Parenting

12 November 2021

Hari Ayah Nasional: Merayakan Segala Pengorbanannya untuk Si Kecil dan Keluarga

Bukan hanya Ibu, ayah juga memiliki peran penting dalam tumbuh kembang anak
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Orami

Peringatan Hari Ayah di sejumlah negara memiliki tanggal yang berbeda. Di Indonesia, Hari Ayah Nasional jatuh pada 12 November.

Sebagian besar negara di dunia memperingati Hari Ayah atau Father's Day setiap hari minggu pekan ketiga pada bulan Juni.

Terlepas dari perbedaan tanggal, tujuan peringatan Hari Ayah di seluruh dunia tetaplah sama, yakni:

  • Memberi penghargaan kepada para ayah atas cinta kasih.
  • Menghargai perjuangan ayah.
  • Meghargai pengorbanan terhadap anak serta keluarga.

Selama ini, kita sering sekali mendengar istilah hubungan antara anak dan Moms, tetapi jarang sekali ada bahasan mengenai hubungan antara anak dan ayahnya.

Padahal dukungan, kehadiran, dan keterlibatan ayah dalam tumbuh kembang anak sangatlah penting dan memiliki pengaruh yang besar.

Sebelum membahas lebih lanjut, Moms dan Dads juga perlu tahu sejarah Hari Ayah Nasional.

Baca Juga: Dukung Kegiatan Belajar, Ini Rekomendasi Laptop untuk Anak Sekolah

Sejarah Hari Ayah Nasional

peringatan hari ayah nasional dan sejarahnya.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Hari yang spesial ini diperingati sebagai ungkapan terima kasih kepada sosok ayah sebagai tulang punggung, sandaran, dan pelindung dalam rumah tangga.

Walaupun bukan menjadi hari libur nasional, banyak masyarakat Indonesia yang tetap merayakan hari spesial ini.

Umumnya, Hari Ayah dirayakan dengan memberi hadiah dan berkumpul bersama anggota keluarga lainnya.

Sama seperti di negara-negara lain, peringatan Hari Ayah Nasional mempunyai sejarahnya sendiri.

Melansir Kemdikbud.go.id, Hari Ayah Nasional ini lahir dari prakarsa paguyuban Satu Hati, lintas agama dan budaya yang bernama Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi (PPIP).

Awalnya, tahun 2014, PPIP mengadakan peringatan Hari Ibu di Solo dengan cara mengadakan sayembara menulis surat untuk Ibu.

Acara ini disambut antusias oleh peserta sehingga mereka menanyakan kapan peringatan yang sama untuk ayah digelar.

Hingga pada 12 November 2016, PPIP menggelar deklarasi Hari Ayah untuk Indonesia dan menetapkan tanggal tersebut sebagai Peringatan Hari Ayah Nasional.

Deklarasi tersebut digabung dengan hari kesehatan dengan mengambil semboyan ‘Semoga Bapak Bijak, Ayah Sehat, Papah Jaya'. Deklarasi Hari Ayah juga dilakukan di Maumere, Flores, NTT.

Dalam deklarasi itu juga diluncurkan buku ‘Kenangan untuk Ayah’ yang berisi 100 surat anak Nusantara yang diseleksi dari Sayembara Menulis Surat untuk Ayah.

Selepas deklarasi, mereka mengirimkan buku tersebut dan piagam deklarasi Hari Ayah kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) serta bupati di 4 penjuru Indonesia, yakni:

  • Sabang
  • Merauke
  • Sangir Talaud
  • Pulau Rote

Usai deklarasi ini, setiap tanggal 12 November ditetapkan sebagai Hari Ayah Nasional.

Baca juga: 12 Dampak Perceraian pada Anak secara Psikologis dan Menurut Islam, Catat!

Namun, rasanya perayaan Hari Ayah kali ini kurang tanpa benar-benar menyelami makna di balik peran penting ayah dalam keluarga, termasuk tumbuh kembang anak.

Jika ibu merupakan sosok penting dalam rumah tangga, bagaimana hubungan ayah dengan anak-anak di rumah?

Peran Penting Ayah dalam Mendidik dan Mengasuh Anak

Menjadi kewajiban orang tua untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anaknya, termasuk juga dalam mendidik anak.

Bukan hanya ibu, tetapi ayah juga berperan penting dalam mendidik anak. Karenanya, Dads perlu paham apa saja peran dari seorang ayah.

Banyak yang menganggap bahwa peran ayah sebagai kepala keluarga yang hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Dalam rangka merayakan Hari Ayah Nasional tahun ini, Orami mengadakan sebuah survey pada 77 ayah dengan berbagai latar belakang dan profesi mengenai kasih bonding antara ayah dan anaknya agar lebih dekat.

Dari survei tersebut 93,5% ayah mengaku meluangkan waktu bersama anak dan keluarganya.

Data menunjukkan, sebanyak 83,1% ayah mengaku melakukan kontak fisik seperti mencium atau memeluk sang anak.

Sementara 71,4% Dads mengaku memberikan pujian atau apresiasi saat anak melakukan sesuatu.

Hari-Ayah-Nasional-Chart-2.jpg

Seperti Dads Alfin Nur Basqoro (25), ayah dari 1 anak mengatakan, untuk meningkatkan bonding dengan Si Kecil ia selalu meluangkan waktu disela kesibukannya dengan bermain dan belajar bersama.

Memang tak ada batasan kapan bonding antara ayah dan anak harus terjadi. Hanya saja ada hal yang sering terlewatkan saat membangun bonding dengan sang anak.

Hari-Ayah-Nasional-Testimoni-2.jpg

Menurut Jovita Maria Ferliana, M.Psi, Psikolog, ada banyak peran ayah dalam mendidik anak karena dapat berpengaruh pada masa depan Si Kecil.

“Ayah itu sebagai role model utama atau figur yang dijadikan model anaknya. Kemudian, role model ini tidak hanya sikap, perilaku, tetapi juga dalam fungsi-fungsinya sebagai ayah,” ucap Jovita.

Sebuah penelitian National Fatherhood Initiative, menunjukkan ketika ayah penuh kasih sayang dan mendukung, itu sangat memengaruhi perkembangan kognitif dan sosial anak.

Ini juga menanamkan rasa kesejahteraan dan kepercayaan diri secara keseluruhan. Lantas, apa saja peran hari ayah dalam mendidik dan mengasuh anak?

Melansir laman Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), ada 5 peran yang dijalankan para ayah dalam mengasuh dan mendidik Si Kecil.

Baca Juga: 40 Kata Mutiara untuk Anak Perempuan yang Beranjak Dewasa

1. Peran Ayah sebagai Pemecah Masalah

Hari-Ayah-Nasional-Info-1.jpg

Banyak anak yang ragu untuk meminta tolong entah hal besar maupun kecil karena adanya jarak dengan sosok ayah.

Padahal, saat bersama ayah, diharapkan pemecahan masalah bukan lagi sekadar soal teknis saja.

Pemecahan masalah dengan ayah juga perlu diisi dengan kasih sayang kepada buah hati.

Misalnya, memperbaiki mainan favorit anak yang rusak atau memompa ban sepeda. Mungkin bagi kita ini adalah masalah sepele, tetapi tidak bagi sang anak.

Sebab, masalah sepele jika dilihat dari sudut pandang anak menjadi masalah yang cukup rumit dikerjakan.

2. Teman Bermain dan Pemandu Prinsip

Hari-Ayah-Nasional-Info-2.jpg

Bermain tidak hanya menghibur, tetapi seorang anak juga bisa belajar lewat kegiatan bermain.

Namun, tidak sedikit ayah yang merasa enggan dan tidak memiliki waktu untuk bermain dengan sang anak.

Padahal, peran hari ayah sebagai teman bermain bisa melatih berbagai aspek anak, salah satunya aspek fisik.

Ayah biasanya memiliki fisik yang lebih kuat dan kokoh jika dibandingkan ibu, sehingga permainan yang dilakukan bisa lebih beragam, seperti berlari atau bermain bola.

Penelitian University of Cambridge menunjukkan, permainan fisik yang diajarkan ayah kepada sang anak membantu anak belajar mengendalikan perasaan mereka.

Ini juga dapat membuat sang anak lebih baik dalam mengatur perilaku mereka sendiri di kemudian hari, saat mereka memasuki lingkungan, terutama di sekolah.

Pemandu Prinsip

Baik ayah maupun ibu memiliki peran yang besar dalam memandu prinsip pada anak.

Dengan diperingati hari ayah, ini dapat mengajarkan anak tentang perilaku yang sesuai dan diharapkan secara sosial.

Ini membantu anak-anak untuk belajar perbedaan antara yang benar dan salah, serta membimbing anak-anak untuk mengalami dan memahami konsekuensi dari perilaku mereka sendiri.

Peran ayah yang memberikan panduan untuk anak-anak mereka, tak hanya mempertahankan "otoritas," tetapi juga harus bisa menggunakannya dengan efektif.

Baca Juga: 6 Pertolongan Pertama Kejang Demam pada Anak yang Bisa Moms Lakukan

“Ayah menjadi pembimbing dalam hal kerohanian atau keagamaan, bisa jadi pembangkit motivasi juga, menjadi sosok guru, melatih kedisiplinan, dan menjadi penghibur pada saat sang anak dalam kondisi kurang baik,” jelas Jovita.

Mengenai hari ayah, bimbingan melibatkan ayah dan anak dalam suatu proses berkelanjutan dari komunikasi yang sehat.

Misalnya, ayah menyimak dahulu pendapat anak, baru kemudian berdiskusi dan memberi instruksi.

4. Penyedia Kebutuhan dan Masa Depan

Hari-Ayah-Nasional-Info-3.jpg

Secara umum, seorang ayah dianggap sebagai penyedia keperluan sumber daya utama bagi keluarga. Ayah memenuhi kebutuhan, seperti:

  • Menyediakan uang
  • Menyediakan makanan
  • Memberikan tempat tinggal
  • Memberikan pakaian untuk anak dan keluarganya

Akan tetapi, ayah tak hanya penyedia keperluan materi. Ayah juga bisa menjadi penyedia pengasuhan untuk anak.

Sering kali para ayah menganggap bahwa tugasnya hanya sekadar penyedia keperluan yang bersifat material. Ini tentu pendapat atau pandangan yang tidak tepat.

Ayah perlu terlibat menyediakan berbagai hal demi mengasuh anak-anak melalui:

5. Mempersiapkan Masa Depan Anak

Saat anak tumbuh dewasa mereka akan menghadapi kehidupan bermasyarakat.

Di sinilah peran dalam hari ayah untuk menyiapkan sang anak agar dapat bersikap sesuai dengan apa yang diharapkan secara sosial.

Misalnya, mulai mengajak anak berdiskusi tentang nilai-nilai moral keluarga.

Semakin dini anak diberikan pembelajaran tentang moral dan tata krama, mereka akan semakin siap menghadapi masyarakat umum kelak.

Baca Juga: Tantrum pada Anak, Kenali Penyebab, Cara Mengatasi, dan Cara Mencegahnya!

Pola Asuh Ayah dalam Pembentukan Karakter Anak

Dalam pola pengasuhan anak, keberadaan sosok ayah tak kalah penting dengan peran seorang ibu.

Jika seorang ibu lebih mengandalkan kasih sayang yang dikemas dalam bentuk suatu ‘layanan’, atau pemberian, beda halnya dengan sosok ayah.

Dalam rangka Hari Ayah, Moms dan Dads perlu tahu mengenai berbagai jenis pola pengasuhan anak.

Pengasuhan akan lebih berfokus pada menyusun kepribadian anak yang dibangun dari sebuah ‘pondasi’ yang kuat.

Dalam arti lain, pembentukan karakter anaklah yang menjadi tujuan peran asuh hari ayah.

Orami pun bertanya kepada para Moms, seperti apa pola asuh yang diterapkan Dads di rumah kepada Si Kecil.

Survey menunjukkan, pola asuh disiplin dengan komunikasi 2 arah paling banyak diterapkan (49,4%). Disusul dengan permissive parenting (41,6%).

Hari-Ayah-Nasional-Chart-1.jpg

Nah, Moms dan Dads mungkin bertanya-tanya, sebenarnya seperti apa pola asuh ini? Apa saja jenis-jenisnya? Berikut penjelasan selengkapnya.

1. Pola Asuh Otoriter

Tak jarang kita sering jumpai bahwa ayah terbilang memiliki karakter yang lebih tegas dibandingkan seorang ibu.

Mengapa demikian? Hal ini karena mereka berfokus untuk membentuk anak menjadi lebih kuat dan tahan banting.

Melansir studi dalam NCBI, pola asuh dengan model ini cenderung memiliki mode komunikasi 1 arah.

Biasanya, ini menyebabkan minimnya ruang negosiasi untuk anak dan alasannya biasanya tidak begitu jelas.

Mereka mengharapkan anak-anak untuk menjunjung tinggi standar tanpa membuat 1 kesalahan kecil pun.

Jika mereka melakukan kesalahan, anak akan menerima hukuman dan sanksi.

Karenanya, ini bisa memengaruhi perkembangan kognitif anak dan cara ia bersosialisasi dengan orang sekitar.

Kurangnya percaya diri juga salah satu akibat yang sering dialami Si Kecil.

Hal ini berbeda dengan authoritative parenting, ya. Kalau pola asuh jenis ini masih memberikan komunikasi 2 arah dengan anak.

Sehingga, anak dan orang tua tetap memiliki ruang untuk berdiskusi bersama. Anak pun memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya.

Namun, orang tua dalam menerapkan pola asuh ini tetap tegas, Moms. Hal ini demi mendidik dan membentuk karakter anak.

2. Pengasuhan Permisif

Pengasuhan dalam Hari Ayah.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Tidak hanya itu, adapun pola asuh ayah yang dikenal dengan pengasuhan permisif.

Artinya, orang tua akan menerapkan komunikasi terbuka dan memberlakukan aturan terbatas untuk anak-anak.

Karena ini, sering kali orang tua dijadikan sosok teman sekaligus sahabat untuk anak, lho.

Pola asuh ini akan membentuk kepribadian anak memiliki keterampilan sosial yang baik dan juga tingkat percaya diri yang tinggi.

Sayangnya, pola asuh jenis ini juga tak selalu memiliki dampak positif.

Mengutip Journal of Child and Family Studies, pola asuh ini juga memiliki dampak tak begitu baik untuk kebiasaan anak, seperti:

  • Anak lebih impulsif
  • Si Kecil kerap menuntut
  • Tumbuh sifat egois untuk menuruti apa yang diinginkannya

Biasanya, hal ini dipicu karena anak sudah merasa terlena dengan apa yang diberikan orang tuanya, terutama dari sang ayah.

Baca Juga: 10 Manfaat Ikan Barramundi, Bisa untuk Meningkatkan Kecerdasan Kognitif Anak

3. Pola Asuh Tidak Terlibat

Dikenal dengan sebutan uninvolved parenting, dalam pola asuh ini anak-anak akan diberikan kebebasan tanpa ada campur tangan dari orang tua, termasuk ayah.

Orang tua di sini perannya adalah memenuhi kebutuhan dasar tanpa terlibat di dalamnya, yaitu:

  • Sandang
  • Pangan
  • Papan

Artinya, orang tua akan lebih minim berkomunikasi dengan anak dan cenderung tidak mengetahui apa yang terjadi pada Si Kecil.

Menariknya, pola asuh ini membuat kepribadian anak menjadi lebih mandiri tentunya.

Namun kekurangannya, mereka akan mengalami kesulitan mengendalikan emosi, serta sulit mencari ‘jalan keluar’ setiap masalah yang menerpanya.

Kurangnya peran ayah dalam hal ini membuat anak menjadi sosok yang tidak tangguh, baik dalam hal akademis, maupun sosial.

4. Pola Asuh Demokratis

Pola-Asuh-Otoriter-yang-Berdampak-Negatif-bagi-Anak.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Pola asuh anak demokratis atau authoritative parenting bisa dikatakan sebagai kombinasi yang cukup pas antara tipe pola asuh permisif dan otoriter.

Penelitian International Journal of Behavioral Development menunjukkan, pola asuh anak seperti ini mendorong Si Kecil untuk berani berpendapat dan percaya diri.

Anak merasa dihargai, karena orang tua terbuka mendengarkan pendapat anak. Ini juga yang kemudian merekatkan hubungan anak dan orangtua.

Karakter dari tipe pola asuh orangtua ini adalah:

  • Disiplin, namun juga diterapkan secara suportif
  • Membangun dialog tanpa memberikan hukuman saat anak melakukan kesalahan

Berkat strategi disiplin yang positif, anak yang dibesarkan dalam pola asuh demokratis cenderung memiliki kemampuan berpikir kritis dan mengambil keputusan yang lebih baik.

Selain itu, mereka juga tumbuh menjadi pribadi bertanggung jawab yang tidak ragu dalam mengungkapkan pendapat mereka.

Baca Juga: Si Kecil Malas Bergerak? Ini 7+ Cara agar Anak Suka Olahraga

Mengenal Toxic Fatherhood

toxic fatherhood dalam hari ayah.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Seorang ibu lebih sering mengutarakan sebuah kasih sayang dalam bentuk pujian, tindakan, atau sebuah layanan.

Seringnya mengucap sebuah kalimat, ‘mama sayang kamu,’ ataupun ‘kamu kenapa nak, cerita sama mama,’ atau ucapan kasih sayang lainnya.

Namun, mengapa seorang ayah jarang melakukan ini?

Mengutip studi tentang perilaku kasih sayang yang dilakukan Arizona State University, secara umum pria akan lebih cenderung mengomunikasikan kasih sayang dengan suatu tindakan daripada ekspresi verbal (pernyataan).

Hal inilah yang membuat sejumlah ayah lebih memikirkan apa yang dilakukan dibandingkan ‘bagaimana cara’ mereka melakukannya.

Mereka umumnya juga lebih fokus untuk memiliki harapan yang tinggi terhadap anak-anak untuk mewujudkan keinginannya.

Hal ini membuat sebagian ayah tak melihat proses cara mereka mengasuh anaknya. Melainkan lebih ke ‘hasil’ yang didapat setelahnya.

Nah, ternyata hal ini cukup berkaitan erat dengan istilah toxic fatherhood.

Melansir The Society of General Psychology, toxic fatherhood adalah pola pengasuhan ayah yang keliru dan dapat merusak perkembangan psikologis anak.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Orami, sebanyak 51,9% Moms dan Dads pernah mendengar istilah toxic fatherhood sedangkan 48,1% belum pernah mendengar dan bahkan baru tahu istilah tersebut.

Baca Juga: Mengenal Oedipus Complex, Kondisi Psikologis Anak yang Tertarik pada Ibu Kandung

Hari-Ayah-Nasional-Chart-3.jpg

Dads Nurcahya Agung (30), ayah dari 1 anak ini mengatakan, berdasarkan pengalaman yang ia lihat, toxic fatherhood memberikan dampak bagi perkembangan anak hingga dewasa.

"Anak-anak hanya sekedar tahu bahwa mereka punya ayah dan ayah hanya sebagai orang yang memenuhi nafkah material tanpa adanya ikatan bonding," ungkap Nurcahya.

Kekurangan kasih sayang dari ayah memang akan berdampak negatif berkepanjangan pada anak.

Bahkan, anak yang sudah dewasa masih akan merasakan dampak atas kurangnya peran ayah dalam hidupnya.

Hari-Ayah-Nasional-Testimoni-3.jpg

Tentunya pola asuh ini dapat terlihat dari beberapa gejala umum, seperti:

1. Perilaku yang Berpusat pada Diri Sendiri

Sosok ayah hanya memikirkan keinginan diri sendiri tanpa melakukan negosiasi dengan kehendak atau keinginan anak.

2. Kekerasan Fisik dan Verbal

Pelecehan fisik atau verbal mungkin terjadi, yakni serupa ancaman, pukulan, teriakan, atau gaslighting.

3. Mengontrol Perilaku

Orang tua dengan pola asuh ini memiliki prinsip yang kuat dan tidak bisa diganggu gugat. Hal ini dapat mengganggu privasi seorang anak.

4. Perilaku Manipulatif

Menggunakan sejumlah alasan untuk mengendalikan atau membuat anak merasa bersalah. Perilaku manipulatif bisa berupa wujud seperti waktu, uang, ataupun usaha anak.

5. Kurangnya Batas

Ayah yang memiliki pola asuh ini cenderung memaksakan sesuatu hal pada anak. Sehingga, anak tidak memiliki batas atau ruang privasi sendiri.

Karenanya, toxic fatherhood membuat anak tidak merasa baik atau kurang aman di sekitar ayah.

Ayah dengan pola asuh ini juga cenderung tidak memiliki pengorbanan yang penuh, setidaknya dengan cara yang jelas.

Pengorbanan mereka cenderung lebih terfokus pada keluarga secara keseluruhan dan kurang pada anak-anak secara individual.

Padahal, proses ayah dalam mendidik dan mengasuh anak ini juga tak kalah penting dibandingkan hasil yang diraih, bukan?

Baca Juga: Begini 6 Cara Membuat Pasangan Mau jadi Ayah ASI

Salah satu faktor pembentukan karakter pada Si Kecil karena adanya bonding yang kuat dari sosok ayah, ibu dan, anaknya.

Pola asuh inilah yang akan memengaruhi perkembangan psikologis, kognitif, sosial anak, dan membuat mereka lebih kuat menuju proses kedewasaan.

Meski demikian, pembentukan karakter anak juga bisa dipengaruhi dari pola asuh ibunya, lho.

Melansir studi dalam Science Direct, memperlihatkan bahwa pola asuh otoriter dari ayah dan pola asuh permisif dari ibu akan membentuk perilaku eksternal pada balita.

Dalam arti lain, pencampuran pola asuh tersebut akan memicu kepribadian anak tidak semestinya di kemudian hari.

Anak akan menjadi sosok yang ignorant, tak peduli antar sesama, serta melakukan perilaku buruk lainnya.

Oleh karena itu, toxic fatherhood cukup luas dan tidak bisa dilihat dari satu sisi. Sehingga, kerja sama antara ayah dan ibu dalam mendidik anak sangat penting.

Seberapa Penting Paternity Leave untuk Keluarga?

Manfaat Paternity Leave untuk Ayah, Wajib Tahu!

Foto: Orami Photo Stocks

Berbicara soal fatherhood tak pernah lepas dari tanggung jawab seorang ayah pada anak dan keluarganya.

Namun, fatherhood juga tidak bisa dipisahkan dari hak-hak yang harus didapatkan seorang ayah, termasuk paternity leave.

Pernahkah Moms mendengar istilah maternity leave atau cuti melahirkan? Sepertinya ini sudah tak asing lagi, ya.

Cuti melahirkan ini telah diatur dalam Pasal 82 UU No 13/2003 tentang Ketenagakerjaan karyawan wanita yang hamil atau segera melahirkan.

Seorang ibu berhak mendapat cuti selama 1,5 bulan sebelum melahirkan dan 1,5 bulan setelahnya, atau 3 bulan setelah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan.

Namun, bukankah menjadi orang tua itu juga termasuk peran dari seorang ayah?

Bagaimana dengan istilah paternity leave untuk ayah yang baru saja memiliki anak bayi baru lahir?

Baca Juga: 5 Tahapan Perkembangan Emosi Anak SD-SMA, Wajib Tahu!

Mengutip Hukum Online, pemberlakuan cuti untuk ayah di Indonesia ini belum sepenuhnya disamaratakan.

Cuti untuk ayah ini terdapat dalam UU Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003 yang berisi bahwa ayah berhak mendapatkan libur selama 2 hari yang dapat diambil sebelum dan setelah persalinan.

Sejumlah orang merasa bahwa pemberian cuti yang diatur dalam 'Cuti Melahirkan Anak' dalam waktu singkat ini tak cukup untuk menyambut kelahiran bayi.

Selain itu, mengutip Pasal 93 ayat (2) huruf c UU Ketenagakerjaan, pekerja laki-laki berhak untuk tidak masuk apabila istrinya melahirkan atau keguguran kandungan.

Di luar itu, pengusaha tetap wajib membayar upahnya selama 2 hari penuh.

Jika ingin menambah cuti ketika itu, pekerja laki-laki bisa menggunakan hak cuti tahunannya.

Tentu, ini tak jarang membuat kepribadian ayah menjadi ‘kaget’ dan tak bisa menemani anak lebih lama dalam hari-hari pertamanya.

Orami juga melakukan survei kepada para pembaca, tentang pentingnya paternity leave untuk mendampingi Moms pasca melahirkan.

Dari survei tersebut, sebanyak 77,9% mengatakan paternity leave sangat penting dan 75,3% mengaku mengambil paternity leave untuk mendampingi dan membantu sang istri setelah melahirkan.

Hari-Ayah-Nasional-Chart-4.jpg

Hal ini berbeda apabila ayah dapat menikmati proses kelahiran bayi dengan sepenuhnya.

Mengutip U.S Department of Labor, ada sebuah studi tentang ayah yang bekerja di Amerika Serikat dan mengambil waktu 2 minggu lebih untuk secara aktif terlibat dalam perawatan anak baru lahir.

Selama cuti, ayah merasakan proses mengganti popok Si Kecil, bangun di malam hari, serta membantu memberikan susu.

Diketahui, mereka yang mengalami pengalaman tersebut memiliki rasa kepuasan lebih tinggi dalam pengasuhan dan peningkatan keterlibatan dalam merawat anak-anak mereka.

Sama halnya juga terjadi mengutip Catalyst bahwa seorang ayah yang mengambil paternity leave dapat melakukan lebih banyak pekerjaan rumah.

Artinya, ayah dapat membantu mengurus pekerjaan rumah tangga yang tentu saja dapat mengurangi beban istri pasca melahirkan.

Tak hanya itu, berikut beberapa manfaat lain dari memiliki hak cuti penuh seorang ayah (paternity leave):

  • Mengurangi risiko terjadinya depresi bagi ibu pasca melahirkan.
  • Sebagai bentuk dukungan penuh terhadap ibu dan bayi baru lahir.
  • Menjaga keutuhan rumah tangga yang harmonis.
  • Meningkatkan bonding antara ayah dan anak sejak hari pertama.

Di luar itu, paternity leave ini juga dapat meningkatkan kinerja karyawan laki-laki, lho. Mengapa demikian?

Karena ini sebagai wujud keadilan dan dukungan perusahaan terhadap hak para karyawannya.

Baca Juga: Batas Telat Haid pada Remaja, Kapan Moms Perlu Waspada?

Pentingnya Kesehatan Mental Ayah

3+ Peran Ayah untuk Keluarga, Penting dan Tak Tergantikan!

Foto: Orami Photo Stocks

Hak seorang ayah tidak berhenti sampai paternity leave. Seperti ibu, ayah juga bisa memiliki kondisi psikologis yang cukup berat saat mengasuh anak, terutama setelah Si Kecil terlahir ke dunia.

Sayangnya, kesehatan mental ayah seringkali terlupakan karena biasanya kebanyakan hanya fokus pada kesehatan mental ibu maupun anak.

Padahal, kesehatan mental ayah sangat penting dijaga karena hal ini berpengaruh dalam keadaan keluarga.

Penelitian Early Childhood Research Quarterly menunjukkan, stres yang dialami ayah saat menjalankan tugasnya sebagai orangtua, mendatangkan efek yang berbahaya bagi perkembangan kognitif dan bahasa si anak.

Dampak terbesar terjadi saat usia anak 2-3 tahun, bahkan dampak itu tak berkurang meski ada peran besar ibu dalam mengasuh anak tersebut.

Disebutkan pula, ayah memiliki pengaruh yang amat besar terhadap perkembangan bahasa pada anak laki-laki, dibandingkan dengan anak perempuan.

Stres dan masalah kesehatan mental pada orangtua amat berpengaruh terhadap cara mereka berinteraksi dengan anak.

Selain itu, depresi yang dialami Ayah bahkan bisa menyebabkan depresi pada calon Moms juga, lho. Sehingga mengakibatkan kesehatan pada bayi yang dikandungnya.

"Jika seorang ayah sangat tertekan, ia dapat memengaruhi sekresi hormon ibu selama kehamilan. Hal ini memengaruhi tidur ibu dan calon bayi," jelas Daniel Armstrong, profesor pediatri dan direktur Pusat Mailman untuk Perkembangan Anak di Universitas Miami Miller School of Medicine.

Baca Juga: 10 Cara Menidurkan Bayi yang Sedang Rewel Tanpa Digendong

Menurut Jovita, dukungan untuk ayah terbilang memang masih kurang. Sebab, terkadang keluarga menganggap seorang pria dewasa kuat, tangguh, tidak boleh cengeng, dan lemah.

Namun, mereka lupa bahwa laki-laki juga manusia dan butuh dukungan serta pertolongan.

Oleh karena itu, Moms perlu juga memerhatikan adanya perubahan yang terjadi pada Ayah, seperti:

Moms biasanya merupakan orang pertama yang menyadari perubahan yang terjadi pada ayah. Jika ayah mengalami gejala di atas, ada beberapa cara yang bisa dilakukan:

  1. Luangkan waktu bersama ayah untuk melakukan hal yang ia suka, karena terkadang depresi terjadi karena ayah merasa tidak ada yang memerhatikan.
  2. Berikan ayah me time, beban pekerjaan kantor maupun rumah tidak ada habisnya membuatnya tidak memiliki waktu luang untuk sekadar memanjakan diri sendiri sehingga rentan mengalami stres.
  3. Ajak ayah untuk selalu bersyukur karena rasa bersyukur dikaitkan dengan peningkatan kesejahteraan, kualitas kesehatan mental, serta kebahagiaan.

Cara sederhana untuk meningkatkan rasa bersyukur adalah membuat jurnal dan menuliskan berbagai hal yang patut disyukuri setiap harinya.

Jika dirasa lingkungan kurang mendukung atau ayah merasa sulit mengendalikan emosi, jangan ragu untuk meminta dukungan para ahli.

Ayah bisa mengunjungi psikolog atau psikiater untuk mencurahkan semua perasaan. Para ahli pun akan membantu ibu dalam menghadapi masalah yang ayah alami saat ini.

Postpartum Depression pada Ayah

Kesehatan Mental Ayah

Foto: Orami Photo Stock

Bukan hanya stres karena banyaknya pekerjaan kantor dan rumah tangga yang harus diselesaikan, ayah juga kerap mengalami depresi pasca sang istri melahirkan.

Melansir American Academy of Pediatrics, sekitar 2-25% ayah mengalami depresi pasca istri melahirkan. Faktanya, ini adalah fenomena yang umum terjadi, lho.

Adapun angka ini bisa meningkat apabila ibu juga mengalami perinatal depresi (baby blues) pada waktu yang bersamaan. Tentu ini bisa berakibat fatal bagi keutuhan keluarga, terutama pada anak-anak.

Menurut Jovita, sebenarnya tidak hanya pada wanita, gejala depression postpartum juga ada pada pria dan kurang lebih gejalanya sama dengan wanita.

Hasil survei yang dilakukan oleh Orami kepada para Moms dan Dads, menunjukkan 72,7% belum pernah mengalami postpartum depression dan sebanyak 27,3% pernah mengalami gejala ini.

Hari-Ayah-Nasional-Chart-5.jpg

Dads Ginta (29), ayah dari 1 anak mengaku bahwa ia pernah mengalami postpartum depression karena bingung harus bersikap seperti apa setelah menjadi ayah.

“Tapi saya selalu bersabar dan memecahkan masalah dengan kepala dingin di samping itu saya harus menjaga mental istri saya yang juga baru terlahir sebagai seorang ibu agar beliau tidak merasa sendiri menghadapi kehidupan pasca melahirkan,” ungkap Ginta.

Baca Juga: Ini Peran Ayah Menurut Islam untuk Anak Perempuannya, Yuk SImak!

Lantas, apakah yang menjadi pemicu postpartum depresi pada ayah? Berikut beberapa faktor terbesarnya:

  • Tuntutan dan tanggung jawab baru selama kehamilan
  • Kesulitan membangun bonding dengan bayi
  • Tidak percaya diri menjadi sosok ayah yang baik
  • Kurangnya dukungan sosial atau bantuan dari keluarga dan teman
  • Perubahan dalam hubungan pernikahan, seperti kurangnya aktivitas seksual dengan pasangan
  • Tekanan finansial dan pekerjaan

Diketahui juga, perubahan kadar hormon testosteron yang rendah juga menyebabkan seorang ayah mengalami kondisi ini.

Gejala yang dirasakan tentu akan beragam dari satu orang ke orang lainnya. Umumnya, berikut gejala dari postpartum depresion pada ayah:

  • Rasa takut dan gelisah
  • Menarik diri dari masyarakat atau enggan bersosialisasi
  • Ragu dalam menentukan keputusan
  • Frustasi, mudah marah, dan tidak bisa mengontrol emosi
  • Melakukan kekerasan fisik atau verbal terhadap pasangan
  • Gangguan pencernaan

Kurang tidur atau mengalami gangguan tidur seperti insomnia juga salah satu gejala dari depresi pada ayah pasca bayi baru lahir.

Lantas apakah kondisi ini bisa diatasi? Dads, ternyata gangguan mental ini bisa ‘diobati’ dengan hal-hal sederhana, lho.

Mengutip situs Todays Parent, hormon oksitosin ikut berperan dalam menjaga bonding antara ibu dan anak setelah lahir.

Fakta menarik lainnya, baru-baru ini para ahli menemukan bahwa lonjakan hormon ‘bahagia’ ini juga dapat dialami oleh ayah ketika memegang atau bermain dengan bayi yang baru lahir.

Karenanya, cobalah untuk lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak, Dads. Mulai dari memandikannya, mengajak bermain, ataupun memberikan makan atau susu.

Lakukan juga kegiatan ringan seperti meditasi sebagai cara untuk menenangkan pikiran.

Membiarkan gangguan mental ini berlarut-larut dapat berakibat buruk pada karakter dan tumbuh kembang anak di kemudian hari.

Melansir NCT, seorang ayah yang mengalami depresi, akan lebih tinggi risikonya dalam membuat perkembangan Si Kecil menjadi lebih lambat.

Ini pun juga dibarengi dengan permasalahan pada emosional dan perilaku anak di usia lebih tua.

Oleh karena itu, jangan pernah ragu dalam berkonsultasi dengan dokter ataupun orang sekitar apabila mengalami ini ya, Dads.

Baca Juga: 5 Love Language untuk Bonding yang Lebih Intim, Moms Tipe yang Mana?

Hero: Kisah Dads Darius Sinathrya yang Menginspirasi

Membicarakan perayaan hari ayah, adapun salah satu selebritis tanah air Indonesia yang tak kalah menarik untuk diketahui.

Darius Sinathrya, adalah seorang seleb Dads yang akhir-akhir ini namanya melambung tinggi di sosial media.

Bagaimana tidak, cara ia menunjukkan kasih sayang pada istri dan anak-anaknya menjadi ‘panutan’ para netizen, lho.

Suami dari Donna Agnesia yang memiliki 3 orang anak ini, yakni Lionel (14), Diego (12), dan Sabrina (10), mengaku kehadiran buah hatinya menjadi ‘mimpi indah’ bagi dirinya.

Hidup di zaman modern saat ini, membuat dirinya lebih ‘melek’ dan paham terhadap pola asuh anak.

Ia berharap, anak dapat melihat dirinya tak hanya sebagai sosok ayah, melainkan juga seorang sahabat.

Hari-Ayah-Nasional-Testimoni-1.jpg

Menurutnya, tugas terbesar menjadi orang tua adalah bagaimana membangun komunikasi 2 arah dengan anak.

“Supaya hubungan kita bukan cuma anak dan orang tua, tapi bisa jadi sahabat tempat mereka curhat. Jadi kalau ada apa-apa mereka curhatnya sama kita, bukan sama orang lain,” tuturnya.

Tak lupa untuk selalu berperilaku jujur sebagai prinsip utama untuk membangun integritas diri anak.

“Anak-anak juga selalu diingatkan untuk selalu bertanggung jawab terhadap keluarga dan diri sendiri,” tambahnya dengan tegas.

Nah, sosok ayah dalam keluarga tidak hanya identik sebagai pencari nafkah tunggal.

Sebab, ayah juga dapat berperan dalam mendukung tumbuh kembang anak dan membentuk pribadi anak yang lebih baik di masa depan.

Selamat Hari Ayah Nasional, Dads! Terima kasih telah memberikan segala perhatian dan kasih sayang kepada Si Kecil dan keluarga.


Ditulis oleh:

  • Defara Millenia Romadhona
  • Dresyamaya Fiona

Disunting oleh:

  • Meira Karla Farhana
  • Widya Citra Andini

Ilustrasi oleh:

  • Achyadi

  • https://paudpedia.kemdikbud.go.id/berita/lima-peran-penting-ayah?id=20210621121946&ix=3
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6823210/
  • https://paudpedia.kemdikbud.go.id/berita/lima-peran-penting-ayah?id=20210621121946&ix=3
  • https://www.sciencedaily.com/releases/2020/06/200629120137.htm
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK568743/
  • https://www.researchgate.net/journal/Journal-of-Child-and-Family-Studies-1573-2843
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24850978/
  • https://asu.pure.elsevier.com/en/publications/communicating-affection-interpersonal-behavior-and-social-context
  • https://www.apadivisions.org/division-1/publications/newsletters/general/2016/04/toxic-fatherhood
  • https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0885200611000627
  • https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt4f9e4e622a9bd/adakah-cuti-mengasuh-anak-untuk-pekerja-pria/
  • https://www.dol.gov/sites/dolgov/files/OASP/legacy/files/PaternityBrief.pdf)
  • https://www.catalyst.org/2019/06/12/10-reasons-every-company-should-offer-paid-paternity-leave-and-every-father-should-take-it/
  • https://www.journals.elsevier.com/early-childhood-research-quarterly
  • https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/prenatal/delivery-beyond/Pages/Dads-Can-Get-Postpartum-Depression-Too.aspx
  • https://www.todaysparent.com/family/parenting/the-science-of-how-fatherhood-transforms-you/
  • https://www.nct.org.uk/life-parent/emotions/postnatal-depression-dads-10-things-you-should-know
  • https://www.orami.co.id/magazine/darius-sinathrya-bebaskan-anak-tumbuh-menjadi-apapun-yang-mereka-inginkan
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait