13 September 2022

Altitude Sickness, Ketika Mual Saat Bepergian ke Tempat Tinggi

Altitude sickness atau mountain sickness memiliki gejala berupa sakit kepala mual yang bisa mengancam jiwa

Jika Moms atau anggota keluarga Moms pernah mendaki gunung dan merasa mual atau pusing, tanpa disadari bisa jadi Moms mengalami altitude sickness.

Penyakit ini juga kerap disebut mountain sickness atau penyakit ketinggian. 

Sesuai namanya, kondisi ini terjadi ketika Moms melakukan perjalanan ke tempat yang tinggi (elevasi) terlalu cepat. Namun, penyakit ini tidak hanya terjadi pada pejalan kaki.

Altitude sickness terjadi ketika seseorang melakukan perjalanan ke tempat yang tinggi tanpa menyesuaikan diri secara bertahap.

Dikutip dari Medical News Today, hal ini umumnya terjadi ketika seseorang berada di ketinggian 8.000 kaki (2,500 meter) atau lebih tinggi, akibat dari kekurangan oksigen.

Seseorang yang tidak terbiasa dengan ketinggian paling berisiko terkena penyakit ketinggian ini. Moms juga harus tahu bahwa kondisi ini tidak bisa dianggap enteng dan dapat menyebabkan komplikasi serius.

Kali ini, Orami mencoba merangkum beberapa jenis altitude sickness, penyebab, gejala dan cara mengobati yang harus Moms ketahui untuk antisipasi ketika kondisi darurat. 

Baca Juga: Mengenal Acrophobia atau Takut Ketinggian, Bisakah Diatasi?

Tipe Altitude Sickness

Tipe Altitude Sickness
Foto: Tipe Altitude Sickness (www.globalfirstaidcentre.org)

Foto: pendaki yang mengalami altitude sickness (globalfirstaidcentre.org)

Terdapat tiga tingkat altitude sickness atau penyakit ketinggian.

Acute mountain sickness (AMS) atau penyakit gunung akut adalah bentuk paling ringan, dan sangat umum. Gejalanya bisa terasa seperti mabuk, pusing, sakit kepala, nyeri otot, dan mual.

Gejala yang lebih parah umumnya terjadi pada ketinggian lebih dari 12.000 kaki.

Penyakit gunung akut dapat berkembang menjadi high-altitude pulmonary edema (HAPE) atau edema paru ketinggian tinggi (HAPE) dan High-altitude cerebral edema (HACE) atau edema serebral ketinggian pada ketinggian sedang hingga tinggi.

Lalu, apa perbedaan ketiganya?

1. Acute mountain sickness (AMS)

Acute mountain sickness atau penyakit gunung akut adalah bentuk paling ringan dan paling umum dari penyakit ketinggian.

Karena lebih banyak orang yang  bepergian ke daerah dataran tinggi untuk rekreasi dan olahraga profesional, misalnya ski, hiking, mendaki gunung, dan bersepeda, maka AMS telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang lebih besar.

2. High-altitude Pulmonary Edema (HAPE)

High-altitude pulmonary edema (HAPE) adalah penumpukan cairan di paru-paru yang bisa sangat berbahaya dan bahkan mengancam jiwa. Ini adalah penyebab kematian paling umum dari altitude sickness.

Edema paru ketinggian tinggi ini menyebabkan cairan menumpuk di paru-paru, mencegah oksigen masuk ke aliran darah.

Saat HAPE berkembang dan kadar oksigen darah turun, beberapa gejala dapat berkembang, seperti semburat biru pada kulit, kesulitan bernafas, dada sesak, dan beberapa gejala lain.

3. High-altitude cerebral edema (HACE)

High-altitude cerebral edema (HACE) atau edema serebral ketinggian tinggi adalah bentuk paling parah dari altitude sickness dan terjadi ketika ada cairan di otak.

Kondisi ini juga bisa mengancam jiwa dan mencari bantuan medis adalah solusinya.

Baca Juga: Bepergian Naik Angkutan Umum Bersama Balita, Siapa Takut!

Penyebab Altitude Sickness 

Penyebab Altitude Sickness
Foto: Penyebab Altitude Sickness (www.globalfirstaidcentre.org)

Foto: penyebab altitude sickness (globalfirstaidcentre.org)

Penyebab utama altitude sickness adalah naik ke ketinggian terlalu cepat. Tinggal di ketinggian tinggi untuk waktu yang lama juga dapat menjadi salah satu penyebabnya. 

Di permukaan laut, konsentrasi oksigen di udara sekitar 21% dan tekanan udara rata-rata 760 milimeter air raksa (mm Hg).

Pada ketinggian yang lebih tinggi, konsentrasi oksigen tetap sama, tetapi tekanan udara jauh lebih rendah.

Di ketinggian sekitar 18.000 kaki, setiap nafas mengandung kira-kira setengah dari oksigen yang ditemukan di permukaan laut.

Jika seseorang memiliki lebih sedikit oksigen dalam darahnya, jantung dan paru-parunya harus bekerja lebih keras.

Kondisi ini meningkatkan denyut nadi dan laju pernapasan mereka. Sebagai tanggapan, tubuh menciptakan lebih banyak sel darah merah untuk membawa lebih banyak oksigen.

Namun, meskipun bernapas lebih cepat meningkatkan kadar oksigen darah, jumlah tersebut tetap tidak mencapai nilai konsentrasi seharusnya.

Selain itu, rata-rata tubuh manusia membutuhkan 1 hingga 3 hari untuk menyesuaikan diri dengan perubahan ketinggian.

Orang yang tidak menyesuaikan diri dengan ketinggian baru dalam waktu yang cukup memiliki resiko tertinggi terkena penyakit altitude sickness.

Penyebab lain dari altitude sickness, seperti:

  • Kelelahan dalam waktu 24 jam setelah pendakian.
  • Dehidrasi.
  • Hipotermia.
  • Konsumsi alkohol atau obat penenang lainnya.
  • Kondisi kesehatan pendaki yang mempengaruhi tubuh masing-masing, misalnya dari AMS menjadi HAPE atau HACE. 

Baca Juga: Mengenal Hipotermia pada Bayi, Kondisi Suhu Tubuh Bayi di Bawah Normal

Gejala Altitude Sickness

Gejala Altitude Sickness
Foto: Gejala Altitude Sickness (www.smithsonianmag.com)

Foto: gejala altitude sickness (smithsonianmag.com)

Tingkat keparahan gejala altitude sickness akan tergantung pada beberapa faktor, seperti usia, berat badan, tekanan darah, dan kapasitas pernapasan individu.

Seberapa cepat seseorang naik ke ketinggian dan jumlah waktu yang dihabiskan di ketinggian tersebut juga dapat mempengaruhi.

Beberapa gejala penyakit ketinggian ini meliputi:

  • Kurang nafsu makan, mual, atau muntah
  • Kelelahan atau kelemahan
  • Pusing
  • Insomnia
  • Sesak nafas saat beraktivitas
  • Mengantuk
  • Pembengkakan pada tangan, kaki, dan wajah

Diagnosis lengkap mungkin memerlukan penilaian medis dari gejala-gejala ini.

Penyakit altitude sickness dapat memburuk dari waktu ke waktu dan mengakibatkan komplikasi serius, termasuk cairan di paru-paru dan pembengkakan otak.

Cairan di paru-paru dapat menyebabkan hal lain seperti batuk terus-menerus, kadang-kadang dengan dahak merah muda, demam, dan juga terengah-engah bahkan saat istirahat.

Baca Juga: Paru-paru Basah: Gejala, Penyebab, Pemeriksaan, Pengobatan, dan Pencegahan

Pengobatan Altitude Sickness

Pengobatan Altitude Sickness
Foto: Pengobatan Altitude Sickness (thesunlightexperiment.com)

Foto: pengobatan altitude sickness (thesunlightexperiment.com)

Jika Moms mengalami sakit kepala dan setidaknya satu gejala lain yang terkait dengan penyakit ketinggian ini dalam satu atau dua hari setelah naik gunung atau ke dataran tinggi, maka itu artinya Moms menderita penyakit gunung.

Berikut beberapa penanganan yang bisa dilakukan:

  • Jika gejala ringan, Moms dapat mencoba tetap pada ketinggian saat ini untuk melihat apakah tubuh dapat menyesuaikan.
  • Istirahat, tetap hangat, dan minum banyak cairan adalah kunci untuk mengatasi gejala yang ringan. Jangan naik ke tempat yang lebih tinggi sampai gejala benar-benar hilang.
  • Jika gejala Moms parah atau jika gejala ringan tidak hilang dalam beberapa hari atau memburuk, turun ke ketinggian yang lebih rendah secepat mungkin. Jangan memaksakan diri dan dapatkan bantuan medis.
  • Dokter mungkin akan memeriksa paru-paru dengan stetoskop atau mengambil rontgen dada dan MRI serta melakukan CT scan otak untuk mencari cairan.

Bila ditemukan cairan di paru-paru, perawatannya tergantung pada gejala yang Moms alami.

  • Untuk cairan di otak (HACE), Moms mungkin memerlukan deksametason, steroid yang membantu mengurangi pembengkakan di otak. Deksametason kadang-kadang diresepkan sebagai obat untuk mencegah kondisi tersebut.
  • Untuk cairan di paru-paru (HAPE), Moms mungkin memerlukan oksigen, obat-obatan, inhaler paru-paru atau, dalam kasus yang parah bisa saja memerlukan respirator.
  • Jika Moms membutuhkan lebih banyak oksigen, penyedia layanan kesehatan mungkin meresepkan acetazolamide yang mampu meningkatkan laju pernapasan, sehingga Moms dapat mengambil lebih banyak oksigen. Obat ini membantu tubuh menyesuaikan diri lebih cepat ke ketinggian yang lebih tinggi dan mengurangi gejala altitude sickness.

Baca Juga: Pneumotoraks, Paru-Paru Kolaps yang Ditandai dengan Sesak Napas

Jadi itulah beberapa hal terkait dengan altitude sickness.  

Jika Moms atau anggota keluarga Moms ada yang mengalami gejala serupa, turun ke dataran rendah, menunda pendakian lebih lanjut, istirahat, dan memperhatikan gejala tubuh adalah hal-hal yang harus dilakukan untuk memastikan pemulihan total.

  • https://www.emedicinehealth.com/mountain_sickness/article_em.htm
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/179819#treatment
  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15111-altitude-sickness#management-and-treatment
  • https://www.webmd.com/a-to-z-guides/altitude-sickness#091e9c5e81582e1f-1-4

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.