13 Juli 2022

Paru-paru Basah: Gejala, Penyebab, Pemeriksaan, Pengobatan, dan Pencegahan

Ketahui juga komplikasi apa yang dapat terjadi akibat paru-paru basah

Penyakit paru-paru basah atau pneumonia merupakan kondisi terjadinya infeksi pada paru-paru, yang mungkin disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur.

Menurut American Lung Association, infeksi ini menyebabkan kantung udara paru-paru (alveoli) meradang dan terisi dengan cairan atau nanah. Dampaknya bisa menyulitkan oksigen yang dihirup masuk ke aliran darah.

Dalam proses pengobatannya, akan dilihat berdasarkan penyebab paru-paru basah dan tingkat keparahannya. Baca lebih lanjut untuk mengetahui penyebab dan seberapa bahaya paru-paru basah.

Baca Juga: Pneumonia Bayi: Penyebab, Gejala, Hingga Pengobatannya

Apa Saja yang Termasuk Gejala Paru-paru Basah?

Gejala Paru-paru Basah
Foto: Gejala Paru-paru Basah

Foto: orang batuk (Orami Photo Stock)

Perlu diketahui bahwa pneumonia merupakan penyakit yang sangat perlu ditangani oleh dokter.

Jadi ketika sudah dirasa mengalami gejala pneumonia, sebaiknya Moms langsung berkonsultasi ke dokter.

Pneumonia adalah salah satu penyebab kematian tertinggi pada anak-anak di seluruh dunia.

Diketahui, World Health Organization (WHO) memperkirakan sebanyak 15% kematian anak-anak yang memiliki usia di bawah 5 tahun disebabkan oleh penyakit ini.

WHO pun menyatakan pada tahun 2017, terdapat lebih dari 800.000 anak yang meninggal akibat paru-paru basah.

Secara umum, gejala paru-paru basah, yaitu:

  • Batuk berdahak yang tak kunjung sembuh dan semakin memburuk.
  • Demam tinggi yang terkadang disertai menggigil.
  • Sesak napas meski hanya melakukan aktivitas ringan.
  • Nyeri di dada ketika menarik napas atau batuk.
  • Batuk serta pilek yang berlangsung terus menerus dan malah semakin memburuk.
  • Kebingungan dan perubahan perilaku terutama pada pasien yang berusia di atas 65 tahun.

Khusus pada penderita pneumonia berusia di atas 65 tahun yang memiliki imunitas rendah, demam akibat pneumonia terkadang tak muncul.

Meski demikian, mereka bisa mengalami penuruhan suhu tubuh di bawah normal.

Baca Juga: Mengenal Bronkopneumonia, Pneumonia pada Anak yang Jarang Diketahui

Apa Penyebab Paru-paru Basah?

penyebab paru-paru basah-1
Foto: penyebab paru-paru basah-1 (shawglobalnews.com)

Foto: sakit dada (Orami Photo Stock)

Penyebab paru-paru basah dapat disebabkan oleh berbagai macam bakteri, virus, dan jamur di udara yang dihirup manusia.

Melakukan identifikasi penyebabnya adalah langkah penting agar mendapatkan perawatan yang tepat.

1. Infeksi Bakteri

Mengutip Mayo Clinic, jenis pneumonia karena infeksi bakteri paling umum yaitu yang disebabkan oleh kuman Streptococcus pneumoniae, biasanya hidup di saluran pernapasan bagian atas.

Pneumonia bakteri dapat muncul dengan sendirinya, atau berkembang setelah terserang virus flu.

Pneumonia bakteri seringkali memengaruhi hanya satu bagian, atau lobus, dari paru-paru.

Orang yang berisiko tinggi untuk mengalami pneumonia bakteri yaitu orang yang pulih dari operasi, orang dengan penyakit pernapasan atau infeksi virus, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.

Beberapa jenis bakteri penyebab paru-paru basah ini termasuk:

  • Mycoplasma pneumoniae. Bakteri kecil yang biasanya menginfeksi orang berusia di bawah 40 tahun, terutama mereka yang hidup dan bekerja di lingkungan yang padat.
  • Chlamydophila pneumoniae. Biasanya menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas sepanjang tahun, tetapi dapat sebabkan pneumonia ringan.
  • Legionella pneumophila. Bakteri ini bisa menyebabkan pneumonia berbahaya, yang disebut penyakit Legionnaire. Legionella tidak menular dari orang ke orang, tetapi berkaitan dengan paparan air yang terkontaminasi.

Baca Juga: Yuk, Kenali Bagian dan Fungsi Paru-paru untuk Tubuh!

2. Infeksi Virus

Melansir Johns Hopkins Medicine, penyebab paru-paru basah ini disebabkan oleh berbagai virus, termasuk virus flu (influenza).

Seseorang lebih mungkin terkena pneumonia bakteri jika memiliki pneumonia karena virus.

Virus ini bekerja dengan menginfeksi saluran pernapasan bagian atas dan menyebabkan pneumonia. Infeksi virus influenza ini mungkin bisa parah dan terkadang fatal.

Pneumonia oleh virus ini paling berisiko pada orang yang sebelumnya punya penyakit jantung atau paru, dan pada wanita hamil.

3. Infeksi Jamur

Penyebab terakhir dari paru-paru basah adalah infeksi jamur.

Dalam jurnal Frontiers in Immunology, infeksi jamur ini adalah masalah klinis yang parah, terutama pada pasien dengan fungsi kekebalan tubuh yang terganggu.

Jenis jamur Aspergillus, Cryptococcus, Pneumocystis, dan jamur endemik, adalah patogen jamur paru utama yang dapat menyebabkan penyakit invasif yang mengancam jiwa.

Kondisi ini terjadi pada orang dengan sistem kekebalan lemah karena HIV/AIDS, atau penggunaan obat-obatan jangka panjang yang menekan sistem kekebalan tubuh.

Baca Juga: Mengenal Fungsi Alveolus, Kantong Udara Kecil di Paru-Paru

Komplikasi yang Dapat Terjadi Akibat Paru-paru Basah

Bahaya Paru-paru Basah
Foto: Bahaya Paru-paru Basah (consumerreports.org)

Foto: batuk-batuk (Orami Photo Stock)

Melansir Centers for Disease Control and Prevention (CDC), paru-paru basah dapat menyebabkan penyakit ringan hingga parah pada orang-orang dari segala usia.

Pengobatan paru-paru basah juga tergantung pada penyebabnya. Sebagian besar pneumonia bisa dirawat di rumah, dan kasus yang parah dapat dirawat di rumah sakit.

Antibiotik dapat digunakan untuk jenis infeksi bakteri. Sementara, sebagian besar infeksi virus tidak memiliki perawatan khusus, dan biasanya akan lebih baik dengan sendirinya.

Meski dengan perawatan, beberapa orang dengan kondisi paru-paru basah dapat mengalami komplikasi seperti berikut:

  • Bakteri dalam aliran darah (bacteremia). Bakteri memasuki aliran darah dari paru-paru dan dapat menyebarkan infeksi ke organ lain, berpotensi menyebabkan kegagalan organ.
  • Sulit bernapas. Jika pneumonia parah atau memiliki penyakit paru-paru kronis yang mendasari, seseorang mungkin kesulitan bernapas sehingga perlu dirawat di rumah sakit dan menggunakan ventilator.
  • Akumulasi cairan di sekitar paru-paru (efusi pleura). Pneumonia dapat menyebabkan cairan menumpuk di ruang tipis antara lapisan jaringan yang melapisi paru-paru dan rongga dada (pleura).
  • Abses paru-paru. Abses biasanya diobati dengan antibiotik. Terkadang dengan tindakan pembedahan atau drainase untuk menghilangkan abses.

Baca Juga: Apa Penyebab Sesak Napas dan Bagaimana Penanganannya?

Pemeriksaan untuk Mendiagnosis Paru-paru Basah

pemeriksaan paru-paru basah
Foto: pemeriksaan paru-paru basah (Orami Photo Stock)

Foto: rontgen paru (Orami Photo Stock)

Dalam mendiagnosis pneumonia, biasanya dokter akan mulai dengan menanyakan tentang riwayat kesehatan Moms dan melakukan pemeriksaan fisik.

Termasuk mendengarkan paru-paru dengan stetoskop untuk memeriksa suara menggelegak atau berderak abnormal yang menunjukkan pneumonia.

Apabila dicurigai adanya pneumonia, dokter biasanya dapat merekomendasikan tes berikut:

1. Tes Darah

Tes darah digunakan untuk mengkonfirmasi infeksi dan mencoba mengidentifikasi jenis organisme yang menyebabkan infeksi.

2. Rontgen Dada

Rontgen dada akan membantu dokter mendiagnosis pneumonia dan menentukan luas dan lokasi infeksi.

Namun, pemeriksaan ini tidak dapat memberi tahu dokter jenis bakteri apa yang menyebabkan pneumonia.

3. Oximeter

Oximeter atau oksimetri nadi berguna untuk mengukur tingkat oksigen dalam darah.

Perlu Moms ketahui, pneumonia dapat mencegah paru-paru dalam memindahkan cukup oksigen ke aliran darah sehingga penggunaan oximeter bisa membantu.

4. Tes Dahak

Sampel cairan dari paru-paru (dahak) akan diambil setelah batuk yang dalam dan dianalisis untuk membantu menentukan penyebab infeksi.

Selain melakukan beberapa pemeriksaan di atas, dokter juga mungkin memesan tes tambahan jika Moms berusia lebih dari 65 tahun, berada di rumah sakit, atau memiliki gejala atau kondisi kesehatan yang serius.

Tes tambahan ini mungkin termasuk:

5. CT-scan

Jika pneumonia tidak sembuh secepat yang diharapkan, dokter mungkin merekomendasikan CT scan dada untuk mendapatkan gambaran paru-paru yang lebih detail.

6. Kultur Cairan Pleura

Pemeriksaan ini mengambi sampel cairan dengan cara meletakkan jarum di antara tulang rusuk dari daerah pleura dan dianalisis untuk membantu menentukan jenis infeksi.

Baca Juga: Penyebab Nyeri Dada dan Gejalanya, Ternyata Tidak Melulu karena Sakit Jantung

Pengobatan Paru-paru Basah

Cara Mengobati Paru-paru Basah
Foto: Cara Mengobati Paru-paru Basah

Foto: pasien rumah sakit (Orami Photo Stock)

Perawatan untuk pneumonia melibatkan penyembuhan infeksi dan mencegah komplikasi. Orang yang menderita pneumonia biasanya dapat dirawat di rumah dengan obat-obatan.

Meskipun sebagian besar gejala mereda dalam beberapa hari atau minggu, perasaan lelah dapat bertahan selama 1 bulan atau lebih.

Perawatan bergantung pada jenis dan tingkat keparahan pneumonia, usia, dan kesehatan secara keseluruhan. Pilihannya dapat meliputi:

1. Antibiotik

Obat-obatan ini digunakan untuk mengobati pneumonia bakteri.

Mungkin perlu waktu untuk mengidentifikasi jenis bakteri yang menyebabkan pneumonia dan memilih antibiotik terbaik untuk mengobatinya.

Apabila gejala tidak kunjung membaik, dokter mungkin akan merekomendasikan antibiotik yang berbeda.

2. Obat Batuk

Obat ini dapat digunakan untuk meredakan batuk sehingga Moms dapat beristirahat.

Karena batuk membantu melonggarkan dan memindahkan cairan dari paru-paru, ada baiknya untuk tidak menghilangkan batuk sepenuhnya.

Selain itu, Moms harus tahu bahwa sangat sedikit penelitian yang mencari tahu apakah obat batuk yang dijual bebas dapat mengurangi batuk yang disebabkan oleh pneumonia.

Jadi, jika Moms ingin mencoba penekan batuk, gunakan dosis terendah yang dapat membantu Moms untuk beristirahat dengan nyaman.

3. Obat Penurun Panas atau Pereda Nyeri

Moms juga dapat mengonsumsi obat ini untuk mengatas demam dan ketidaknyamanan akibat pneumonia. Obat penurun panas atau pereda nyeri yang dimaksud dapat meliputi aspirin, ibuprofen, dan acetaminophen.

Sementara itu, Moms mungkin perlu dirawat di rumah sakit jika:

  • Berusia lebih dari 65 tahun.
  • Fungsi ginjal telah menurun.
  • Tekanan darah sistolik di bawah 90 milimeter air raksa (mm Hg) atau tekanan darah diastolik Moms adalah 60 mm Hg atau di bawahnya.
  • Napas cepat (30 napas atau lebih per menitnya).
  • Membutuhkan alat bantu pernapasan.
  • Suhu tubuh di bawah normal.
  • Detak jantung di bawah 50 atau di atas 100.

Moms juga mungkin dirawat di unit perawatan intensif jika perlu bantuan mesin pernapasan (ventilator) atau jika gejala semakin parah.

Anak-anak yang mengalami pneumonia dengan kondisi di bawah ini pun disarankan untuk rawat inap:

  • Berusia di bawah 2 bulan.
  • Lesu atau mengantuk berlebihan.
  • Kesulitan bernapas.
  • Mmiliki kadar oksigen darah yang rendah.
  • Tampak dehidrasi.

Baca Juga: Cari Tahu Apa Saja Minuman Pembersih Paru-Paru, Cegah Gangguan Pernapasan

Langkah Tepat untuk Mencegah Paru-paru Basah

Mencegah Paru-paru Basah
Foto: Mencegah Paru-paru Basah (shutterstock)

Foto: pencegahan paru-paru basah (Orami Photo Stock)

Agar tidak terkena pneumonia atau paru-paru basah, tentunya Moms perlu memahami langkah-langkah pencegahannya.

Sama seperti penyakit lain, mencegah penyakit pneumonia ini bisa dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat dalam keseharian.

Beberapa langkah tepat untuk mencegah paru-paru basah, yakni:

  • Tidak merokok dan juga mengurangi konsumsi minuman yang mengandung alkohol.
  • Melakukan vaksinasi pneumonia atau vaksin PCV serta vaksin influenza.
  • Rajin mencuci tangan agar terhindar dari penularan kuman orang lain atau benda yang sudah terkontaminasi kuman.
  • Menutup mulut serta hidung dengan sapu tangan ketika bersin.
  • Memakai masker ketika bepergian agar polusi udara atau virus dan bakteri orang yang sedang sakit tidak menular.
  • Menjaga kebersihan lingkungan dengan membersihkan rumah secara rutin dan membuang sampah di tempatnya.

Baca Juga: 11 Sayur dan Buah untuk Paru-paru yang Direkomendasikan Buat Tubuh

Nah Moms, yuk jaga kesehatan diri kita dan keluarga agar terhindar dari paru-paru basah dengan menerapkan hidup sehat setiap harinya.

  • https://www.lung.org/lung-health-diseases/lung-disease-lookup/pneumonia/learn-about-pneumonia
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pneumonia/symptoms-causes/syc-20354204
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6616198/
  • https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/pneumonia
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pneumonia/diagnosis-treatment/drc-20354210
  • https://www.cdc.gov/pneumonia/prevention.html

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.