19 Februari 2023

Bayi Makan Telur Setengah Matang, Amankah? Ini Jawabannya!

Hati-hati, bisa sebabkan keracunan makanan pada bayi

Bagaimana Cara Aman Memberikan Telur untuk Bayi?

Bayi Makan Telur Setengah Matang
Foto: Bayi Makan Telur Setengah Matang (Freepik.com)

Moms bisa mulai memberikan Si Kecil kuning telur ketika usianya 8 bulan. Sementara itu, putih telur hanya diperbolehkan ketika anak sudah memasuki usia 12 bulan.

Namun, beberapa orang tua memutuskan untuk memberikan telur sejak usia 6 bulan.

Hal ini karena anggapan bahwa semakin dini memperkenalkan anak pada telur, risiko untuk mengalami alergi makanan semakin kecil.

Akan tetapi, anggapan tersebut belum tentu benar sepenuhnya. Jadi, alangkah lebih baik bagi Moms untuk melakukan konsultasi dahulu dengan dokter anak tentang kapan waktu yang tepat dalam memberi makan telur kepada bayi.

Lantas, bagaimana ya, cara yang aman dalam memberikan telur pada Si Kecil?

Sebagaimana dikutip dari Healthline, cara yang aman dalam menyajikan telur untuk bayi adalah dengan mencuci tangan terlebih dahulu sebelum dan sesudah bersentuhan dengan telur mentah.

Selain itu, bagian putih dan kuning telur juga harus dimasak sampai benar-benar matang.

Simpan telur dalam kulkas segera setelah dibeli dan gunakan dalam waktu maksimal 3 minggu setelah pembelian.

Setiap hidangan yang mengandung telur juga harus dimasak dengan suhu 160 derajat Fahrenheit atau dibuat menggunakan telur yang dipasteurisasi.

Pasteurisasi merupakan salah satu cara yang sering dilakukan untuk mencegah kemungkinan kontaminasi salmonella.

Proses ini menggunakan perlakuan pemanasan untuk mengurangi jumlah bakteri dan mikroorganisme lain dalam makanan.

Baca Juga: 5 Resep Gyeran Jjim, Telur Kukus ala Korea yang Bisa Jadi Sarapan Sehat Anak

Pemberian Telur dan Reaksi Alergi pada Bayi

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dokter anak merekomendasikan agar orang tua menunggu memberikan putih telur pada bayi sampai setelah mereka berusia 12 bulan.

Hal tersebut dikarenakan sekitar 2% bayi di bawah 1 tahun cenderung memiliki alergi terhadap telur.

Kuning telur tidak mengandung protein yang terkait dengan reaksi alergi. Namun, putih telur mengandung protein yang berpotensi menghasilkan reaksi alergi, mulai dari ringan hingga parah.

Jika bayi alergi terhadap protein ini, mereka mungkin menunjukkan berbagai gejala khas. Reaksi alergi dapat mempengaruhi kulit, atau sistem pencernaan, pernapasan, atau kardiovaskular. Gejalanya dapat meliputi:

Tingkat keparahan gejala mungkin tergantung pada sistem kekebalan anak dan jumlah telur yang dikonsumsi. Dalam kasus yang jarang terjadi, bayi mungkin mengalami reaksi yang lebih serius yang disebut anafilaksis.

Gejala anafilaksis termasuk masalah pernapasan dan penurunan tekanan darah. Anafilaksis adalah keadaan darurat medis yang membutuhkan bantuan medis segera.

Dahulu para peneliti percaya bahwa memberikan telur untuk bayi terlalu dini dapat memicu reaksi alergi.

Tetapi, sebuah penelitian pada 2010 yang dilakukan terhadap hampir 2.600 bayi menemukan bahwa yang terjadi adalah sebaliknya.

Menurut penelitian tersebut dalam The Journal of Allergy and Clinical Immunology, bayi yang mengonsumsi telur setelah berusia 1 tahun sebenarnya lebih mungkin mengembangkan alergi telur dibandingkan dengan bayi-bayi yang diperkenalkan dengan telur pada usia 4-6 bulan.

Baca Juga: 5 Resep MPASI Telur Puyuh untuk Anak, Enak Dibuat Sup, Moms!

Telur memang bagus dimasak sebagai MPASI bayi ya, Moms.

Namun, para ahli dan dokter anak menganjurkan agar Moms tidak membiarkan bayi makan telur setengah matang karena tak aman dan dapat menyebabkan keracunan makanan akibat bakteri salmonella.

Apakah Moms punya resep rahasia dalam menyajikan MPASI telur?

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4377917/
  • https://www.jacionline.org/article/S0091-6749(10)01173-5/fulltext
  • https://parenting.firstcry.com/articles/egg-for-baby-benefits-and-recipes/
  • https://www.healthline.com/health/parenting/when-can-a-baby-eat-eggs
  • https://www.healthline.com/nutrition/eating-raw-eggs

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.

rbb