16 Agustus 2022

Cari Tahu Soal Rahim Pendek, dari Tanda hingga Terapinya

Ini dia penjelasan lengkapnya, Moms

Beberapa wanita memiliki rahim pendek, yaitu hanya 2,5 cm atau bahkan kurang dari itu. Kondisi ini juga dikenal dengan nama hipoplasia uteri.

Gangguan reproduksi ini jarang disadari pada awalnya dan umumnya baru terdeteksi ketika hamil.

Ukuran rahim yang pendek membuat wanita khawatir adanya dampak buruk yang ditimbulkan.

Tidak hanya mengganggu dan berisiko ketika Moms hendak program hamil, rahim pendek juga bisa menyebabkan keguguran.

Berikut adalah informasi seputar rahim pendek yang wajib Moms ketahui. Disimak, ya!

Baca Juga: Infeksi Puerperalis, Infeksi Bakteri di Rahim setelah Melahirkan

Tanda Rahim Pendek

bumil
Foto: bumil (Familyeducation.com)

Foto: Ibu Hamil (Orami Photo Stocks)

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, sering kali Moms tidak mengalami tanda atau gejala dari rahim pendek.

Pada kebanyakan kasus, berikut gejala dan tanda yang perlu Moms waspadai dilansir dari jurnal Obstetrics & Gynecology Journal:

  • Panggul terasa pegal karena tekanan besar
  • Sakit punggung
  • Kram perut ringan
  • Perubahan pada warna keputihan (bisa berwarna putih, kuning, atau kecokelatan)
  • Keluar bercak darah dari vagina selama beberapa hari

Gejala ini biasanya terjadi dan bisa dirasakan beberapa Moms di antara usia kehamilan masuk ke minggu 14-20.

Namun, setiap ibu hamil punya kondisi yang berbeda sehingga gejala yang muncul mungkin berbeda pula.

Maka, bila merasakan salah satu atau lebih dari beberapa gangguan di atas, jangan segan untuk segera konsultasi ke dokter kandungan, ya Moms.

Baca Juga: Rahasia tetap Aman dan Sehat Babymoon di Trisemester Akhir Kehamilan

Penyebab Rahim Pendek

Ketahui Mengenai Tumor Rahim Saat Hamil 2.jpg
Foto: Ketahui Mengenai Tumor Rahim Saat Hamil 2.jpg (https://patientpop.com/)

Foto: Kehamilan (Orami Photo Stocks)

Sebelum kehamilan, leher rahim biasanya tertutup dan kaku. Sedangkan, selama kehamilan leher rahim akan mengalami banyak perubahan.

Leher rahim akan melembut secara bertahap, memendek, dan mulai terbuka seiring dengan pertumbuhan janin Moms dalam kandungan.

Jika panjang rahim makin memendek, tandanya bayi akan lahir.

Namun, jika kejadian ini berlangsung lebih cepat dari normal, maka Moms bisa melahirkan prematur. Hal ini mungkin bisa terjadi berbeda-beda antar ibu hamil.

Berbagai faktor bisa memengaruhi dan jadi penyebab leher pendek, seperti:

  • Perbedaan biologis antar ibu hamil
  • Rahim yang meregang terlalu besar (overdistensi)
  • Komplikasi yang disebabkan perdarahan selama kehamilan
  • Infeksi
  • Radang selaput rahim
  • Inkompetensi serviks, terjadi ketika jaringan serviks melemah

Baca Juga: Gejala dan Penyebab Solusio Plasenta, Putusnya Plasenta dari Dinding Rahim saat Hamil

Risiko Rahim Pendek pada Kehamilan

Ibu hamil tekanan darah tinggi.jpeg
Foto: Ibu hamil tekanan darah tinggi.jpeg (whattoexpect.com)

Foto: Pemeriksaan saat Hamil (Orami Photo Stocks)

Ketika leher rahim pendek, maka Moms akan rentan terhadap pelebaran, serta tidak dapat memberikan perlindungan secara optimal pada janin dan kehamilan.

Memiliki rahim pendek meningkatkan risiko keguguran, persalinan prematur, dan persalinan dini.

Melansir laporan Society for Maternal-Fetal Medicine, leher rahim pendek meningkatkan risiko persalinan prematur 6 kali lipat pada wanita hamil dengan satu janin.

Sementara, risikonya menjadi berlipat ganda menjadi 8 kali lipat pada wanita hamil kembar.

Sementara banyak faktor dapat menyebabkan kelahiran prematur.

Para peneliti secara konsisten menemukan korelasi yang jelas antara memiliki rahim pendek dan melahirkan prematur.

Salah satunya dalam Society for Maternal Fetal Medicine, menunjukkan bahwa kondisi tersebut menyumbang 86% kasus persalinan prematur sebelum 28 minggu dan 58% kasus persalinan prematur sebelum 32 minggu.

Selain itu, ibu hamil dengan rahim pendek justru tidak akan dianjurkan berhubungan seksual selama hamil.

Sebab bisa semakin memperbesar risikonya mengalami keguguran dan persalinan prematur.

Maka saat program hamil, Moms disarankan untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh termasuk pada panjang leher rahim.

Untuk mengetahui panjang rahim, Moms disarankan untuk melakukan scan serviks yang biasanya dilakukan pada usia kehamilan sekitar 20 minggu.

Hal ini perlu Moms lakukan, terutama jika pernah mengalami beberapa kondisi seperti:

  • Keguguran pada kehamilan sebelumnya
  • Bayi prematur pada kehamilan sebelumnya
  • Moms pernah menjalani operasi serviks

Baca Juga: Ini Pentingnya Cek Rutin Ginekologi ke Dokter Kandungan, Bisa Cegah Kanker Serviks

Apa Langkah yang Harus Dilakukan Bumil Setelah Didiagnosis Rahim Pendek?

bumil
Foto: bumil (www.parents.com)

Foto: Ibu Hamil (Orami Photo Stocks)

Diagnosis rahim pendek dilakukan melalui pemeriksaan dan USG (ultrasonografi) serviks pada kehamilan trimester kedua.

Lalu, Moms akan dipasang cerclage (penjahitan pada serviks untuk menutup sementara) pada usia kehamilan 14-16 minggu.

Serokat (salah satu teknik cerclage) akan dilepas kira-kira 2 minggu sebelum persalinan (minggu ke-36 sampai ke-38).

Persalinan dapat dilakukan secara normal selama tidak ada indikasi yang menghalangi janin lahir dan panggul ibu proporsional.

Untuk kehamilan berikutnya, kemungkinan prosedur cerclage dilakukan kembali, dengan evaluasi sebelumnya, perlu atau tidak dilakukan pada usia kehamilan 14-16 minggu.

Jika Moms didiagnosa dengan rahim pendek, ini bukanlah sebuah halangan untuk bisa hamil.

Namun, tips berikut ini bisa memperlancar proses pembuahan sehingga Moms bisa hamil dengan lebih nyaman dan tentu saja aman.

1. Terapi Hormonal

Dokter akan memberikan rekomendasi untuk menjalani stimulasi hormonal guna meningkatkan kemungkinan pembuahan dalam rahim.

Sebelum memberikan terapi ini dokter akan menjalankan beberapa tes untuk memastikan kondisi hormonal Moms.

Mengutip Mayo Clinic, terapi ini biasa diberikan pada wanita yang mengalami masalah rahim karena ketidakseimbangan hormon dalam tubuh.

2. Menambah Asupan Vitamin

Untuk meningkatkan potensi pembuahan pada rahim pendek, Moms bisa menambahkan asupan vitamin dan mineral dalam tubuh.

Jika Moms merupakan penderita hipoplasia uteri dan sedang dalam kondisi hamil, terapi vitamin menjadi salah satu cara tepat untuk menjaga kesehatan janin.

Meski begitu, sebaiknya konsultasikan hal ini terlebih dulu dengan dokter kandungan untuk mendapatkan rekomendasi yang tepat.

Baca Juga: Vitamin B6 untuk Ibu Hamil, Ketahui Manfaat, Dosis, dan Sumber Alaminya

Itu dia Moms informasi seputar rahim pendek. Jangan lupa untuk memeriksakan kandungan secara rutin ke dokter, ya!

  • https://www.marchofdimes.org/complications/cervical-insufficiency-and-short-cervix.aspx#
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/short-cervix#pregnancy
  • https://www.ajog.org/article/S0002-9378(16)30112-0/pdf
  • https://www.ajog.org/article/S0002-9378(16)30112-0/pdf
  • https://www.verywellfamily.com/short-cervix-and-preterm-birth-2748471
  • https://www.healthline.com/health/pregnancy/short-cervix
  • https://clinicaltrials.gov/ct2/show/NCT03979196
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2709324/
  • https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/pregnancy-week-by-week/expert-answers/cervical-length/faq-20058357

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.