22 Februari 2022

Mengenal Kolera, Diare Parah yang Dapat Berakibat Fatal

Kolera pernah menjadi wabah penyakit di Indonesia

Penyakit kolera pernah menjadi wabah di Indonesia, tepatnya di tahun 2008.

Saat itu, diberitakan adanya kematian warga Papua sebanyak 172 jiwa.

Hal ini tercatat sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) di tahun itu.

Sebelumnya, wabah penyakit ini pernah menyerang dunia pada tahun 1920 di India.

Memangnya, seperti apa penyakit kolera?

Yuk, simak lebih lanjut untuk mengenali penyakit ini lebih dalam.

Apa Itu Kolera?

4 Cara Mengatasi Diare dengan Bahan Alami
Foto: 4 Cara Mengatasi Diare dengan Bahan Alami

Foto: Orami Photo Stock

Kolera adalah penyakit diare akut yang terjadi akibat infeksi usus oleh bakteriVibrio cholerae.

Biasanya, orang yang terinfeksi bakteri ini lewat makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri kolera.

Infeksinya bisa saja ringan, bahkan tanpa gejala.

Akan tetapi, bisa juga lebih parah dan mengancam jiwa.

Kabar baiknya, penyakit ini mudah diobati sehingga bila ditangani dengan cepat bisa sembuh dengan cepat.

Baca Juga: Diare pada Bayi: Ketahui Gejala, Penyebab dan Cara Mengatasinya di Sini!

Apa Tanda dan Gejala Kolera?

Diare Selama Kehamilan, Apa yang Harus Moms Lakukan.jpg
Foto: Diare Selama Kehamilan, Apa yang Harus Moms Lakukan.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Kebanyakan orang yang terinfeksi bakteri Vibrio cholerae tidak menjadi sakit, sehingga mereka tidak tahu bahwa mereka telah terinfeksi.

Walaupun tidak menimbulkan gejala, bakteri yang ada di dalam tubuh dapat keluar lewat feses selama 7 sampai 14 hari.

Bakteri juga ada di air liur orang yang terinfeksi.

Sebagian besar kasus penyakit ini menimbulkan gejala berupa diare ringan atau sedang yang sering kali sulit dibedakan dari diare yang disebabkan oleh masalah kesehatan lain.

Namun, sebagian yang lain bisa merasakan gejala yang lebih serius dalam beberapa hari setelah terinfeksi.

Lebih jelasnya, gejala kolera yang bisa saja menyerang, antara lain:

Diare

Diare yang terjadi secara mendadak dan dapat dengan cepat menyebabkan tubuh kehilangan cairan (dehidrasi).

Kondisi ini menyebabkan tubuh kehilangan sekitar 1 liter cairan tubuh per jam.

Feses yang keluar saar diare sering kali tampak pucat seperti susu.

Baca Juga: Hati-Hati, Ini Dia 7 Makanan Penyebab Diare

Mual dan Muntah

Ada alasan kenapa penyakit kolera bisa menyebabkan dehidrasi parah yang berbahaya, yakni disertai mual dan muntah.

Ini karena cairan tubuh juga dikeluarkan lewat muntahan.

Gejala awal ini dapat berlangsung selama beberapa jam.

Dehidrasi dan Ketidakseimbangan Elektrolit

Bila sudah menyebabkan dehidrasi, biasanya seseorang akan menunjukkan gejala sebagai berikut.

Dehidrasi menyebabkan hilangnya mineral di dalam darah dengan cepat sehingga keseimbangan elektrolit jadi terganggu.

Bila mengalami kondisi ini, biasanya terjadi kram pada otot akibat natrium, kloria, dan kalium yang menurun kadarnya.

Pada kasus yang lebih serius, bisa menyebabkan syok hipovolemik yang dapat berujung kematian dalam hitungan menit.

Baca Juga: Lap Dapur Bisa Jadi Sarang Bakteri Penyebab Keracunan Makanan, Waspada!

Apa Penyebab Kolera?

bakteri listeria.jpg
Foto: bakteri listeria.jpg (Orami Photo Stocks)

Foto: Orami Photo Stock

Penyebab utama dari penyakit infeksi pada usus ini adalah bakteri Vibrio cholerae.

Jadi, ketika bakteri ini masuk ke tubuh, akan ada racun yang dihasilkan.

Racunnya menyebabkan tubuh mengeluarkan sejumlah besar air, sehingga menyebabkan diare dan kehilangan cairan tubuh serta elektrolit dalam waktu cepat.

Namun, bakteri ini tidak menyebabkan penyakit pada semua orang yang terpapar.

Hanya saja bisa menginfeksi orang sehat lewat feses yang mungkin mencemari persediaan air dan makanan.

Berikut ini lebih jelas minuman dan makanan apa saja yang bia tercemar oleh bakteri penyebab penyakit kolera.

  • Air sumur di area yang kebersihannya minim.
  • Makanan laut atau makanan setengah matang, seperti kerang sering kali terkontaminasi bakteri.
  • Buah dan sayur yang tidak dicuci dengan benar atau tidak dikupas dengan bersih juga bisa terkontaminasi.
  • Biji-bijian yang disimpan pada tempat yang tidak bersih juga bisa terkontaminasi bakteri.

Kolera bisa menyerang siapa saja, akan tetapi kelompok orang dengan faktor tertentu lebih berisiko mengalaminya, seperti:

  • Lingkungan tempat tinggal yang tidak bersih, terutama pasokan air yang kurang terjamin kebersihannya.
  • Memiliki kadar asam lambung yang rendah, sehingga bakteri dapat bertahan dan berkembang biak.
  • Suka mengonsumsi makanan mentah.
  • Tinggal dengan orang yang terinfeksi kolera, seperti anggota keluarga.

Baca Juga: Penisilin, Antibiotik untuk Berbagai Macam Infeksi Bakteri

Bagaimana Mengobati Penyakit Kolera?

minum obat
Foto: minum obat (Shutterstock.com)

Foto: Orami Photo Stock

Penyakit ini jika semakin bertambah parah bisa menyebabkan komplikasi.

Dalam kasus yang ekstrem, penyakit ini bisa meyebabkan kematian dalam beberapa jam.

Namun, pada situasi tertentu komplikasi fatal bisa berkembang dalam beberapa hari setelah gejala pertama kali muncul.

Komplikasi yang biasanya terjadi akibat gejala yang bertambah parah, di antaranya:

  • Hipoglikemia (gula darah rendah) yang bisa menyebabkan kejang, hilang kesadaran, dan kematian.
  • Kadar kalium rendah yang mengganggu fungsi jantung dan saraf sehingga mengancam jiwa.
  • Gagal ginjal sehingga bisa mengganggu keseimbangan elektrolit di dalam tubuh dan menyerang jantung dan saraf.

Agar komplikasi tidak terjadi, orang yang terkena kolera perlu menjalani pengobatan, seperti:

Rehidrasi

Tujuan pengobatan penyakit diare dan muntah ini adalah untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang menggunakan larutan rehidrasi sederhana, yakni garam rehidrasi oral (ORS).

Larutan oralit tersedia dalam bentuk bubuk yang dapat dicampurkan dengan air minum.

Baca Juga: Bayi Mencret, Kenali Gejala hingga Cara Mengatasinya untuk Cegah Si Kecil Dehidrasi

Cairan Infus

Kebanyakan penderita kolera dibantu dengan rehidrasi oral.

Akan tetapi, orang yang mengalami dehidrasi parah mungkin juga membutuhkan cairan infus.

Pemberian cairan infus juga membantu pasien yang susah makan, karena terus mengalami mual dan muntah.

Antibiotik

Meskipun bukan bagian penting dari pengobatan kolera, beberapa antibiotik mampu mengurangi diare terkait infeksi bakteri dan mempersingkat durasi gejala yang parah.

Suplemen Zinc

Penambahan suplemen berdasarkan penelitian menurut situs Mayo Clinic, dapat meredakan diare dan mempersingkat durasi gejala pada anak-anak.

Pilihan pengobatan disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit.

Bisa jadi, bisa dilakukan rawat jalan, atau direkomendasikan untuk opname oleh dokter.

Tidak hanya dengan perawatan dokter, pengobatan rumahan yang berkaitan dengan perubahan gaya hidup perlu diterapkan.

Kemudian, selama masa pemulihan orang yang sakit harus mengutamakan kebersihan diri, seperti mencuci tangan sebelum makan dan setelah ke toilet.

Bila air tidak tersedia, boleh menggunakan hand sanitizer.

Sebaiknya juga tidak makan jajanan kaki lima, tapi memasak sendiri.

Saat memasak, cuci bahan makanan hingga bersih dengan air mengalir.

Kupas bagian kulit luar jika perlu, seperti kentang atau wortel.

Oleh makanan hingga matang, apalagi untuk sayur, telur, dan daging-dagingan.

Perbanyak minum air putih, jus, atau air kelapa untuk merehidrasi tubuh.

Sangat penting untuk beristirahat cukup, sehingg jangan dulu beraktivitas sampai tubuh benar-benar pulih.

  • https://www.cdc.gov/cholera/illness.html
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cholera/symptoms-causes/syc-20355287
  • https://www.nhs.uk/conditions/cholera/
  • https://pusatkrisis.kemkes.go.id/mengenal-wabah-kolera

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.