Kesehatan Umum

10 Oktober 2021

Mengenal Ventilator: Cara Kerja dan Penggunaannya untuk Membantu Pernapasan

Saat ini banyak digunakan oleh pasien Covid-19 yang mengalami kesulitan bernapas
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Cholif Rahma
Disunting oleh Widya Citra Andini

Sering muncul di pemberitaan selama masa pandemi Covid-19, Moms pasti tidak asing lagi dengan ventilator.

\Walaupun demikian, alat medis ini sudah lama digunakan dalam dunia kedokteran.

Melansir Healthline, ventilator medis dapat menolong seseorang yang tidak bisa bernapas dengan benar atau bahkan tidak bisa sama sekali.

Alat ini membantu kerja paru-paru yang tidak bekerja secara normal.

Kita juga biasa menemukannya dengan nama respitator, alat bantu napas, dan ventilasi mekanis.

Manfaat dan Cara Kerja Ventilator

ventilator.jpg

Foto: americannurse.com

Ventilator bekerja dengan cara memasukkan oksigen ke paru-paru dan mengeluarkan karbondioksida dari tubuh.

Ini membantu pasien bernapas lebih mudah, terutama untuk orang yang telah kehilangan semua kemampuannya untuk bernapas sendiri.

Tabung pernapasan yang digunakan akan menghubungkan mesin ventilator ke tubuh.

Salah satu ujung selang dimasukkan ke dalam saluran udara paru-paru pasien melalui mulut atau hidung. Tindakan ini disebut dengan intubasi.

Dalam beberapa kondisi serius atau jangka panjang, selang pernapasan dihubungkan langsung ke tenggorokan melalui lubang.

Pembedahan diperlukan untuk membuat lubang kecil di leher atau disebut dengan tindakan trakeostomi.

Ventilator biasanya membutuhkan listrik untuk bekerja. Beberapa jenis dapat bekerja dengan daya baterai.

Ada beberapa tipe ventilator yang dijelaskan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Alabama, yaitu:

1. Ventilator Masker Wajah

Ventilator masker wajah merupakan metode non-invasif untuk mendukung pernapasan dan tingkat oksigen pada pasien.

Untuk menggunakannya, seseorang memakai masker yang pas di hidung dan mulut sementara udara berembus ke saluran udara dan paru-paru mereka.

2. Ventilator Mekanis

Ventilator mekanis adalah mesin yang sepenuhnya mengambil alih proses pernapasan. Dokter menggunakan ini ketika seseorang tidak dapat bernapas sendiri.

3. Tas Resuscitator

Tas resuscitator adalah peralatan yang memungkinkan pasien mengontrol aliran udara ventilator dengan tangan.

Perangkat ini terdiri dari kantong kosong, atau "kandung kemih", yang diperas untuk memompa udara ke paru-paru.

4. Ventilator Trakeostomi

Ventilator trakeostomi merupakan prosedur di mana dokter membuat lubang di tenggorokan dan memasukkan selang yang memungkinkan udara mengalir masuk dan keluar.

Prosedur ini memungkinkan seseorang untuk bernapas tanpa menggunakan hidung atau mulutnya.

Baca Juga: Cari Tahu Apa Saja Minuman Pembersih Paru-Paru, Cegah Gangguan Pernapasan

Kondisi Pasien yang Membutuhkan Ventilator

1991273467.jpg

Foto: dw.com

Ventilator sering kali digunakan untuk waktu yang singkat sembari memulihkan diri pascaoperasi.

Adapun kondisi lain yang mengharuskan pasien untuk tetap menggunakan ventilator adalah:

  • Selama operasi, ketika pasien ada di bawah pengaruh bius total.
  • Pemulihan pasca operasi.
  • Ketika bernapas masih sulit dilakukan pasien dan paru-paru belum bekerja secara optimal.
  • Koma atau kehilangan kesadaran.
  • Overdosis obat.
  • Keracunan karbondioksida.
  • Infeksi paru-paru.
  • Stroke yang menyebabkan kelemahan otot pernafasan dan gangguan saraf lainnya.

Perlu diingat ya, Moms, bahwa ventilator bukan untuk mengobati pasien.

Sifatnya hanya membantu pasien untuk bernapas untuk mendukung agar kondisinya cepat pulih.

Pada kasus penyakit yang berat, akan ada pengobatan atau perawatan khusus lainnya bersamaan dengan penggunaan ventilator.

Baca Juga: 6 Sayur dan Buah yang Bantu Menjaga Kesehatan Paru-paru

Masa Penggunaan Ventilator

ventilation-1_custom-43420fcc850ed9cbff207f7796305c292bc4a782.jpg

Foto: NPR.com

Lama penggunaan ventilator akan sangat bergantung pada tingkat kondisi penyakit pasien.

Misalnya, jika keadaan sudah membaik pasca memakai ventilator, beberapa orang dapat melanjutkan aktivitas ringan, seperti membaca atau menonton televisi.

Sementara yang lain perlu tetap memakainya untuk mencegah mereka mencabut saluran bantu pernapasannya.

Ventilator biasanya tidak menimbulkan rasa sakit. Selang pernapasan di jalan napas pasien hanya dapat menyebabkan ketidaknyamanan.

Salah satu hal yang paling membuat frustrasi tentang penggunaan ventilator adalah pasien tidak dapat berbicara dan makan.

Alih-alih makanan, tim perawatan kesehatan mungkin memberikan nutrisi melalui tabung yang dimasukkan ke pembuluh darah.

Jika pasien menggunakan ventilator dalam waktu lama, mereka kemungkinan akan mendapatkan makanan melalui nasogastrik, atau selang makanan.

Biasanya, pengasuh pasien (non tenaga medis) juga perlu mempelajari cara memberikan penyedotan untuk mencegah lendir menyumbat saluran.

Ventilator sangat membatasi aktivitas pasien dan membatasi pergerakan mereka.

Mereka mungkin dapat duduk di tempat tidur atau di kursi, tetapi biasanya tidak dapat banyak bergerak.

Namun, ada periode transisi di mana pasien mungkin mengalami ketidaknyamanan saat mereka terbiasa dengan alat ini.

Setelah kondisi pasien membaik, biasanya ada periode "menyapih" agar pasien dapat terbiasa bernapas sendiri sebelum melepaskan ventilator.

Baca Juga: Pertolongan Pertama pada Bayi yang Sesak Nafas

Risiko Penggunaan Ventilator

Male_Ventilator_732x549-thumbnail.jpg

Foto: healthline.com

Ventilator memang memiliki tujuan untuk menunjang hidup pasien yang mengalami kesulitan berpanas.

Namun, sama seperti perawatan medis lainnya, terkadang akan ada risiko dari efek samping yang ditimbulkan.

Biasanya, resiko akan muncul akibat penggunaan ventilator terlalu lama.

Ini dia Moms berbagai resiko dari penggunaan ventilator:

1. Infeksi

Risiko utama penggunaan ventilator adalah infeksi. Tabung pernapasan dapat melukai dan membiarkan kuman masuk ke paru-paru.

Hal ini akan menyebabkan inflamasi di bagian alveoli sehingga jalur pertukaran udara terganggu dan oksigen sulit masuk ke aliran darah.

Alhasil, kondisi ini akan memunculkan suatu penyakit yang disebut dengan pneumonia.

Infeksi sinus juga umum terjadi jika memiliki selang pernapasan mulut atau hidung.

Oleh karena itu, Moms mungkin memerlukan antibiotik untuk mengobati pneumonia atau infeksi sinus.

2. Iritasi

Tabung pernapasan dapat bergesekan dan mengiritasi tenggorokan atau paru-paru. Kondisi tersebut dapat membuat pasien sulit batuk.

Padahal, batuk dapat membantu menghilangkan debu dan iritasi dari paru-paru.

Selain itu, iritasi yang muncul dapat menyebabkan inflamasi di bagian alveoli sehingga jalur pertukaran udara terganggu dan oksigen sulit masuk ke aliran darah.

3. Masalah Pita Suara

Tabung pernapasan untuk memasang ventilator akan disambungkan melewati kotak suara (laring), yang berisi pita suara.

Inilah mengapa pasien tidak dapat berbicara saat menggunakan ventilator.

Saat sudah menggunakannya dalam waktu yang panjang, akan menyebabkan permasalahan lain seperti iritasi.

Beri tahu dokter jika Anda mengalami kesulitan bernapas atau berbicara setelah menggunakan ventilator.

4. Cedera Paru-Paru

Ventilator dapat menyebabkan kerusakan paru-paru. Biasanya, ini dapat terjadi karena beberapa alasan, yaitu:

  • Terlalu banyak tekanan di paru-paru.
  • Pneumotoraks (kebocoran udara ke ruang antara paru-paru dan dinding dada)
  • Toksisitas oksigen (terlalu banyak oksigen di paru-paru)

Baca Juga: Ketahui Penyebab dan Bahaya Paru-paru Basah
Itu tadi seputar ventilator, salah satu alat medis yang membantu sistem pernapasan ketika paru-paru sudah tidak bekerja secara optimal atau sebagaimana mestinya.

Perlu diingat, penggunaan ventilator dalam jangka panjang, dapat berpotensi mendorong munculnya efek samping bagi kesehatan, khususnya pada bagian sistem pernapasan.

Penggunaan ventilator pada pasien yang dirumahkan, tetap perlu pemeriksaan dari dokter secara berkala.

Diutamakan, ada tenaga medis yang menjaga pasien dan merawat ventilator agar tetap dapat bekerja sebagaimana mestinya.

Jadi, jangan ragu untuk konsultasikan hal tersebut kepada dokter agar mendapatkan penanganan lebih lanjut.

  • https://www.healthline.com/health/ventilator#how-it-works
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/what-is-a-ventilator#types
  • https://www.idsmed.com/news/how-does-a-ventilator-work_398.html
  • https://www.uab.edu/news/health/item/11430-how-a-ventilator-works-and-why-you-don-t-want-to-need-one
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait