03 Maret 2023

Alergi Obat pada Anak: Jenis, Penyebab, dan Cara Mengatasi

Kondisi ini tidak bisa dianggap sepele, Moms!

Alergi obat pada anak bisa adalah kondisi berbahaya dan mesti diwaspadai.

Risiko terjadinya kondisi ini lebih umum ditemukan pada anak yang lebih kecil.

Pasalnya, anak yang masih berusia sangat dini belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang sempurna seperti orang dewasa.

Berangkat dari alasan tersebut, Moms wajib memberikan obat pada bayi dan balita sesuai dengan saran dari dokter.

Hindari menggandakan dosis atau memberikan obat lain tanpa rekomendasi dokter, guna menghindari risiko berbahaya.

Yuk, Moms, cari tahu selengkapnya tentang alergi obat pada bayi dan balita lewat ulasan di bawah ini!

Baca Juga: 11 Makanan Sumber Alergi yang perlu Diwaspadai, Catat!

Apa Itu Alergi Obat pada Anak?

Alergi pada Bayi
Foto: Alergi pada Bayi (Orami Photo Stocks)

Alergi obat pada anak merupakan kondisi yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh memberikan respons abnormal terhadap suatu zat di dalam obat.

Tanda dan gejala alergi obat pada anak cukup beragam, tergantung dari tingkat keparahan.

Namun, keluhan yang umumnya muncul adalah gatal-gatal, ruam kemerahan, hingga demam.

Pada kondisi alergi yang parah, Si Kecil harus segera dibawa ke rumah sakit atau UGD.

Faktanya, reaksi alergi yang parah dikenal medis dengan sebutan anafilaksis. Kondisi ini bisa menyebabkan kematian jika tak segera ditangani.

Hal yang perlu Moms ketahui, alergi obat pada anak tidak sama dengan efek samping obat.

Efek samping adalah kemungkinan kondisi yang dapat terjadi akibat mengonsumsi suatu obat pada kadar tertentu.

Efek samping obat-obatan biasanya tercantum pada label atau kemasannya.

Sementara itu, alergi obat adalah keracunan obat akibat dosis yang berlebihan atau tidak cocok dengan kandungan di dalamnya.

Baca Juga: Cara Menggunakan Tetes Telinga untuk Obati Masalah Telinga

Gejala Alergi Obat pada Anak

Alergi pada Kulit
Foto: Alergi pada Kulit (Shutterstock.com)

Tanda dan gejala alergi obat pada anak yang serius biasanya terjadi dalam durasi 1 jam setelah minum obat atau bisa lebih cepat.

Reaksi umumnya bisa berupa ruam yang berlangsung selama berjam-jam, berhari-hari, hingga berminggu-minggu.

Jadi untuk gejalanya tergantung dari tingkat keparahannya, ya, Moms.

Dilansir Mayo Clinic, gejala alergi obat pada anak lainnya yang perlu Moms ketahui.

  • Ruam dan kemerahan pada kulit
  • Gatal-gatal
  • Demam
  • Terjadi pembengkakan
  • Sesak napas
  • Mengi atau mengeluarkan suara saat bernapas
  • Anafilaksis

Seperti yang sudah dipaparkan di atas, anafilaksis termasuk ke dalam gejala reaksi alergi paling parah.

Kondisi serius ini membutuhkan pertolongan dengan segera. Maka gejala anafilaksis dapat digambarkan sebagai berikut:

  • Saluran udara menyempit sehingga menyebabkan kesulitan bernapas
  • Mual dan kram perut
  • Muntah atau diare
  • Pusing atau sakit kepala ringan
  • Nadi menjadi lemah sekaligus tubuh melemah
  • Tekanan darah turun secara drastis
  • Kehilangan kesadaran atau pingsan

Hubungi bantuan medis darurat jika Si Kecil mengalami tanda-tanda reaksi parah atau dugaan anafilaksis setelah minum obat.

Jika memiliki gejala alergi obat yang lebih ringan, temui klinik terdekat sesegera mungkin.

Baca Juga: 20+ Makanan Menurunkan Kolesterol agar Tetap Sehat

Penyebab Alergi Obat

Ilustrasi Obat-obatan
Foto: Ilustrasi Obat-obatan (Cloudfront.net)

Alergi obat terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru mengidentifikasi obat sebagai zat berbahaya, seperti virus atau bakteri.

Setelah sistem kekebalan mendeteksi obat sebagai zat berbahaya, ini akan mengembangkan antibodi khusus untuk obat tersebut.

Hal ini dapat terjadi saat pertama kali mengonsumsi obat, tetapi terkadang alergi tidak berkembang hingga terjadi paparan berulang.

Antibodi secara otomatis menandai obat tersebut dan mengarahkan sistem kekebalan tubuh untuk menyerang zat tersebut.

Senyawa kimia yang dikeluarkan oleh antibodi ini menyebabkan gejala yang berhubungan dengan reaksi alergi.

Beberapa reaksi alergi dapat terjadi akibat proses yang agak berbeda.

Para peneliti percaya bahwa beberapa obat dapat mengikat langsung ke jenis sel darah putih sistem kekebalan tertentu yang disebut sel T.

Peristiwa ini menyebabkan pelepasan bahan kimia yang dapat mengakibatkan reaksi alergi saat pertama kali mengonsumsi obat tersebut.

Baca Juga: 10 Cara Agar Cepat Tidur dan Tidak Begadang, Tanpa Obat-obatan!

Daftar Nama Obat yang Berisiko Tinggi Alergi

Obat-obatan
Foto: Obat-obatan (Freepik.com/Freepik)

Meskipun obat apa pun dapat menyebabkan reaksi alergi, beberapa obat lebih sering dikaitkan dengan alergi.

Ada beberapa nama zat aktif obat yang bisa alergi, ini termasuk:

  • Antibiotik, seperti penisilin
  • Pereda nyeri, seperti aspirin, ibuprofen dan naproxen sodium
  • Obat kemoterapi untuk mengobati kanker
  • Obat untuk penyakit autoimun, seperti rheumatoid arthritis

Terkadang, efek samping terhadap obat dapat menghasilkan gejala yang hampir sama dengan alergi obat pada anak.

Namun, efek samping obat tidak dipicu oleh aktivitas sistem kekebalan tubuh.

Kondisi ini disebut reaksi hipersensitivitas non alergi atau reaksi obat pseudoalergi.

Baca Juga: Alergi Panas: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati

Jenis Reaksi Obat pada Anak

Obat-obatan
Foto: Obat-obatan (Orami Photo Stocks)

Ada beberapa reaksi obat pada bayi yang umum terjadi.

Tetapi, ada juga reaksi yang bisa menandakan kondisi kesehatan tertentu, atau karena jenis obat yang digunakan.

1. Ruam Obat

Mengutip Children's National, ruam obat pada anak adalah reaksi obat pada tubuh bayi terhadap obat tertentu.

Jenis ruamnya tergantung jenis obatnya, dan dapat berkisar dari ruam ringan hingga berat.

Ruam obat pada anak dapat dikategorikan dalam beberapa penyebab berikut:

  • Ruam yang disebabkan oleh reaksi alergi terhadap obat
  • Ruam karena efek samping yang tidak diinginkan dari obat tertentu
  • Ruam karena hipersensitif terhadap sinar matahari yang disebabkan oleh obat
  • Ruam obat yang parah dan perlu rawat inap

Pengobatan dan perawatan spesifik untuk ruam obat akan ditentukan berdasarkan banyak faktor, yaitu:

  • Usia anak, kesehatan keseluruhan, dan riwayat medis
  • Sejauh mana kondisinya
  • Toleransi anak terhadap obat, prosedur, atau terapi tertentu
  • Pendapat atau preferensi dari dokter

Baca Juga: Apa Saja Efek Samping Obat Darah Tinggi? Cari Tahu di Sini

2. Alergi Obat

Melansir Mayo Clinic, alergi obat adalah reaksi abnormal dari sistem kekebalan tubuh terhadap suatu obat.

Baik itu obat yang dijual bebas, atau menggunakan resep, bahkan jamu.

Alergi obat juga bisa merupakan reaksi obat yang terjadi pada bayi.

Menurut American College of Allergy, Asthma & Immunology, reaksi alergi obat pada anak dapat memiliki gejala berikut:

  • Ruam kulit atau gatal-gatal
  • Rasa gatal
  • Mengi atau masalah pernapasan lainnya
  • Pembengkakan
  • Anafilaksis, reaksi yang berpotensi mengancam jiwa yang dapat memengaruhi dua atau lebih sistem organ

Pemicu alergi obat [ada anak yang umum bisa disebabkan oleh beberapa obat berikut ini:

  • Penisilin dan beberapa jenis antibiotik lainnya
  • Antibiotik yang mengandung sulfonamida (obat sulfa)
  • Antikonvulsan
  • Aspirin, ibuprofen, dan obat antiinflamasi nonsteroid lain
  • Obat kemoterapi

Hindari konsumsi obat yang dapat menjadi pemicunya, dan segera cari perawatan medis jika gejala alerginya memburuk.

3. Reaksi Demam

Pemberian obat dapat mengganggu keseimbangan suhu tubuh yang dapat menyebabkan demam.

Kondisi demam ini juga bisa menjadi salah satu reaksi obat pada bayi.

Menurut sebuah jurnal dari PubMed berjudul Drug-induced fever, demam bisa merupakan hasil dari reaksi hipersensitivitas dengan karakteristik yang mirip reaksi alergi.

Demam paling umum terjadi setelah 7-10 hari pemberian obat dan tetap ada selama obat diteruskan.

Kondisi ini bisa menghilang segera setelah pemberian obat dihentikan.

Obat yang paling umum menyebabkan demam, termasuk penisilin, sefalosporin, antitubercular, quinidine, procainamide, methyldopa, dan fenitoin.

Moms bisa memandikan atau menggosok anak dengan air hangat untuk membantu menurunkan demam.

Hindari menggunakan air dingin, rendaman es, atau alkohol untuk menurunkan demam.

Jika reaksi obatnya dirasa mengkhawatirkan, sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Baca Juga: 4 Cara Efektif Mengobati Sesak Napas dengan Bahan Alami

Cara Mengatasi Alergi Obat pada Anak

Ciri-ciri Alergi Dingin Pada Bayi
Foto: Ciri-ciri Alergi Dingin Pada Bayi (Orami Photo Stocks)

Cara mengatasi alergi obat pada anak tentunya tergantung dari tingkat keparahan, kondisi fisik, dan lain-lain.

Namun umumnya jika alergi tidak terlalu parah, Moms bisa mengatasinya dengan cara berikut:

1. Hentikan Penggunaan Obat

Menghentikan penggunaan obat, tapi tentunya perlu melakukan konsultasi terlebih dahulu oleh dokter.

Hal ini karena dokter sendiri perlu menentukan jenis obat apa yang menjadi penyebab alergi di tubuh Si Kecil.

Jadi jangan menghentikan obat secara tiba-tiba untuk mengatasi alergi obat pada anak, ya, Moms.

2. Konsumsi Antihistamin

Mengonsumsi obat antihistamin diperlukan ketika Si Kecil mengalami reaksi alergi.

Ketika alergi, tubuh akan memproduksi histamin secara berlebihan.

Jadi, jika mengonsumsi obat antihistamin maka obat tersebut akan membantu memperlambat produksi histamin di tubuh.

Cara ini cukup manjur untuk mengobati alergi obat pada anak.

3. Gunakan Kortikosteroid

Kortikosteroid, hadir dalam bentuk oral atau suntikan yang dapat digunakan ketika reaksi alergi datang secara tiba-tiba.

Keberadaan benda ini juga untuk mengobati peradangan terkait reaksi alergi yang lebih serius.

Pengobatan alergi obat pada anak ini perlu dibantu oleh tenaga kesehatan yang ahli.

Baca Juga: Alergi Dingin: Gejala, Cara Mengatasi dan Mencegah, Tandanya Termasuk Bersin atau Kulit Gatal

4. Suntik Epinefrin

Untuk pengobatan anafilaksis, memerlukan injeksi yang disebut epinefrin untuk mencegah kondisi lebih parah.

Setelah itu, barulah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan guna menjaga tekanan darah atau membantu pernapasan.

5. Terapi Desensitisasi

Dalam beberapa kasus, alergi penisilin atau obat lain akan merespons desensitisasi.

Perawatan ini melibatkan pemberian dosis yang sangat kecil pada awalnya, diikuti dengan dosis obat yang semakin besar terhadap obat tersebut.

Proses ini harus dilakukan hanya oleh dokter ahli alergi, bila tidak ada obat alternatif untuk dikonsumsi.

Baca Juga: Kenali 10+ Jenis Jerawat di Kulit dan Ragam Cara Mengatasinya

Demikian informasi seputar alergi obat pada anak yang sebaiknya Moms ketahui.

Jika Si Kecil mengalami kondisi tersebut, jangan tunda untuk segera berobat ke dokter, ya, Moms.

Hal itu penting, apalagi jika Si Kecil mengalami reaksi anafilaksis setelah mengonsumsi jenis obat-obatan tertentu.

Guna mencegah risiko alergi obat pada anak, pastikan untuk selalu berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter.

Pastikan pula Moms mematuhi anjuran dan saran dari dokter terkait pemberian obat pada anak.

Jangan sampai abai atau lalai, agar Si Kecil tidak mengalami kondisi berbahaya akibat alergi obat.

  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/drug-allergy/symptoms-causes/syc-20371835
  • https://medlineplus.gov/ency/article/000819.htm
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/3522163
  • https://acaai.org/allergies/allergic-conditions/drug-allergies/

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.