23 Januari 2023

Mengenal Tokophobia, Ketakutan Berlebih terhadap Hamil dan Melahirkan

Fobia ini ternyata bukan harga mati tidak bisa hamil

Setiap orang memiliki ketakutan yang berbeda-beda. Tahukah Moms, ada kondisi yang dinamakan tokophobia, yaitu ketakutan akan kehamilan dan melahirkan?

Jumlah perempuan yang memiliki fobia hamil dan melahirkan ini memang tidak banyak.

Dikutip dari situs situs The Conversation, riset memperkirakan antara 2,5% dan 14% perempuan mengidap tokophobia. Namun, riset lain percaya angkanya sekitar 22%.

Yuk, kenal lebih dalam tentang ketakutan akan kehamilan dan melahirkan ini.

Baca Juga: Mengenal Claustrophobia, Fobia akan Ruang Sempit dan Gelap

Mengenal Gejala Tokophobia

Fobia Hamil (Orami Photo Stocks)
Foto: Fobia Hamil (Orami Photo Stocks)

Tokophobia adalah ketakutan akan kehamilan dan persalinan.

Wanita yang menderita fobia ini memiliki ketakutan patologis untuk melahirkan, dan seringkali menghindari kehamilan atau melahirkan sama sekali.

Ketakutan ini dapat membuat wanita menghindari kehamilan, meskipun mereka ingin memiliki anak atau memilih operasi caesar untuk menghindari persalinan pervagina.

Tokopobia dapat terjadi pada wanita yang belum pernah melahirkan anak, tetapi juga dapat memengaruhi wanita yang memiliki pengalaman melahirkan traumatis sebelumnya.

Ini adalah jenis fobia spesifik, yang merupakan gangguan kecemasan di mana orang merasakan ketakutan yang tidak rasional dan tidak masuk akal.

Gejala tokofobia dapat berupa:

  • Gangguan tidur
  • Serangan panik
  • Mimpi buruk
  • Perilaku menghindar
  • Kecemasan dan depresi
  • Ketakutan yang ekstrem terhadap cacat lahir, keguguran, atau kematian ibu
  • Perasaan takut memikirkan kehamilan dan kelahiran
  • Desakan operasi caesar untuk kelahiran anak

Studi dalam Indian Journals menemukan, pria juga bisa mengalami tokofobia.

Para peneliti telah menemukan bahwa pria dengan tokophobia seringkali memiliki ketakutan yang parah terhadap kesehatan dan keselamatan pasangan dan anak mereka.

Baca Juga: Mengenal Philophobia alias Fobia Jatuh Cinta: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasi

Jenis-Jenis Tokophobia

Para peneliti telah melihat sejumlah penyebab seseorang bisa mengidap fobia tokophobia, antara lain:

  • Mendengar tentang pengalaman traumatis melahirkan dari wanita lain
  • Ketakutan akan manajemen nyeri yang tidak memadai
  • Kondisi kejiwaan yang sudah ada sebelumnya, seperti kecemasan dan depresi

Mengutip Industrial Psychiatry Journal, ada 2 jenis tokophobia, yaitu primer dan sekunder. Berikut penjelasan rincinya, Moms.

1. Tokofobia Primer

Penyebab Tokophobia Primer (Orami Photo Stocks)
Foto: Penyebab Tokophobia Primer (Orami Photo Stocks)

Tokophobia primer dialami oleh perempuan yang belum pernah hamil dan melahirkan.

Bagi kelompok perempuan ini, fobia akan kehamilan dan kelahiran umumnya muncul dari pengalaman di masa lalu–bahkan bisa jadi sejak mereka remaja.

Contoh peristiwa yang bisa memicu tokophobia primer, yakni:

  • Mengalami pelecehan seksual
  • Melihat proses persalinan yang sulit (secara langsung ataupun melalui layar)
  • Menonton program acara yang memperlihatkan persalinan sebagai hal yang berbahaya atau memalukan

Pemeriksaan medis selama kehamilan dan persalinan juga dapat memicu kilas balik dari trauma asli.

2. Tokofobia Sekunder

Mengenal Tokophobia Sekunder (Orami Photo Stocks)
Foto: Mengenal Tokophobia Sekunder (Orami Photo Stocks)

Sementara, perempuan yang mengidap tokophobia sekunder umumnya memiliki pengalaman traumatis pada persalinan sebelumnya.

Hal itu membuatnya takut untuk hamil dan melahirkan lagi. Ini juga dapat terjadi pada:

  • Wanita yang melahirkan secara normal
  • Wanita yang pernah mengalami keguguran
  • Program kehamilan yang gagal

Takut komplikasi terkait kelahiran, seperti preeklampsia dan kematian juga menjadi faktor pemicu tokofobia sekunder.

Baca Juga: Mengenal Tes Apgar Score untuk Bayi Baru Lahir

Tips Mengatasi Tokophobia

Konsultasi Psikolog (Orami Photo Stocks)
Foto: Konsultasi Psikolog (Orami Photo Stocks)

Berikut sejumlah tips mengatasi tokophobia yang Moms bisa coba lakukan:

1. Mengatasi Trauma Masa Lalu

Hal ini bisa dilakukan dengan membicarakan peristiwa traumatis tersebut dengan orang terdekat atau terpercaya.

Namun, Murphy menganggap perempuan yang mengidap tokophobia perlu membicarakannya dengan pakar yang bisa membantu mengatasi trauma, seperti psikolog.

Pasalnya, peristiwa pemicu fobia tersebut dapat berbeda antara satu perempuan dengan yang lain.

Penanganan trauma pada setiap kasus berbeda, Moms.

Misalnya, penanganan pada perempuan yang mengalami pemerkosaan akan berbeda dengan kasus trauma melihat proses melahirkan saat remaja.

2. Dukungan

Cemas dan Overthinking (Orami Photo Stocks)
Foto: Cemas dan Overthinking (Orami Photo Stocks)

Perempuan yang mengidap tokophobia memerlukan dukungan agar mereka dapat menjalani kehamilan yang nyaman.

Selain dukungan dari orang-orang terdekat, mereka juga dapat bergabung dalam support group untuk bertemu dan berbagi pengalaman dengan orang lain.

Dukungan semacam itu seringkali diberikan orang-orang yang sudah dipercaya, seperti anggota keluarga atau teman.

Namun, bisa juga dari dokter kandungan, bidan, psikolog, atau konselor.

3. Memberi Pilihan Metode Persalinan

Hal yang tak kalah penting adalah memberikan kebebasan kepada perempuan pengidap tokophobia dalam memilih metode persalinan yang ia rasa paling nyaman.

Bagi perempuan yang memiliki ketakutan ekstrem akan persalinan normal, mungkin perlu dibantu dengan epidural atau bahkan melahirkan dengan metode lain.

Selain itu, perempuan yang memiliki kecemasan berlebih akan rumah sakit bisa saja mempertimbangkan pilihan melahirkan di rumah.

Baca Juga: Obat Mual saat Hamil untuk Moms yang Mengalami Morning Sickness, Catat!

4. Mengikuti Terapi CBT

Yoga (Orami Photo Stocks)
Foto: Yoga (Orami Photo Stocks)

Terapi perilaku kognitif dan psikoterapi juga bisa efektif dalam pengobatan tokofobia.

CBT bisa menjadi pilihan yang baik karena durasinya yang pendek dan fokus pada gejala tertentu.

Satu studi dalam JMIR Publications, melihat keefektifan perawatan terapi perilaku kognitif berbasis internet dibandingkan dengan perawatan standar.

Pada terapi kelompok CBT, adanya pengurangan gejala yang lebih besar dalam satu tahun pasca persalinan.

5. Berpikir Positif

Mendengar cerita menyeramkan tentang kehamilan orang lain dapat memperburuk tokofobia seseorang.

Sebaliknya, cari informasi medis yang baik dan fokus pada pengalaman positif saat melahirkan.

Jika orang mencoba berbagi cerita yang tidak ingin didengar, Moms boleh meminta mereka untuk berhenti menceritakannya.

Jangan paksakan diri sendiri untuk mencoba memahami orang lain. Namun dengarkan diri kita sendiri dulu ya, Moms.

Baca Juga: Sedang Rencanakan Kehamilan? Ketahui Daftar Vitamin Program Hamil yang Harus Dikonsumsi

Mendeteksi apakah seseorang terkena tokofobia atau tidak bukanlah hal yang mudah.

Pada akhirnya, konselor atau dokter akan menanyakan tentang suasana hatinya, apakah dia memiliki ketakutan untuk dirinya sendiri atau bayinya, atau takut akan hamil dan melahirkan.

Seorang wanita dengan fobia ini tentu akan terganggu aktivitas sehari-harinya, seperti makan, bekerja atau tidur.

Wanita dengan kondisi ini perlu diidentifikasi sesegera mungkin, tetapi itu sering kali hanya terdeteksi ketika mereka mencari bantuan profesional khusus.

Jadi, mulai saat ini, jika Moms merasa ketakutan berlebih akan kehamilan atau persalinan, segera konsultasikan dengan psikolog atau psikiater, ya.

Dengan begitu, Moms akan mendapatkan diagnosis dan penanganan yang paling tepat.

Pada akhirnya, Moms bisa terbebas dari belenggu tokophobia alias fobia terhadap kehamilan dan persalinan.

  • http://dx.doi.org/10.5958/2395-180X.2015.00024.9
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3830168/#:~:text=Tokophobia%20is%20a%20pathological%20fear,no%20previous%20experience%20of%20pregnancy.
  • https://mental.jmir.org/2018/3/e10420/

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.