Parenting Islami

13 Januari 2021

Ini Hak dan Kewajiban Perempuan selama Masa Iddah setelah Perceraian, Wajib Tahu!

Salah satu kewajiban perempuan selama masa iddah adalah tidak bersolek
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Banyak pernikahan yang berakhir dengan perceraian saat ini. Salah satu datanya dimiliki oleh National Council of Family Relations yang menyatakan, pada 2009 terjadi 2 juta pernikahan namun lebih dari setengahnya berakhir dengan perceraian.

Kemungkinan pernikahan pertama berakhir dengan perceraian dalam lima tahun adalah 20 persen. Setelah satu dekade, kemungkinan bercerai adalah 33 persen.

Seiring dengan meningkatnya jumlah pernikahan, begitu pula risikonya. Untuk ketiga kalinya, sekitar 73 persen akan diselesaikan, menurut Centers for Disease Control and Prevention .

Meski begitu, cerai atau talak bukan pemutus ikatan perkawinan secara langsung. Sebab, sejak talak dijatuhkan hingga pernikahan benar-benar berakhir, masih ada satu masa yang disebut ‘masa iddah’. Ini adalah waktu bagi seorang istri untuk mengetahui kekosongan rahimnya.

Ini juga sering digunakan untuk pasangan agar bisa berfikir ulang tentang pernikahan, bisa saja benar-benar cerai atau malah kembali rujuk. Waktu masa iddah untuk setiap perempuan juga berbeda, tergantung kondisi dan talak yang diterima.

Pada masa iddah, masih ada sejumlah hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh masing-masing pihak, baik suami maupun istri. Apa saja hak dan kewajiban perempuan saat masa iddah? Syekh Abu Syuja dalam al-Ghâyah wa al-Taqrîb mengatakan:

“Perempuan yang beriddah dari talak raj‘i (bisa dirujuk), wajib diberi tempat tinggal dan nafkah. Sedangkan perempuan yang ditalak ba’in, wajib diberi tempat tinggal tanpa nafkah kecuali sedang hamil.

Kemudian perempuan yang ditinggal wafat suaminya wajib ber-ihdad, dalam arti tidak berdandan dan tidak menggunakan wewangian. Selain itu, perempuan yang ditinggal wafat suaminya dan putus dari pernikahan wajib menetap di rumah kecuali karena kebutuhan.” (Al-Ghâyah wa al-Taqrîb, terbitan Alam al-Kutub, hal. 35).

Baca Juga: 4 Dampak Perceraian Pada Anak, Salah Satunya Gangguan Mental

Hak Perempuan selama Masa Iddah

Apa Saja Hak dan Kewajiban Perempuan Selama Masa Iddah -1

Foto: Orami Photo Stock

Dilansir NU Online, dengan memperhatikan petikan matan dan penjelasan dari Syekh Muhammad ibn Qasim dalam kitab Fathul Qarib (terbitan Pustaka al-‘Alawiyyah, Semarang, t.t, hal. 50) dan Hasyiyah al-Bajuri, (terbitan Maktabah al-‘Ulumiyyah, Semarang, t.t, jilid 2, hal. 174) dapat disampaikan beberapa kesimpulan tentang hak dan kewajiban perempuan saat masa iddah, yakni:

1. Perempuan dalam Masa Iddah dari Talak Raj‘I

Dia berhak mendapat tempat tinggal layak, nafkah, pakaian, dan biaya hidup lainnya dari mantan suami. Itu semua adalah hak perempuan, kecuali jika dia nusyuz (durhaka) sebelum diceraikan atau di tengah-tengah masa iddahnya. Hal itu berdasarkan firman Allah:

Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah masa iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu.

Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) keluar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang.

Dan juga sabda Rasulullah SAW: “Perempuan beriddah yang bisa dirujuk oleh (mantan) suaminya berhak mendapat kediaman dan nafkah darinya.”

Ini karena talak roj’iy adalah talak yang masih bisa dirujuki, maka dia masih berstatus sebagai istri. Suami bisa saja rujuk kapan pun selama masa ‘iddah, tanpa melalui akad baru dan tanpa pula melalui ridho istri.

2. Perempuan dalam Masa Iddah dari Talak Ba’in

Baik karena khulu‘, talak tiga, atau karena fasakh dan tidak dalam keadaan hamil, berhak mendapat tempat tinggal saja tanpa mendapat nafkah. Kecuali jika dia durhaka sebelum ditalaknya atau di tengah masa iddahnya.

Hal ini berdasarkan firman Allah SWT: “Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya." (QS Ath Tholaq: 6).

Sebagaimana didukung pula dalam hadits lainnya mengenai kisah Fathimah binti Qois RA ketika diceraikan oleh suaminya, kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada nafkah untukmu kecuali jika engkau dalam keadaan hamil.” (HR. Abu Daud no. 2290).

Baca Juga: Perceraian Bukanlah Akhir dari Segalanya, Setidaknya Moms Terlepas dari 3 Hal Ini

3. Perempuan dalam Masa Iddah dari Talak Ba’in dan dalam Keadaan Hamil

Berhak mendapat tempat tinggal dan nafkah saja, namun tidak berhak atas biaya lainnya. Hanya saja terjadi perbedaan pendapat, apakah nafkah itu gugur karena nusyuz atau tidak. Namun, ada dalil khusus yang menerangkan hal ini.

Dari Al Furai’ah binti Malik bin Sinan yang merupakan saudari Abu Sa’id Al Kudri, dia berkata: “Dia datang kepada Rasulullah SAW meminta izin kepada beliau untuk kembali kepada keluarganya di Bani Khudrah karena suaminya keluar mencari beberapa budaknya yang melarikan diri hingga setelah mereka berada di Tharaf Al Qadum dia bertemu dengan mereka lalu mereka membunuhnya.

Dia berkata, “Aku meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk kembali kepada keluargaku karena suamiku tidak meninggalkan rumah dan harta untukku,” Ia berkata, “Kemudian aku keluar hingga setelah sampai di sebuah ruangan atau di masjid, beliau memanggilku dan memerintahkan agar aku datang."

Kemudian beliau berkata, “Apa yang tadi engkau katakan?” Kemudian aku kembali menyebutkan kisah yang telah saya sebutkan, mengenai keadaan suamiku. Kemudian beliau bersabda, “Tinggallah di rumahmu hingga selesai masa ‘iddahmu.” Dia berkata, “Aku melewati masa ‘iddah di tempat tersebut selama empat bulan sepuluh hari.” (HR. Abu Daud no. 2300, At Tirmidzi no. 1204).

4. Perempuan dalam Masa Iddah karena Ditinggal Wafat Suaminya

Tidak berhak mendapat nafkah walaupun dalam keadaan hamil.

Kewajiban Perempuan selama Masa Iddah

Apa Saja Hak dan Kewajiban Perempuan Selama Masa Iddah -2

Foto: Orami Photo Stock

Bukan hanya perlu mendapatkan hak, selama masa iddah pun perempuan harus memenuhi kewajibannya, yakni:

1. Tidak Bersolek

Perempuan yang ditinggal wafat suaminya berkewajiban untuk ihdad, yakni tidak bersolek dan tidak berdandan, seperti mengenakan pakaian bewarna mencolok semisal kuning atau merah yang dimaksudkan untuk berdandan.

Juga tidak diperkenankan mengenakan wewangian, baik pada badan atau pakaian. Yang niatnya untuk berdandan. Mengenai masa ihdaad disebutkan dalam hadits: “Tidak dihalalkan bagi seorang perempuan yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berkabung (menjalani masa ihdaad) atas kematian seseorang lebih dari tiga hari, kecuali atas kematian suaminya, yaitu (selama) empat bulan sepuluh hari.” (HR. Bukhari no. 5334 dan Muslim no. 1491).

Ummu Athiyah radhiyallahu ‘anha berkat: “Kami dilarang ihdaad (berkabung) atas kematian seseorang di atas tiga hari kecuali atas kematian suami, yaitu selama empat bulan sepuluh hari. Selama masa itu kami tidak boleh bercelak, tidak boleh memakai wewangian, tidak boleh memakai pakaian yang berwarna kecuali pakaian ashab.

Dan kami diberi keringanan bila hendak mandi seusai haid untuk menggunakan sebatang kayu wangi. Dan kami juga dilarang mengantar jenazah.” (HR. Bukhari no. 302 dan Muslim no. 2739).

Baca Juga: Mencari Cinta Setelah Perceraian

2. Selalu Berada di Rumah

Ini berlaku untuk perempuan yang ditinggal wafat suami dan juga perempuan yang telah putus dari pernikahan, baik karena talak bain sughra, talak bain kubra, atau karena fasakh selama masa iddahnya. Tidak ada hak bagi suaminya ataupun yang lain untuk mengeluarkannya.

Selain itu, dia juga tidak boleh keluar dari rumah itu walaupun diridai oleh mantan suaminya kecuali karena ada kebutuhan. Adapun kebutuhan keluar rumahnya di siang hari hanya untuk bekerja dan belanja kebutuhan.

Sebenarnya, untuk kebutuhan mendesak pada malam hari, perempuan dalam masa iddah boleh keluar rumah. Dengan catatan, dia kembali pulang dan bermalam di rumah tersebut kecuali memang ada ketakutan yang menimpa diri, anak-anak, dan hartanya.

3. Tidak Boleh Menikah Dulu

Perempuan yang tengah menjalani masa iddah dari talak raj‘i tidak diperbolehkan menikah dengan laki-laki lain atau menerima lamaran baru walaupun berupa sindiran. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis iddahnya.” (QS Al-Baqarah: 235).

4. Boleh Menerima Tawaran, Tapi Tidak Lamaran

Perempuan yang sedang menjalani iddah karena ditinggal wafat atau ditalak ba’in suaminya tidak boleh menerima lamaran terang-terangan, tetapi boleh menerima lamaran berupa sindiran atau penawaran. Sebagaimana firman Allah SWA:

Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang perempuan-perempuan itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf,” (QS Al-Baqarah: 235).

Pemenuhan hak dan kewajiban selama masa iddah tersebut tentunya berdasarkan aturan yang telah ditetapkan agar prosesnya berjalan dengan semestinya.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait