12 Februari 2023

Fistula Ani: Pengertian, Gejala, Penyebab, dan Cara Obati

Fistula ani terbentuk dari saluran anus akibat penumpukan nanah.

Fistula ani kondisi tumbuhnya saluran abnormal di dalam anus dan kulit luar di sekitar anus.

Kondisi ini bisa bermula dari infeksi yang memburuk kemudian membentuk benjolan nanah atau abses.

Saluran tersebut bisa terbentuk dari saluran anus ke vagina atau saluran kemih akibat infeksi.

Ketika infeksi yang dialami tidak sepenuhnya diobati, kondisi tersebut berisiko memicu gumpalan nanah (abses) di jaringan sekitarnya.

Fistula ani menyebabkan iritasi kulit parah yang tidak dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga operasi diperlukan.

Baca juga: Mengenal Abses Perianal pada Anus, Berikut Gejala dan Cara Mengatasinya

Apa Itu Fistula Ani?

Ilustrasi Sakit Bokong
Foto: Ilustrasi Sakit Bokong

Kondisi ini juga dijelaskan langsung oleh dr. Daniel Ardian Soeselo, Sp.B Dokter Spesialis Bedah Umum RS Pondok Indah – Puri Indah.

"Fistula ani merupakan kondisi munculnya sebuah saluran yang menghubungkan ujung saluran cerna bagian dalam dengan kulit luar.

Biasanya hal ini terjadi akibat adanya infeksi pada kelenjar di sekitar lubang anus yang memicu terjadinya bisul dan menjadi fistula," jelas dr. Daniel Ardian.

Jadi, awal mula terjadinya kondisi ini bermula dari abses yang berada di dekat anus yang memburuk.

Kemudian abses yang berisi nanah ini akan mencari jalaur untuk keluar dari tubuh dan membentuk saluran baru di anus.

Nah, saat itulah fistula ani terjadi. Sejauh ini Moms sudah paham kan mengenai kondisi ini?

Baca juga: 8 Penyebab Anus Gatal pada Anak, Bukan Hanya Cacingan!

Gejala Fistula Ani

Ilustrasi Fistula Ani
Foto: Ilustrasi Fistula Ani (everydayhealth.com)

Sejumlah gejala fistula ani muncul ketika terjadi pada infeksi yang biasanya dimulai dari kelenjar anak.

Infeksi tersebut memicu terbentuknya nanah yang mengalir secara spontan, dan baru akan berhenti setelah prosedur pembedahan.

Ketika kondisi tersebut dialami, akan muncul sejumlah gejala, seperti:

  • Iritasi kulit di sekitar anus.
  • Rasa sakit terus-menerus dan berdenyut, yang semakin parah ketika duduk, bergerak, buang air besar, atau batuk.
  • Keluarnya bau tidak sedap dari dekat anus.
  • Mengeluarkan nanah atau darah saat buang air besar.
  • Pembengkakan dan kemerahan di sekitar anus.
  • Abses di dalam saluran tersebut akan memicu peningkatan suhu tubuh atau demam.
  • Kesulitan mengendalikan buang air besar (inkontinensia usus).

Jika dilihat dengan mata telanjang, maka ujung fistula terlihat sebagai lubang di kulit area dekat anus.

Oleh karena itu, Moms disarankan untuk segera menemui dokter ketika mengalami sejumlah gejala seperti yang telah disebutkan.

Apalagi jika gejala tersebut persisten dan semakin bertambah parah seiring dengan berjalannya waktu.

Baca juga: Mengenal Abses Perianal, Adanya Nanah pada Anus, Berikut Ini Gejala dan Cara Mengatasinya

Kenali Penyebab yang Mendasari

Ilustrasi Sakit Perut
Foto: Ilustrasi Sakit Perut (Orami Photo Stock)

Sebagian besar kasus fistula ani berkembang setelah nanah terbentuk. Penyebabnya meliputi:

  • Penyakit Crohn, yaitu penyakit kronis yang menyebabkan sistem pencernaan menjadi meradang.
  • Divertikulitis, yaitu penyakit yang terjadi pada divertikula atau kantung-kantung yang terbentuk di sepanjang saluran pencernaan.
  • Hidradenitis suppurativa, yaitu kelainan kulit yang dialami jangka panjang, sehingga menyebabkan abses dan jaringan parut.
  • Infeksi tuberkulosis (TB), yaitu penyakit yang menyerang organ paru-paru dan disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis.
  • HIV, yaitu kondisi ketika sistem kekebalan tubuh rusak akibat virus yang menginfeksi dan menghancurkan sel CD4.
  • Fistula ani juga bisa disebabkan akibat komplikasi operasi di dekat anus.

Moms disarankan untuk menjauhi sejumlah penyebab dengan menerapkan pola hidup sehat sedari dini.

Baca juga: Mengenal Radang Usus, Cari Tahu Penyebab, Gejala, hingga Cara Mengatasinya

Faktor Risiko Fistula Ani

Ilustrasi Anus
Foto: Ilustrasi Anus

Semua penyakit tentu memiliki risiko, ya Moms. Nah, berikut beberapa faktor risiko dari kondisi ini.

  • Mengalami abses anus
  • Penyakit Crohn atau penyakit radang usus lainnya
  • Trauma atau cedera pada area anus
  • Infeksi pada daerah anus
  • Pasca pembedahan atau radiasi untuk pengobatan kanker anus

Fistula anal paling sering terjadi pada orang dewasa sekitar usia 40 tahun, tapi bsia juga terjadi pada orang yang lebih muda, terutama jika ada riwayat penyakit Crohn.

Fistula anal lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan.

Bagaimana Fistula Ani Didiagnosis?

Ilustrasi MRI
Foto: Ilustrasi MRI (Orami Photo Stock)

Langkah pertama mendiagnosis fistula ani biasanya dilakukan dengan memeriksa area di sekitar anus.

Dokter akan mencari saluran fistula pada kulit, kemudian menentukan seberapa dalam saluran dan arah saluran tersebut.

Langkah tersebut parenting untuk mengetahui jalur saluran untuk menentukan pengobatan yang efektif.

Dalam kebanyakan kasus, dokter melakukan drainase dari bukaan eksternal.

Pembukaan saluran di kulit ini dapat dilakukan di area yang meradang, kemudian nanah dikeluarkan dari area tersebut.

Pembukaan eksternal ini biasanya dilakukan jika fistula ani mudah dideteksi.

Jika fistula ani tidak tampak di permukaan kulit, dokter akan melakukan beberapa prosedur lanjutan.

Dilansir dari Cleveland Clinic, berikut ini prosedur lanjutan yang dilakukan dokter ketika fistula ani tidak tampak di permukaan kulit:

  • MRI digunakan untuk memetakan saluran dan memberikan gambar rinci dari otot sfingter dan struktur lain dari dasar panggul.
  • Ultrasonografi endoskopi digunakan untuk mengidentifikasi fistula, otot sfingter, dan jaringan di sekitarnya.
  • Fistulografi atau rontgen fistula, yang dilakukan setelah larutan kontras disuntikkan.

Pada kondisi tertentu, dokter akan melakukan sejumlah prosedur tambahan, meliputi:

  • Fistula probe, yaitu pemeriksaan yang dilakukan dengan alat dan pewarna khusus. Tujuannya untuk mengetahui lokasi saluran fistula dan abses.
  • Anoskopi, yaitu prosedur yang dilakukan dengan endoskop kecil untuk melihat saluran anus.
  • Sigmoidoskopi, yaitu prosedur yang bertujuan untuk memeriksa bagian ujung usus besar untuk menyingkirkan kelainan lain seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn.
  • Penyuntikan zat pewarna untuk membantu menemukan lubang fistula.

Ketika penyakit sudah didiagnosis secara pasti, dokter kemudian melakukan langkah perawatan sesuai dengan kondisi pengidap.

Penanganannya pun akan disesuaikan dengan seberapa parah penyakit, serta kondisi kesehatan pengidap secara keseluruhan.

Baca juga: Kanker Usus Besar: Gejala, Pengobatan, dan Informasi Penting Lainnya

Terapi Pengobatan Fistula Ani Menurut Dokter

Fistula ani yang tertutup dapat menjadi bisul.

"Terapi pengobatan fistula ani dilakukan dengan tindakan operasi jika pasien sudah merasa risih atau tidak nyaman," jelas dr. Daniel Ardian.

Tindakan operasi dapat dilakukan dengan metode bedah konvensional atau metode Fistula-tract Laser Closure (FiLaC).

FiLaC merupakan tindakan operasi laser untuk menutup fistula ani dengan sempurna tanpa merusak jaringan dan otot di sekitarnya.

Dengan laser, diharapkan penutupan dari fistula dapat sempurna dan mengurangi kekambuhan.

Perawatan yang Dilakukan pada Pengidap Fistula Ani

Ilustrasi Fistula Ani
Foto: Ilustrasi Fistula Ani (fascrs.org)

Perawatan fistula ani tergantung pada lokasi dan kompleksitas fistula.

Tujuannya adalah memperbaiki fistula anal sepenuhnya untuk mencegah kekambuhan dan untuk melindungi otot-otot sfingter.

Pasalnya, kerusakan pada otot-otot tersebut dapat menyebabkan inkontinensia tinja.

Berikut ini beberapa pilihan pengobatan yang dilakukan:

1. Fistulotomi

Dilansir dari Mayo Clinic, fistulotomi dilakukan oleh ahli dengan dengan memotong lubang internal fistula, mengikis dan membuang jaringan yang terinfeksi.

Kemudian, dokter akan meratakan saluran dan menjahitnya di area yang terkena.

Untuk mengobati kasus yang lebih parah, ahli bedah mungkin perlu mengangkat beberapa saluran.

Prosedur ini akan dilakukan dalam dua tahap jika sejumlah otot sfingter harus dipotong atau jika saluran tidak dapat ditemukan.

2. Flap Rektal Lanjutan

Prosedur ini dilakukan ahli bedah dengan membuat penutup dari dinding rektum. Flap kemudian digunakan untuk menutupi jaringan yang rusak.

Prosedur ini dapat mengurangi jumlah otot sfingter yang dipotong.

Baca juga: 25 Makanan untuk Penderita Radang Usus Buntu dan Radang Usus Besar

3. Penempatan Seton

Prosedur penempatan seton dilakukan dengan menempatkan benang sutra atau lateks (seton) ke dalam fistula untuk membantu mempercepat proses pengeringan infeksi.

4. Lem Fibrin

Ketika ahli bedah selesai membersihkan saluran dan menjahit untuk menutup, lem ini akan disuntikkan melalui lubang luar fistula.

5. Ligasi Saluran Fistula Intersphincteric (LIFT).

LIFT adalah perawatan dua tahap yang dilakukan dalam kasus fistula yang lebih kompleks.

LIFT memungkinkan ahli bedah untuk mengakses fistula antara otot sfingter dan menghindari pemotongan.

Sebuah seton pertama ditempatkan ke dalam saluran fistula, memaksanya untuk melebar dari waktu ke waktu.

Beberapa minggu kemudian, ahli bedah mengangkat jaringan yang terinfeksi dan menutup lubang fistula internal.

Dalam kasus fistula kompleks, prosedur yang lebih invasif akan direkomendasikan, termasuk:

  • Ostomi dan stoma. Prosedur ini dilakukan dengan membuat lubang sementara di perut untuk mengalihkan limbah ke dalam kantong penampung, agar area anus lekas membaik.
  • Tutup otot. Pada fistula ani yang sangat kompleks, saluran tersebut dapat diisi dengan jaringan otot yang sehat dari paha, labia, atau pantat.

Baca juga: Apa Itu Crohn's Disease? Kenali Gejala Penyakit Radang Usus Kronis Ini

Perawatan Lanjutan dan Apakah Bisa Sembuh?

Ilustrasi Operasi
Foto: Ilustrasi Operasi (Orami Photo Stock)

Kebanyakan kasus fistula ani merespons dengan baik terhadap pembedahan yang dilakukan.

Setelah operasi dilakukan, ahli bedah menyarankan agar Moms merendam daerah yang terkena dalam bak mandi air hangat.

Selain itu, Moms juga disarankan untuk mengonsumsi pelunak tinja atau obat pencahar selama seminggu.

Rasa nyeri dan tidak nyaman akan muncul setelah prosedur dilakukan. Untuk mengatasinya, dokter biasanya menyuntikkan anestesi lokal.

Kemudian, dokter akan meresepkan obat anti nyeri untuk di bawa pulang ke rumah dan dipakai dalam jangka pendek.

Jika abses dan fistula dirawat dengan benar hingga benar-benar sembuh, kemungkinan besar kondisi tersebut tidak akan kembali lagi.

Berbeda dengan pendapat dr. Daniel Ardian kondisi ini justru sulit disembuhkan, lho Moms.

"Fistula ani sulit disembuhkan karena area tersebut selalu kotor, mengingat posisinya dekat dengan lubang untuk buang air besar," jelasnya.

Perbedaan Fisura Ani dan Fistula Ani

Perbedaan Fistula Ani dan Fisura Ani
Foto: Perbedaan Fistula Ani dan Fisura Ani (Mfine.co)

Fisura ani dan fistula ani merupakan 2 kondisi yang berbeda , Moms.

"Fistula ani berbeda dengan fisura ani. Fistula ani adalah kondisi munculnya saluran yang menghubungkan ujung saluran cerna bagian dalam dengan kulit luar.

Sementara fisura ani merupakan luka atau robekan di lubang anus. Robekan ini biasanya terjadi akibat feses yang keras dan besar," jelas dr. Daniel.

Nah, itulah informasi seputar fistula ani yang bisa Moms ketahui. Kondisi ini harus mendapatkan pengobatan di rumah sakit, ya Moms.

Semoga informasi di atas membantu!

  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/14466-anal-fistula
  • https://www.nhs.uk/conditions/anal-fistula/
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/anal-fistula/symptoms-causes/syc-20352871
  • https://www.webmd.com/digestive-disorders/anal-fistula-overview

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.