Scroll untuk melanjutkan membaca

3-12 BULAN
01 November 2022

14 Jenis Imunisasi Lengkap Si Kecil yang Disarankan IDAI, Catat Jadwalnya!

Berikut ini daftar imunisasi dasar dan lanjutan yang dapat diberikan pada Si Kecil
14 Jenis Imunisasi Lengkap Si Kecil yang Disarankan IDAI, Catat Jadwalnya!

Jenis imunisasi anak seperti yang direkomendasikan IDAI dirancang untuk melindungi Si Kecil di awal kehidupannya.

Sebagai orang tua, memang sudah semestinya Moms memahami pentingnya dan ragam imunisasi.

Pasalnya, bayi dan anak-anak rentan tertular penyakit berbahaya.

Sudahkah Moms memeriksa jadwal imunisasi dasar dan lanjutan untuk Si Kecil? Yuk, cermati aneka jenis jadwal imunisasi 2022 menurut IDAI.

Manfaat Program Imunisasi

Vaksin Tetes Polio

Foto: Vaksin Tetes Polio (Unicef.org)

Melansir dari Archives of Disease in Childhood, melakukan imunisasi dapat mencegah sejumlah besar penderitaan dan kematian bayi, serta anak-anak dari wabah penyakit yang menular.

Penyakit menular ini telah ada sejak zaman dahulu. Jika dibiarkan, ini bisa berpotensi mengancam jiwa.

Dengan melakukan imunisasi, ini bisa menghentikan wabah penyakit tersebut di masa akan datang.

Bayi harus diimunisasi selama 2 tahun pertama kehidupan mereka. Si Kecil mungkin memerlukan beberapa dosis vaksin agar terlindungi sepenuhnya.

Kemenkes dan IDAI mengingatkan bahwa memberikan imunisasi dasar lengkap saja tidak cukup.

"Anak juga harus melanjutkan jadwal imunisasi dasar dengan lanjutan secara lengkap," jelas Dr. dr. Matheus Tatang Puspanjono, Sp.A, Dokter Spesialis Anak, RS Pondok Indah–Pondok Indah dan RS Pondok Indah–Bintaro Jaya, Banten.

Baca Juga: Sudah Imunisasi di Luar Negeri, Perlukah Anak Imunisasi Ulang Ketika Pulang ke Indonesia?

Jenis Imunisasi Lengkap IDAI 2020

Bayi Disuntik

Foto: Bayi Disuntik (Orami Photo Stocks)

Kondisi lingkungan sekitar yang tidak sehat, sering kali berpotensi membawa penyakit yang bisa menyerang siapapun.

Sebenarnya semua imunisasi penting. Tetapi, memang ada beberapa yang dianggap sebagai jenis imunisasi wajib atau dasar yang disediakan pemerintah.

Berikut usia bayi yang direkomendasikan untuk menerima jenis imunisasi dasar:

  • Usia <24 jam: Hepatitis B (HB-0).
  • Usia 0-1 bulan: BCG dan Polio 1.
  • Usia 2 bulan: DPT-HB-Hib-1, Polio 2, Rotavirus.
  • Usia 3 bulan: DPT-HB-Hib-2, Polio 3.
  • Usia 4 bulan: DPT-HB-Hib-3, Polio-4, IPV, Rotavirus.
  • Usia 9 bulan: Campak atau MR.

Berikut ini penjelasan jenis imunisasi dasar dan lajutan, serta jadwalnya sesuai umur bayi, di antaranya:

1. BCG

Dilansir dari jadwal Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2020, pemberian vaksin BCG dianjurkan sebelum bayi usia 3 bulan.

Jika usia bayi sudah lebih dari 3 bulan, dianjurkan untuk terlebih dahulu dilakukan uji tuberkulin.

Melansir Journal the BMJ, jenis imunisasi dasar ini melindungi terhadap tuberkulosis, yang juga dikenal sebagai TB.

TBC adalah infeksi serius yang menyerang paru-paru dan terkadang bagian tubuh lainnya, seperti tulang, sendi, dan ginjal. Ini juga dapat menyebabkan meningitis.

Imunisasi BCG bisa diberikan jika uji tuberkulin menunjukkan hasil negatif. Tempat penyuntikan imunisasi BCG yang dianjurkan yakni pada lengan kanan atas.

2. DPT

Bayi Divaksin

Foto: Bayi Divaksin (Freepik.com/freepik)

Jenis imunisasi dasar DPT berfungsi melindungi terhadap penyakit difteri, pertusis, dan tetanus.

Vaksinasi DPT dianjurkan untuk diberikan sebanyak 5 kali, masing-masing pada usia:

  • Usia 2 bulan atau paling cepat pada usia 6 minggu
  • Usia 4, 6, 18 bulan
  • Usia 5 tahun

"Setelah itu, anak mendapatkan vaksin Td atau Tdap pada usia 10-12 tahun sebagai booster," jelas dr. Matheus.

Selanjutnya, imunisasi booster anak perlu diulangi setiap 10 tahun.

3. MR/MMR

Menurut jadwal imunisai Kemenkes dan IDAI, ini termasuk jenis imunisasi dasar yang dibutuhkan Si Kecil.

Vaksin MMR bertugas untuk mencegah anak mengalami penyakit gondong, campak, dan rubella (campak jerman).

Dosis pertama dilakukan saat anak berusia 9 bulan. Setelah itu, memberikan vaksin MMR lanjutan saat anak berusia 15 bulan.

Ini dengan minimal jarak pemberian 6 bulan dari vaksin campak. "Pemberian imunisasi MMR lanjutan saat anak berusia 5 tahun," terang dr. Matheus.

Baca Juga: 3 Hal yang Perlu Moms Ketahui Sebelum Bayi Mendapatkan Imunisasi DPT

4. Hepatitis B (HB)

Anak Disuntik

Foto: Anak Disuntik (Freepik.com/freepik)

Jenis imunisasi hepatitis B harus diberikan sebelum bayi berusia 6 bulan, sebanyak 3 dosis:

  • Dosis pertama: diberikan saat bayi baru lahir. Tepatnya sebelum bayi berusia 24 jam.
  • Dosis kedua: diberikan saat bayi berusia 1–2 bulan.
  • Dosis ketiga: diberikan saat bayi berusia 6–18 bulan.

"Jika vaksin hepatitis B bersamaan dengan DPT, pemberian bisa dilakukan saat bayi berusia 2,3, dan 4 bulan," jelas dr. Matheus.

Selain itu, bayi yang lahir dari ibu dengan hepatitis B, perlu mendapatkan vaksin hepatitis B dosis pertama sebelum usianya 24 jam.

Selain itu, ditambah dengan imunoglobulin hepatitis B pada saat bersamaan di bagian paha yang berbeda (dilakukan setelah mendapat suntikan vitamin K1).

Pemberian jenis imunisasi selanjutnya dapat diberikan sesuai jadwal. Saat berusia 9-18 bulan, bayi yang lahir dari ibu dengan hepatitis B perlu diperiksa antiHBs dan HbsAg.

5. Hemophilus Influenza B (Hib)

Vaksin Hib adalah jenis imunisasi yang digunakan untuk mencegah infeksi Haemophilus influenzae tipe b (Hib).

Di negara-negara yang memasukkannya sebagai vaksin rutin, tingkat infeksi Hib yang parah telah menurun lebih dari 90%.

Vaksin Hib dianjurkan untuk diberikan saat bayi berusia 2, 3, 4 bulan.

Kemudian, jadwal imunisasi Kemenkes ini akan diulang pada usia 12–15 bulan dengan dosis tergantung usia bayi (3 atau 4 dosis).

Ini sering dikombinasikan dengan jenis imunisasi lain atau disebut dengan DPT-HB-Hib.

Baca Juga: Vaksin Tetanus: Jenis, Dosis, dan Efek Sampingnya pada Bayi Maupun Orang Dewasa

6. Flu atau Influenza

Melansir Journal Lancet, virus influenza (flu) menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut.

Inilah yang mengakibatkan morbiditas dan mortalitas yang cukup besar di seluruh dunia.

Maka dari itu, penting bagi Si Kecil mendapatkan imunisasi flu.

Vaksinasi flu dapat diberikan setiap tahun saat anak berusia 6 bulan hingga 8 tahun dalam 2 dosis dasar atau awal.

"Imunisasi influenza lanjutan anak dapatkan setiap satu tahun sekali," ungkap dr. Matheus.

7. Pneumokokus (PCV)

Anak Diperiksa

Foto: Anak Diperiksa (Freepik.com/freepik)

Vaksin pneumokokus adalah jenis imunisasi terhadap bakteri Streptococcus pneumoniae.

Penggunaannya dapat mencegah beberapa kasus pneumonia, meningitis, dan sepsis.

Pemberian vaksin PCV sebanyak 4 kali sesuai kelompok usia. Ini saat Si Kecil berusia 2,4, dan 6 bulan.

Ada dua jenis vaksin pneumokokus, yaitu vaksin konjugasi dan vaksin polisakarida. Pemberian dosis keempat vaksin PCV ini pada bayi usia 12-15 bulan.

Baca Juga : Pentingkah Si Kecil Mendapat Imunisasi Tambahan?

8. IPV (Polio)

Vaksin polio adalah jenis imunisasi dasar IDAI yang digunakan untuk mencegah penyakit poliomielitis (polio).

Terdapat 2 jenis vaksin yang digunakan, yaitu virus polio yang tidak aktif melalui suntikan (IPV) dan melalui mulut (OPV).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan semua anak divaksinasi polio secara lengkap.

Pemberian pertama vaksin polio segera setelah bayi lahir. Setelah itu, vaksin dilakukan pada bayi berusia 2,3, dan 4 bulan.

Pada usia 18 bulan, imunisasi polio lanjutan bisa anak dapatkan untuk mendapat kekebalan tubuh yang sempurna.

9. Rotavirus

Imunisasi rotavirus berfungsi untuk mencegah anak terkena penyakit infeksi karena rotavirus, seperti sakit diare.

Ada terdapat dua jenis vaksin untuk rotavirus yang dianggap penting.

Pertama adalah vaksin rotavirus monovalen, yang terdiri dari satu jenis virus dengan pemberian dua kali.

Pemberian vaksin rotavirus ini yaitu pada usia bayi 6-14 minggu dan 4 minggu setelah pemberian pertama.

Sementara itu, vaksin rotavirus pentavalen yang terdiri dari beberapa jenis virus pemberian dilakukan tiga kali. Ini pada usia 2,4, dan 6 bulan.

Baca Juga : Si Kecil Mau Disuntik Vaksin? Cek Dulu 5 Tips Berikut Ini!

10. Varisela

Bayi Disuntik Vaksin

Foto: Bayi Disuntik Vaksin (Freepik.com/freepik)

Untuk mencegah penyakit cacar air, anak perlu mendapatkan vaksin varisela sesuai jadwal dari IDAI.

Jadwal imunisasi varisela ini diberikan setelah anak berusia 1 tahun.

Berdasarkan catatan dari Center for Disease Control and Prevention (CDC), vaksin varisela bisa memberikan perlindungan sebesar 90-97% selama 7-10 tahun.

Jika anak pernah mendapatkan vaksin varisela, kemungkinan terkena cacar air semakin kecil.

"Apabila terinfeksi, anak hanya merasakan gejala ringan yang tidak mengganggu," tambah dr. Matheus.

11. Hepatitis A

Imunisasi lanjutan 2022 yang perlu anak dapatkan adalah hepatitis A. Ini guna mencegah infeksi virus hepatitis lewat makanan dan feses penderitanya.

Anak menerima imunisasi hepatitis A sebanyak 2 kali dengan jeda 6-12 bulan setelah suntikan pertama.

Memang bersifat tidak wajib, tapi ini merupakan jadwal imunisasi IDAI yang bisa diikuti.

Pemberian pertama kali adalah saat anak berusia 2 tahun, ya.

Baca Juga: Apa Istilah Catch Up Imunisasi? Yuk Cari Tahu, Moms!

12. Tifoid

Imunisasi tifoid berfungsi untuk mencegah infeksi bakteri salmonella typhii, yakni penyebab penyakit tifus.

Anak akan menerima vaksin tifoid pertama kali saat ia berusia 2 tahun. Imunisasi tifoid lanjutan bisa anak dapatkan setiap 3 tahun sekali.

Jadwal imunisasi IDAI ini bisa melindungi anak dari tifus sekitar 50-80%. Karenanya, orang tua tetap harus menjaga pola makan anak agar tidak tertular penyakit ini.

13. Japanese encephalitis (JE)

Imunisasi Anak

Foto: Imunisasi Anak (Freepik.com/freepik)

Penularan penyakit lewat nyamuk tidak hanya pada demam berdarah, tetapi juga penyakit japanese encephalitis (JE).

Seperti namanya, penyakit ini pertama kali hadir di Jepang pada tahun 1871 dengan sebutan summer encephalitis.

Tergolong jadwal imunisasi Kemenkes, ini bisa didapatkan saat berusia 12 bulan. Sementara itu, imunisasi JE lanjutan pada rentang waktu 1–2 tahun berikutnya.

Apabila anak terlewat vaksinasi hingga 2 tahun lamanya, tidak perlu mengulang vaksin. Ini bisa langsung diberikan dosis vaksin yang tertinggal.

Beri jeda kurang lebih 1 bulan antar vaksin untuk mengejar ketertinggalan ya, Moms.

Baca Juga: 11 Layanan Imunisasi Anak di Rumah, Mudah dan Aman!

14. Dengue (DBD)

Ini termasuk jenis imunisasi anak yang tergolong lanjutan atau pendukung. Digunakan untuk mencegah penyakit demam berdarah pada anak.

Vaksin dengue diberikan pada anak SD hingga usia remaja, yaitu umur 9–16 tahun dengan seropositif dengue.

Artinya, telah dibuktikan adanya riwayat pernah dirawat dengan diagnosis dengue.

Ini perlu melakukan pemeriksaan antigen NS-1 dan atau uji serologis IgM/IgG antidengue positif.

Alternatifnya, Si Kecil bisa ikuti pemeriksaan serologi IgG anti dengue positif.

Efek Samping Imunisasi

Anak Demam

Foto: Anak Demam (Freepik.com/peoplecreations)

Sejumlah jenis imunisasi dasar maupun lanjutan menurut IDAI, terkadang memicu efek samping ringan.

Efek samping imunisasi menurut Kemenkes ini tergolong ringan, meliputi:

Hal itu adalah reaksi yang umum dan dinamakan dengan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI).

Umumnya, KIPI akan hilang dalam 3-4 hari meski kadang bisa berlangsung lebih lama.

Selama anak mengalami KIPI, Moms bisa memberi obat penurun panas tiap 4 jam, kompres air hangat, dan lengkapi dengan susu.

"Efek samping aneka jenis imunisasi ini biasanya tidak sampai mengakibatkan penyakit berat, apalagi kelumpuhan serta kematian," jelas dr. Matheus.

Terlepas itu, jangan ragu untuk menanyakan pada dokter mengenai jenis imunisasi apa yang harus didapatkan oleh Si Kecil.

Perhatikan baik-baik jadwal dan jadwal imunisasi Si Kecil dan jangan sampai ada yang terlewat!

  • https://www.idai.or.id/tentang-idai/pernyataan-idai/jadwal-imunisasi-idai-2020
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2083746/
  • https://www.bmj.com/content/349/bmj.g5434
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3662362/#R1
  • https://www.who.int/immunization_standards/vaccine_quality/qa_production_control_pq_11july2012.pdf