Rupa-rupa

RUPA-RUPA
28 April 2020

Aturan Membayar Fidyah untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Berapa besar fidyah yang harus dibayarkan?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Dina Vionetta

Memasuki bulan Ramadan, umat muslim di seluruh dunia diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa. Namun ada beberapa golongan yang diperbolehkan untuk tidak menjalankan puasa, yaitu ibu hamil dan menyusui.

Karena kondisi fisiknya, ibu hamil dan menyusui pun kerap tidak mampu menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan dengan lancar. Golongan ini diperbolehkan untuk meng-qhada puasa di bulan lainnya, atau membayar fidyah.

Baca Juga: Tips Menjaga Kesehatan Saat Puasa di Tengah Pandemi COVID-19

Dalam bahasa Arab ‘fidyah’ adalah bentuk masdar dari kata dasar ‘fadaa’, yang artinya mengganti atau menebus. Jika diartikan secara keseluruhan, fidyah berarti sejumlah harta benda dalam kadar tertentu yang wajib diberikan pada fakir miskin sebagai ganti suatu ibadah yang ditinggalkan.

Namun tidak semua ibu hamil dan menyusui membayar fidyah ya, Moms. Ada yang cukup mengganti utang puasanya saja. Sedangkan, sebagian lainnya harus membayar puasa dan juga fidyah.

Lalu bagaimana aturan membayar fidyah untuk ibu hamil dan menyusui? Simak penjelasannya, yuk.

Aturan Membayar Fidyah Ibu Hamil dan Menyusui

aturan membayar fidyah

Foto: Orami Photo Stock

Menurut Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah yang merujuk pada pendapat ulama Mazhab Hanafiyah menuliskan bahwa ibu hamil atau menyusui yang tidak berpuasa secara penuh, wajib menggantinya dengan membayar fidyah sejumlah hari ia tidak berpuasa.

Jika sudah, maka selanjutnya, ia tidak perlu mengganti puasa tersebut pada hari lain selepas bulan Ramadan.

Baca Juga: Wajah Segar Saat Berpuasa, Simak 5 Tips Ini

Untuk menghitung besaran fidyah, ada bermacam-macam pendapat ulama. Mengutip dari Rumah Zakat, besarnya fidyah itu adalah satu mud dengan mud Nabi Muhammad SAW. Setiap satu mud digunakan untuk membayar satu hari puasa yang ditinggalkan.

Ukuran mud adalah ukuran telapak tangan manusia untuk memuat atau menampung bahan makanan. Misalnya seperti beras, gandum, kurma dan lainnya. Jika diukur dengan ukuran zaman sekarang, maka kira-kira akan menjadi 0.675 Kg atau 0.688 liter, atu kira-kira ¾ liter beras untuk satu hari puasa.

Jika dilihat dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, besaran fidyah adalah bahan pangan sejumlah 6 ons beras. Bahan pangan ini dapat diganti dengan uang senilai bahan pangan tersebut.

Lalu, pembayaran fidyah dapat dilakukan sekaligus (sesuai jumlah hari puasa yang dilewatkan) atau setiap hari setiap meninggalkan puasa. Fidyah ini dapat dibayarkan di muka sejak awal Ramadan, atau dibayar belakangan.

Baca Juga: Kebiasaan Makan yang Buruk Selama Bulan Ramadan

Bisakah Fidyah Diganti dengan Uang?

aturan membayar fidyah

Foto: pixabay.com

Perlu Moms ketahui fidyah pada dasarnya merupakan pengganti dari suatu ibadah yang telah ditinggalkan, berupa sejumlah makanan yang diberikan kepada fakir miskin.

Nah, sesuai dengan pengertian di atas, fidyah yang merupakan santunan kepada orang-orang miskin, maka boleh saja memberikan fidyah dalam bentuk uang. Apalagi jika lebih bermanfaat ya, Moms.

Itulah penjelasan tentang fidyah, Moms. Jadi lebih lega setelah tahu faktanya, ya?

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait