Newborn

25 November 2021

Ciri-ciri Gumoh yang Berbahaya, Moms Wajib Waspada!

Cari tahu juga cara mengurangi gumoh bayi
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Gumoh adalah saat bayi memuntahkan kembali ASI yang diminum, biasanya dalam jumlah sedikit. Namum, masih banyak Moms yang khawatir jika terjadi gumoh yang berbahaya.

Kekhawatiran itu biasanya terjadi saat gumoh terjadi terlalu sering, atau terlalu banyak cairan yang keluar dari mulut bayi. selain itu, banyak Moms yang khawatir pertumbuhan bayi terganggu karena itu.

“Gumoh itu normal,” jelas Dr. Natalie Muth, juru bicara American Academy of Pediatrics dan penulis bersama buku ‘Picky Eater Project: 6 Weeks to Happier, Healthier Family Mealtimes’.

Baca Juga: Air Tajin untuk Bayi, Bermanfaat atau Justru Berbahaya?

Penyebab Gumoh pada Bayi

Bolehkah Bayi Disusui setelah Gumoh?

Foto: Orami Photo Stock

Menurut Mayo Clinic, gumoh sering terjadi pada bayi yang sehat. Selama tiga bulan pertama, sekitar setengah dari semua bayi mengalaminya.

Ini juga merupakan kondisi yang dikenal sebagai refluks gastroesofageal, refluks bayi, atau refluks asam bayi.

Otot ini memiliki waktu untuk berkembang, dan gumoh mungkin menjadi masalah terutama jika bayi merasa kenyang yang bisa saja menjadi penyebab umum gumoh pada bayi.

Sistem pencernaan bayi masih berkembang, dan sfingter esofagus bagian bawah atau cincin otot yang menyimpan makanan di perut tidak berfungsi penuh selama beberapa bulan.

Bayi juga mungkin akan muntah saat bersendawa, ngiler, batuk, atau menangis. Fakta bahwa bayi hanya mengkonsumsi cairan seperti ASI atau susu formula juga memudahkan isi perutnya untuk kembali naik.

Dalam kasus yang sangat jarang, susu formula bayi mungkin berkontribusi pada muntah yang berlebihan.

Ada perbedaan antara gumoh dan muntah. Secara umum, gumoh merupakan cairan yang keluar dari perut bayi melalui mulutnya, yang bisa terjadi saat sendawa.

Dan muntah terjadi ketika aliran atau tekananannya lebih kuat dan seperti menembak keluar. Dan cairan yang keluar biasanya lebih banyak daripada gumoh.

Gumoh yang normal tidak mengganggu kesehatan bayi. Selama bayi tampak nyaman dan menyusu dengan baik, serta berat badannya bertambah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Sebagian besar bayi akan berhenti gumoh pada usia 12 bulan. Setelah itu, Moms harus memantau jika terlihat tanda gumoh yang berbahaya.

Baca Juga: 11 Penyebab Pup Bayi Warna Hijau, Apakah Berbahaya?

Ciri-ciri Gumoh yang Berbahaya

Bayi Sering Gumoh, Berbahayakah-1.png

Foto: Orami Photo Stock

Tanda dan gejala tertentu mungkin menunjukkan kondisi gumoh yang berbahaya. Moms bisa menghubungi dokter bayi:

  • Berat badan tidak naik
  • Gumoh dengan terkanan dan seperti terpaksa
  • Gumoh dengan mengeluarkan cairan berwarna hijau atau kuning
  • Gumoh seperti darah atau bahan yang terlihat seperti bubuk kopi
  • Menolak menyusui berulang kali
  • Ada darah di dalam tinjanya
  • Mengalami kesulitan bernapas atau tanda-tanda penyakit lainnya
  • Mulai gumoh pada usia 6 bulan atau lebih
  • Menangis lebih dari tiga jam sehari, dan lebih mudah marah dari biasanya
  • Memiliki lebih sedikit popok basah dari biasanya

“Pertimbangkan juga tentang frekuensi. Sebab, selalu muntah setelah setiap makan adalah tidak normal,” jelasnya.

Selain itu, Natalie juga meminta Moms untuk melihat kekuatan gumohnya. Pahami juga bahwa ketika gumoh disertai dengan gejala lain, seperti kolik atau berat badan yang kurang bisa menunjukkan masalah medis.

Baca Juga: Bayi Jarang Pipis, Normal atau Berbahaya?

Jenis Gumoh pada Bayi

gumoh1.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Meski gumoh adalah hal yang wajar, ada beberapa penyebab Si Kecil mengosongkan isi perutnya. Beberapa di antaranya yakni:

1. Meludah

Meludah yang normal sangat mirip dengan apa pun yang bayi makan, baik itu ASI atau susu formula sebelum bayi mulai makan makanan padat yang biasanya dimulai sekitar usi 6 bulan.

Baik bayi yang diberi ASI maupun susu formula dapat meludah, dan tindakan meludah biasanya terlihat mudah.

Ini sering keluar melalui mulut atau hidung, tetapi tidak menimbulkan rasa sakit dan tidak dilakukan secara paksa. Faktanya, kebanyakan bayi biasanya tidak merasakan saat meludah.

2. Refluks (GERD bayi)

Secara teknis, gumoh adalah refluks. Namun terkadang, jika disertai dengan gejala lain atau penambahan berat badan yang buruk, gumoh mungkin mengindikasikan bahwa bayi memiliki kondisi lain.

Kondisi tersebut bisasanya disebut sebagai penyakit refluks gastroesofageal pada bayi, yang juga dikenal sebagai GERD bayi.

Saat bayi mengalami GERD, lapisan kerongkongan menjadi teriritasi dan rusak oleh semua ludah. Ini dapat menyebabkan rasa sakit dan kerewelan selama dan setelah menyusui, dan mempersulit bayi untuk menyusu dan menambah berat badan.

Tanda-tanda GERD lainnya termasuk air liur yang berlebihan, tangisan yang tidak terkendali, kurang tidur dan pola makan yang tidak menentu.

Baca Juga: Bedak Bayi Bisa Berbahaya untuk Kesehatan, Jangan Asal Pakai!

3. Meningitis

Meningitis dapat menyerang siapa saja, tetapi paling sering terjadi antara masa bayi dan awal masa dewasa. Ini adalah infeksi pada lapisan pelindung yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang.

Meningitis berkembang dengan cepat dan dapat menyebabkan keracunan darah yang mengancam jiwa, atau septikemia, atau kerusakan otak.

Gumoh biasanya merupakan salah satu gejala pertama meningitis. Selain itu, ada juga gejala lainnya, seperti:

  • Demam lebih dari 37,5 derajat Celsius (99,5 derajat Fahrenheit)
  • Sakit kepala parah
  • Anggota badan yang sakit

Bayi mungkin tidak dapat menunjukkan bahwa mereka mengalami rasa sakit fisik, jadi perhatikan perubahan perilakunya.

Misalnya, saat bayi yang merasakan sakit kepala mungkin mencoba menyentuh kepalanya lebih sering dari biasanya.

Jika bayi memiliki gejala meningitis, mereka akan tampak sangat tertekan, dan Moms mungkin tidak dapat menghiburnya.

Meningitis Research Foundation mendorong orang tua untuk mempercayai nalurinya dan segera mencari bantuan medis jika mengira Si Kecil menderita meningitis.

Baca Juga: Benjol di Kepala Bayi, Berbahayakah? Ini Cara untuk Mengatasinya!

Cara Mengatasi Gumoh pada Bayi

Mengapa Terjadi Gumoh pada Bayi-2.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Kebanyakan gumoh akan menjadi hal dapat dikendalikan dengan beberapa perilaku Moms yang baik setelah makan.

“Orang tua dapat membantu mengurangi gumoh dengan memberi makan bayi lebih sedikit lebih sering, menjaga bayi tetap tegak selama 20-30 menit setelah menyusu, dan memastikan untuk menyendawakan bayi setiap kali menyusu,” jelasnya.

Agar tidak terjadi gumoh yang berbahaya, beberapa cara mengatasi gumoh pada bayi yang bisa dilakukan adalah:

  • Jaga posisi bayi tetap tegak. Susui atau beri susu formula bayi dalam posisi yang lebih tegak. Hindari mengajak Si Kecil bermain atau penggunaan ayunan saat menyusui bayi.
  • Hindari memberi ASI atau susu formula berlebihan. Menyusui dalam jumlah kecil tapi sering mungkin akan membantu.
  • Luangkan waktu untuk menyendawakan bayi. Bersendawa selama dan setelah setiap menyusui dapat mencegah udara menumpuk di perut bayi.
  • Posisikan bayi tidur telentang. Untuk mengurangi risiko SIDS, penting untuk menempatkan bayi tidur dalam posisi inin. Menempatkan bayi tidur tengkurap untuk mencegah gumoh tidak dianjurkan.
  • Bereksperimenlah dengan makanan. Jika Moms menyusui, dokter mungkin menyarankan agar menghilangkan produk susu atau makanan tertentu lainnya dari makanan.
  • Pegang bayi tegak selama 30 menit setelah menyusui. Duduk bersisian dengan bayi selama setidaknya setengah jam setelah setiap menyusui dapat meminimalkan jumlah muntah yang dialami bayi.
  • Batasi aktivitas pasca-makan. Langsung dari menyusui ke waktu bermain juga dapat menyebabkan gumoh.
  • Gunakan puting susu aliran lambat. Jika Moms memberi susu botol, coba gunakan dot aliran lambat. Ini dirancang untuk memperlambat makan dan mengurangi jumlah udara yang bayi ambil saat menyusu yang dapat membantu mengurangi risiko gumoh.

Seperti popok kotor, gumoh adalah bagian normal dari menjadi orang tua awal. Meskipun Moms harus mewaspadai ciri gumoh yang berbahaya, ini biasanya merupakan sesuatu yang bisa dihindari.

  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/baby-throwing-up#treatments-and-remedies
  • https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/infant-and-toddler-health/in-depth/healthy-baby/art-20044329
  • https://www.fatherly.com/parenting/tell-baby-spit-up-medical-concern/
  • https://www.whattoexpect.com/baby-behavior/spitting-up-baby.aspx
  • https://www.meningitis.org/meningitis/check-symptoms?gclid=CjwKCAjwztL2BRATEiwAvnALco-jXh4S7VnGMPsMuruBVMdO5F7Jg64H1w4lG1-35y-eGzMvHj76hxoCDAQQAvD_BwE
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait