapat membantu menetralkan radikal bebas dan pada akhirnya mengurangi peradangan.

Senyawa, seperti carvacrol, yang terdapat di dalamnya juga terbukti memiliki sifat anti-inflamasi.

Dalam suatu penelitian pada hewan, carvacrol dapat mengurangi pembengkakan pada kaki tikus hingga 57%.

Namun, manfaatnya pada manusia masih belum diketahui hingga saat ini.

Baca Juga: Ketahui 13 Manfaat Kapulaga untuk Kesehatan, Lebih dari Sekadar Rempah!

4. Menurunkan Risiko Penyakit kardiovaskular

Selain digunakan sebagai bumbu masakan, oregano juga dapat diolah menjadi teh.

Cara membuat teh oregano tidak sulit. Moms hanya perlu merebus air dan campurkan 2 sendok daun oregano kering ke dalamnya, sambil diaduk rata.

Diamkan rebusan daun ini selama 2-4 menit sebelum dikonsumsi.

Tapi, karena bisa menyebabkan sakit perut, pastikan Moms dan Dads tidak menyeruput teh ini lebih dari 4 cangkir dalam sehari, ya.

Mengonsumsi teh oregano dengan cara dan dosis yang tepat konon bisa memberikan banyak manfaat kesehatan.

Salah satu manfaat teh oregano, yaitu dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.

Hal itu karena oregano memiliki efek antioksidan, sehingga bisa mencegah penumpukan lemak pada dinding pembuluh darah, terutama pada orang dengan kadar kolesterol jahat (LDL) yang tinggi.

Namun, penelitian yang membuktikan hal tersebut sudah cukup lama dan belum terdapat pembaruan.

Adapun karena masih termasuk dalam famili daun mint, Moms dan Dads yang memiliki alergi daun mint tidak disarankan untuk menyeruput teh ini, ya!

Hal ini dikarenakan mengonsumsi oregano bagi mereka yang memiliki alergi mint bisa menyebabkan ruam, gatal-gatal, hidung tersumbat, hingga muntah.

5. Melawan Pertumbuhan Sel Kanker

oregano Melawan Pertumbuhan Sel Kanker

Foto: oregano Melawan Pertumbuhan Sel Kanker

Foto: Daun Oregano Kering (pixabay.com)

Antioksidan yang terdapat pada oregano ternyata memiliki manfaat luar biasa untuk menetralkan kerusakan di dalam tubuh akibat radikal bebas.

Pada akhirnya, daun 'ajaib' ini diyakini bisa membantu menurunkan risiko dan menghambat perkembangan sel kanker.

Sebuah penelitian tabung reaksi menunjukkan, daun oregano mengandung senyawa yang dapat membunuh sel kanker.

Penelitian serupa lainnya menyebut, pertumbuhan sel kanker usus besar dapat berhenti dengan mengonsumsi ekstrak oregano.

Salah satu senyawa di dalamnya, yakni carvacrol, disebut-sebut sebagai agen yang mampu menekan pertumbuhan dan penyebaran sel kanker usus besar.

Namun, perlu diingat bahwa penelitian tabung reaksi tidak dapat dijadikan acuan secara umum.

Artinya, manfaat oregano dalam melawan sel kanker masih belum terbukti sepenuhnya.

Baca Juga: 12 Makanan Khas Italia yang Tak Kalah Lezat Selain Pizza

Kandungan Oregano

Nutrisi oregano

Foto: Nutrisi oregano

Foto: Daun Oregano Segar (thespruce.com)

Daun oregano memiliki tiga komponen utama untuk efek antimikroba, yaitu flavonoid, monoterpen, dan asam fenolat.

Dilansir dari penelitian yang dipublikasi Universitas Brawijaya, komponen-komponen tersebut bekerja sama menghambat sintesis asam nukleat.

Selain itu, senyawa tersebut juga bisa meningkatkan permeabilitas membran sitoplasma dan menghambat metabolisme energi.

Proses-proses itulah yang menyebabkan kematian bakteri patogen, sehingga tidak membahayakan kesehatan.

Lebih lanjut, daun ini juga mengandung minyak esensial dengan senyawa fenolik, seperti tanin, fenol, dan lain-lain.

Oregano juga mengandung senyawa asam lemak, seperti asam rosmarinat, asam palmitat, asam stearat, asam oleat, asam ursolat, asam kafeat, dan asam kaprat.

Mineral yang terkandung dalam oregano, termasuk kalium, magnesium, mangan, dan zinc.

Untuk vitamin, rempah ini mengandung vitamin B3, dan betakaroten.

Berdasarkan literatur ilmiah, ekstrak oregano dapat secara konsisten menunjukkan efek antimikroba terhadap patogen yang ditularkan melalui makanan.

Meski demikian, kapasitasnya untuk melawan infeksi masih harus diteliti lebih jauh.

Baca Juga: Si Kecil Suka Pasta? Berikut 5 Resep Pasta untuk Anak yang Mudah Dibuat

Nah, setelah mengetahui manfaat yang banyak dari daun rempah ini, Moms dan Dads tidak perlu ragu lagi menambahkan daun oregano sebagai bumbu masak dan tehnya untuk rutin dikonsumsi.

  • https://www.healthline.com/nutrition/6-oregano-benefits
  • http://repository.ub.ac.id/124782/
  • https://www.researchgate.net/publication/232240488_Oregano_Overview_of_the_Literature_on_Health_Benefits
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23484421/